Halo!

Istana Hantu - Chapter 83

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 83

"Tidak ada. Temanku hilang!" Ui Kiok gemetar sambil membetulkan anak rambutnya.

"Kongcu, kau mencari siapa?"

"Temanku, Ui Kiok. Sahabatku. Tadi dia ada di sana, di tempat tubuh-tubuh yang bergelimpangan itu! Celaka, ke mana dia?" Wanita itu terbelalak.

"Kongcu mau mendengar kata-kataku?"

"Bagaimana?"

"Aku mengenal sebuah hutan di luar tempat ini, Kongcu. Hutan yang lebih lebat dan angker. Barangkali saja temanmu dibawa Sian-bi!"

"Sian-bi? Siapa itu?"

"Penunggu hutan di situ, Kongcu. Kabarnya cantik, tapi termasuk keluarga roh halus!"

"Aku tak percaya segala roh halus! Omong kosong kalau hutan ada penunggunya, Ui Kiok. Tapi kalau di sana temanku berada, mungkin saja kita pergi mencarinya!" Thai Liong mengerutkan kening.

"Kalau begitu, Kongcu ikut aku!" Wanita ini tiba-tiba berubah sikap, lepas dari pengamatan Thai Liong yang terlalu memusatkan diri pada Ituchi. "Aku tahu di mana dewi penunggu hutan itu bersemayam, Kongcu. Mari kita cari dan berangkat ke sana!"

"Nanti dulu! Kita kubur dulu mayat-mayat di sana itu, Ui Kiok. Baru kita pergi meninggalkan mereka!"

"Apa?"

"Benar, kita tak dapat meninggalkan mayat-mayat itu begitu saja. Aku harus menguburnya, baru kita kembali!"

Thai Liong menarik lengan wanita itu. Ui Kiok tertegun dan berseru perlahan, namun Thai Liong telah membawanya berkelebat. Sekejap kemudian, mereka tiba di tempat guru silat yang diserang perampok tewas bersama anak buahnya. Ketika Ui Kiok terbelalak melihat Thai Liong mematahkan sebatang ranting, dengan senjata kecil itu Thai Liong menusuk dan mencongkel tanah.

"Ah, kau menakjubkan, Kongcu. Kau pantas menjadi putra Pendekar Rambut Emas!"

"Sudahlah, jangan memuji," ujar Thai Liong sembari terus bekerja, melemparkan mayat-mayat ke lubang besar itu dengan cepat. "Aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu, Ui Kiok. Setelah itu kita ke tempat yang kau tunjuk, mudah-mudahan temanku benar ada di sana!"

Thai Liong menyelesaikan pekerjaannya; mayat terakhir dilemparkan ke lubang dan ditimbun tanah. Semuanya dilakukan tak lebih dari dua menit. Ketika Ui Kiok ternganga kagum, Thai Liong membersihkan baju dan menepuk-nepuk debu di pakaiannya.

"Nah, kita berangkat sekarang."

Ui Kiok tersadar. Setelah Thai Liong memandangnya dengan tatapan tajam, wanita itu mengangguk. Ui Kiok tidak dapat menyembunyikan rasa kagumnya dengan desah panjang. Saat pemuda itu menyambarnya dan memanggulnya kembali, Thai Liong meminta agar wanita itu memberikan petunjuk arah.

"Di sana...!" Begitu jari itu menunjuk, Thai Liong segera berkelebat menuju gunung di seberang.

Ke mana Ituchi? Apa yang terjadi?

Tadi, pemuda tinggi besar ini diminta Thai Liong menjaga gadis putri guru silat itu. Baik Thai Liong maupun Ituchi tidak menaruh curiga. Mereka menganggap gadis itu lemah dan tidak bisa silat. Karena guru silat itu akhirnya tewas dan Thai Liong berkelebat meninggalkan temannya saat mendengar jeritan minta tolong di tengah hutan, Ituchi tinggal bersama gadis cantik yang matanya mulai memancarkan sorot aneh dan ganjil. Pandangannya seperti tertawa, namun juga geram atau gemas, dengan bibir yang digigit-gigit.

Ketika Ituchi tertegun mendengar teriakan di tengah hutan sementara guru silat di depan kakinya roboh terkulai, gadis yang belum dikenal namanya itu menangis tersedu-sedu.

"Sudahlah, ayahmu sudah tiada, Nona. Kita kubur dia dan yang lain-lain ini."

"Tidak!" Gadis itu berseru. "Aku masih ingin bersama ayahku, Kongcu. Atau kau hidupkan dia lagi dan bersamanya seperti dulu!"

"Tak mungkin orang mati dihidupkan lagi," Ituchi mengerutkan kening. "Ayahmu sudah tiada, Nona. Orang mati harus dikubur!"

Namun, saat Ituchi memegang jenazah korban, gadis itu mendadak histeris. "Kongcu, hidupkan ayahku! Kembalikan ayahku!"

Ituchi terkejut. Gadis itu mengamuk dan melarangnya menyentuh jenazah sang guru silat. Ituchi menganggap gadis itu terganggu jiwanya. Ketika gadis itu menyerangnya, Ituchi mengelak dan menampar tengkuknya.

"Hm, kau gila. Kalau aku tak boleh mengubur ayahmu, biarlah kau tenang di sini. Kita tunggu Thai Liong!"

Gadis itu roboh. Ituchi tidak menampar dengan keras, namun gadis itu tetap terguling dan mengaduh. Ketika gadis itu masih meracau agar tidak memegang jenazah ayahnya, Ituchi berkata, "Sudahlah, aku tak akan memegang jenazah ayahmu. Kita tunggu Thai Liong di sini, tapi kau jangan berteriak-teriak!"

Gadis itu menurut. Ia kini tidak lagi marah-marah, meski masih terguncang dan bersedu sedan. Ituchi duduk di tanah dan bertanya siapa nama gadis itu.

"Aku... aku Pek Kiok..."

"Hm, dan ayahmu?"

"Ayahku Pek-kauwsu, Kongcu. Kami dari Li-bun."

"Hm...!" Ituchi mengangguk-angguk, memikirkan jauhnya Li-bun dari tempat itu. "Dan kau... ayahmu itu mana kereta barangnya, Pek Kiok? Kalian membawa apa?"

"Ayah membawa kiriman dari hartawan Cu, Kongcu. Tapi jangan tanya-tanya lagi dulu!"

Ituchi menarik napas, memaklumi kedukaan gadis itu. Namun, saat ia sedang menanti kedatangan Thai Liong, tiba-tiba terdengar denting senjata di sebelah kirinya.

"Hei, ada orang bertempur...!"

"Hei, jangan tinggalkan aku!"

Ituchi terkejut. Ia yang sudah bergerak hendak pergi, segera menyambar Pek Kiok dan melompat mengikuti asal suara. Ketika denting senjata menjauh dan Ituchi samar-samar melihat dua bayangan bertempur, ia pun mengejarnya dengan penasaran.

"Ah, jangan keras-keras, Kongcu. Sakit!"

Ituchi sadar. Cengkeramannya pada Pek Kiok diperlonggar, ia lupa bahwa ia sedang memanggul gadis yang lemah. Ketika Ituchi berusaha mengejar, dua bayangan di depan terus menjauh. Ia pun mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya.

"Keparat, siapa mereka?"

Ituchi gemas. Saat ia hampir mendekati dua orang yang bertempur itu, mereka menyelinap ke hutan sebelah. Suara denting senjata terus berpindah-pindah, hingga tanpa disadari, Ituchi sudah dibawa jauh meninggalkan tempat semula, memasuki hutan lebat di mana dua orang yang bertempur itu tiba-tiba hilang.

Ituchi terkejut. Ketika ia berhenti dan melongok-longok dengan penasaran, mendadak Pek Kiok yang dipanggul di pundaknya mengeluarkan kekeh yang aneh dan—*bluk*—Ituchi roboh terkena totokan lihai!

"Hi-hik, selamat datang, putra Raja Hu. Kau sudah tiba di tempat tinggalku!"

Ituchi tertegun. "Apa... apa ini?"

Pek Kiok bertepuk tangan. Tanpa menghiraukan pertanyaan pemuda itu, wanita tersebut meloncat turun dan terkekeh. Tiba-tiba muncullah banyak laki-laki dan wanita. Ituchi terbelalak melihat dua bayangan berbaju hitam yang tadi ia lihat sebagai orang yang bertempur.

Ituchi melongo. Saat ia dalam keadaan kaget, heran, dan marah, orang-orang yang muncul itu menjatuhkan diri berlutut di depan wanita tersebut.

"Pangcu, selamat atas keberhasilanmu membawa pemuda ini!"

"Hi-hik, bangunlah. Aku belum berhasil sepenuhnya, Thi Kiat. Karena enciku, Ui Kiok, masih harus menangkap pemuda yang satunya itu, putra Pendekar Rambut Emas. Kalau dia juga berhasil, barulah kalian memberi selamat!"

"Keparat!" Ituchi sadar ia telah ditipu. "Kau menipu aku, Pek Kiok? Dan kau... bukan putri guru silat itu?"

"Hi-hik, kau bodoh. Aku adalah Hui-hong Sian-li Chu Pek Kiok, Ituchi. Aku adalah penguasa seluruh wilayah hutan-hutan di sini, bersama enciku!"

Ituchi tertegun. Wajahnya merah padam karena merasa terhina. Saat wanita itu menanyakan barang rampasan, muncullah sebuah kereta yang ditarik oleh tiga orang laki-laki yang dikenali Ituchi sebagai perampok yang sebelumnya dihajar Thai Liong.

"Hi-hik, bagus. Keluarkan semua barang dari kereta, Thi Kiat. Lihat isinya dan taksir berapa nilainya!"

Ituchi terbelalak. Ia melihat peti warna-warni dan belasan gulung kain sutra indah dikeluarkan dari kereta yang ditarik dua ekor kuda itu. Bahan makanan, gandum, dan kue kering disusun rapi di atas tanah.

"Ha-ha, banyak sekali, Pangcu. Barangkali bernilai laksaan tail!"

"Hm, buka peti itu. Kita lihat isinya!"

Semua orang bersorak. Thi Kiat dan tiga laki-laki pembantu Hui-hong Sian-li (Dewi Burung Hong Terbang) segera mematahkan gembok peti tersebut dan membukanya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment