Halo!

Istana Hantu - Chapter 76

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 76

Mereka menoleh dengan cepat ke arah suara itu, melihat seorang wanita cantik tiba-tiba menutupi wajahnya sambil menangis. Isak tangis itu sempat ditahan, namun akhirnya meledak juga.

Di belakang wanita cantik tersebut, berdiri dua gadis remaja berhidung mancung yang tampak menggigil. Tiba-tiba mereka berlutut dan menjatuhkan diri di depan Kim-mou-eng beserta istrinya.

"Taihiap, Hujin... kami mohon maaf sebesar-besarnya. Kami dan Ibu... ah, kami dan Ibu datang mengganggu!"

Kim-mou-eng berkelebat. Dia tersentak melihat kedatangan tiga orang ini yang ternyata diiringi oleh beberapa pengawal dan dayang. Mereka adalah orang-orang bangsa U-min yang mengawal Cao Cun; semuanya tampak pucat dan gemetar memandang Swat Lian. Nyonya cantik ini sedang marah-marah, membuat mereka ketakutan.

Ketika Kim-mou-eng membangunkan Cao Cun dan dua gadis remaja itu, Swat Lian segera bergerak menangkap Cao Cun dan memeluknya.

"Maaf, aku... aku tak tahu kalau kau yang datang, Cao Cun. Aku sedang marah karena See-ong menggangguku!"

"Aku tahu," jawab Cao Cun dengan wajah dibanjiri air mata dan tersedu-sedu. "Dan aku yang salah, Hujin. Ah, orang malang seperti diriku ini memang selalu mendatangkan sial kepada orang lain. Maaf, kalau begitu... biarkan aku pergi!"

Cao Cun yang sedang terisak melepaskan diri dari pelukan nyonya rumah. Ia tiba-tiba memutar tubuhnya sambil menangis terguncang, terpukul, dan terkejut oleh kemarahan Swat Lian tadi. Wanita itu berlari namun tiba-tiba jatuh tersandung tali kemah. Saat Swat Lian menyambar dan mencengkeram lengannya, nyonya cantik itu ikut menangis karena menyesal.

"Cao Cun, maafkan aku. Aku tak sengaja, aku tidak memaki-makimu. Ada apa dan kenapa kau datang tiba-tiba? Siapa dua gadis yang bersamamu ini? Apakah Nangi dan Salini?"

"Ooh, kau tahu?" Mata itu tertegun, tangis pun berhenti. "Mereka benar Salini dan Nangi, Kim-Hujin. Mereka anak-anakku!"

"Hm, mari duduk. Aku dan suamiku benar-benar terkejut melihat kedatanganmu. Mari... jangan dengarkan kata-kataku tadi, atau aku akan berlutut di depanmu untuk minta maaf!"

"Ah, jangan!" Cao Cun menahan pundak wanita itu. "Kau tak bersalah, Hujin. Akulah yang datang tidak tepat pada waktunya..."

"Tidak, kapan pun kau boleh datang ke mari, Cao Cun. Tapi omong-omong, beritahukanlah kepada kami bagaimana kau bisa datang secara tiba-tiba dan mengejutkan seperti ini?"

"Maaf," Cao Cun tak menghiraukan pertanyaan itu. "Aku ingin tahu bagaimana kau bisa mengenal nama putri-puteriku ini, Hujin. Dari mana kau tahu dan apakah kau pernah bertemu mereka?"

"Tidak, aku... hm, aku mendengarnya dari Ituchi!"

"Apa?"

"Benar, Ituchi telah datang ke sini, Cao Cun. Aku telah mendengar apa yang terjadi di antara kalian, ibu dan anak. Barangkali kau datang untuk urusan ini?"

"Ooh!" Cao Cun terhuyung sambil menutupi wajahnya. Ia kembali menangis dan roboh. Nyonya rumah mencoba mengangkatnya, tetapi wanita itu menolak. Cao Cun tersedu-sedu, lalu kedua anak perempuannya menangis pula sambil menubruk ibu mereka. Melihat ibu dan anak itu menangis dengan gemetar, Pendekar Rambut Emas saling pandang dengan istrinya dan memberi isyarat untuk maju.

"Cao Cun, agaknya tak ada masalah di dunia ini yang hanya bisa diselesaikan dengan tangis. Maaf, bangkitlah dan ceritakan kepadaku apa yang telah terjadi. Aku dan istriku pasti membantu. Bangkitlah, jangan membuat kami bingung!"

Cao Cun mengguguk. Kalau saja mereka masih sama-sama muda dan belum berkeluarga, pasti ia sudah menubruk Pendekar Rambut Emas ini—laki-laki yang selalu menolongnya dan pernah membuatnya jatuh cinta demikian hebat. Namun, kini semua itu tak mungkin dilakukan. Pendekar ini telah beristri dan Cao Cun pun membawa anak-anaknya, Salini dan Nangi. Begitu Pendekar Rambut Emas membujuk dan menarik pundaknya secara perlahan, wanita ini mau bangkit berdiri. Ia menatap sejenak, lalu tiba-tiba menubruk Swat Lian sambil menangis.

Setelah Swat Lian memeluknya dan Beng An diserahkan pada seorang pembantu, Cao Cun tersendat-sendat menceritakan maksud kedatangannya.

"Aku... aku bukan datang untuk masalah putraku itu. Tetapi aku datang untuk urusan negara!"

"Ah, urusan apa?"

"Rencana penyerbuan, Hujin. Peperangan besar yang bakal menyengsarakan rakyat!"

Swat Lian tertegun. "Peperangan?"

"Benar, Hujin. Perang antara bangsa U-min dengan Tiongkok, antara bangsa itu dengan bangsa-bangsa lain, termasuk bangsamu, Tartar!"

Swat Lian terkejut. Namun, sebelum ia bertanya, suaminya sudah mencekal lengan wanita itu.

"Cao Cun, apa katamu? Bangsa U-min mau melakukan perang besar? Mereka gila? Bukankah Cucigawa sudah tunduk dan di bawah kekuasaan kaisar?"

Cao Cun tersedu. "Ada sesuatu yang terjadi, Kim-twako, perubahan besar-besaran. Perubahan inilah yang membuat segalanya bakal terjadi!"

"Sampai kau melarikan diri ke sini?"

"Benar."

"Ah, coba ceritakan!"

Pendekar Rambut Emas melepaskan cekalannya saat Cao Cun menarik diri secara halus. Kemudian, ia mendengar satu kalimat yang mengejutkannya bagaikan petir di siang bolong.

"Bangsa U-min kini dikuasai seorang pemuda, dan pemuda itu adalah Togura, putra mendiang suhengmu, Gurba!"

"Apa?"

"Benar, pemuda itu datang bersama kelima gurunya, Kim-twako. Bangsa Uighur maupun Khitan sudah ditaklukkan dan digabung dengan bangsa U-min. Mereka hendak melakukan serbuan besar-besaran untuk menghantam Tiongkok!"

Pendekar Rambut Emas tertegun. Wajahnya terbelalak kaget. Berita itu baginya seperti petir di siang bolong. Ketika ia berhasil menenangkan diri dan mengeluarkan seruan tertahan, Cao Cun menangis sambil mengepalkan tinjunya.

"Twako, bocah ini amat lihai. Aku takut tugasku akan gagal. Tolonglah aku dan cegahlah keponakanmu ini!"

"Hm!" Kim-mou-eng tertegun dan kagum. "Kau selalu memikirkan tugas jauh di atas urusan pribadimu sendiri, Cao Cun. Seharusnya kau lebih berduka untuk permusuhanmu dengan Ituchi!"

"Aku... aku dapat menahan itu. Aku memang salah..."

"Tidak!" Swat Lian tiba-tiba menyambar lengannya, merasa kagum. "Kau tak bersalah, Cao Cun. Ituchi tak tahu apa yang terjadi atas dirimu. Kami telah menjelaskannya, dan pemuda itu kembali lagi bersama Thai Liong!"

"Apa? Dia mencari aku?"

"Benar, dia ingin minta maaf, Cao Cun. Kami menasihatinya hingga putramu sadar. Kau tenanglah, putramu tidak membencimu!"

"Ooh!" Cao Cun merasa gembira dan bahagia mendengar ini. Ia tiba-tiba menubruk wanita cantik itu sambil menangis girang. "Terima kasih, Hujin... ooh, terima kasih!"

"Sudahlah," Swat Lian terharu dan mencium wanita yang pernah mencintai suaminya ini. "Putramu adalah seorang yang gagah, Cao Cun. Dia persis ayahnya, Raja Hu. Aku yakin tak akan ada apa-apa di antara kalian ibu dan anak!"

Cao Cun terisak-isak. Akhirnya, ia hanya mengangguk-angguk; kerongkongannya tersekat oleh kebahagiaan. Ternyata Ituchi tak membencinya. Anak laki-lakinya satu-satunya itu sudah mau mengerti keadaannya, dan ini semua adalah berkat jasa Pendekar Rambut Emas suami-istri. Ketika Swat Lian memeluknya dan Cao Cun membalas ciumannya, wanita itu gemetar menyatakan terima kasih berulang-ulang, membuat Swat Lian semakin terharu.

"Sudahlah," Swat Lian teringat persoalan semula. "Sekarang bagaimana menghadapi persoalanmu, Cao Cun? Bagaimana dengan Togura itu dan apa yang harus kami lakukan?"

"Aku menyerahkannya pada suamimu..." Cao Cun menghela napas memandang Pendekar Rambut Emas. "Aku tak berdaya apa-apa..."

"Hm!" Mata Pendekar Rambut Emas bersinar. "Jadi, putra suhengku itu sudah menguasai bangsa U-min, Cao Cun?"

"Bukan hanya bangsa U-min, Twako, melainkan bangsa-bangsa lain termasuk Khitan dan Uighur!"

"Baiklah, aku akan melihat anak itu!" Pendekar Rambut Emas gemas. "Bagaimana pendapatmu, Istriku? Adakah saran atau pendapat?"

"Aku terserah kau," jawab sang istri. "Apakah kau akan ke sana, Suamiku? Membekuk dan menangkap putra mendiang suhengmu itu?"

"Hm, tentu. Ini berbahaya. Dapat pecah perang besar antara Tiongkok dengan bangsa-bangsa yang sudah dikumpulkan Togura!"

"Kalau begitu, pergilah. Aku di sini bersama Cao Cun!" Swat Lian setuju, melegakan hati sang suami sementara Cao Cun merasa terharu.

Wanita ini terisak dan mencengkeram lengan Swat Lian, tiba-tiba teringat kematian Hu-taihiap. Ia menyatakan penyesalan karena tak dapat memberikan apa-apa selain duka cita yang mendalam. Hari itu, rombongan Cao Cun diterima menjadi tamu bagi bangsa Tartar, dan Cao Cun sangat berterima kasih. Untuk kesekian kalinya, ia menerima kebaikan keluarga Kim-mou-eng. Berkali-kali ia harus merepotkan pendekar ini selama perjalanan hidupnya.

Ketika Kim-mou-eng hendak berangkat, Swat Lian tidak khawatir karena Togura dan guru-gurunya dianggap enteng—mengingat suaminya dulu dapat menundukkan Siauw-jin dan teman-temannya. Cao Cun berlutut di kaki Pendekar Rambut Emas, mengejutkan yang bersangkutan.

"Kim-twako, atas nama bangsa U-min dan diriku pribadi, aku menyatakan terima kasih dan syukur yang sebesar-besarnya. Kau sungguh mulia. Semoga selamat dan pulang secepatnya, anak-istrimu menunggu!"

"Ah," Kim-mou-eng terkejut. "Jangan begini, Cao Cun. Bangunlah!" Ia menepuk pundak wanita itu dan menamparnya perlahan. "Kau dan aku sudah seperti saudara. Jangan membuat aku malu dengan penghormatanmu yang berlebihan itu!"

"Tidak," wanita ini terisak. "Aku bicara atas nama bangsa U-min, Twako. Mereka pantas berlutut di depan kakimu. Semoga berhasil, doaku bersamamu!"

Kim-mou-eng tertawa. Ia mendorong dan mengedipkan mata pada istrinya agar berhati-hati melindungi wanita ini beserta rombongannya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment