Halo!

Istana Hantu - Chapter 85

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 85

Tapi sudah cukup, Ituchi. Kita harus berjuang lagi dan bekerja lebih keras. Dua wanita siluman itu rupanya bersiap-siap untuk menguasai kita, lahir batin! "Ya, dan aku muak padanya, Thai Liong. Kita tertiup dan roboh seperti anak kecil!" "Kesalahan kita sendiri," Thai Liong tertawa getir. "Kita terjebak tipu muslihat lawan, Ituchi. Tapi biarlah, jadikan ini pengalaman berharga. Beberapa jam lagi kita harus bebas!" "Ya, dan secepatnya menghajar wanita-wanita itu. Atau kita bakal dipermalukan dan menjadi bahan tertawaan orang banyak!" "Hm, hati-hatilah, Ituchi. Pek Kiok menghampirimu!" Thai Liong menutup mulut, memberi isyarat dan segera percakapan berhenti.

Ituchi dihampiri wanita cantik itu dan terdengar kekeh yang penuh nafsu dan genit. Dan ketika Ui Kiok juga muncul dan menghampiri Thai Liong, dari arah yang berbeda maka terdengar enci adik itu bicara. "Pek Kiok, bawa calon suamimu ke dalam. Kasihan mereka kalau kedinginan di sini!" "Benar, dan kau juga, enci. Bawa kekasihmu ke kamar dan bujuk dia agar menuruti permintaan kita!" "Hi-hik, tentu!" Dan Thai Liong serta Ituchi yang sudah diangkat dan disambar dibawa masuk lalu mendengar sorak-sorai anak buah dua wanita itu di mana Ituchi dibawa ke sebelah kiri sementara Thai Liong ke sebelah kanan.

Apa yang akan dilakukan dua wanita ini Thai Liong maupun Ituchi tak tahu. Tapi begitu mereka memasuki sebuah kamar yang harum lagi besar maka Ituchi mula-mula terbelalak dan ngeri. Pek Kiok, yang membawanya lebih dulu sudah melempar tubuhnya di atas pembaringan empuk. Tiga pelayan wanita ada di situ tapi sudah diusir keluar, mereka tersenyum-senyum dan tertawa penuh arti.

Dan ketika pintu kamar ditutup dan Ituchi tertegun maka pemuda itu melihat Pek Kiok mulai melepas pakaian luarnya. "Hi-hik, rasanya tak sabar menunggu datangnya malam, Ituchi. Aku ingin kita mengawali malam pengantin dengan bercinta lebih dulu... bret-bret!" Wanita cantik itu melepas pakaiannya, tinggal pakaian dalam dan tentu saja Ituchi tersirap. Dia berdesir melihat tubuh mulus terpampang di depan mata, dengan lekuk-lengkung menggairahkan dan tentu saja dia cepat memejamkan mata.

Tapi ketika sepasang lengan yang lunak halus melingkar di lehernya dan napas yang harum berbisik di sebelah telinga maka Ituchi tergetar dan tiba-tiba lupa membebaskan jalan darahnya, yang tadi sudah berhasil sebagian. "Hu-koko, lihatlah aku. Buka matamu!" Ituchi terbelalak. Tanpa diulang tiba-tiba dia membuka matanya, terkejut dan hampir berteriak ketika Pek Kiok sudah memeluk tubuhnya dengan dada terbuka. Sepasang daging lembut membola di dekatnya, begitu dekat hingga nyaris menempel dengan ujung hidungnya.

Bukan main! Ituchi kaget tapi tak dapat berteriak. Urat gagunya yang tadi terbuka mendadak tertutup lagi, macet. Maklumlah, pengerahan sinkang yang dilakukan guna membuka jalan darah memang tak boleh buyar. Seluruh perhatian harus dipusatkan atau orang akan gagal lagi dalam usahanya. Dan ketika benar saja urat gagu itu menutup lagi dan Ituchi tersentak oleh pemandangan luar biasa ini maka Pek Kiok tiba-tiba mengurut tengkuknya dan membuka jalan darah yang dapat membuat pemuda ini bicara lagi.

"Hu-koko, aku cinta padamu. Malam nanti kita menikah!" "Tidak... tidak...!" Ituchi datang kagetnya, dapat bicara. "Kau pergilah, Pek Kiok. Kau wanita hina yang tak tahu malu!" "Ah, kita akan menjadi suami isteri, koko. Malam nanti kau menjadi suamiku dan sekarang kita bersenang-senang!" "Tidak... tidak...!" Namun Pek Kiok yang terkekeh dan mendengus menciumi mukanya tiba-tiba menunduk dan sudah mencium bibir pemuda itu, dihisap dan dikecup tiba-tiba pemuda ini tersentak.

Semacam aliran listrik yang tinggi menyengat tubuhnya, begitu luar biasa dan nikmat tapi tiba-tiba pemuda ini ingat siapa lawannya itu, bukan lain wanita keji yang telah membunuh guru silat di hutan, berikut para pengawal yang lain yang membawa barang hantaran. Dan ketika Ituchi teringat ini dan ciuman itu seakan melumat tubuhnya mendadak pemuda ini menggerakkan mulutnya dan... digigitnya lidah yang menyapu ganas itu.

"Aduh...!" Pek Kiok menampar serta membanting tubuh bergulingan. Alangkah kagetnya wanita ini ketika tiba-tiba Ituchi mengiggit, lidahnya serasa putus dan tentu saja dia menjerit, menampar dan Ituchi pun terpelanting. Dan ketika Pek Kiok bergulingan meloncat bangun sementara Ituchi di sana terlempar dan mengeluh dengan pipi bengkak, akibat tamparan tadi maka Pek Kiok mengumpat caci dan marah-marah, gusar bukan kepalang.

"Keparat jahanam! Kau tak tahu dicinta, Ituchi. Kau tak tahu diuntung! Ah, keparat kau. Kalau saja malam nanti tidak bulan purnama tentu kau kubunuh. Jahanam!" Dan Pek Kiok yang marah-marah serta mendesis memijit lidahnya lalu menendang Ituchi dan memaki-maki pemuda itu, dihajar pulang balik dan Ituchi menggigit bibirnya menahan sakit, mengeluh dan berulang-ulang terbanting atau menumbuk tembok.

Dan ketika satu jam dia dihajar dan akhirnya lunglai di sudut barulah lawannya itu meloncat keluar dan meninggalkannya dengan muka merah padam, berapi-api. "Kulaporkan enciku, pemuda keparat. Awaskau!" Namun bagaimana dengan Ui Kiok? Hampir saja saja. Waktu itu, Thai Liong juga dibawa ke kamar yang lain dan pemuda ini juga dilempar di pembaringan. Ada dua pelayan di situ namun Ui Kiok cepat mengusirnya, melihat kamar sudah disiapkan dan rupanya sama seperti adiknya wanita ini juga "ngebet", tak tahan, ingin mengajak Thai Liong bermain cinta dan dia sudah tertawa-tawa melempar pemuda itu.

Dan ketika Thai Liong terlempar di atas pembaringan dan bertanya apa yang mau dilakukan wanita itu, lupa bahwa sebenarnya dia harus berpura-pura sebagai tawanan yang tetap tertotok maka Ui Kiok tertegun dan membelalakkan matanya. "Eh, kau dapat berbicara, Kim-kongcu? Kau berhasil membuka totokan urat gagumu? Aih, hebat, kau memang mengagumkan!" Dan Thai Liong yang malah disambar dan diciumi tiba- tiba membuat pemuda ini terkejut dan sadar.

"Tahan.... tahan!" Thai Liong merah mukanya. "Mau apa kau bawa aku ke sini, Ui Kiok. Dan kenapa pintu kamar ditutup!" "Hi-hik, aku membawamu ke sini untuk menyatakan cintaku, kongcu. Bahwa kita bersenang-senang dulu mendahului bulan purnama!" "Ah, kau wanita tak tahu malu. Lepaskan aku, jangan teruskan niatmu yang gila ini!" "Hi-hik, menjadi mantu Pendekar Rambut Emas adalah suatu kebanggaan bagiku, Kim- kongcu. Dan menjadi isterimu juga suatu kebanggaan besar. Kenapa harus kulepaskan? Eh, mari kita bersenang-senang, kongcu. Dan malam nanti kita lanjutkan lagi... bret!" Ui Kiok merobek bajunya, menubruk dan sudah memeluk pemuda ini dan Thai Liong terkejut.

Wanita itu membiarkan bajunya terbuka dan tampaklah buah dadanya yang padat menggairahkan. Thai Liong merasa silau dan tentu saja berdesir. Tapi ketika dia cepat memejamkan mata namun bibirnya sudah dicium dan dilumat bertubi-tubi tiba-tiba pemuda ini membuka mata dan mengigit bibir wanita itu, berseru. "Ui Kiok, pergilah...!" Wanita itu menjerit. Hampir seperti adiknya di sana wanita ini kesakitan digigit bibirnya.

Thai Liong tidak mengigit lidah karena wanita itu belum memainkan lidahnya. Namun karena menggigit bibir juga cukup kesakitan dan wanita itu memekik maka Ui Kiok melempar tubuh sambil memaki-maki, membiarkan dadanya terbuka lebar, hal yang lagi-lagi membuat Thai Liong memejamkan matanya rapat-rapat. "Kim-kongcu, kau keparat jahanam. Kau pemuda tak tahu dicinta!" "Hm, boleh maki sepuasmu. Aku muak melihat sepak terjangmu, Ui Kiok. Bebaskan aku atau bunuh kalau kau suka!" "Tidak, aku ingin menundukkanmu!" Dan Ui Kiok yang nekat dan tak menyerah begitu saja tiba-tiba menubruk dan memeluk lagi, kali ini menarik seluruh sisa pakaiannya dan dengan telanjang bulat wanita itu menggumuli Thai Liong.

Tubuh yang seperti belut dan lunak serta lembut tahu-tahu sudah berada di atas tubuhnya, mendengus dan menciumi tak kenal menyerah. Biasanya lelaki akan roboh kalau wanita sudah melepas seluruh pakaiannya, memang tak bakalan tahan. Tapi karena Thai Liong adalah putera Pendekar Rambut Emas dan sebagai pemuda berwatak bersih Thai Liong pantang melakukan perbuatan-perbuatan hina atau memalukan maka pemuda ini cepat mematikan rasa ketika nafsu birahinya bangkit, bagaimanapun memang tergerak dan bekerja sebagaimana biasanya laki-laki normal.

Thai Liong tergetar dan tentu saja terkesiap oleh pemandangan itu. Tubuh Ui Kiok memang indah dan menggairahkan, bahkan, terlampau menggairahkan di saat seperti itu, berdua di kamar sendiri dan dapat melakukan apa saja yang sebenarnya dapat mereka lakukan, kalau mau. Tapi karena Thai Liong tak mau pemuda ini justeru marah melihat tubuhnya diciumi bertubi-tubi tiba-tiba Thai Liong malah meludahi wanita itu ketika Ui Kiok hendak menarik lepas celananya.

"Ui Kiok, pergilah...!" Wanita itu terkejut. Dia sudah terbakar oleh nafsunya sendiri dan berhati-hati, tidak mencium bibir Thai Liong lagi karena takut digigit. Tapi begitu Thai Liong meludah dan tepat sekali mengenai mukanya, yang menunduk di perut pemuda itu tiba-tiba ludah yang menyambar bagai pelor baja ini melukai pipi wanita itu.

"Aduh...!" Thai Liong kiranya mengerahkan lweekangnya (tenaga dalam) untuk membuat ludahnya keras seperti batu. Memang saat itu jalan darahnya sudah terbuka sebagian, sedikit mengempos semangat saja dia berhasil menyalurkan hawa saktinya ke pusar. Tak akan dipergunakan kalau saja Ui Kiok tidak berbuat terlalu jauh, melepas celananya dan mau membuat dia telanjang! Maka begitu pemuda ini marah dan apa boleh buat dia "menembak" Wanita itu dengan air ludahnya maka Ui Kiok terbanting bergulingan dan mengaduh-aduh.

"Jahanam keparat! Bedebah terkutuk...!" Thai Liong berdebar. Untuk sesaat ia selamat dan bebas, Ui Kiok bergulingan di lantai dan kaget. Tentu saja kaget karena tak menyangka pemuda itu dapat menyerangnya, padahal sudah dilumpuhkan. Tapi begitu dia meloncat bangun dan memaki-maki men yambar pakaiannya maka kemarahannya segera ditumpahkan kepada pemuda ini.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment