Halo!

Istana Hantu - Chapter 79

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 79

Kim-mou-eng tahu-tahu sudah dikurung dan dipagar betis oleh ribuan orang. Yang paling depan dan amat dekat dengan pendekar itu tentu saja lima Iblis Dunia. Nenek Naga tersentak dan pucat, namun tiba-tiba terkekeh.

Suaranya nyaring meninggi dan semua orang tiba-tiba mundur sambil menutupi telinganya.

Ketika nenek itu berhenti tertawa dan Pendekar Rambut Emas terkepung di tengah-tengah, nenek ini berseru lantang dengan amat marah.

"Heh, kau memasuki sarang naga mencari penyakit, Pendekar Rambut Emas. Kau sudah dikepung dan tak mungkin dapat keluar dengan selamat!"

"Hm, tak perlu menggertak." Kim-mou-eng tenang dan tersenyum mengejek. "Ditambah selaksa pasukan lagi, aku dapat menghadapi kalian, nenek siluman. Aku datang mencari Togura, bukan kalian!"

"Keparat, dia adalah Raja Muda di sini, Kim-mou-eng. Jangan sebut namanya begitu saja!"

"Ha-ha, memangnya kenapa? Aku masih terhitung pamannya, Naga Bumi. Dan aku berhak serta bebas memanggilnya apa saja!"

"Kau jahanam!" Nenek itu memekik serta menyerang maju, tiba-tiba meminta empat temannya yang lain membantu. Tentu saja disambut anggukan; Siauw-jin serta yang lain mencabut senjata.

Mereka tahu kehebatan Pendekar Rambut Emas ini dan pasukan besar itu gempar. Mereka terbelalak melihat bayangan kuning emas berkelebat, lenyap, dan menangkis pukulan Nenek Naga. Ketika nenek itu terpekik dan terpelanting bergulingan, bayangan kuning emas itu sudah menyambut dan menerima serangan Siauw-jin dan yang lain.

"Cring dess!" Siauw-jin dan yang lain berteriak.

Mereka terlempar seperti halnya Nenek Naga, menjerit dan terguling-guling, namun sudah meloncat bangun lagi, menerjang, sama-sama berteriak pada yang lain agar membunuh Pendekar Rambut Emas itu. Hal yang ditanggapi tawa oleh sang pendekar.

Ketika semua berbalik dan maju dengan senjata atau pukulan di tangan, Kim-mou-eng akhirnya dikeroyok dan dihujani serangan oleh lima Iblis Dunia. Ia mengelak dan menangkis, hingga akhirnya lima Iblis Dunia itu melengking, mempercepat gerakan, dan hilang dalam bayang-bayang cepat yang luar biasa hebat. Gerakan mereka tak dapat diikuti mata lagi. Pukulan atau pekik mereka membuat semua orang mundur; yang di depan terpelanting dan terjengkang oleh angin pukulan dahsyat yang menyambar-nyambar.

Saat semua mengeroyok dan bertubi-tubi menghujani Pendekar Rambut Emas dengan serangan cepat yang luar biasa ganas, Kim-mou-eng mengeluarkan bentakan perlahan. Lenyaplah tubuh Pendekar Rambut Emas itu, menyambut atau menangkis pukulan lawan dan senjata yang bertubi-tubi menyambar dengan deras.

Lima Iblis Dunia berusaha membunuhnya namun tentu saja gagal, karena mereka menghadapi tokoh yang bukan main lihainya. Pendekar Rambut Emas mengeluarkan Jing-sian-eng dan Khikang-nya, menolak dan mementalkan senjata atau pukulan lawan yang membuat musuh menjerit, terpental, dan maju lagi, namun tetap saja sama. Khikang-nya menolak pukulan atau senjata mereka dengan semakin keras.

Ketika bayangan kuning emas bergerak lebih cepat dari bayangan kelima iblis itu dan mereka mulai mendapat balasan atau tamparan yang membawa kesiur angin lebih dahsyat, mulailah nenek Naga menjerit ketika tubuhnya terhempas.

"Bress!" Nenek itu terbanting. Dia mengeluh dan kelengar sejenak, tak mampu bangun karena seluruh sendi tulangnya serasa remuk.

Lalu, ketika sendok atau garpu di tangan Dewi Naga atau Toa-ci dan Ji-moi mencelat bertemu pukulan pendekar itu, akhirnya Siauw-jin dan Cam-kong juga berteriak karena disentuh jari-jari yang hebatnya melebihi besi panas.

"Aduh... bres-bress!" Mereka pun bergulingan, roboh menjerit, dan ribuan orang gempar.

Mereka melihat robohnya lima tokoh ini, orang-orang yang menjadi guru Raja Muda, pemimpin mereka. Namun, ketika mereka terbelalak dan kelima iblis itu mengeluh serta pucat memandang Pendekar Rambut Emas, tiba-tiba terdengar bentakan dan berkelebatnya bayangan tinggi besar.

"Kim-mou-eng, berhenti...!"

Begitu bayangan ini berjungkir balik dan turun di tengah-tengah pertandingan, tiba-tiba saja Togura, murid Enam Iblis Dunia yang kini menjadi Raja Muda, sudah berhadapan dengan Pendekar Rambut Emas dengan gagah dan angkuh.

Begitu pemuda ini muncul dengan pakaiannya yang indah dan rapi, tidak seperti dulu, Pendekar Rambut Emas tertegun mendengar sorak dan pekik pasukan yang tiba-tiba menggegap-gempita.

"Hidup Raja Muda! Hidup pemimpin kita...!"

Pendekar Rambut Emas tertawa, akhirnya geli juga.

"Hm," katanya mengejek. "Bagus kau datang, Togur. Aku memang mencarimu. Hebat, tapi kejam sekali sepak terjangmu. Guru-gurumu telah kurobohkan, apakah kau hendak menyuruh ribuan pasukanmu ini mengeroyok aku? Togur, mengingat mendiang ayahmu, sukalah aku mengampunimu. Aku datang untuk menegurmu agar menarik pasukanmu dari wilayah ini dan keluar dari Tembok Besar. Atau aku akan menangkapmu dan kau kukurung!"

"Kim-mou-eng," Togur memandang pamannya dengan mata berapi-api, tidak menghormat sama sekali. "Apa yang kulakukan adalah urusanku sendiri. Kau bukan pamanku, meskipun kau adalah sute dari mendiang ayahku. Kalau kau datang untuk menegur atau menangkap aku, maka kau salah. Justru akulah yang hendak menangkap dan memberi hukuman kepadamu. Kau telah menyebabkan kematian ayah, jadi kau berhutang jiwa kepadaku. Karena kau sudah di sini dan rupanya siap menerima hukuman, menyerahlah!"

"Hm, kau sombong," Kim-mou-eng mengerutkan kening, matanya bersinar. "Darah ayahmu benar-benar mengalir di dalam tubuhmu, Togur. Tapi tak sepantasnya kau bicara seperti itu. Aku memang bukan paman kandungmu, tapi aku termasuk paman gurumu. Dan karena pengaruh jelek kelima gurumu rupanya sudah merasuk dan meracuni dirimu, agaknya tak perlu lagi aku banyak bicara!"

"Heh!" Siauw-jin meloncat bangun, berteriak. "Kenapa membuang-buang waktu, Togur? Hayo serang dan bunuh Kim-mou-eng itu, kami siap membantumu!"

"Benar," pasukannya tiba-tiba berteriak. "Tangkap dan bunuh Pendekar Rambut Emas ini, Raja Muda. Dan kami akan membantumu di belakang!"

"Diamlah, tenang...!" Pemuda itu menoleh ke belakang, tersenyum ewuh. "Aku dapat menghadapinya sendirian, rakyatku. Lihat dan saksikan betapa Kim-mou-eng ini akan kubekuk. Dia pembunuh ayahku!"

Togur menyuruh mundur Siauw-jin dan keempat gurunya yang lain. Hal ini mengherankan Pendekar Rambut Emas. Pemuda itu sudah membalik dan menggapaikan lengannya.

"Kim-mou-eng, majulah!"

Pendekar Rambut Emas tertegun. Adalah aneh dan amat luar biasa baginya kalau pemuda ini menantang sendirian tanpa dibantu guru-gurunya. Hal itu membuat pendekar ini terkejut dan waspada, merasa adanya sesuatu yang tidak beres. Maklumlah, Pendekar Rambut Emas tak mengetahui adanya Khikang dan Jing-sian-eng yang dimiliki pemuda ini, hasil curian dari Cermin Naga. Ia tidak tahu bahwa inilah pencurinya!

Maka ketika Togur menantang dengan penuh kepercayaan diri, tiba-tiba Kim-mou-eng terkejut dan membelalakkan matanya mendengar sorak-sorai pasukan. Tempat itu tiba-tiba menjadi riuh. Telinganya seakan pekak mendengar teriakan ribuan orang ini. Tapi ketika ia tak melihat adanya kecurangan lain dan tak ada persiapan untuk menjebak, Pendekar Rambut Emas memandang lawannya dengan terheran-heran.

"Togur, kau benar-benar akan menghadapi aku sendirian? Kau maju tidak dibantu kelima gurumu?"

"Ha-ha, tak perlu. Memang aku akan maju sendirian, Kim-mou-eng. Dan kau lihatlah berapa jurus aku merobohkanmu!"

"Keparat!" Kim-mou-eng yang tentu saja marah namun tetap memasang kewaspadaan, tiba-tiba mendongkol dan gemas kepada putra mendiang suheng-nya ini. Ia menganggap Togura congkak dan minta segera dibekuk. Siauw-jin dan pasukan sudah berteriak dan memaki-maki dengan suara kasar yang memuakkan.

Ketika pemuda itu sekali lagi menantang dan menggapaikan lengannya, Kim-mou-eng bergerak dan tiba-tiba menggeram, berkelebat menyambar tengkuk lawannya itu.

"Togur, kau bocah kurang ajar. Biarlah kubekuk dirimu dan lihat betapa pasukanmu akan berhenti berteriak!"

Namun, ketika pemuda itu melejit dan hilang dengan amat cepat, hal yang mengejutkan pendekar itu, Pendekar Rambut Emas mendengar lawan tertawa bergelak di belakangnya.

"Ha-ha, aku di sini, Kim-mou-eng. Kau menangkap angin kosong!"

"Jing-sian-eng...!" Kim-mou-eng terkejut. Sekali melihat, ia segera mengenal gerakan pemuda itu dan tentu saja tertegun. Ia tadi mempergunakan kepandaiannya yang biasa dan masih tidak bersungguh-sungguh. Maklumlah, pendekar ini masih menganggap bahwa lawannya itu masih jauh di bawahnya. Jangankan Togura, kelima gurunya saja dapat dihadapi dengan mudah.

Tapi begitu cengkeramannya luput dan Togur mempergunakan Jing-sian-eng, ilmu yang juga dipunyainya, pendekar ini tersentak dan berubah mukanya. Ia membalik dan tiba-tiba mempergunakan Jing-sian-eng pula, menyambar dan hendak menangkap pemuda ini untuk kedua kalinya guna memastikan diri.

Namun, begitu lawan menghilang dan lenyap lagi, tiba-tiba pendekar ini menjadi marah dan sadar akan apa yang terjadi.

"Togur, kau... kau mempergunakan Jing-sian-eng!"

"Ha-ha, benar. Dan lihat ini!"

Ketika sambaran Pendekar Rambut Emas luput dan mengenai angin kosong lagi, satu bentakan pendekar itu ditangkis pemuda ini tanpa mengelak lagi.

"Dukk!"

Pendekar Rambut Emas tergetar. Lawan terbahak tapi tidak apa-apa. Ia menyerang dan lawan menangkis lagi. Setelah dua kali Pendekar Rambut Emas tergetar sementara lawan tak apa-apa, yakinlah ia akan ilmu apa yang telah dipergunakan lawannya.

"Khikang...!"

Begitu sadar serta memekik tinggi, tiba-tiba Kim-mou-eng maklum apa kiranya yang telah terjadi. Bahwa hal ini ada hubungannya dengan Cermin Naga, dan ia pun membentak pemuda itu untuk mengaku.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment