Chapter 81
"Hei, dia di sini!" teriak Togur.
Pemuda ini memang sengaja mulai meninggalkan pertempuran karena gentar menghadapi Kim-mou-eng. Berkali-kali pendekar itu memandangnya, berusaha mendekati, dan menggeram hingga suaranya seolah terasa di belakang tengkuknya.
Ke mana pun Togur lari, ke situ pula Pendekar Rambut Emas membayangi. Pemuda itu tampak pucat.
Maka, ketika lima gurunya terpental semua dan pasukan panah kehilangan jejak Kim-mou-eng, tiba-tiba pemuda itu menunjuk ke bayangan kuning emas yang berkelebat luar biasa cepat, mengejutkan pasukan panah yang tiba-tiba melihatnya.
Begitu mereka menjepretkan panah, di sana Kim-mou-eng sudah melepas pukulan untuk merobohkan pemuda itu. Togur pun berbalik dan terpaksa menangkis pukulan lawan.
"Duk!" Togur mengeluh.
Dia terlempar dan terbanting bergulingan karena Kim-mou-eng menggabungkan pukulannya dengan Lu-ciang-hoat. Khikang diredam dan Togur mencelat.
Saat pemuda itu terguling-guling, untung pasukannya melindungi dengan panah yang berhamburan sehingga gerakan Kim-mou-eng terhalang karena harus menangkis atau meruntuhkan anak-anak panah itu.
"Plak, plak, plak!" Gerakan ini menunda langkahnya.
Kim-mou-eng mengutuk ketika di sana lawannya sudah melompat bangun, memaki, dan membentak pasukan agar melindunginya dengan baik. Panah kembali berhamburan dan kini pasukan besar itu maju menghadang perjalanannya. Pendekar ini marah.
Tidak lama kemudian, pemuda itu sudah lenyap di balik pasukannya yang besar sementara hujan serangan kian menghebat. Tiba-tiba Kim-mou-eng harus menghadapi ribuan orang ini, bukan lagi Togur atau kelima gurunya yang entah menghilang ke mana.
Lenyap melarikan diri!
Karena pendekar itu naik darah akibat kelicikan Togur bersama gurunya yang menyuruh pasukannya maju, pendekar ini menyapu roboh dan berkelebatan menangkis semua hujan senjata.
"Hei, berhenti kalian! Berhenti!"
"Plak, plak, plak!" Kim-mou-eng geram, menangkis dan memukul runtuh semua panah dan tombak. Orang-orang yang dekat dengannya tersambar angin pukulannya, menjerit dan terlempar ke kiri-kanan, namun yang di belakang terus maju sesuai aba-aba.
Pendekar Rambut Emas itu tiba-tiba dikurung di tengah, namun semua orang berpelantingan setiap dia menggerakkan kedua tangannya ke kiri dan ke kanan.
Saat Pendekar Rambut Emas merobohkan musuh-musuhnya sementara Togur dan guru-gurunya lenyap entah ke mana, terdengarlah suara aneh dan tawa bergelak di balik bentakan dan geraman pendekar itu.
"Ha-ha, bagus. Kau robohkanlah mereka itu, Kim-mou-eng. Kau binasakanlah mereka semua. Habis di sini aku akan mencari yang lain. Gagal di sini, aku pasti tak akan gagal di tempat yang lain!"
Kim-mou-eng terkejut. Tiba-tiba dia sadar bahwa membunuh pasukan ini bukanlah tujuannya. Mereka hanya orang-orang yang diperalat Togur, dan justru pemuda itulah yang harus ditangkap. Kalau pemuda itu bersembunyi dan kini menyerahkan pasukannya untuk dibantai, sungguh tidak tepat tindakannya. Dia datang bukan untuk membuat banjir darah. Pasukan yang mengepungnya ini bukanlah musuhnya; lagipula, mereka memang bukan tandingannya.
Maka, begitu melengking dan mendorong seratus orang yang ada di depannya, tiba-tiba Pendekar Rambut Emas berjungkir balik dan bergerak luar biasa cepat di atas kepala ribuan orang.
"Baiklah, aku gagal menangkapmu, Togur. Kau anak setan yang keji dan kejam. Kalau kau bersembunyi dan sengaja memberikan pasukanmu untuk kubunuh, maka kau keliru. Aku akan datang lagi kelak!"
Pendekar itu lenyap, membuat pasukan bengong. Tiba-tiba pendekar ini telah meninggalkan Shen-yang. Dengan kecewa karena tidak dapat menangkap sasarannya, ia memutuskan pergi dan tidak mau membunuhi orang-orang yang tak berdosa. Dia bukanlah Siauw-jin atau teman-temannya yang berwatak kejam. Dia akan kembali dan memberi tahu istrinya.
Ketika pendekar itu menghilang sementara pasukan tertegun dan bengong, malam itu Shen-yang cukup terguncang. Melihat kesaktian Pendekar Rambut Emas, Togur menunda serangannya ke kota raja. Beberapa penasihatnya memberi tahu bahwa mungkin saja Pendekar Rambut Emas mendahului ke kota raja, menghadap kaisar, dan mungkin akan datang kembali dengan pasukan yang besar. Maklumlah, Kim-mou-eng memang sahabat istana.
Ketika semua itu menyadarkan pemuda ini dan Togur jerih melihat kesaktian lawan yang memang luar biasa, pemuda ini diam-diam menyesal tak dapat menangkap Soat Eng.
"Keparat, kalau saja dulu Siang Le tidak menghalangi rencanaku, tentu gadis siluman itu berhasil kutangkap. Heh, kita harus berhati-hati kalau Pendekar Rambut Emas datang lagi, Suhu. Aku benar-benar harus mendapatkan Lu-ciang-hoat dan Cui-sian Gin-kang!"
"Hm, bagaimana caramu?"
"Aku belum tahu, tapi sambil berjalan aku akan memikirkannya!"
Ketika hari itu Shen-yang dibuat gempar dan Togur beserta gurunya menjadi waspada akan datangnya Kim-mou-eng, di sana Pendekar Rambut Emas itu sendiri terbang dan lenyap di luar pintu gerbang.
"Aduh, tolong... lepaskan aku, tolong!"
Thai Liong dan Ituchi terkejut. Waktu itu mereka berlari cepat untuk menuju ke tempat Cucigawa sesuai yang direncanakan. Tapi ketika teriakan itu terdengar melengking dan rupanya seorang wanita atau gadis terancam bahaya, tiba-tiba Thai Liong melesat ke kiri menuju asal suara, meninggalkan temannya.
"Hei, tunggu, Thai Liong. Jangan sendiri!" Ituchi terkejut, mengejar temannya ini dan membelokkan arah, namun Thai Liong tak tersusul.
Dengan gerakan Jing-sian-eng yang luar biasa, pemuda ini sudah bergerak mendahului temannya. Ketika Ituchi berteriak dan menyusul, Thai Liong sudah memasuki hutan tempat teriakan minta tolong itu terdengar. Ia mendengar tawa bergelak dan ternyata seorang gadis tertangkap oleh segerombolan laki-laki. Pakaian gadis itu koyak-koyak dan para lelaki itu mempermainkannya. Thai Liong merah padam dan marah.
Begitu dia berkelebat dan tangan-tangan yang kurang ajar mengusap serta meremas tubuh wanita itu, tiba-tiba Thai Liong menggerakkan kaki dan tangannya, lalu terlemparlah belasan lelaki kasar itu.
"Lepaskan dia!"
"Bluk, plak, dess!" Thai Liong membuat orang-orang ini terkejut. Mereka seketika berteriak kaget dan terlempar ke kiri-kanan. Mereka kaget melihat bayangan pemuda itu yang menyambar datang; berkelebat, dan tahu-tahu tamparan atau tendangan telah membuat mereka semua mencelat, tidak ada yang tidak menjerit.
Saat semua laki-laki itu berseru kaget dan gadis itu terlepas, Thai Liong sudah menyambar serta menahan wanita itu yang menangis tersedu-sedu dan hampir jatuh.
"Tenang, aku menolongmu, Nona. Siapa mereka ini dan bagaimana kau seorang diri ada di sini?"
"Aku... aku, ah... aku tidak seorang diri, Kongcu. Mereka ini perampok-perampok hina yang mengeroyok barang kawalan ayahku. Di pohon itu, ayahku dan anak buahnya roboh bergelimpangan!"
"Hm, kau putri seorang kauw-su (guru silat)?"
"Ya, tapi... tapi aku tak mau belajar silat, Kongcu. Aku... awas!"
Gadis itu terpekik melihat dua orang perampok meloncat bangun. Tiba-tiba dengan geram mereka menyerang pemuda ini dengan bacokan golok. Mereka berteriak, namun tentu saja Thai Liong tahu. Desir senjata itu sudah ditangkap telinga Thai Liong. Maka, begitu golok menyambar dan tengkuk pemuda ini dijadikan sasaran, tiba-tiba dengan gerakan ringan dan tanpa menoleh, Thai Liong menyentil dua senjata yang deras membacoki dirinya.
"Cring, tak!" Dua golok itu patah.
Thai Liong membuat dua orang lawannya terkejut; dia menggerakkan kaki dan mencelatlah dua perampok itu saat Thai Liong menyepak seperti kuda.
Gadis di depannya terbelalak sementara dua orang itu menjerit terbanting roboh. Thai Liong bertanya lagi dengan tenang tanpa menghiraukan belakangnya, "Nah, apalagi yang terjadi? Di mana kereta barang ayahmu dan di mana pula ayahmu?"
"Ayah... ayah..." Gadis ini terbelalak. "Ayah di belakang pohon itu, Kongcu. Tapi... tapi, awas!"
Gadis itu menjerit lagi melihat lima perampok yang lain menyerang dengan bentakan marah. Thai Liong kembali tidak mengelak atau menghindari serangan-serangan itu, hal yang membuat si gadis memekik ngeri. Namun, ketika kelima senjata menyambar datang dan pemuda ini ingin memberi hajaran keras, tanpa menoleh tiba-tiba Thai Liong menyambut sebuah golok yang paling depan, menangkap dan menekuknya patah, lalu secepat kilat melempar patahan golok yang sudah diremas hancur itu ke lima orang tersebut. Hal ini tentu saja tak diduga.
Begitu terdengar jerit dan pekik kelima perampok itu, gadis yang berbicara dengan Thai Liong tertegun melihat para perampok yang bergulingan mengaduh-aduh ini; pundak atau pipi mereka tertancap serpihan golok.
"Aduh... aduh!" Gadis itu bengong. Tujuh perampok tiba-tiba saja sudah dirobohkan begitu mudah, tanpa menoleh. Betapa gampangnya!
Namun, ketika terdengar geram dan bentakan kepala rampok—laki-laki tinggi besar yang berikat kepala hitam—tiba-tiba gadis itu menjerit lagi karena bersama sisa perampok yang lain, yang berjumlah sebelas orang, mereka tiba-tiba menerjang Thai Liong.
"Awas, Kongcu!"
Thai Liong bergerak lebih cepat. Melihat lawan tak jerih juga setelah dia merobohkan tujuh orang yang pertama, tiba-tiba Thai Liong mengeluarkan seruan marah. Pemuda ini berkelebat dan lenyap; Jing-sian-eng-nya kembali bekerja.
Ketika lawan berseru tertahan karena kehilangan jejaknya, mendadak Thai Liong sudah muncul lagi dalam bentuk bayangan kuning emas yang berkelebatan di antara sebelas orang itu, ditambah si kepala rampok.
"Kalian tak tahu diri, robohlah! Plak, plak, plak!"
Thai Liong membagi-bagi pukulan. Tidak terlalu kuat, namun dua belas orang itu sudah merasa kepala mereka seakan pecah. Mereka menjerit dan bergulingan melepas senjata, mendekap kepala sambil mengaduh-aduh. Si kepala rampok mendapat bagian paling keras karena di samping menampar kepala si tinggi besar ini, Thai Liong juga menendang lututnya. Kepala rampok itu menjerit seperti babi dipagut ular berbisa karena tempurung lututnya tergelincir.