Chapter 74
Swat Lian marah karena bangsa Tartar diganggu. Ia memaki-maki kakek itu karena dianggapnya sangat lihai dalam mengganggu.
Namun, ketika ia berkelebat dan siap menghajar, suaminya melesat cepat, menyambar lengannya yang masih menggendong Beng An. "Istriku, jangan terburu nafsu. Jagalah Beng An, biar aku saja yang melihat!" Pendekar Rambut Emas itu berjungkir balik dan lenyap mendahului istrinya. Ia menuju ke asal suara, jauh di sebelah kanan, dan tiba di tempat itu dengan sangat cepat.
Dari jauh, ia sudah mendengar bentakan, makian, geraman, serta tubuh-tubuh yang berdebuk jatuh kesakitan. Seorang kakek tampak di sana sedang melemparkan anggota suku bangsa itu sambil memaki-maki. Dengan cepat, pendekar itu mengerahkan Jing-sian-eng-nya, berkelebat, dan menangkis pukulan kakek tersebut yang diarahkan kepada salah seorang pembantunya.
Ketika kakek itu berteriak kaget dan Kim-mou-eng tergetar hingga terhuyung mundur, barulah tampak siapa kakek tinggi besar itu.
"See-ong!"
"Hah, benar aku!" See-ong, kakek raksasa itu, menjawab dengan suaranya yang dahsyat. "Kebetulan kau di sini, Kim-mou-eng. Kudengar kau menangkap muridku dan menahannya di sini. Bebaskan dia, serahkan padaku!"
Kim-mou-eng tertegun. Ia merasa heran dan aneh bagaimana kakek itu bisa datang jauh-jauh dari Sam-liong-to, padahal ia belum pernah mengirim undangan. Namun, karena lawan sudah berada di sana dan puluhan pembantunya merintih terkapar di tanah, Pendekar Rambut Emas melangkah maju dengan mata bersinar. Ia tahu bahwa kakek ini memang hebat karena memiliki Hek-kwi-sut.
Sebelum ia sempat menjawab, istrinya berkelebat datang dan menyusul di sana. "Heh, siapa pembuat onar ini, Suamiku? Orang gila dari mana? Oh... See-ong!?" Sang nyonya yang kaget tiba-tiba menghentikan kata-katanya. Ia mendelik memandang kakek tinggi besar itu. Nafsu membunuh tiba-tiba memancar teringat pembunuhan yang dilakukan See-ong terhadap ayahnya, Hu-taihiap.
Maka, begitu tertegun, nyonya itu melengking, berkelebat, dan menghantam See-ong. "See-ong, kau pembunuh jahanam!"
See-ong terkejut dan cepat mengelak. Namun, si nyonya mengejar, membalas dengan tamparan bertubi-tubi. Karena tidak mungkin mengelak tanpa harus menangkis, kakek tinggi besar itu terpaksa melakukannya.
"Dess!"
Dua-duanya terpental. See-ong menggeram, sementara si nyonya melengking-lengking, berjungkir balik, dan menyerang lagi. Ketika pukulan Khikang menyambar dan ilmu meringankan tubuh Jing-sian-eng diperlihatkan, kakek itu terpelanting dan dua kali menerima pukulan dahsyat.
"Des-dess!"
See-ong tak apa-apa. Kakek ini memang hebat dan akhirnya menggereng. Ia berkelebat menggunakan Hek-kwi-sut-nya. Sang nyonya terpekik ketika lawan tiba-tiba menghilang dari depannya. Ketika Beng An tahu-tahu ditarik dan dibetot dari tangannya, sang nyonya menjerit dan menghantam ke kiri.
"Des-wirr!"
See-ong tidak ada. Kakek itu tertawa bergelak di balik bayangan Hek-kwi-sut-nya, menyambar lagi ke kanan, dan menarik anak laki-laki itu dari pelukan si nyonya. Swat Lian memang membawa anaknya ke sana, tidak menuruti nasihat suaminya agar ia tidak perlu melihat siapa pengacau ini dan membiarkan suaminya saja yang menghadapi.
Begitu See-ong menghilang di balik ilmu hitamnya dan secara berganti-ganti menarik atau membetot Beng An dari kanan kiri ibunya, Swat Lian terkejut dan melengking marah. Ia tidak dapat melihat kakek itu. Yang ia rasakan hanya angin sambaran See-ong di kiri kanan tubuhnya yang berusaha merampas Beng An.
Ketika nyonya itu sibuk memaki-maki See-ong, Pendekar Rambut Emas bergerak menolong istrinya. Ia berkelebat menghantam bayangan See-ong yang ada di belakang istrinya setelah mengerahkan tenaga batinnya.
"See-ong, minggir... dess!"
See-ong berteriak. Kakek tinggi besar itu rupanya terkena dan jungkir balik. Ia membentak dan menyerang lagi, namun Pendekar Rambut Emas menangkisnya. See-ong terpental dan memaki-maki ketika setiap pukulannya ditolak. Lawan benar-benar dapat melihatnya, dan tampaklah sinar mencorong di mata Pendekar Rambut Emas yang bercahaya bagai mata naga, penuh getaran.
Ketika kakek itu merasa gagal dan Pendekar Rambut Emas sudah melindungi anak istrinya, See-ong tampak kembali setelah sebuah ledakan menggetarkan tempat itu.
"Dar!"
See-ong muncul. Kini kakek itu tampak beringas dan mendelik merah padam, namun tidak apa-apa. Berkali-kali tangkisan Kim-mou-eng tidak membuat kakek ini terluka. Jangankan terluka, lecet sedikit pun tidak. Ketika Kim-mou-eng kagum dan memuji kakek ini, See-ong menggeram marah.
"Kim-mou-eng, serahkan muridku, atau aku akan mengamuk di sini!"
"Hm, kau hebat. Kau boleh mengamuk kalau ingin mengamuk, See-ong. Kebetulan kau datang dan kami dapat menuntut perbuatanmu membunuh mertuaku. Muridmu memang ada di sini, kutangkap. Sekarang coba kau ambil kalau bisa!"
Pendekar Rambut Emas bersiap. Tentu saja ia tidak akan membiarkan See-ong berbuat sesukanya. Kakek tinggi besar itu melotot, matanya menjadi sebesar jengkol dan tampak mengerikan; merah kehitaman, seolah akan menyembur bola api.
Namun, ketika kakek itu menggereng dan siap menerjang, Swat Lian yang penasaran segera bergerak ke depan dan menyerahkan Beng An pada suaminya. "See-ong, aku ingin membunuhmu. Biar kau hadapi aku dulu dan kita bertanding!"
Kim-mou-eng terkejut. Sebenarnya ia ingin menyuruh istrinya beristirahat karena lawan cukup lihai. Namun, karena istrinya sudah maju dan anehnya Beng An tidak menangis atau ketakutan, pendekar ini hanya menggendong anaknya dan menggeser tubuh sedikit menjauh untuk melindunginya.
"Istriku, hati-hati. Sebaiknya kau saja yang menjaga Beng An dan aku menghadapi kakek itu!"
"Tidak, aku ingin membunuh kakek ini, Suamiku. Dia telah membunuh ayah dan aku ingin menuntut balas!"
"Ha-ha, boleh!" See-ong tertawa bergelak. "Kau tak dapat membunuh aku, Hujin. Jangan sombong dan bermulut besar!"
"Aku tentu akan membunuhmu!"
Sang nyonya tiba-tiba berkelebat melepas pukulan Lu-ciang-hoat. Sinar putih berkeredep disertai ledakan panas menyambar kakek itu. Namun, ketika See-ong mengelak dan sang nyonya mengejar, pukulan kedua menyambar lagi dan See-ong mengumpat.
"Dukk!"
See-ong tergetar. Swat Lian terpental, tapi sambil berjungkir balik wanita ini menyerang lagi dengan bentakan dan lengkingan. Ketika nyonya itu melepas pukulan bertubi-tubi dan See-ong mengelak sambil menangkis, kakek ini ganti terpental ketika Khikang atau Lu-ciang-hoat menghantam dirinya.
"Dess-plak!"
Kakek ini memaki-maki. Akhirnya ia melengking dan berkelebatan mengimbangi sang nyonya dengan ilmu meringankan tubuhnya. See-ong mencoba bertahan tanpa mengeluarkan Hek-kwi-sut. Namun, ketika ia selalu terpental oleh pukulan Bola Sakti, kakek ini memaki dan akhirnya terpaksa mengeluarkan ilmu hitamnya.
"Keparat, kau lihai, Hujin. Tapi coba serang aku kalau bisa... wut!"
See-ong menghilang, berlindung di balik ilmu hitamnya. Ia tertawa ketika sang nyonya memekik kaget kehilangan lawan dan pukulan-pukulannya hanya menghantam angin kosong. See-ong sudah berubah menjadi bayangan dan Hek-kwi-sut membuat kakek itu tidak tampak. Hanya Pendekar Rambut Emas yang dapat melihatnya karena tenaga batinnya lebih tinggi. Swat Lian hanya melihat bayangan samar dan memaki-maki dengan marah.
Ketika bayangan itu selalu berpindah-pindah, semakin cepat ia menyerang, semakin cepat pula bayangan itu bergerak. Khikang maupun Lu-ciang-hoat gagal menghantam kakek ini.
"Ha-ha, sekarang aku membalas, Hujin. Coba dan rasakan... dess!"
See-ong mulai membalas dari balik bayangan Hek-kwi-sut-nya. Sang nyonya terpekik. Swat Lian terhuyung namun tidak terjatuh. See-ong melepas pukulan lagi dan sang nyonya tergetar, namun ia berhasil melindungi diri. Khikang ternyata cukup ampuh untuk menolak pukulan-pukulan See-ong, membuat kakek itu terpental dan marah bukan main. Ia sendiri yang menyerang, namun ia sendiri yang terpental.
Ketika kakek itu menggeram dan Swat Lian terhuyung-huyung menerima pukulan, See-ong sendiri juga terpental dan berseru kaget karena serangannya bertemu Khi-bal-sin-kang yang melindungi tubuh sang nyonya.
"Hargh, kau hebat, Hujin. Tapi coba balas aku!"
"Keparat jahanam! Kau berlindung di balik Hek-kwi-sut-mu, See-ong. Kau pengecut dan tidak jantan!"
"Ha-ha, inilah ilmu andalanku, sama seperti kau yang mengandalkan Khikang. Heh, tak usah banyak cakap, Hujin. Mari kita lihat siapa yang lebih dulu roboh!"
See-ong gemas, akhirnya membentak dengan suara dahsyat dan mengeluarkan Sin-re-ciang, Tangan Karet. Kakek ini mencoba meredam Pukulan Bola Sakti yang melindungi nyonya itu, yang setiap kali mementalkan pukulannya karena sifatnya yang kenyal dan empuk seperti karet namun memiliki daya tolak yang besar. Sekuat apa pun lawan menyerang, sekuat itu pula lawan terpental. See-ong bahkan hampir terjengkang dua kali.
Ketika kakek itu mengeluarkan Sin-re-ciang, Tangan Karet ini pun terpental saat bertemu Khi-bal-sin-kang. See-ong menggeram dan melotot. Tangan Karet adalah ilmu yang sebenarnya khusus memanjangkan lengan, yang dapat mulur dan mengkeret seperti karet. Namun, tenaganya tetap tenaga sakti biasa, dan tenaga inilah yang selalu tertolak oleh Khikang. Kakek itu merasa sangat gemas.