Chapter 82
"Huwaduh...!" Kepala rampok itu berteriak kesakitan.
Tubuhnya kontan roboh. Kepala rampok itu tak dapat berdiri lagi, mengaduh-aduh, dan berteriak pada anak buahnya agar menolong dirinya. Dia tak dapat bangkit selain memegangi kakinya yang cedera dengan lutut yang bengkok dan tak dapat digunakan untuk berjalan.
Ketika anak buahnya sadar bahwa mereka berhadapan dengan seorang pemuda sakti, mereka segera teringat pada Kim-mou-eng, Pendekar Rambut Emas, karena rambut Thai Liong memang berwarna kuning keemasan seperti ayahnya.
"Dia... dia Pendekar Rambut Emas. Lari... dia Kim-mou-eng...!" Semua orang tiba-tiba kocar-kacir.
Si kepala rampok meneriaki pembantunya agar segera memapahnya. Ia merasa gentar dan pucat setelah mengenal siapa lawannya. Kim-mou-eng adalah nama yang sudah dikenal di seluruh jagat, meski mereka lupa bahwa Kim-mou-eng tidak mungkin tetap muda selama dua puluh tahun. Saat para rampok berlarian dan si tinggi besar itu telah ditolong oleh empat pembantunya, Thai Liong hanya tersenyum melihat mereka terbirit-birit tanpa berniat mengejar.
"Kau Kim-mou-eng? Kau Pendekar Rambut Emas? Aih, maaf, *siauwhiap* (pendekar muda). Aku telah menyebutmu kurang hormat!" Gadis yang pakaiannya koyak-koyak itu tiba-tiba terkejut, membelalakkan matanya, lalu menjatuhkan diri berlutut.
Rupanya nama Kim-mou-eng sudah begitu tersohor hingga gadis yang tidak bisa silat itu pun mengenal nama Pendekar Rambut Emas tersebut. Ia berlutut dan menggigil di depan Thai Liong, hal yang justru membuat Thai Liong terkejut. Thai Liong segera menarik gadis itu untuk berdiri, tepat saat Ituchi datang berkelebat.
"Aih, jangan begini, Nona. Kim-mou-eng adalah ayahku, bukan aku!"
"Apa?"
"Benar, aku adalah Thai Liong, puteranya."
Ketika gadis itu tertegun, Ituchi bertanya, "Thai Liong, apa yang terjadi? Kenapa orang-orang itu lari terbirit-birit?"
"Siapa *kongcu* ini?" tanya gadis itu mendahului Thai Liong. "Apakah... apakah teman para perampok itu?"
"Ha-ha, tidak!" jawab Thai Liong tertawa. "Dia sahabatku, Nona. Putera Raja Hu. Nona ini baru saja diganggu perampok, Ituchi. Dia ketakutan dan mereka yang lari itu adalah perampok-perampok yang kuhajar. Dia puteri seorang *kauwsu*!"
"Hm!" Ituchi mengerutkan kening. "Dan ayahnya?"
"Benar," Thai Liong tiba-tiba teringat. "Ayahnya ada di sana, Ituchi. Roboh...!"
Pemuda itu berkelebat ke balik pohon besar dan melihat bergelimpangannya tubuh-tubuh yang bermandikan darah. Seorang tua tampak merintih di antara sekitar tiga puluh orang yang terbujur kaku. Thai Liong segera berjongkok di dekat orang tua yang sedang sekarat itu. Ketika Thai Liong menotok dan membantu kakek itu bersandar, si kakek membuka mata dengan terkejut.
"Kim... Kim-mou-eng...?"
"Bukan," Thai Liong menjawab dengan haru. "Aku Thai Liong, orang tua. Apakah kau pemimpin yang diserang perampok-perampok itu?"
"Be... benar..."
"Mana barang antaranmu?"
"Ooh...!" Kakek itu tiba-tiba mengeluh sembari menatap gadis yang pakaiannya koyak-koyak itu. "Kau... kau..."
Kakek itu sukar bicara, matanya melotot, dan tubuhnya tiba-tiba kejang-kejang. Sambil menangis dan menjerit memanggil "Ayah", gadis itu menubruk kakek tersebut. Thai Liong terkejut melihat gadis itu memukul-mukul ayahnya yang semakin berkelojotan. Kakek itu seolah ketakutan sekaligus marah besar, lalu terdengar suara tertahan dari kerongkongannya sebelum akhirnya terkulai lemas.
"Ayah...!" Thai Liong dan Ituchi terkejut. Kakek itu tewas dengan mata mendelik.
Tiba-tiba, di tengah hutan terdengar jerit melengking, "Tolong...!"
Telinga Thai Liong yang tajam mendengar suara kain yang disobek, disusul tawa dan sorak-sorai laki-laki. Pemuda itu segera berkelebat ke tengah hutan. "Keparat, rupanya tempat ini penuh orang jahat, Ituchi. Kau jaga gadis ini, biar aku ke sana!"
Thai Liong lenyap mendahului Ituchi. Di sana, ia melihat para perampok yang tadi diusir sedang mengganggu seorang wanita cantik. Thai Liong yang marah segera menghajar orang-orang itu hingga mereka bergulingan.
"Lari... Kim-mou-eng datang...!" teriak para perampok itu ketakutan.
Setelah mereka lari, Thai Liong menenangkan wanita itu. "Tidak, mereka sudah lari, Nona. Tenanglah."
"Tidak, mereka... mereka hampir merenggut kehormatanku!"
"Hm!" Thai Liong merah mukanya melihat pundak dan punggung wanita itu terbuka lebar. "Kau sudah selamat, Nona. Pakailah ini."
Thai Liong memberikan bajunya sendiri kepada wanita itu. Setelah mengenakannya, wanita itu berlutut. "Te... terima kasih, *Kongcu*. Kau penyelamatku. Aku berhutang budi padamu!"
"Bangkitlah!" kata Thai Liong. "Aku baru saja menolong seorang wanita dan temanku ada di sana. Mari kita ke tempat temanku!"
"Apakah kau *Kongcu* Pendekar Rambut Emas?"
"Aku puteranya. Dan, eh... siapa kau?"
"Aku Ui Kiok!"
"Baik, Ui Kiok. Mari kita berkumpul di sana!"
Thai Liong menyambar lengan wanita itu dan membawanya terbang. Namun, saat tiba di tempat tadi, Ituchi dan gadis puteri *kauwsu* itu sudah tidak ada. Ui Kiok menutup mulutnya kaget, "Ih, apa ini, *Kongcu*? Mereka... mereka sudah mati...?"
Thai Liong tertegun, lalu berteriak, "Ituchi, di mana kau?"
Namun, tidak ada jawaban. Thai Liong mengerahkan *khikang*-nya untuk memanggil, tetapi tetap sunyi. Getaran suaranya membuat Ui Kiok roboh sambil mendekap telinga karena tidak kuat menahan getaran itu.
"Ui Kiok, temanku hilang. Mari kita cari!"
Thai Liong kemudian berkelebat melompat dari satu pohon ke pohon lainnya dengan kecepatan luar biasa. Ui Kiok menjerit ketakutan saat dibawa terbang tinggi, namun Thai Liong tidak memedulikannya. Setelah mengelilingi seluruh hutan dan tidak menemukan temannya, Thai Liong akhirnya melayang turun dan mendesah lelah.