Chapter 70
"Aku mencari Cucigawa, ayo suruh raja itu keluar!" Para prajurit menjadi marah.
Nama raja mereka disebut begitu saja oleh pemuda ini, yang bukan sanak maupun saudara. Ketika pemuda itu bergerak ke sana ke mari dan tangannya merobohkan teman-teman mereka yang berdatangan, pasukan itu diobrak-abrik oleh Togura.
"Ha-ha, jangan halangi aku. Minggir... Des! Dess!" Togura melempar-lempar mereka, menendang, dan menampar hingga orang-orang itu terpelanting.
Mereka menjerit dan berteriak mengaduh. Togura terus bergerak dan akhirnya menuju kemah paling besar, tempat raja bersemayam. Ketika tak ada lagi yang menahan dan pemuda itu berjungkir balik tinggi di udara, sampailah ia di puncak kemah, berdiri sejajar dengan bendera bangsa U-min yang berkibar.
"Cucigawa, aku ingin menemuimu!" Seruan lantang dan nyaring itu disambut geraman.
Dua sosok tubuh berkelebat dan dua orang laki-laki muncul di sana; yang satu tua, sedang yang lain muda. Itulah Panglima Horok dan Ramba, dua tulang punggung Raja Cucigawa. Begitu mereka keluar dan pasukan berkuda meringkik dari mana-mana, ribuan orang telah mengepung pemuda itu hingga delapan lapis.
"Anak muda, tunjukkan siapa dirimu. Terangkan kepada kami apa maksud sepak terjangmu!"
"Aku ingin menemui Cucigawa, kaukah orangnya?"
"Hm, apa maksudmu ingin menemuinya?"
"Ha-ha, ingin menantangnya bertanding, orang tua. Suruh dia keluar atau kau maju jika kau adalah Cucigawa!"
"Keparat, kau kurang ajar. Raja tak ingin menemuimu. Turunlah, aku yang akan menerima tantanganmu!"
"Ha-ha, kau siapa?"
"Aku Horok, panglima di sini!"
"Dan aku Ramba!" Pemuda di sebelah Panglima Horok tiba-tiba melompat maju memperkenalkan diri.
"Turunlah, jahanam keparat. Dan lepaskan gadis itu!"
"Ah, kau juga panglima di sini?"
"Benar, dan sebutkan siapa dirimu!"
"Ha-ha, aku tak akan memperkenalkan diri kalau belum berhadapan dengan raja. Eh, kalian ke sini, Ramba. Mari bertanding di puncak kemah. Siapa jatuh, dia kalah. Kau berani?"
Ramba marah. "Kenapa tidak?" Ia melayang berjungkir balik, tiba-tiba pemuda itu sudah hinggap di puncak kemah, hampir di ujung, membuat orang-orang kagum.
Apa yang telah ditunjukkan pemuda tinggi besar itu memang bermaksud pamer; ilmu meringankan tubuhnya diperlihatkan kepada semua orang. Namun, Togura tertawa mengejek karena melihat atap kemah agak bergoyang akibat gerakan Ramba, padahal dirinya tidak.
Ketika Ramba marah karena diejek, Togura berkata, "Ramba, ilmu meringankan tubuhmu cukup bagus, tapi hanya untuk orang-orang rendahan saja. Kenapa kau sendiri tidak dibantu temanmu itu? Panggil Horok ke mari, kalian berdua boleh menangkapku, aku hanya akan mengelak tanpa menggetarkan kemah!"
"Kau si mulut sombong!" Ramba yang tidak menjawab pertanyaan itu karena sudah dekat dengan lawan, tiba-tiba membentak dan melepaskan pukulannya. Ia bergerak ke depan dan orang-orang di bawah melihat gerakan itu. Serangan Ramba hebat, anginnya menderu hingga terdengar sampai ke bawah. Namun, ketika lawan tertawa dan berkelebat ke kiri, tiba-tiba Ramba kehilangan sasarannya.