Halo!

Istana Hantu - Chapter 75

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 75

Namun, ketika See-ong menggeram dan memaki nyonya itu, Swat Lian pun membalas dengan mencak-mencak dan memaki See-ong.

"Bedebah! Perlihatkan dirimu, See-ong. Ayo bertempur secara ksatria!"

"Ha-ha, tak usah berkaok-kaok. Aku pun sukar merobohkanmu, Hujin. Kalau kau mampu, coba robohkan aku!"

"Haiittt...!" Sang nyonya yang melengking panjang membentak marah. Tiba-tiba, melihat bayangan kakek itu di sebelah kirinya, samar namun cepat, ia melepas pukulan. Kali ini, Khi-bal-sin-kang digabung dengan Lu-ciang-hoat dengan kekuatan yang luar biasa. See-ong terkejut dan hendak menghindar, namun tidak sempat. Ketika kakek itu membentak untuk memperkuat Hek-kwi-sut-nya, Swat Lian menghantam bayangan yang tiba-tiba berbentuk seperti asap.

"Dess!" Pukulan itu hampa, hanya mengenai angin kosong.

See-ong menangkis namun cepat menghilang dengan bentakannya. Kakek itu terpental, namun Swat Lian tidak melihatnya. See-ong marah dan memekik. Tiba-tiba, ia berjungkir balik dan melewati kepala sang nyonya yang hanya mendengar kesiur angin menyambar di atasnya. Ketika kakek itu menampar dan sebuah pukulan telak menghantam tengkuk nyonya itu, Swat Lian tidak sempat berbalik. Pukulan See-ong tepat mengenai belakang kepala sang nyonya.

"Plak!" Swat Lian terjungkal. Nyonya cantik itu mengeluh, bergulingan, lalu memekik dan memaki kakek tinggi besar itu. Ketika See-ong harus berjungkir balik untuk membuang daya tolak Khikang, kakek itu pun menggeram dan memaki-maki.

"Keparat, jahanam Khikang-mu itu, Hujin! Bedebah dan laknat terkutuk!"

"Kaulah yang laknat terkutuk!" Swat Lian melengking. "Kau pengecut tak tahu malu, See-ong. Bisanya menyerang di balik ilmu hitam!"

"Hm, tak usah bercuap-cuap. Lihat saja siapa yang bakal kehabisan tenaga!" See-ong kembali bersembunyi dan menyerang di balik Hek-kwi-sut-nya, mendesak sang nyonya. Swat Lian melotot gusar, namun See-ong diam-diam juga mengutuk. Nyonya itu beberapa kali akan terpelanting namun selalu meloncat bangun. See-ong mengerutkan kening karena kagum. Karena sang nyonya berada di pihak bertahan sementara ia terus menyerang, kakek ini merasa lebih beruntung melihat lawannya mulai terengah-engah.

"Ha-ha, menyerahlah, Hujin. Kau sebentar lagi roboh!"

"Roboh hidungmu!" Swat Lian membentak. "Aku tak mungkin roboh, See-ong. Kau pun tampak lelah dan mulai memburu napasmu!"

See-ong mengumpat. Memang benar, meski sang nyonya terengah-engah dihantam pukulan, ia sendiri juga mulai memburu napasnya. Tenaga yang dilepas berkali-kali pasti mengurangi kekuatan, betapapun hebatnya seseorang. Ketika kakek itu menghentikan makian karena mulai berkeringat, tiba-tiba Pendekar Rambut Emas berkelebat menyambar tengkuk See-ong.

"Cukup, kau sekarang roboh, See-ong. Coba hadapi pukulanku ini dan terimalah... dess!"

See-ong terkejut dan terpekik. Kim-mou-eng tiba-tiba membantu istrinya dengan menyerang dari samping. Ketika jari-jari Pendekar Rambut Emas menyentuh tengkuknya, secepat kilat kakek ini memutar pinggang, menangkis, sekaligus menghantam muka lawan.

"Dess!" See-ong menjerit. Pendekar Rambut Emas menekuk pergelangan tangannya, menangkap pukulan kakek itu, mencengkeram pergelangannya, lalu mengangkat dan membanting See-ong dengan kuat.

"Bress!" See-ong mengeluh. Kakek ini menggulingkan tubuh untuk menjauhkan diri, tak tahunya lawan mengejar. Sekali lagi, jari Pendekar Rambut Emas menangkap lehernya, diangkat, dan dibanting.

Ketika Kim-mou-eng hendak menotok dan merobohkan kakek itu, See-ong tiba-tiba membentak dan melempar sesuatu.

"Bushh!" Kim-mou-eng terkejut. Semacam bubuk ungu berhamburan di mukanya, mendesis, dan meledak seperti petasan. Kim-mou-eng berjungkir balik dan tidak berani menangkis. Namun, ketika ia melayang turun, See-ong memperkuat ilmu hitamnya, menghilang, dan berkelebat entah ke mana.

"Heii...!" Kim-mou-eng kehilangan lawan dan terkejut. "Awas, Lian-moi. Ke sini!"

Benar saja, Swat Lian terpekik ketika bubuk ungu tiba-tiba menyambar mukanya. Saat ia berjungkir balik dan memaki, See-ong terdengar terbahak di sebelah kanan. "Ha-ha, bagus. Sekarang kalian mengeroyok aku, Kim-mou-eng. Sungguh tak jantan!"

Kim-mou-eng berdebar. Ia melihat kakek itu terpaksa dibantu bubuk beracun yang dapat membius dan mencekik pernapasan. Ia segera mengerahkan sinkang untuk menahan racun tersebut, meniup, dan membuyarkan baunya. Saat sang istri kembali ke dekatnya dalam keadaan selamat, bubuk itu menipis dan Kim-mou-eng melihat See-ong berkelebat memasuki perkampungan bangsa Tartar, mendengar teriakan Siang Le yang mengetahui kedatangan gurunya.

"Suhu, aku di sini...!"

Swat Lian berkelebat, melihat bayangan See-ong yang melarikan diri memasuki perkampungan. Kakek itu rupanya gentar setelah Kim-mou-eng maju membantu. Swat Lian melengking melihat kakek itu menuju ke arah muridnya yang dikurung di belakang rumah.

"Heii..!" Nyonya itu berteriak. "Pertandingan kita belum selesai, See-ong. Kau masih mempunyai hutang jiwa untuk arwah ayahku!"

"Ha-ha, aku sudah menemukan muridku!" Kakek itu tertawa terbahak. "Lain kali biar kita main-main lagi, Hujin. Aku sudah tak bernafsu setelah melihat kelicikan suamimu!"

"Keparat, suamiku tidak licik. Dia menantangmu bertanding, ayo layani dia atau aku!" Sang nyonya tak mau melepaskan See-ong karena hutang nyawa belum dibayar.

See-ong sudah sampai ke arah muridnya dan membuka kerangkeng dengan sekali renggut hingga gembok besi itu putus. Ketika kakek itu tertawa menyeramkan dan menyambar muridnya, See-ong membalikkan tubuh saat pukulan sang nyonya tiba.

"Dess!" See-ong mencelat bersama muridnya. Ia berjungkir balik, menggerakkan tangan, dan tiba-tiba lenyap ketika Hek-kwi-sut meledak melindunginya. Swat Lian mencak-mencak karena kehilangan lawan. Kakek itu tidak mau berlama-lama karena Pendekar Rambut Emas sudah bersiap di belakang istrinya.

Ketika kakek itu tertawa dari kejauhan dan benar-benar tidak mau bertempur lagi setelah mendapatkan muridnya, Swat Lian membanting kaki dengan gusar. "See-ong, kau pengecut tak tahu malu. Ayo hadapi aku dan jangan lari!"

"Sudahlah," Pendekar Rambut Emas berkata sambil menekan pundak istrinya. "See-ong datang hanya untuk mengambil muridnya. Siang Le telah diambil, kita tak usah mengejar."

"Ah, tak mengejar bagaimana? Dia berhutang satu jiwa, suamiku. Kita harus mengejar dan membunuhnya!"

"Tapi Beng An menangis, lihat!" Pendekar Rambut Emas mencubit putranya. Beng An yang sejak tadi diam tiba-tiba menangis keras. Swat Lian tertegun dan segera memeluk anaknya. Ia tidak tahu bahwa suaminya sengaja mencegah pengejaran karena ada beberapa alasan, salah satunya untuk melepaskan Siang Le, pemuda yang tidak disukai istrinya.

Pendekar Rambut Emas diam-diam lega. Swat Lian masih marah-marah, namun ketika suaminya menjawab dengan tenang bahwa tidak mungkin mengejar jika Beng An bersamanya, kemarahan sang istri perlahan padam.

"Lihat, Beng An bersamaku. Bagaimana mungkin mengejar kakek itu, Istriku? Aku tak berani mengorbankan Beng An, kakek itu terlampau berbahaya dan lihai!"

Swat Lian terdiam dan akhirnya mengakui. Ia tidak tahu suaminya berbohong demi keselamatan semua. Saat wanita cantik itu kembali ke tempatnya dengan uring-uringan, Kokthai datang dengan terbata-bata.

"Taihiap, maaf... Hujin, ampunkan aku. Di luar ada seorang wanita mau menghadap!"

"Siapa lagi? Wanita dari mana?" Sang nyonya melampiaskan kemarahannya. "Suruh dia masuk, biar kudamprat!"

"Aku..." Suara lirih itu tiba-tiba diiringi isak tertahan. "Maaf, Kim-hujin, agaknya aku datang tidak tepat pada waktunya..."

"Cao Cun...!" Swat Lian dan Pendekar Rambut Emas berseru hampir bersamaan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment