Chapter 73
Aku dapat mencari Eng-ji, tetapi tentu putrimu tidak puas. Sebenarnya, dia harus diberi sedikit kebebasan juga untuk menimba pengalaman. Kalau kau setuju, aku dapat berangkat sekarang." Kepala yang melekat di dada itu tiba-tiba terangkat, terkejut.
"Kau mau meninggalkan aku pula?"
"Hm, tidak. Hanya sekadar mencari putri kita, istriku, menenteramkan hatimu agar kau tidak gelisah."
"Ah, aku tak mau. Kalau begitu, biar Eng-ji pergi asal tidak terlampau lama!"
Sang istri yang mendekap dan memeluk suaminya itu ternyata enggan ditinggal kedua-duanya; pertama putrinya, dan sekarang suaminya juga mau pergi. Tentu saja dia tidak mau. Ketika Pendekar Rambut Emas tersenyum dan membelai pundak istrinya, sebuah ciuman sayang mendarat di pipi sang istri.
"Nah, begitu. Seharusnya kau tidak membuat Eng-ji harus selalu berkumpul dengan ayah ibunya. Bukankah kelak dia juga akan menikah dan meninggalkan kita?"
"Hm...!" Bibir yang tersenyum itu tiba-tiba berkerut tidak senang begitu mendengar masalah jodoh. "Aku tentu tak akan melarang putriku menikah, suamiku. Tapi kalau dengan Siang Le... hm!" Mata itu ketus menjawab.
"Tak usah!"
"Kau aneh." Suaminya tertawa. "Siapa menyebut-nyebut nama bocah itu? Aku hanya mengatakan putriku menikah, Nyonya. Tapi kau sudah marah-marah seperti kambing kebakaran jenggot dengan mengaitkan hal ini dengan murid See-ong!"
"Aku memang tak setuju, dan ada baiknya juga kalau Eng-ji pergi!"
"Ha-ha, sekarang berubah. Kau setuju kalau Eng-ji pergi. Eh, bagaimana sebenarnya jalan pikiranmu ini, istriku? Kenapa kau demikian benci kepada murid See-ong?"
"Aku membenci pemuda itu karena gurunya adalah seorang jahat, pembunuh!"
"Hm, yang jahat adalah See-ong, bukan pemuda ini..."
"Aku tak peduli!" Sang istri sengit. "See-ong atau muridnya sama saja bagiku, suamiku. Dia atau gurunya setali tiga uang!"
"Tapi kenyataan menunjukkan lain," sang suami bicara dengan hati-hati. "Kita lihat murid See-ong ini tak seperti gurunya, Nyonya. Dan aku jadi teringat tulisan Sian-su!"
"Hm, apa maksudmu?"
"Tidakkah kau tangkap sesuatu?"
"Tidak, aku tak mengerti."
Kim-mou-eng tiba-tiba merogoh saku bajunya. Sekali cabut, keluarlah sepotong kertas yang terlipat rapi, tidak kumuh, dan tetap bersih. Ketika sang istri memandang dan tampak tertegun melihat sepotong surat itu, sang suami membeberkan kertas tersebut.
"Lihat, Sian-su menyuruh kita mencari jawaban syair ini, Nyonya. Dan kau tahu bahwa apa yang diberikan Sian-su selamanya berharga. Tidakkah sesuatu yang dapat mulai kau tangkap dari kalimat ini?"
"Hm, aku sudah membacanya berulang-ulang, tapi tetap tak dapat menemukan jawabnya. Coba kau terangkan, barangkali kau sudah tahu!"
"Ah, jawabnya belum kuketahui pasti, tapi aku yakin ada hubungannya dengan Siang Le!"
"Apa?"
"Sst, jangan berteriak-teriak. Aku hanya baru menduga, istriku. Tapi aku yakin bahwa jawaban syair ini ada hubungannya dengan Siang Le!"
"Coba kau amati lagi, kita baca!"
Swat Lian terkejut, terbelalak memandang suaminya, dan Pendekar Rambut Emas mengangguk. Nyonya ini agak terkesiap dan kaget karena suaminya adalah orang yang cukup dekat dengan Sian-su, kakek dewa mahasakti itu. Suaminya telah berulang-ulang menerima pelajaran hidup dan agaknya mulai mengenal "gaya" dari gurunya. Pendekar Rambut Emas ini memang murid dari kakek dewa yang lenyap bertahun-tahun dan baru beberapa bulan yang lalu muncul, memperlihatkan diri pada mereka, serta menyuruh mereka mencari sesuatu di Sam-liong-to. Kakek itu berkata bahwa sebuah pelajaran hidup akan mereka temukan, pelajaran berharga dan berguna bagi mereka.
Kini, ketika suaminya membuka lipatan kertas itu, mereka pun membaca syair yang didapat dari Bu-beng Sian-su:
*Mencari mutiara di dasar samudera*
*Terdapat sebutir yang memukau sukma*
*Menemukan ini mendapatkan surga*
*Bahagialah sudah sang arif bijaksana!*
"Nah," Kim-mou-eng menoleh memandang istrinya. "Belum adakah sesuatu yang kau tangkap?"
"Belum," sang istri menggeleng dengan kening berkerut. "Aku belum mengenal jelas gaya atau syair dari Sian-su, suamiku. Lain denganmu yang sudah pernah berkumpul bertahun-tahun dengan gurumu!"
"Hm, jangan begitu. Sian-su ini orangnya luar biasa, istriku. Meskipun aku muridnya, namun hanya sedikit yang dapat kutangkap dari gerak-geriknya!"
"Jadi kau tak tahu?"
"Bukan tak tahu, tapi hanya meraba-raba saja."
"Kalau begitu coba katakan rabaanmu itu, aku ingin tahu!"
"Ada hubungannya dengan Siang Le..." Pendekar Rambut Emas bersungguh-sungguh. "Aku merasa pemuda itu ada kaitannya, istriku. Dan mungkin dia merupakan pokok pembicaraan di sini!"
"Hm, lagi-lagi Siang Le!" Istrinya mendengus tak senang. "Kenapa berkali-kali menyebut pemuda ini, suamiku? Kalau benar ada hubungannya, maka apakah hubungan itu?"
"Inilah yang belum kutangkap," sang suami agak tidak enak. "Aku hanya merasa bahwa Sian-su hendak menjadikan pemuda ini sebagai obyek percakapan, istriku. Tapi apa inti sarinya, terus terang aku tidak tahu!"
"Hm, kalau begitu kau mengada-ada!"
"Tidak, aku tak mengada-ada!" Sang suami terkejut. "Eh, kenapa harus mengada-ada? Aku serius, istriku. Aku bicara sungguh-sungguh!"
"Tapi kau tak menjelaskan selanjutnya. Kau hanya menyebut-nyebut nama pemuda itu!"
"Benar, karena ini yang baru kutangkap!"
Lalu, mendengar sang istri mengeluarkan tawa mengejek, pendekar ini buru-buru menyambung, "Istriku, jangan mengejek dulu. Aku lebih mengenal gerak-gerik guruku daripada kau. Coba lihat kata-kata itu, bukankah ada sesuatu yang mirip dengan Siang Le?"
"Apanya yang mirip?"
"Kata-kata 'memukau' itu. Bukankah pemuda ini lain daripada yang lain? Bukankah dia lain dengan gurunya? Hm, aku menduga syair ini erat hubungannya dengan Siang Le, istriku. Dan ini diperkuat dengan kata-kata 'samudera'. Bukankah bocah itu terdapat di Sam-liong-to? Dan Sian-su telah menyuruh kita pergi menyelidiki ini ke Sam-liong-to. Karena pemuda itu tampak lain dari yang lain, aku menduga bahwa Siang Le ini hendak dijadikan obyek percakapan, aku yakin!"
Sang istri tertegun. Tak dapat disangkal bahwa suaminya adalah orang yang amat dekat dengan Bu-beng Sian-su dan mengenal gaya dari kakek mahasakti itu. Tapi karena suaminya tak dapat menerangkan lebih jauh dan syair itu seolah ketemu bagian kepala namun kehilangan ekornya, nyonya ini tak puas dan tentu saja ingin tahu.
"Baiklah, berkali-kali aku menangkap kesan kagum darimu untuk bocah she Siang itu. Lalu apalagi yang kira-kira dapat menopang penemuanmu ini, suamiku? Apakah hanya itu saja?"
"Ini yang menggemaskan. Sian-su terlalu aneh, istriku, aku gagal untuk menangkap berikutnya. Tapi aku yakin bahwa bocah ini yang hendak dijadikan bahan percakapan!"
"Tentang apa? Maksudku, kejelekannya ataukah kebaikannya?"
"Hm, aku tak tahu. Tapi kalau disebut-sebut kata 'mutiara' itu, barangkali adalah kebaikannya."
"Phuih, kebaikan apa yang didapat dari murid seorang datuk sesat? Bocah itu tetap tak kusukai, suamiku, apalagi setelah sinar matanya menunjukkan cinta kepada Eng-ji!"
Pendekar Rambut Emas mengerutkan kening. Kalau sang istri sudah menjawab ketus dan dingin seperti itu, dia tak mau berdebat. Ini sudah menginjak masalah suka dan tidak suka, masalah perasaan. Sambil tersenyum dan balas memandang istrinya, dia bertanya, "Baiklah, kalau begitu bagaimana denganmu, istriku? Dapatkah sesuatu kau tangkap di sini?"
"Aku bodoh, aku tak sepandai dirimu..."
"Ha-ha, omongan apa ini? Eh, kalau kau bodoh, tak mungkin kau dapat menjadi istri Kim-mou-eng, istriku. Kau berpura-pura dan mengejek aku!"
"Tidak," sang istri tersenyum. "Kau memang lebih pandai dariku, suamiku. Lihat bahwa selama ini kepandaianku masih selisih sedikit denganmu."
"Ah, itu jangan dijadikan tolok ukur. Kau wanita, sedang aku pria. Hei, kenapa melantur yang tidak-tidak? Ha-ha, kalau kita tak menemukan jawaban syair ini, biarlah lain kali kita tanya pada Sian-su, istriku. Sekarang kita simpan dan dengar Beng An menangis!"
Benar saja, Beng An, putra mereka terkecil, terdengar menangis nyaring di kamar sebelah. Swat Lian sudah berkelebat dan melihat anaknya itu. Ternyata anaknya minta minum, dan sang nyonya pun sudah memberikan minumannya. Ketika Kim-mou-eng berkelebat menyusul istrinya, Beng An tiba-tiba diam melihat ayahnya setelah tertegun sejenak memandang sang ibu.
"Ha-ha, kau kangen ayah, Beng An? Kau haus? Aih, ibumu teledor. Sudah waktunya minum tidak diberi minum... heii!" Pendekar Rambut Emas berseru tertahan karena Beng An tiba-tiba tertawa dan mengompol di pelukan ayahnya.
Ketika anak itu dilempar berjungkir balik namun ditangkap sang ibu, Swat Lian terkekeh geli melihat baju suaminya basah kuyup. "Hi-hik, itu kalau menyalahkan wanita. Nah, biar ayahmu tahu rasa, Beng An, aku jadi penasaran kalau disebut teledor!"
Pendekar Rambut Emas tertawa. Istri dan anaknya terkekeh-kekeh di sana, Beng An rupanya geli juga, dan Pendekar Rambut Emas mencubit paha anaknya dengan gemas. Ketika sang istri memberikan baju pengganti agar suaminya berganti pakaian, tiba-tiba terdengar suara ribut di luar dan teriakan-teriakan kaget.
"Taihiap, celaka! Seorang kakek tinggi besar mengamuk!"
Kim-mou-eng berkelebat. Dia sudah berada di luar ketika Kokthai, pembantunya, berteriak-teriak ketakutan. Laki-laki ini melaporkan bahwa seorang kakek tinggi besar mengamuk, menghajar, dan merobohkan orang-orang di situ. Kim-mou-eng sudah mendengar geraman di kejauhan.
Sang istri berkelebat keluar pula melihat. Ketika nyonya ini mendengar bahwa seorang kakek datang mengamuk dan melempar-lempar anak buahnya, ia mendahului dan berkelebat membentak marah.
"Biar kulihat dia... haitt!" Sang nyonya lenyap.