Halo!

Istana Hantu - Chapter 87

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 87

Mereka muncul seperti siluman betina, tentu saja disambut sorak dan suitan riuh para lelaki. Ketika mereka melenggang-lenggok naik ke atas panggung dengan menggendong sebuah tempayan kecil, genderang tiba-tiba menyambut dan suasana yang panas mendadak terjadi tanpa dapat dicegah lagi.

"Ui-hwa, kau nanti milikku! Bi-nio, kau nanti punyaku!" Namun, ketika semua lelaki bersorak dan memanggil nama wanita-wanita muda itu, tiba-tiba Ui Kiok berseru agar mereka tidak gaduh. Ia mengangkat lengan dan belasan wanita muda itu menari dengan senyum dan lenggak-lenggok, mata mengerling dan genit menyambar-nyambar.

Saat tambur atau suara musik lain menyusul dan mengeruhkan suasana yang kian panas, belasan penari yang setengah telanjang itu sudah memutari altar, sementara Ui Kiok serta Pek Kiok tertawa-tawa.

"Ui-hwa, Bi-nio, ulurkan tempayan kalian!" Dua wanita yang disebut namanya mengulurkan tempayan mereka. Thai Liong melihat sepercik air diambil oleh Ui Kiok bersaudara, lalu dituangkan ke sebuah kendi yang sudah disiapkan. Nama-nama lain dipanggil dan berturut-turut wanita-wanita itu maju satu per satu. Kaum lelaki berteriak histeris melihat air yang diambil tersebut.

Ketika musik semakin panas dan kendi yang sudah berisi air itu direndam benda yang ada di dalam cepuk, mendadak kaum lelaki bersorak. Belasan penari yang meliak-liuk di atas panggung itu tiba-tiba melepas pelilit dadanya.

"Horeee...!"

"Astaga!" Seruan terakhir itu disuarakan Thai Liong. Pemuda ini dan temannya tiba-tiba melihat sesuatu yang membuat darah muda berdesir. Wanita-wanita muda itu sudah menunjukkan bagian atas tubuhnya yang telanjang tanpa penutup. Semua penari itu tampil *topless*.

Ketika para lelaki bersorak dan berjingkrak-jingkrak karena pemandangan ini, Ui Kiok dan adiknya mengambil cawan dan membagi-bagi minuman dari kendi yang sudah terendam dengan Empedu Rajawali.

"Sekarang kalian boleh bersenang-senang. Menarilah semuanya sepuasnya!"

Kaum lelaki berlompatan. Mereka menjadi tak teratur dan berteriak satu sama lain. Saat hendak menyerbu para wanita, mereka ditahan oleh para penari yang menyuruh mereka menghadap pangcu terlebih dahulu untuk meminta izin. Ketika semua lelaki berebut menuju Ui Kiok dan Pek Kiok, mereka berlutut di depan dua wanita cantik itu.

"Pangcu, izinkan kami bersama Ui-hwa!"

"Ya, dan aku Bi-nio, Pangcu..."

"Aku Kiu-lin..."

"Kami Pui-hui dan Pui-yang...!"

Semua berseru dan mandi keringat untuk mendahului yang lain. Bagi yang dikabulkan, mereka langsung menerima air Empedu Rajawali. Yang ditolak tidak diberi minuman tersebut; mereka adalah para pemain musik yang diminta melanjutkan kegaduhan agar teman-temannya yang lain bisa bersenang-senang.

Thai Liong maupun Ituchi terbelalak melihat pemandangan yang bertambah seram itu. Para lelaki yang sudah meminum Empedu Rajawali langsung menubruk pilihan masing-masing. Pasangan demi pasangan bergulingan di lantai panggung dengan kekeh atau erangan yang tumpang tindih.

Thai Liong tak mau melihat lagi karena pemandangan itu sungguh mengerikan. Puluhan lelaki "mengeroyok" belasan penari yang tentu saja kewalahan menerima serbuan itu. Arena panggung berubah menjadi arena kotor yang bergelimang nafsu birahi. Ui Kiok dan adiknya meneguk sisa minuman, menyisakan dua cawan untuk Thai Liong dan Ituchi.

"Hi-hik, sekarang kita mulai, Pek Kiok. Ayo tundukkan dua pemuda ini dan kita masuk ke kamar masing-masing!"

Thai Liong dan Ituchi tersentak. Mereka mencoba menutup telinga agar tak mendengar rintihan atau kekeh nafsu. Meja altar terguling, suasana kacau dan tak keruan. Dewi Bulan di atas sana tampak tersenyum, tapi Thai Liong dan Ituchi justru merasa seram. Mereka seakan berada di tengah dunia penuh nafsu kotor yang amat cabul. Laki-laki dan perempuan tumpang tindih tak keruan; rata-rata seorang penari muda harus melayani tiga sampai lima lelaki.

Ketika mereka menutup telinga dan mata rapat-rapat, mendadak Ui Kiok dan Pek Kiok berkelebat di samping mereka sambil tertawa—tawa yang bagi mereka terdengar seperti kuntilanak yang sedang gila birahi.

"Hi-hik, sekarang nikmatilah malam kita berdua, Kim-kongcu. Malam ini kita menjadi pengantin dan Dewi Bulan sebagai saksi!"

"Benar, dan kau juga Ituchi. Malam ini kau tak dapat menolak dan ingin kulihat bagaimana kau merangkak di bawah kakiku!" Pek Kiok terkekeh-kekeh menyambung kata-kata kakaknya. Dua wanita itu mengangkat cawan masing-masing.

Thai Liong maupun Ituchi tahu pengaruh isi cawan itu adalah Empedu Rajawali, minuman berbahaya yang merupakan perangsang birahi. Seekor kuda pun agaknya tak akan tahan jika dicekoki minuman ini, apalagi para penari itu sudah merangsang lebih dulu dengan tubuh setengah telanjang mereka. Ituchi maupun Thai Liong menolak.

Namun, ketika mereka menutup mulut, Ui Kiok maupun Pek Kiok mencengkeram bawah rahang mereka agar terbuka.

"Hi-hik, percuma, Kim-kongcu. Lihatlah, aku akan membuka mulutmu!"

"Benar, dan kau juga, Ituchi. Kau tak dapat melawan kalau sudah begini!"

Dua pemuda itu terkejut. Mereka meronta, namun Thai Liong tiba-tiba mengeluarkan bentakan nyaring. Saat isi cawan membentur sisi kepalanya, Thai Liong teringat ilmu ayahnya yang dinamakan Membuang Napas Menarik Hawa Murni. Tiba-tiba pemuda ini dapat menjebol hawa yang menutup jalan darahnya. Isi cawan yang membentur kepalanya tumpah, menyiram muka Ui Kiok!

"Heii...!"

Kejadian ini tidak diduga. Sebenarnya dalam keadaan kritis tadi, Thai Liong tak tinggal diam. Diam-diam dia mencoba mengerahkan lagi tenaga sinkangnya, namun gagal karena pemandangan di atas panggung itu sangat mengganggu. Belasan wanita telanjang yang mempertontonkan bagian tubuhnya membuat konsentrasi pemuda ini kacau.

Namun, begitu pemuda ini teringat ilmu Membuang Napas Menarik Hawa Murni, di mana sebuah bentakan harus dikeluarkan untuk memperkuat diri, totokan tubuhnya berhasil terbuka!

Thai Liong girang sekali. Isi cawan yang tumpah mengenai muka Ui Kiok cukup membuat wanita itu kaget. Ui Kiok agak terhuyung karena sebenarnya ia juga mulai diamuk berahi. Empedu Rajawali yang sudah diminum tak mungkin dimuntahkan lagi. Pikiran yang ada di benaknya hanyalah bermain cinta dengan putera Pendekar Rambut Emas itu.

Begitu Thai Liong berhasil membuka totokannya dan menumpahkan isi cawan, ia langsung bergulingan meloncat bangun. Ui Kiok terpekik kecewa, sementara Pek Kiok menjadi kaget.

"Awas...!" Tak ada yang mendengar seruan ini kecuali Pek Kiok. Ui Kiok hendak memberi tahu anak buahnya bahwa satu pengantin pria telah lolos.

Ketika Ui Kiok maupun Pek Kiok tertegun pucat, Thai Liong melepas pukulan jarak jauh dan menghantam Ui Kiok.

"Kau wanita tak tahu malu. Jahanam!"

*Dess!*

Ui Kiok terbanting. Wanita ini menjerit, namun Pek Kiok tiba-tiba membentak dan mengancam Ituchi dengan satu totokan di ubun-ubun. Saat Thai Liong tertegun, tiba-tiba dari samping berkelebat bayangan biru yang membentak Pek Kiok dan menyambar Ituchi.

"Jangan mengancam, serahkan pemuda itu... *plak!*"

Pek Kiok terkejut. Wanita ini menjerit dan terbanting. Ituchi berhasil disambar bayangan biru yang menyerangnya dari samping. Thai Liong terkejut melihat siapa bayangan itu.

"Siang Le!"

"Ya, aku," jawab Siang Le sambil tersenyum. "Aku terlambat, Kim-siauwhiap. Maaf, tapi syukurlah kau berhasil melepaskan dirimu."

"Ah," Thai Liong bengong. "Dengan siapa kau datang, Siang Le? Dan kenapa menolong kami?"

"Maaf, aku datang sendiri, Siauwhiap. Tanpa guruku. Tapi awas, wanita itu menyerangmu!" Siang Le berseru saat melihat Ui Kiok berkelebat menghantam Thai Liong. Wanita yang marah karena gagal mendapatkan putera Pendekar Rambut Emas itu menyerang dengan cepat tanpa memberi aba-aba, melepaskan dua pukulan miring ke kepala pemuda itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment