Chapter 84
Ketika semua orang melihat peti-peti itu berisi perhiasan emas dan permata, mereka semua bersorak dan bertepuk tangan dengan riuh.
"Aih, luar biasa. Ini cukup untuk hidup tujuh turunan!"
"Benar," Pek Kiok, si Burung Hong Terbang, berseru sambil tertawa. "Luar biasa hasil rampasan kita kali ini, Thi Kiat. Kita dapat bersenang-senang selama tujuh turunan!"
"Jahanam hina!" Ituchi tiba-tiba membentak. "Kalian tidak layak menyentuh barang rampokan itu, Pek Kiok. Ayo, lepaskan totokanku dan kita bertanding!"
"Hi-hik!" Pek Kiok membalikkan badan dengan berseri-seri. "Kau gagah dan tampan, Ituchi. Kau pantas menjadi putra Raja Hu. Aku dan enciku gembira menemukan kau dan temanmu, tapi jangan berteriak-teriak di sini!"
"Keparat, aku akan terus memaki-makimu. Kau siluman busuk, curang, dan tak tahu malu!"
Ituchi terus memaki dan meluapkan kemarahannya, membuat orang-orang di sana marah dan terbelalak. Mereka membentak pemuda itu, namun Ituchi tidak peduli. Ketika dia memaki si Burung Hong sebagai Hui-hong Mo-li (Siluman Betina) dan bukannya Hui-hong Sian-li (Dewi Jelita), Pek Kiok akhirnya berkelebat dan menotok rahang Ituchi. Seketika, urat gagunya lumpuh dan pemuda itu tidak dapat memaki lagi.
"Ikat dia, ambil rantai besi!"
Ituchi mendelik. Mulutnya lumpuh dan rahangnya ditotok, sehingga jangankan memaki, menggerakkan sedikit bagian bawah mulutnya saja sudah terasa sakit bukan kepalang. Sementara pemuda itu melotot dengan muka merah padam, si Burung Hong bergembira bersama pembantunya. Wanita itu menghitung perhiasan dan sesekali terkekeh, bahkan mengenakannya di tubuhnya satu per satu.
Pek Kiok kemudian menghampiri Ituchi dan berkata, "Hi-hik, lihatlah, Ituchi. Malam nanti atau besok kita mengadakan pesta. Aku dan enciku akan mengadakan undian. Kita akan bermalam bahagia!"
"Keparat, apa maksudmu? Malam bahagia bagaimana? Aku tak sudi berpesta dengan barang rampokan, Pek Kiok. Lepaskan aku dan kuhajar kalian!"
Ituchi sempat dibebaskan totokannya sejenak untuk diajak bicara, namun umpatanlah yang pertama kali meluncur. Pek Kiok hanya tertawa-tawa. Saat wanita itu menatap Ituchi dengan kagum, ia tiba-tiba menunduk dan mencium pipi pemuda itu.
"Hore, hidup pangcu!"
"Pangcu akan menikah...!"
Ituchi merah padam karena kaget dan malu. Ia kembali memaki, namun Pek Kiok segera menotok urat gagunya lagi sambil terkekeh. Teriakan "Pangcu akan menikah" terdengar begitu gaduh di dalam hutan. Tepat saat itu, sesosok bayangan berkelebat, memperlihatkan Thai Liong yang dipanggul oleh seorang wanita cantik yang mirip dengan Pek Kiok.
"ITUCHI...!"
Ituchi tertegun. Thai Liong berteriak memanggil namanya. Keduanya sama-sama bingung dan tidak menyangka akan bertemu di sana. Ketika kedua pemuda itu terbelalak, wanita yang mirip Pek Kiok itu menurunkan Thai Liong dan terkekeh.
"Hi-hik, kau sudah lebih dulu di sini, Pek Kiok? Dan kalian akan berpesta?"
"Ah," Pek Kiok menyambut dengan tawa nyaring. "Kau sudah berhasil menangkap putra Pendekar Rambut Emas itu, Enci? Tidak banyak kesukaran dan mudah kau robohkan?"
"Hi-hik, tidak mudah, tapi juga tidak sukar. Pemuda ini berhasil kutipu dan sekarang menjadi tawananku!"
"Dan pemuda ini juga!" Pek Kiok berseru sambil menuding Ituchi. "Kita dapat bersenang-senang dan malam ini kita berpesta!"
"Benar, aku jatuh cinta pada putra Pendekar Rambut Emas ini. Dia gagah dan lihai. Kalau aku tidak cerdik, tentu tak dapat merobohkannya!"
"Hidup pangcu berdua...!" Sorakan ramai terdengar. "Kami akan merayakan pesta bersama kalian. Siap menyaksikan kalian menikah!"
"Keparat!" Thai Liong berseru dengan wajah merah padam. "Apa arti semua ini, Ui Kiok? Mana Sian-bi yang kau bilang?"
"Hi-hik," Ui Kiok terkekeh. "Sian-bi adalah kami berdua, Kim-kongcu. Kamilah penguasa hutan ini dan segala isinya. Jangan marah-marah, aku dan adikku telah mendapatkan apa yang kami cari. Kau lihai dan temanmu pun gagah. Kalian berdua akan menyenangkan hati kami malam ini."
"Maksudmu?"
"Hi-hik, kau menjadi pasanganku, sementara temanmu menjadi pasangan adikku. Malam bulan purnama ini, kita menikah dan resmi menjadi suami istri!"
"Oh, terkutuk!" Thai Liong marah dan memaki, namun ia tidak berdaya karena sebelumnya sempat ditipu dan ditotok saat memasuki hutan atas bujukan Ui Kiok. Ia baru menyadari bahwa Ui Kiok adalah wanita sesat dan cabul. Totokan yang membuatnya tak berdaya itu diam-diam ia coba buka, namun belum berhasil karena Ui Kiok cukup lihai.
"Ui Kiok, Pek Kiok, kalian wanita tak tahu malu. Bebaskan kami!"
"Hi-hik, masalah bebas tentu bebas, Kongcu. Tunggu malam purnama nanti dan kalian pasti bebas!"
"Aku tak sudi menjadi barang permainan kalian!"
"Hi-hik, bungkam mulutnya dulu, Enci. Lihat seperti tawananku ini!" Pek Kiok berseru karena telinganya gatal mendengar makian Thai Liong. Ui Kiok segera menggerakkan jarinya, menotok urat gagu Thai Liong hingga bungkam.
"Hi-hik, bukankah mudah? Sekarang kita persiapkan segala sesuatunya. Malam ini adalah malam paling bahagia bagi kita!"
Thai Liong mengeluh. Ia dan Ituchi benar-benar berada di bawah ancaman bahaya malu. Mereka hendak dijadikan suami oleh kakak beradik sesat tersebut. Thai Liong dan Ituchi saling memberi isyarat mata.
Tadi, saat diajak Ui Kiok mencari Sian-bi, Thai Liong sempat percaya karena Ui Kiok terlihat lemah. Namun, saat sedang berjalan, Ui Kiok tiba-tiba melancarkan totokan di belakang tengkuknya hingga ia roboh. Meski sempat mencoba melakukan perlawanan, totokan itu terlalu cepat.
"Ituchi, kau dapat membebaskan dirimu?" bisik Thai Liong setelah berhasil membuka jalan darah di urat gagunya.
"Hm, tidak," jawab Ituchi dari jauh. "Aku hanya dapat membebaskan totokan urat gaguku. Selebihnya, aku masih tak berdaya."
"Sama seperti aku," jawab Thai Liong dengan perasaan cemas.