Chapter 72
"Asal aku jangan dibunuh!"
Togura melepas raja itu. "Bagaimana kalau kau menyerahkan kedudukanmu kepadaku?"
"Apa?"
"Benar, aku ingin menjadi raja Cucigawa. Memimpin bangsamu dan menyatukan semua suku di sini."
"Siapa kau?"
"Aku Togura, putra mendiang Gurba. Pantas rasanya kalau aku memimpin bangsa U-min."
"Tapi kau bangsa Tartar!"
"Sama saja. Bangsa Tartar atau U-min adalah bangsa-bangsa di luar Tembok Besar. Mereka dianggap bangsa liar oleh bangsa Han. Aku ingin menyatukan semua suku bangsa di sini dan menyerang Tiongkok. Kau terlalu lemah, kau tak patut menjadi raja!"
Saat Cucigawa tertegun dan semua orang yang mendengar ikut terkejut, Horok tertatih-tatih melangkah ke situ. Ramba, yang dipondong karena tidak dapat bergerak, saling pandang dengan sang raja. Terjadi isyarat mata di antara mereka bertiga. Togura tidak mengetahui hal itu, tetapi raja tiba-tiba mendesah seolah berat menyerahkan kedudukannya. Ketika pemuda itu mencengkeram lehernya dan mendesak untuk mendapatkan jawaban, raja menoleh kepada rakyatnya yang sudah berkumpul dan gemetar di luar kemah.
"Kau tanya saja kepada mereka. Seorang raja diangkat dan diturunkan oleh rakyat!"
"Hm, kau dapat memengaruhi mereka, Cucigawa. Jawaban rakyatmu berada di dalam suaramu!"
"Aku pribadi setuju, tapi kalau mereka menolak, tentu kau tidak enak menjadi pemimpin di antara bangsa yang tidak menyukai dirimu!"
"Aku tidak mencelakakan mereka!" Togura mendongkol. "Lihat siapa yang kubunuh, Cucigawa. Aku selalu baik dan pasti disetujui mereka. Atau barangkali kau menunggu sampai beberapa suku liar menyerang bangsa U-min dan baru kau teringat aku!"
Raja terkejut. Hal itu memang mungkin terjadi karena setiap saat suku-suku bangsa lain dapat menyerang bangsa U-min. Ketika raja tertegun dan Togura mengejek, pemuda itu menyambung, "Atau kalian barangkali minta aku menundukkan suku-suku bangsa itu dan menyerang kemari. Kalau ini yang terjadi, maka aku pasti membunuh kalian!"
Raja menjadi pucat. Saat dia bingung dan belum dapat menentukan keputusan, tiba-tiba seorang prajurit maju melapor dengan tergesa-gesa. "Sri Baginda, ampun. Bangsa Uighur menyerang!"
Belum selesai laporan itu, muncul prajurit lain yang melapor tentang serangan suku Khitan. "Dan bangsa Khitan menyerang di sebelah kanan, Sri Baginda. Mohon perintah Paduka!"
Semua orang terkejut dan panik. Cucigawa tampak berubah mukanya; belum selesai urusannya dengan pemuda ini, tiba-tiba saja urusan lain datang, bahkan dianggap jauh lebih berbahaya. Ketika di luar terdengar sorak-sorai dan rakyat serta prajurit menjadi ribut, tampillah Togura menenangkan mereka.
"Jangan takut, tenang! Aku seorang diri dapat menghadapi mereka. Hei, kalian lihat, aku akan mengalahkan orang-orang Uighur dan Khitan itu, saudara-saudara. Tapi imbalannya, kalian harus menerima aku sebagai pemimpin!"
Dengan gagah, Togura berkelebat pura-pura menghalau musuh. Dia tahu betul bahwa kelima gurunya sudah berhasil menundukkan bangsa-bangsa liar dan kini maju ke situ untuk pura-pura menyerang. Siasat yang bagus. Saat pemuda itu berkelebat dan seorang diri menyambut lawan, terdengarlah pekik dan jerit kaget di sana-sini. Tubuh-tubuh terlempar ke udara dan pemuda itu beraksi. Orang-orang Uighur dan Khitan yang dipimpin oleh gurunya sudah dihajar hingga jatuh bangun. Bangsa U-min menonton dengan takjub saat ratusan orang ditahan dan gerak majunya dihalangi.
Ketika semua mundur dan akhirnya Siauw-jin serta Nenek Naga Bumi maju, berhadapanlah tiga orang "musuh" ini dalam pertandingan yang seru.
"Ha-ha, ini siapa, Nenek siluman? Bocah dari mana?"
"Keparat, ini pemimpin U-min, Siauw-jin. Serang dan bunuh dia!"
Sandiwara selanjutnya hanya guru dan murid itu yang tahu. Togura tertawa geli menghadapi guru-gurunya, memperlihatkan kepandaiannya di depan bangsa U-min yang kagum. Mereka melihat bayangan berkelebatan menyambar-nyambar, silih berganti pukul-memukul, namun pemuda yang baru menggegerkan itu tak tampak terdesak. Bangsa Khitan dan Uighur bengong melihat kepandaian Togura yang tak bergeming meski dipukul dengan pukulan sedahsyat apa pun, sebaliknya dua pemimpin mereka selalu terpental bila mendapat tamparan atau pukulan.
Ketika pertandingan berjalan ratusan jurus dan sengaja dibuat ramai agar mengesankan penonton, akhirnya Siauw-jin dan Nenek Naga terbanting saat Togura mengakhiri pertandingan itu.
"Robohlah... des-dess!"
Dua orang itu terlempar. Siauw-jin dan Nenek Naga mengeluh; murid mereka menurunkan tangan agak keras hingga mereka kelengar dan mengumpat kesal. Ketika Togura menyambar dan sudah mengangkat tinggi-tinggi dua orang kakek dan nenek itu, bangsa U-min bersorak-sorai dan tiba-tiba dengan gegap gempita menyerang bangsa Khitan dan Uighur!
"Heii!" Togura berteriak. "Berhenti, saudara-saudara. Berhenti! Pemimpin mereka sudah menyerah!"
Namun, bangsa U-min rupanya terlampau gembira. Mereka melihat kemenangan Togura dan ingin melampiaskan kegembiraan karena bangsa Uighur dan Khitan sudah sering mengganggu mereka. Begitu teriakan Togura pura-pura tidak didengarkan, dan dua suku bangsa itu kalut karena hancur nyalinya melihat pemimpin mereka dikalahkan, maka mudah saja bangsa U-min menyerang dan membabat mereka. Apa boleh buat, Togura tiba-tiba berkelebat, membentak mereka, dan melempar-lempar bangsa U-min.
Saat bentakan serta dorongan pemuda itu membuat bangsa U-min menghentikan serangan, Togura berseru agar lawan yang sudah menyerah jangan diserang lagi. "Mereka adalah saudara-saudara kita. Ingat bahwa yang mengalahkan mereka adalah aku!"
Ketika semua terkejut dan sadar, Togura bermain mata pada dua gurunya agar bangsa Uighur maupun Khitan tidak perlu takut. Mereka tidak akan diapa-apakan asal menyerah secara baik-baik. Pemuda ini mengambil alih kepemimpinan, sementara Cucigawa serta Panglima Horok tertegun. Mereka melihat bahwa pemuda ini memang luar biasa. Karena pemuda itu sudah menguasai pasukan besar dari bangsa Khitan serta Uighur dan kedudukannya semakin kuat, akhirnya Cucigawa menyerahkan takhta kepada pemuda ini.
Hari itu juga rakyat dan pasukannya tunduk, raja menjadi pembantu alias penasihat pemerintahan. Cepat sekali Togura berhasil menguasai hati semua orang. Tidak lama kemudian, setelah pemuda ini menjadi raja dan diangkat sebagai pemimpin bangsa-bangsa liar, Togura sudah merupakan ancaman bahaya bagi bangsa Tartar dan juga Tiongkok. Kabar itu cepat tersebar, dan Toa-ci serta Ji-moi maupun Cam-kong akhirnya bergabung juga dengan muridnya ini.
Sejenak kemudian, mereka sudah menguasai bala tentara yang besar, pasukan atau prajurit dari enam suku bangsa liar. Ketika semuanya berjalan sesuai rencana dan Siauw-jin serta muridnya mengatur langkah baru, Togura bersama lima gurunya siap mengajak suku-suku bangsa itu berperang, menyerbu Tiongkok atau bangsa Tartar yang dipimpin oleh Kim-mou-eng.
Mari kita tinggalkan sejenak hasrat penyerbuan itu. Kim-mou-eng, yang gembira oleh kehadiran Beng An, putranya yang kecil, tiba-tiba hari itu dibuat berkerut keningnya. Soat Eng, putrinya, tiba-tiba dikabarkan pergi. Yang mengetahui ini pertama kali adalah istrinya, Swat Lian. Ketika istrinya marah-marah dan mengomel panjang pendek, pendekar itu duduk tenang dengan perasaan tertekan.
"Lihat, anak ini kurang ajar, suamiku. Pergi tanpa pamit dan hanya meninggalkan sepucuk surat!"
Kim-mou-eng menerima surat itu. Istrinya telah memberikan surat itu dan Kim-mou-eng menarik napas. Soat Eng, putrinya, berkata bahwa dia menuntut janji. Adiknya sudah besar dan dia meminta perkenan agar boleh mencari kakaknya, Thai Liong, yang dulu pergi bersama Ituchi dan belum kembali. Karena istrinya pernah memberi izin dan berkata begitu, pendekar ini tidak dapat berbuat apa-apa kecuali menahan kekhawatiran.
"Kita tidak dapat menyalahkan. Dulu kau menjanjikan kalau Beng An sudah lahir. Nah, sekarang putri kita menuntut, Nio-cu. Kita tidak dapat berbuat apa-apa karena dulu sudah terikat janji."
"Tapi dia tidak boleh pergi sendiri, suamiku. Maksudku biar menunggu kakaknya dan pergi berdua!"
"Tapi Eng-ji sudah lama menunggu. Thai Liong juga belum kembali. Tentu ia tak sabar dan ingin menurutkan kata hatinya sendiri."
"Itulah! Itu yang aku tidak suka, suamiku. Dia anak perempuan dan pergi sendirian lagi. Bukankah dia tahu bahayanya pergi sendirian bagi seorang wanita? Dan bocah she Siang itu semakin gemuk di sini. Keparat! Apa yang harus kita lakukan, suamiku? Apakah diam saja dan memelihara murid See-ong itu?"
"Hm, apa maumu?"
"Aku... aku ingin menyusul!"
"Apa?" Pendekar Rambut Emas tersentak. "Menyusul? Dengan anak kita yang masih kecil begini?"
Swat Lian tersedu-sedu. Tiba-tiba wanita ini menangis tak dapat menahan diri, mengguguk dan menubruk suaminya, memeluk, dan berguncang-guncang. Ketika Pendekar Rambut Emas menarik napas panjang dan mengelus rambut istrinya, dia berkata tenang namun berwibawa, "Isteriku, kau harus ingat pada putra kita yang kecil ini. Beng An tentu tidak dapat dibawa-bawa sesuka hati. Dia butuh tempat yang aman dan perlindungan dari ibunya. Kalau kau gelisah memikirkan putrimu itu, bagaimana kalau aku saja yang pergi?"