Chapter 80
Pendekar Rambut Emas segera terbelalak dan mengerti. Ketika pemuda itu tertawa tanpa menyangkal, Pendekar Rambut Emas gusar dan marah sekali.
"Keparat, kalau begitu kau yang ke Ce-bu, Togur. Kau yang mencuri Cermin Naga!"
"Ha-ha, tak kuungkiri. Memang aku orang yang kau cari-cari, Pendekar Rambut Emas. Dan sekarang, lihatlah apakah kau dapat mengalahkan aku... duk-dukk!"
Kim-mou-eng terhuyung, namun lawannya juga terpelanting. Akhirnya ia berseru keras memaki pemuda itu, lalu menyerang dengan tamparan-tamparan cepat. Togur mempergunakan Khikang, ilmu penolak serangan yang membuat siapa pun yang memukulnya akan terpental.
Setelah kejadian itu berulang-ulang, Pendekar Rambut Emas yakin bahwa Cermin Naga benar-benar dicuri Togur. Pemuda itu kini mempelajari isinya dan menggunakan Khi-bal-sin-kang serta Jing-sian-eng, dua ilmu hebat yang bahkan See-ong sendiri tak akan mampu mengalahkannya.
Kim-mou-eng menyadari betapa berbahayanya pemuda ini. Togur yang dulu masih kecil kini telah berubah menjadi luar biasa hebat, kejam, dan berhasil menghimpun pasukan besar untuk menyerang kota raja.
Ketika menyadari lawannya hanya menguasai Khikang dan Jing-sian-eng, tanpa Lu-ciang-hoat ataupun Cui-sian Ginkang (Ginkang Pengejar Dewa), Pendekar Rambut Emas membentak dan mengeluarkan ilmu yang tidak dikuasai pemuda itu. Togur terkejut; kekurangannya adalah tidak memiliki dua ilmu sakti yang dulu digunakan Kim-mou-eng untuk mengalahkan Hu-taihiap. Begitu sang pendekar mengeluarkan ilmunya dan sering mengubah gerakan, menggabungkan kedua ilmunya dengan Jing-sian-eng atau Khikang, Togura pun terdesak!
"Keparat, hebat kau, Kim-mou-eng. Tapi kau tak dapat merobohkan aku!"
"Hm, tak perlu bermulut besar. Kau hanya memiliki Jing-sian-eng dan Khikang, Togur. Kau tak memiliki gabungan Lu-ciang-hoat ataupun Cui-sian Ginkang. Kau pasti roboh, meskipun lama!"
Togura memaki. Mengandalkan Jing-sian-eng dan Khikang saja ternyata membuatnya kewalahan. Lu-ciang-hoat adalah padanan bagi Khikang, sehingga Kim-mou-eng jauh lebih kuat dengan dua ilmu sakti tersebut. Belum lagi ditambah Cui-sian Ginkang-nya yang setingkat dengan Jing-sian-eng.
"Plak-dess!" Togura mulai mengeluh. Pukulan-pukulan Kim-mou-eng membuat tubuhnya terhuyung. Meski tidak roboh karena terlindungi Khi-bal-sin-kang, tubuhnya terasa menyengat akibat serangan pendekar yang jauh lebih matang itu.
"Des-dess!" Togura mengumpat. Gerakannya mulai melambat. Kim-mou-eng yang berkelebatan dengan bayangan kuning emasnya tampak ringan dan cepat, mampu menggunakan dua ilmu sekaligus atau berganti-ganti sesuai situasi. Karena tidak menguasai Lu-ciang-hoat maupun Cui-sian Ginkang, tubuh pemuda itu kini terasa sakit semua dan membiru.
"Suhu, tolong! Jangan biarkan aku tertangkap!" Togura mulai panik.
Pendekar Rambut Emas sering menyambar dirinya dengan kecepatan luar biasa berkat kelebihan Cui-sian Ginkang. Saat jari Pendekar Rambut Emas menyambar tengkuk dan Togura harus bergulingan untuk menyelamatkan diri, baju di bagian lehernya robek.
"Bret-aihh!"
Siauw-jin dan yang lainnya pucat. Mereka melihat bahwa Pendekar Rambut Emas sulit membunuh lawan karena Khikang melindungi tubuh Togura. Namun, saat Kim-mou-eng menggabungkan ilmu warisan Bubeng Sian-su itu dengan Jing-sian-eng, gerakannya menjadi luar biasa cepat. Pasukan besar yang menonton mulai melongo, perlahan menyadari keunggulan Pendekar Rambut Emas.
Ketika pemimpin mereka menjerit minta tolong, Siauw-jin dan kelima gurunya maju menubruk Kim-mou-eng yang hendak menangkap Togura.
"Hei, lepaskan dia, Kim-mou-eng. Atau kau mampus... des-dess!"
Kim-mou-eng terkejut. Saat ia hampir meraih pinggang lawan, Siauw-jin bergerak dari belakang dengan bokongan curang, sementara Cam-kong dan yang lainnya mengepung. Pendekar Rambut Emas terpaksa menangkis serangan mereka dan menunda totokannya. Togura meloncat bangun dan terbelalak, lalu kembali menyerang dengan dibantu oleh kelima gurunya.
Kini Pendekar Rambut Emas dikeroyok enam orang hebat. Namun, hanya Togura yang dapat bertahan dari setiap tangkisan Kim-mou-eng yang membuat lima Iblis Dunia itu terpental karena Khi-bal-sin-kang.
"Keparat, bunuh dia, Suhu! Robohkan Pendekar Rambut Emas ini!"
Kim-mou-eng kini memusatkan serangan hanya kepada Togura, tidak menghiraukan yang lain. Getaran uap putih yang melindungi Pendekar Rambut Emas menolak balik serangan Siauw-jin dan kawan-kawan. Saat sabit di tangan Siauw-jin mental, Kim-mou-eng melakukan gerakan luar biasa cepat; kelima jarinya menyambar dan mencengkeram tengkuk Togura.
"Kaulah yang roboh. Kau akan kutangkap, Togur. Roboh dan menyerahlah... bret-haiyaa!"
Togura kembali bergulingan, nyaris tertangkap untuk kedua kalinya. Kalang-kabut, ia menoleh pada pasukannya dan berteriak marah.
"Goblok, jangan diam saja! Hayo, pasukan panah bergerak!"
Pasukan itu terkejut dan menciut nyalinya, namun ancaman Togura membuat mereka bergerak. Puluhan panah menyambar dari segala penjuru, mencegat Kim-mou-eng yang ingin mendekat.
"Sing-singg...!"
Pendekar Rambut Emas mengibas, dan sebagian besar panah runtuh terkena angin kebutannya. Namun, ketika Togura menyelinap dan bersembunyi di balik ribuan pasukannya, pendekar itu membentak, "Hei, jangan lari, Togur! Kemarilah, jangan bersembunyi!"
"Ha-ha, kau bodoh. Aku adalah pemimpin di sini, Kim-mou-eng. Kalau kau ingin menangkap aku, tentu saja kau harus berhadapan dengan pasukanku!"
"Licik!"
Saat menghadapi hujan senjata lagi, tiba-tiba Kim-mou-eng menyerang Siauw-jin dan kawan-kawan. Mereka semua terpental. Kemudian, ketika lima iblis itu bergulingan, Kim-mou-eng mengerahkan Cui-sian Ginkang-nya dan tiba-tiba menghilang, membingungkan pasukan panah yang kehilangan sasaran.