Halo!

Istana Hantu - Chapter 71

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 71

"Wut!" Ramba terkejut.

Dia tiba-tiba kehilangan sasaran. Lawan entah ke mana, tetapi tiba-tiba dia mendengar suara tawa di belakangnya. Dia cepat membalikkan badan dan membentak sambil melepaskan pukulan lagi.

Namun, ketika hantamannya luput karena lawan sudah menghilang lagi, panglima muda ini mendengar suara tawa di kiri dan kanan tubuhnya secara berturut-turut. Dia melihat bayangan bergerak luar biasa cepat. Tentu saja dia memukul dan menendang, tetapi aneh sekali, serangannya selalu tak mengenai sasaran. Akhirnya, panglima muda itu pucat karena terkejut dibawa berputar-putar. Entah sudah berapa kali dia menyerang dan hanya menghantam angin kosong.

Ketika lawan terbahak di belakangnya, dia membalik, namun kalah cepat. Tiba-tiba dia sudah didorong dan jatuh terpelanting dari puncak kemah yang tinggi.

"Ha-ha, cukup. Robohlah, Ramba. Lihat betapa mudah kalau aku mau membunuhmu... bress!" Ramba terguling-guling, berteriak tertahan karena kaget, dan akhirnya terbanting di dekat Panglima Horok.

Semua orang terkejut melihat peristiwa itu; Ramba roboh dikalahkan lawan dalam satu dorongan saja. Ketika pemuda tinggi besar itu meloncat bangun dengan terbelalak, Togura menantang Panglima Horok atau siapa pun untuk melayaninya di puncak kemah.

"Hayo, yang berani harap ke sini. Aku tidak akan membalas, kalian hanya kuhadapi dengan sebelah tanganku!" Panglima Horok terkejut.

Setelah melihat robohnya Ramba, panglima ini tahu bahwa pemuda di atas itu hebat sekali. Dia tadi melihat gerakan tubuhnya yang luar biasa cepat saat menghindari serangan Ramba. Gerakannya begitu cepat hingga terasa kabur dan tidak dapat diikuti.

Namun, mendengar tantangan itu sementara pasukannya bengong, sang panglima melayang ke atas dan berjungkir balik memenuhi tantangan tersebut, apalagi dia tadi mengatakan siap mewakili raja untuk menghadapi pemuda itu.

"Jangan sombong. Roboh seorang belum berarti mengalahkan kami semua, anak muda. Lihat aku datang dan jaga pukulanku... wut!" Sang panglima marah. Dia berjungkir balik menyerang dan melepaskan pukulan saat masih berada di udara. Dia langsung mengerahkan *Tiat-kang* atau Tangan Besi, kepandaian yang diandalkan dan dimilikinya.

Namun, ketika dia merasakan desiran angin mendahului serangannya dan tahu-tahu pemuda itu lenyap entah ke mana, sang panglima merasakan usapan telapak tangan yang dingin di belakang tengkuknya.

"Orang tua, aku di sini!" Horok meremang.

Dia terbawa oleh momentum pukulannya sendiri, dan usapan itu pun sudah dirasakannya—dingin bagai es. Entah karena terkejut atau gentar, dia segera membalikkan badan. Pukulan Tangan Besi kembali menyambar, tetapi panglima ini membentak dan menyerang lawannya itu dengan dua serangan sekaligus untuk mencegat jika pemuda itu hendak menyelinap, seperti saat dia menghindari serangan Ramba tadi.

Namun, lagi-lagi pukulannya luput karena si pemuda berjungkir balik di atas kepalanya. Gemparlah semua orang ketika pemuda itu mengelus kepala botak sang panglima, lalu mencubit hidungnya saat panglima itu berteriak gusar. Horok menyerang, membalik, serta melancarkan pukulan bertubi-tubi, tetapi semuanya luput mengenai angin kosong. Akhirnya, dia menjadi permainan lawannya karena Togura menarik kumis Horok, menepuk pundak, serta menjewer telinganya.

Saat sang panglima mencak-mencak hingga wajahnya merah padam, Horok mencabut pedangnya. Senjata itu berdesing saat membacok, menusuk, dan menikam lawan, tetapi lawannya tiba-tiba menghilang.

Orang-orang di bawah terkejut karena Togura mengeluarkan ilmu *Jing-sian-eng*-nya; dia lenyap dan tiba-tiba tertawa di belakang sang panglima.

Ketika sang panglima membalik dan menggerakkan pedang, pemuda itu menyentil kuku jarinya hingga pedang Horok lepas berdenting di tanah. Satu dorongan di dada membuat panglima itu terjengkang dan jatuh dari puncak kemah yang tinggi!

"Ha-ha, cukup, panglima. Robohlah... bluk!" Sang panglima terguling-guling, mengeluh di tanah karena kaget, dan semua pasukan menjadi ribut.

Mereka geger oleh kejadian tersebut—kejadian kedua kalinya. Namun, ketika Panglima Horok berteriak gusar dan bangkit dengan wajah pucat, pasukan panah diperintahkan untuk menyerang. Puluhan panah mendesing ke arah Togura, disusul oleh tombak dan lembing. Mereka menghujani pemuda itu bertubi-tubi.

Karena Togura adalah murid Enam Iblis Dunia dan kini telah mewarisi ilmu sakti dari Cermin Naga, dia mendemonstrasikan *Khikang*-nya. Semua anak panah runtuh atau patah saat mengenai tubuhnya. Hal itu sangat mengagetkan.

"Ha-ha, lepaskan semua panah kalian. Lihat, aku tidak apa-apa!" Orang-orang gempar. Mereka melihat ratusan panah tidak ada satu pun yang berhasil melukai pemuda itu. Murid Siauw-jin ini berdiri tegak sambil tertawa. Bahkan, tangannya kini mulai bergerak menangkap tombak, lembing, serta panah-panah yang menyambar di antara jemarinya.

Ketika semua tombak dan lembing itu dipatahkan lalu dibuang ke bawah, orang-orang menjadi kaget dan pucat.

"Iblis, dia pemuda iblis. Kebal!" Togura terbahak-bahak.

Memang dia hendak membuat gentar suku bangsa ini dengan mendemonstrasikan kepandaian dan kekebalannya. Horok dan Ramba terkejut karena tidak ada satu pun hujan senjata yang dapat melukai tubuh pemuda itu. Namun, ketika Togura tertawa-tawa mengejek para pemanah, tiba-tiba sebuah panah besar melesat ke arah tenggorokan pemuda itu.

"Singg!" Togura terkejut. Panah ini berbeda dengan yang lain, besar dan luncurannya sangat cepat, pertanda dilepaskan oleh seorang ahli bertenaga besar. Karena dia murid Siauw-jin yang tangkas dan cepat, pemuda ini menampar ke kiri sehingga panah itu runtuh dan patah. Dia melihat di kemah depan muncul seorang laki-laki bertopi burung rajawali.

"Sri Baginda!" Togura terkejut gembira. Panglima Horok menyebut nama laki-laki itu, dan tahulah pemuda ini bahwa itulah Raja Cucigawa, orang yang dicarinya.

Ketika raja mengangguk dan melepaskan dua panah sekaligus, raja menggeram kepada panglimanya, "Biarkan, aku ingin membunuh pemuda ini, Horok. Kau lindungi aku dan biar dia kujepret dari jauh... sing-singg!"

Togura tertawa tergelak. Kini dua panah besar kembali menyambar. Saat hendak ditangkis, tiba-tiba di tengah jalan kedua panah itu memisah; yang kiri menuju lambung, sementara yang kanan menyambar mata. Bukan main! Inilah kepandaian memanah yang sulit dicari.

Togura terbahak dan membiarkan panah yang menuju lambung mengenai tubuhnya, sementara panah yang menuju mata disampok hingga hancur.

"Trik-plak!" Cucigawa terbelalak. Dua panah yang menyambar pemuda itu runtuh; yang mengenai lambung patah saat mengenai tubuh pemuda tersebut, sedangkan yang menyambar mata hancur terkena kibasan.

Raja yang penasaran membentak marah dan melepas panah lagi. Tiga panah sekaligus, tetapi gagal. Akhirnya, lima panah sekaligus dilepaskan, tetapi lawannya tiba-tiba menghilang.

Saat raja terkejut dan terbelalak mencari, tahu-tahu lawannya itu telah berjungkir balik di depannya, mendorong pasukan yang berlapis-lapis.

"Ha-ha, minggir. Kalian semua minggir!" Raja terkejut. Dua lapis pasukan tiba-tiba roboh berpelantingan. Pasukan panah dan tombak kacau, terpekik, dan tercelat ditendang pemuda itu.

Ketika Togura sudah dekat dengan raja, Horok dan Ramba tersentak. Panglima itu berteriak dan menerjang untuk melindungi raja. "Sri Baginda, minggir!"

Sepak terjang Togura mengejutkan semua orang. Panglima Horok cepat berkelebat dan Ramba mengeluarkan trisulanya, membentak, dan menyerang pemuda itu. Saat yang lain membentak dan menerjang maju, Togura sudah diserang dari mana-mana. Dia mendapat hujan tombak dan golok, sementara Cucigawa sudah menyingkir.

Raja terkejut melihat kecepatan pemuda ini, kekebalan tubuhnya, dan ilmu meringankan tubuhnya yang luar biasa hingga bisa menghilang. Ketika Togura dikeroyok dan dari segala arah tombak serta golok menyambar bagai hujan yang amat deras, pemuda ini melempar gadis yang pingsan di tangannya dan menyambut semua serangan itu.

"Des-des-dess!" Semua orang justru menjerit. Togura membuat senjata-senjata itu patah. Bahkan, trisula di tangan Ramba ikut patah dan ujungnya mengenai tuannya sendiri, menancap di pundak karena terpental akibat ditangkis pemuda itu.

Saat semua orang terlempar dan terbanting oleh sambutan Togura, pemuda itu sudah menerima dan menangkap gadis tadi, tertawa tergelak, dan berkelebat mengejar raja.

Cucigawa sudah memasuki kemah itu dan bersembunyi. Togura mendorong dan menendangi siapa saja yang ada di dalam, membuat semua orang panik dan kacau. Ketika Panglima Horok berteriak-teriak dan memaki, Togura tertawa menendang panglima itu, yang langsung mengaduh dan seketika tak dapat bangun karena otot kakinya tergelincir!

Ramba mengejar, tetapi dikibas hingga roboh. Panglima muda itu pun tertotok, terguling-guling di sudut sambil berteriak memaki dan menyuruh pasukannya menghadang.

Namun, siapa dapat menghadang laju pemuda ini? Setelah semua diobrak-abrik dan Togura mencari-cari raja, akhirnya Cucigawa tertangkap di kolong tempat tidur selirnya!

"Ha-ha, ke sini, manusia pengecut. Keluarlah!" Raja mengeluh. Sudah berkali-kali dia mencoba melawan tetapi gagal. Tidak ada pasukannya yang mampu menghadapi pemuda sakti ini. Akhirnya, dia tertangkap dalam keadaan roboh tertotok. Togura mencengkeram tengkuknya, mengangkat raja yang tinggi besar itu seperti mengangkat seekor kelinci.

Ketika raja pucat pasi dan gentar, tiba-tiba Cucigawa yang tampak gagah dan tak kenal takut itu menangis.

"Ampun... ampun, anak muda. Lepaskan aku!"

"Ha-ha, tentu kulepaskan. Aku memang tidak berniat membunuhmu, Cucigawa. Aku hanya ingin meminta sesuatu dan kau harus mengabulkannya!"

"Ah, tentu kukabulkan. Mintalah apa saja, tentu kukabulkan."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment