Halo!

Istana Hantu - Chapter 78

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 78

"Sekujur tubuhmu luka bakar, Ciangkun. Aku akan menolongmu."

"Percuma," Panglima tinggi besar ini merintih. "Aku menderita pukulan dalam, Taihiap. Sembuh luka bakarku itu tak mungkin menyembuhkan luka pukulan ini!"

"Hm, siapa yang memukulmu?"

"Bocah itu, juga gurunya!"

Kim-mou-eng lalu menyuruh sahabatnya itu diam. Luka dalam ternyata memang diderita sang panglima; Bu-ciangkun melontarkan darah segar ketika batuk, hitam dan kental. Ketika Kim-mou-eng kembali menempelkan tangan di dada, panglima itu batuk-batuk dan merintih. Dengan terkejut, Pendekar Rambut Emas mendapat kenyataan bahwa isi dada panglima ini banyak yang pecah, di antaranya paru-paru.

"Ah, keadaanmu berbahaya, Ciangkun. Kita harus mencari rumah kosong di sini!"

"Tak akan menolong," panglima itu menggigit bibir. "Aku tahu lukaku parah, Taihiap. Setelah menerima pukulan berat, dadaku masih diambruki balok kayu ini. Augh, keparat... bocah itu benar-benar jahanam!"

Panglima ini merintih, batuk-batuk lagi, dan Kim-mou-eng putus harapan. Ia mencoba memberi pil penolong namun tak tertelan; pil itu terlontar dari mulut sang panglima. Ketika usaha itu gagal dan napas panglima itu sesak, dengan gemetar ia menggoyang lengan sang pendekar dan berkata, "Taihiap, aku tahu nyawaku tak akan tertolong. Masih dapat hidup sekian lama saja sudah untung. Ah, agaknya Tuhan menunda kematianku agar bertemu denganmu. Sudahlah, aku tak mengharap hidup, tapi satu permintaanku: cegahlah pemuda itu menyerbu istana. Dia... dia akan menyerang kota raja...!"

"Hm, aku tahu," Kim-mou-eng mengerutkan kening. "Kedatanganku memang hendak membekuk pemuda itu, Ciangkun. Cao Cun telah memberitahuku dan aku akan menangkap keponakanku itu!"

"Bersama gurunya..." Panglima ini mendelik, mengepal tinju. "Mereka orang-orang berbahaya, Taihiap. Tapi murid keponakanmu itu, ah... dia lihai benar!"

"Memang dia murid Enam Iblis Dunia, Ciangkun, tentu lihai dan terlalu berbahaya bagimu!"

"Tidak... tidak, bukan begitu...!" Sang panglima menggeleng, batuk, dan muntah darah lagi. "Dia memiliki ilmu luar biasa, Taihiap. Pukulan yang diarahkan padanya pasti membalik dan mengenai diri penyerangnya sendiri! Aku baru pertama kali itu melihatnya...!"

Pendekar Rambut Emas terkejut. "Begitu?"

"Ya, begitu, Taihiap. Dan... ah... aku tak kuat. Tolong ke kota raja, Taihiap... beritahukan Kaisar...!"

Pendekar ini cemas. Ia mencoba membangunkan Bu-ciangkun, namun sang panglima tak sanggup duduk. Ketika pendekar itu mencoba menolong kembali, tiba-tiba panglima ini mengerang dan kejang-kejang.

"Taihiap, biarkan aku... kau tolonglah Sri Baginda... cepat ke kota raja dan biarkan aku...!"

"Kau masih hidup," Pendekar Rambut Emas membelalakkan matanya. "Aku tak mungkin meninggalkanmu, Ciangkun. Aku akan menolongmu sebisaku!"

"Terlambat..." Panglima itu menggigil kian hebat. "Aku akan mati, Taihiap. Pergilah... lindungi Kaisar...!"

Melihat Pendekar Rambut Emas ragu, mendadak panglima ini menahan napasnya. Wajahnya membengkak dan ia mengatupkan mulut. Pendekar Rambut Emas tiba-tiba berseru kaget karena menyadari peristiwa itu—upaya mempercepat kematian dengan bunuh diri melalui menahan napas sekuat-kuatnya. Wajah panglima itu kian bengkak seakan hendak pecah. Ketika ia mendelik dan dari mulutnya terdengar letupan kecil, panglima ini roboh dan terguling; urat-urat mukanya pecah.

"Ciangkun...!"

Panglima itu tewas. Kim-mou-eng sadar setelah terlambat. Ia memandang jenazah sahabatnya dengan pedih, lalu membungkuk dan memejamkan mata yang masih melotot itu, berbisik agar arwah Bu-ciangkun pergi dengan tenang. Ia berjanji akan mengejar Togura. Anehnya, setelah dibisiki, mata itu tertutup. Setelah memakamkan sang panglima yang gagah perkasa, Kim-mou-eng segera memburu waktu dan melanjutkan perjalanannya.

Di mana-mana ia melihat sepak terjang Togura bersama kelima gurunya: mayat bergelimpangan dan kota-kota dibumihanguskan. Ketika memasuki wilayah Provinsi Liaoning, di mana pasukan Togura akan bergerak menyusur barat daya menuju kota raja, Kim-mou-eng akhirnya melihat ribuan pasukan pemuda itu telah menduduki Shen-yang.

"Keparat, benar-benar gerakan super cepat!" Kim-mou-eng tertegun. Malam menjelang dan ribuan lampu teng yang dipasang di dalam kota tampak indah gemerlapan. Pendekar Rambut Emas berkelebat memasuki kota yang dijaga amat ketat tersebut. Setiap jengkal tembok tinggi dijaga tak kurang dari sepuluh orang. Di tengah kota terdengar suara genderang dan nyanyian kemenangan.

Kim-mou-eng berhasil menyelinap masuk dan mencium bau arak di mana-mana.

"Hidup Raja Muda! Hidup pemimpin kita yang perkasa!"

"Ha-ha, benar, kawan. Hidup Raja Muda dan hidup pemimpin kita yang perkasa!"

Kim-mou-eng sebal mendengar sorak-sorai tersebut. Rupanya Togura benar-benar dikagumi pasukannya. Ia terus menyusup, merobohkan penjaga berlapis-lapis hingga tiba di tengah kota.

"Sebutkan di mana pemimpinmu berada. Aku ingin menemuinya!" ancam Pendekar Rambut Emas kepada seorang pengawal yang baru ia robohkan.

Pengawal itu gemetar dan menunjuk ke sebuah gedung bercat hijau. Kim-mou-eng menamparnya hingga pingsan, lalu berkelebat ke gedung yang ditunjuk. Bagai bayangan siluman, ia hinggap di belandar samping jendela besar untuk mengintai. Namun, Togura tidak ada di sana.

"Mana bocah itu? Apakah pengawal tadi berbohong?"

Tiba-tiba, bayangan Cam-kong dan kakek tinggi kurus muncul di tengah ruangan.

"Hei, cukup bersenang-senang. Sekarang kalian kembali. Muridku mendengar laporan bahwa beberapa penjaga di tembok kota hilang!"

"Siap!" semua orang berdiri kaget.

"Kami akan menjalankan perintah, Goanswe (Jenderal). Apakah ada musuh?"

"Kami belum tahu, tapi cepat kalian pergi dan hitung semua anak buah kalian!"

Kim-mou-eng tertegun melihat Cam-kong—si Pembunuh Petir yang kejam—kini menduduki posisi jenderal. Hampir saja ia terbahak. Saat orang-orang berlompatan keluar, Kim-mou-eng terkejut karena kedatangannya tercium.

"Hei, siapa mengintai...!"

Sebuah pukulan dahsyat menyambar; Nenek Naga rupanya langsung menyerangnya. Pendekar Rambut Emas membalik dan menangkis pukulan itu. Nenek Naga terpental, namun segera berjungkir balik. Pendekar Rambut Emas melayang turun, tahu percuma bersembunyi.

"Kim-mou-eng...!"

"Ya, aku," sahut Pendekar Rambut Emas mengejek. "Aku datang untuk mencari muridmu, Nenek Naga. Suruh dia keluar dan hadapi aku!"

"Aihh!"

Beberapa bayangan berkelebatan cepat memunculkan Cam-kong dan yang lainnya. Kelima orang itu lengkap, dan Hek-bong Siauw-jin tertegun melihat Pendekar Rambut Emas dengan wajah gentar. Terdengar tiupan terompet dari mana-mana.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment