Chapter 86
Thai Liong dihajar, ditendang, ditampar, dan bertubi-tubi mendapat dampratan serta kutukan. Sementara pemuda itu menggigit bibir menahan sakit, tiba-tiba berkelebat bayangan Pek Kiok yang baru saja marah-marah terhadap Ituchi, yang juga gagal merayu atau merobohkan putra Raja Hu itu.
"Enci, tahan. Apa yang terjadi?"
"Keparat jahanam!" Ui Kiok memaki-maki. "Pemuda ini berani kurang ajar dan melukaiku, Pek Kiok. Dia... dia tak berhasil kubujuk!"
"Hm, kau belum main?"
"Main apa? Menundukkannya saja belum, Pek Kiok. Pemuda sombong ini minta dibunuh. Baiklah, biar kubunuh dia dan kubalas sakit hatiku!"
"Tahan!" Pek Kiok terbelalak, menahan encinya yang mencabut pedang. "Jangan tergesa-gesa, Enci. Aku juga mengalami kegagalan, tapi tak mungkin pemuda-pemuda ini dapat menolak keinginan kita. Bukankah malam nanti kita akan berpesta? Dan anak buah kita sudah mengetahuinya, Enci. Kalau dia dibunuh, maka kau mendapat malu di hadapan anak buahmu sendiri. Tidak, ingatlah akan Empedu Rajawali. Kalau malam nanti kita mempergunakannya dan dua pemuda ini kita cekoki, tak mungkin kita tak dapat menundukkan mereka. Sabar dan tahanlah keinginanmu itu. Mereka memang pemuda-pemuda yang mengagumkan. Dan aku justru semakin mengagumi mereka!"
Ui Kiok tertegun. Tiba-tiba dia teringat akan hal itu dan berhenti menyerang. Matanya bersinar dan wajahnya pun berseri-seri. Ketika dia tertawa, mengangguk, dan memeluk adiknya, tiba-tiba dia berseru, "Aih, hampir aku lupa. Kau benar, Pek Kiok. Empedu Rajawali akan menundukkan pemuda-pemuda yang kita cintai ini. Mereka akan menjadi ganas dan liar bermain cinta!"
"Ya, dan kalau perlu kita ganti pasangan, Enci. Kita tukar-menukar dan bercinta sepuas-puasnya."
"Hi-hik, kau benar. Ah, kau benar!"
Thai Liong, yang melihat Ui Kiok berjingkrak dan terkekeh mencium pipi adiknya lalu berkelebat dan menutup pintu kamar, merasa tertegun dan waswas. Perasaan tidak enak melanda hatinya dan diam-diam dia berdebar. Empedu Rajawali? Barang apa itu? Namun, karena Ui Kiok maupun Pek Kiok sama-sama dilihatnya sebagai wanita berbahaya yang cabul, Thai Liong gelisah. Dia meringkuk di sudut setelah menerima sebuah tendangan, beruntung Ui Kiok lupa pada keberhasilannya membuka sebagian totokan karena terlampau girang oleh kata-kata adiknya mengenai Empedu Rajawali.
Ketika malam mulai tiba dan hampir empat jam lamanya Thai Liong mencoba membebaskan totokan, genderang dan tambur mulai terdengar di luar. "Hm, itukah tanda dimulainya pesta? Dan dia akan melihat sebuah keramaian yang mengerikan?"
Thai Liong mengeluarkan keringat dingin. Dia tinggal beberapa saat lagi untuk berhasil sepenuhnya, berkutat dan berkali-kali mengulang. Kalau saja konsentrasinya tidak buyar oleh kengerian yang baru dialami dan bayangan Ui Kiok yang telanjang, barangkali sejak tadi pemuda ini berhasil. Sayang, Thai Liong terganggu oleh pemandangan tubuh bugil Ui Kiok. Namun, ketika pemuda ini bertahan dan mengusir jauh-jauh semua bayangan itu, setengah jam lagi dia akan bebas kalau saja bayangan Ui Kiok tidak berkelebat dan memasuki kamar bersama adiknya sambil terkekeh.
"Hi-hik, apa yang kau lakukan, Kim-kongcu? Kau mau membuka jalan darahmu?"
Thai Liong terkejut. Di saat hampir berhasil, mendadak wanita ini muncul, tertawa, dan langsung menotoknya lagi. Begitu Thai Liong roboh dan mengeluh dalam hati, Ui Kiok menyambar tubuhnya dan tertawa. "Kongcu, jangan macam-macam. Jangan kira aku tak tahu. Nah, ayo keluar dan kita mulai pesta!"
Thai Liong terbelalak. Di sebelah kirinya, terdengar Pek Kiok terkekeh genit; rupanya gadis itu geli oleh kegagalan pemuda ini. Begitu encinya berkelebat keluar dan Thai Liong dipanggul di pundak kanan, wanita ini berkelebat ke sebelah kanan.
"Enci, tunggu aku. Aku juga akan mengambil calon suamiku!"
"Baiklah," encinya tertawa. "Kita sekalian, Pek Kiok. Dan lihat apakah pemuda itu juga berusaha membuka totokannya!"
Thai Liong mengumpat. Ui Kiok mengikuti adiknya dan tibalah mereka di kamar Ituchi. Mereka melihat pemuda itu tak berdaya di sudut kamar dengan muka matang biru. Pemuda ini ingin memaki namun menahan seruannya begitu melihat Thai Liong yang dipanggul Ui Kiok. Ketika Thai Liong memberi isyarat agar Ituchi tidak berteriak, Pek Kiok sudah menendangnya dan menerima tubuh pemuda itu ketika terlempar ke atas.
"Hi-hik, malam ini semua kesombonganmu akan lenyap, Ituchi. Aku akan membuatmu tunduk dan merangkak di bawah kakiku!"
"Sudahlah," encinya berseru. "Tak usah marah-marah lagi, Pek Kiok. Bawa calon suamimu itu dan kita keluar. Keramaian sudah menanti!"
Pek Kiok tertawa. Dia gemas menepuk pundak pemuda itu melihat Ituchi tetap tertotok dan tidak berdaya. Melihat muka pemuda itu matang biru bekas hajarannya, wanita ini memborehkan obat luar berupa minyak dingin. "Hm, tak baik mempunyai suami yang memar begini, Ituchi. Diamlah dan kugosok sejenak!"
Lalu, berkelebat mengikuti encinya, wanita ini meninggalkan kamar itu menuju ke tempat keramaian. Di sana sudah dibuat semacam panggung besar dengan meja dan kursi. Ada bunga, dupa harum, altar, dan sebuah cepuk tempat perhiasan yang gemerlap di atas meja altar. Ketika semua orang bersorak melihat enci dan adik ini yang masing-masing memanggul calon suaminya, Thai Liong merah padam mendengar teriakan para pengikut aliran sesat itu.
"Ha-ha, hidup Siang-li Pangcu! Hormat kepada Dewi Bulan yang akan memberi berkah!"
"Benar, selamat dan bahagia untuk kalian berdua, Siang-li Pangcu. Calon-calon suami kalian adalah pemuda-pemuda yang tepat sekali!"
"Dan malam ini kita bisa bersenang-senang. Kita rayakan pesta pernikahan Pangcu dengan Tarian Naga Betina!"
Semua bersorak. Suara tambur dan genderang dipukul semakin gaduh dan riuh rendah, menyuarakan irama panas. Semua laki-laki bangkit berdiri, sementara Thai Liong melihat bayangan wanita di balik pohon, berbisik-bisik dan terkekeh. Ada sesuatu yang mendebarkan di sana; wanita-wanita yang samar-samar terlihat setengah telanjang.
Ketika dua kakak beradik itu meloncat ke atas panggung dengan ringan, Ui Kiok tertawa sambil mengangkat lengannya. "Saudara-saudara, malam ini memang malam yang istimewa bagi kami. Karena kalian tahu sendiri bahwa kami telah berhasil mendapatkan calon suami yang gagah, maka Tarian Naga Betina akan kalian saksikan mengiringi upacara Dewi Bulan!"
"Hidup Siang-li Pangcu!" Sorakan menggegap-gempita.
"Baik, dan sekarang kalian hentikan bunyi musik," Pek Kiok mengangkat lengannya. "Upacara agama akan segera dimulai, saudara-saudara. Harap kalian tenang karena Dewi Bulan akan segera muncul!"
Tambur dan bunyi-bunyian mendadak senyap. Semua orang membungkuk ke depan sebagai tanda hormat. Pek Kiok dan encinya berdiri di depan altar dan mulai memasang dupa. Dua buah dupa paling besar disulut dan menguarlah bau harum yang menyengat, lebih keras daripada dupa biasa. Ketika kakak beradik itu memegang cawan dan cepuk di tengah altar lalu mendentingkannya dua kali, tiba-tiba semua orang menjatuhkan diri berlutut.
"Kalian lihatlah, Empedu Rajawali akan memulai upacara agama!"
Semua mata tegang. Thai Liong dan Ituchi terkejut melihat mata orang-orang tiba-tiba beringas dan penuh gairah saat melihat benda kemerah-merahan di dalam cepuk yang terbuka. Ketika Pek Kiok serta encinya mulai membaca doa-doa aneh, perlahan-lahan di sebelah timur muncullah sang Dewi Bulan dengan sinar keemasan. Semua orang mengikuti bunyi doa dan angin semilir berdesir dingin, membuat bulu kuduk Thai Liong meremang mendengar suara-suara aneh di sana.
Mula-mula dua kakak beradik ini mengembangkan lengan ke atas dan ke bawah tiga kali, lalu mereka mulai berputaran mengelilingi altar. Ketika suasana hening mencekam, kakak beradik ini bertepuk tangan agar musik yang lebih lembut dibunyikan.
"Dewi Bulan sudah muncul. Kita sambut kedatangannya dengan suling dan genderang!"
Suling dan genderang dibunyikan lembut. Suasana yang menyeramkan sejenak berubah halus. Ketika bulan purnama mulai naik perlahan-lahan dan sinarnya yang gilang-gemilang menyinari bumi, Thai Liong terpaku dan terpesona. Samar-samar sebuah pengaruh mulai melibat dirinya. Namun, ketika bulan naik semakin tinggi dan Ui Kiok bertepuk tiga kali, mendadak suara suling berhenti dan digantikan tambur yang dipukul panas.
"Dewi Bulan telah memberikan berkahnya kepada kita. Tarian Naga Betina, harap muncul!"
Thai Liong terkejut. Dari balik pohon, muncul belasan wanita muda yang cantik namun setengah telanjang.