Halo!

Istana Hantu - Chapter 77

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 77

Namun, ketika dia hendak berkelebat dan berangkat, tiba-tiba Cao Cun teringat kelihaian Togura dan berpesan, "Twako, hati-hati terhadap keponakanmu itu. Dia mampu mengalahkan guru-gurunya!"

Kim-mou-eng tersenyum. Untuk itu, ia hanya mengangguk dan tidak menyimpannya dalam hati. Cao Cun adalah seorang wanita lemah yang tidak tahu tinggi rendahnya ilmu silat, tak perlu digubris, dan tentu saja pesannya itu dianggap sebagai bentuk kehati-hatian belaka. Maka, begitu dia mengucap agar tidak perlu khawatir karena ia dapat menjaga diri, pendekar ini pun berkelebat dan lenyap setelah berseru kepada istrinya, "Niocu, jaga Beng An. Aku pergi!"

Begitu Pendekar Rambut Emas lenyap meninggalkan mereka, Cao Cun mengangguk dan berdebar. Ia diam-diam merasa waswas karena Togura saat ini memang sangat lihai.

Siapa yang akan kita ikuti? Pendekar Rambut Emas ini, ataukah Thai Liong dan Ituchi yang juga berniat menuju ke bangsa U-min? Namun, mengingat dua orang pemuda ini sudah lama tidak muncul dan agaknya membelokkan perjalanan, biarlah kita ikuti perjalanan Pendekar Rambut Emas. Dengan sedikit mendongkol dan gemas, ia hendak membekuk pemuda itu; pemuda pemberani yang tak kenal takut dan penuh semangat menyala-nyala. Kim-mou-eng melihat duplikat suheng-nya di situ, mendiang Gurba yang gagah perkasa namun sayang sesat. Hidupnya menjadi kelam karena nafsu dan ambisi yang akhirnya membawanya ke jurang kehancuran. Pendekar ini menarik napas panjang mengingat semua itu.

Ketika dengan ilmunya yang luar biasa pendekar ini terbang ke bangsa U-min, Kim-mou-eng dibuat tertegun. Di suku bangsa itu, yang tinggal hanyalah perempuan, anak-anak, dan orang tua.

"Semua yang muda dan kuat pergi berperang. Raja yang baru membawa mereka," ujar seorang kakek tinggi kurus yang pucat dan gemetar saat menjawab pertanyaan Kim-mou-eng tentang Togura, yang telah mengangkat diri sebagai raja.

Kakek itu mengerutkan kening. Ia memandang ragu dan curiga ke arah pendekar berambut keemasan ini karena tidak tahu siapa yang diajak bicara. Namun, ketika Kim-mou-eng menenangkan orang tua itu dengan kepandaiannya yang luar biasa—di mana ia dapat menghilang dan muncul lagi di depan kakek itu—sang kakek akhirnya menganggap Kim-mou-eng sebagai dewa.

"Ah, kiranya aku berhadapan dengan Sin-sian (Dewa Sakti). Ampun, hamba tak tahu, Sin-sian... hamba tak tahu!"

"Bangkitlah, tak apa," Kim-mou-eng tersenyum, mengetahui bahwa suku-suku di luar Tembok Besar memang masih kuat takhayulnya dan kepercayaan pada dewa-dewa. "Katakan padaku, bagaimana kesanmu dengan raja yang baru, orang tua? Baik atau tidak?"

"Sama saja," seru sang kakek. "Raja Cucigawa maupun raja yang baru ini sama-sama mempergunakan kepentingannya melalui rakyat, Sin-sian. Mereka sama-sama jahat dan aku tak suka!"

"Hm, apa yang dilakukannya?"

"Pemerasan dan pemaksaan. Semua anak muda di sini harus menjadi prajurit dan diajak berperang. Raja yang baru bahkan haus darah!"

Kim-mou-eng mengangguk-angguk. Ia mendengarkan cerita kakek itu; betapa Togura mempergunakan kelebihannya untuk memaksa bangsa U-min, mengajak para pemuda untuk maju sebagai prajurit, ingin menyerbu Tiongkok dan menundukkan bangsa Han, serta menyapu bersih bangsa lain yang tidak mau tunduk kepadanya dengan sikap tangan besi dan haus perang. Ia ingin menjadi yang terbesar di antara yang besar.

Kakek itu mulai menangis saat menceritakan bahwa pemuda ini juga suka mempermainkan wanita-wanita cantik, tidak peduli gadis atau istri orang. "Mantuku menjadi korban. Dan anak laki-lakiku, ah... raja yang baru ini jahat sekali, Dewa. Tolonglah aku dan bangsa U-min!"

"Apa yang dia lakukan?"

"Mantuku perempuan diambil dan dipermainkan. Lalu ketika anakku laki-laki menuntut dan marah-marah, ia malah dibunuh!"

"Hm, dan mantu perempuanmu?"

"Akhirnya... akhirnya bunuh diri, Dewa. Dia diberikan pada dua kakek iblis yang memperkosanya hingga pingsan!"

"Siapa kakek iblis itu?"

"Guru dari Raja Muda, yang satu cebol dan yang lain tinggi kurus!"

Cukuplah bagi Kim-mou-eng. Itu tentu Hek-bong Siauw-jin dan Cam-kong, guru Togura. Kakek-kakek yang bisa melakukan hal-hal yang lebih keji lagi, yang sudah membuat muka Pendekar Rambut Emas ini merah padam. Kakek itu terus menceritakan betapa sebagian besar wanita cantik di situ sudah dinodai oleh Togura. Ia menuding ke sana ke mari.

"Lihat mereka itu... tanyakan semuanya. Tak ada yang tidak dipermainkan Raja Muda, Dewa. Gadis-gadis di sini dilalap hampir setiap malam. Dan yang lebih keji, raja dan dua kakek iblis itu mulai mengganggu anak-anak kecil untuk diperkosa, laki-laki ataupun perempuan!"

Kim-mou-eng hampir tak kuat lagi. Kalau Togura dan dua gurunya sudah mengganggu anak-anak kecil, maka pemuda itu sudah menderita kelainan jiwa. Kim-mou-eng bergidik ngeri, marah, geram, sekaligus muak. Ketika si kakek berlutut memohon agar ia menyelamatkan bangsa itu, Kim-mou-eng berkelebat lenyap setelah menanya ke mana Togura membawa pasukannya yang berjumlah tak kurang dari sepuluh ribu orang.

"Mereka ke selatan, mendobrak Tembok Besar. Tolong, Dewa, bunuh pemuda itu..."

"Baik!"

Kim-mou-eng lenyap sebelum omongan si kakek habis, membuat kakek itu bengong dan kaget karena melihat bayangan kuning keemasan "terbang" ke selatan dengan kecepatan seperti kilat menyambar. Saat sadar, kakek itu melonjak girang dan berteriak memberi tahu semua orang bahwa seorang dewa telah datang memperhatikan mereka dan siap menghadapi Raja Muda—sebutan yang mulai digunakan untuk Togura.

Melihat kilasan kuning emas itu, semua orang beramai-ramai menjatuhkan diri, berlutut, dan menengadahkan lengan ke atas. Mereka percaya dan gemetaran ke arah "dewa", berkali-kali membenturkan dahi dan menggumamkan kata-kata penuh kegembiraan dan harapan.

Sementara orang-orang itu berlutut, Pendekar Rambut Emas sudah meluncur ke selatan dengan mengerahkan seluruh kecepatannya. Ia kaget dan gelisah karena Togura telah melakukan penyerbuannya. Bangsa U-min dan bangsa lain dibawa; betapa licik dan berbahayanya pemuda itu, karena yang akan menjadi korban tentulah orang-orang kecil, para prajurit rendahan yang hanya menjalankan perintah atasannya.

Ketika Tembok Besar sudah didekati, pendekar ini melakukan pengejaran dan ternyata Togura sudah menjebol perbatasan. Kim-mou-eng marah melihat mayat di mana-mana. Serbuan besar-besaran yang tidak diduga oleh bangsa Tiongkok itu membuat penjaga perbatasan kacau. Togura menggilas dan menyerbu masuk ke selatan. Ketika satu demi satu kota di dekat perbatasan jatuh, Kim-mou-eng terpaku di kota Ci-nien, melihat kota itu sudah hancur rata dengan tanah.

"Keparat! Kau jahanam bedebah, Togura. Kau menggenangi bumi Tiongkok dengan darah!" geram Kim-mou-eng.

Pendekar ini berkelebat lagi menuju kota lain. Namun, ketika kota I-yang dan I-peh juga sudah dibumihanguskan, di sebuah perkampungan yang apinya masih menyala, pendekar ini mendengar rintihan seseorang.

"Taihiap, tolong...!"

Kim-mou-eng berkelebat cepat dan tertegun mendapati seorang laki-laki terjepit di bawah balok kayu yang masih menyala. Hampir seluruh tubuh laki-laki itu terbakar. Heran bahwa ia masih hidup, Kim-mou-eng mendorong dan melempar balok kayu itu. Ia semakin tertegun setelah mengenali wajah orang yang hitam penuh arang tersebut.

"Bu-ciangkun (Panglima Bu)!"

Pendekar itu bergerak cepat menotok dan meringankan penderitaan orang itu dengan pengerahan sinkang di dada. Ia membersihkan wajahnya, dan tampaklah wajah yang gagah namun menahan sakit. Panglima itu tiba-tiba mengguguk. Kim-mou-eng melihat sebatang kayu merah menyala menancap di bokong panglima itu.

"Kim-taihiap, murid Enam Iblis Dunia itu membuatku begini. Dia kejam dan telengas. Dia... dia menancapi pantatku dengan kayu yang menyala!"

"Hm!" Pendekar Rambut Emas merah padam mukanya. "Dia yang melakukan ini, ciangkun? Kau disiksanya?"

"Benar, dan dia... ah, dia putra mendiang Gurba, taihiap, keponakanmu... augh!"

Panglima itu menjerit saat Kim-mou-eng mencabut kayu yang menyala itu. Bokong Bu-ciangkun merah, melepuh, dan pedih hati Pendekar Rambut Emas melihat itu. Namun, ketika ia memborehkan obat, panglima itu mengeluh tak dapat menggerakkan tubuhnya barang sedikit pun.

"Aduh, tobat, taihiap... sakit! Aku tak mungkin hidup...!"

"Tenanglah," Pendekar Rambut Emas menotok sana-sini, diam-diam merasa khawatir.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment