Chapter 88
Thai Liong mengelak dan menangkis; tanpa perlu diberi tahu, dia sudah paham. Begitu Ui Kiok menjerit dan terlempar kembali—karena ia memang bukan tandingan Thai Liong—wanita itu melengking sambil mencabut pedangnya.
"Hei, keparat! Lihat, musuh datang! Bangun!"
Namun, seruan wanita itu sia-sia. Puluhan anak buahnya yang sedang bergumul dan dibakar nafsu tidak mendengar atau melihat apa pun. Masing-masing asyik dengan keinginannya sendiri; Empedu Rajawali telah merangsang berahi mereka sedemikian rupa hingga tak ada seorang pun yang memedulikan teriakan ketua mereka. Kalaupun ada yang mendengar, mereka tidak berniat bangkit karena sudah tenggelam sepenuhnya dalam kenikmatan yang memabukkan itu.
Ui Kiok marah bukan main, lalu menerjang Thai Liong. Namun, sekali lagi Thai Liong menamparnya hingga mundur. Di sana, Pek Kiok juga berteriak dan menyerang Siang Le. Begitu Siang Le melepaskan korbannya, Ituchi terhuyung sambil mengumpulkan tenaga dan kekuatan batinnya.
"Sobat, terima kasih. Kau telah menyelamatkan mukaku!"
"Ah, kita sesama teman," Siang Le tersenyum. "Lihatlah aku merobohkan wanita ini, Hu-kongcu. Atau, kau hajar manusia-manusia cabul di atas panggung itu!"
"Tidak," Ituchi melompat ke depan dengan tenaga yang telah pulih. "Wanita ini bagianku, sobat. Minggirlah, biarkan aku yang menghajarnya."
*Dess!*
Ituchi yang marah menghantam Pek Kiok hingga wanita itu menjerit. Ituchi terus bergerak melepaskan tamparan dan pukulan; setiap kali ditangkis, pedang wanita itu selalu terpental. Saat Siang Le membiarkan pemuda itu menghajar lawannya dan mundur untuk menonton, tiba-tiba Ui Kiok melepas empat batang jarum dari samping.
*Cet-cet-cet!*
Siang Le pura-pura tidak tahu. Ia mengerahkan sinkangnya sehingga semua jarum rontok saat mengenai tubuhnya yang kebal. Ui Kiok terbelalak, namun ia langsung mendapat tamparan dari Thai Liong yang marah melihat kecurangannya. Wanita cabul itu terpelanting dan terguling-guling.
*Plak!*
Ui Kiok mengeluh. Akhirnya ia meloncat bangun dan menendang orang-orangnya. Satu per satu dibentak hingga anak buahnya terkejut. Mereka melihat kemarahan sang ketua dan kehadiran seorang pemuda asing, Siang Le. Saat sang ketua memaki dengan murka, semua orang akhirnya terpekik dan melepaskan pasangannya. Keadaan menjadi kacau; puluhan laki-laki dan belasan wanita yang telanjang bulat panik mencari pakaian masing-masing.
Ui Kiok terhuyung dengan pandangan nanar. Hawa birahi masih belum hilang sepenuhnya, meski ia menggigil dan pucat. Di satu sisi, ia murka karena Thai Liong lolos, sementara di sisi lain, ia tersiksa oleh berahi akibat pengaruh Empedu Rajawali yang telah diminumnya.
Ketika semua anak buahnya bangkit dengan kacau dan menyerang tiga pemuda itu dengan senjata seadanya, Ui Kiok kembali membentak dan menyerang Thai Liong. Sementara itu, adiknya telah menyerang Ituchi yang geram dan mengutuknya habis-habisan. Ituchi marah karena hampir menjadi korban; ia tidak selihai Thai Liong dalam membebaskan diri, hal yang membuat pemuda tinggi besar itu memuncak amarahnya.
Begitu Pek Kiok mengeroyok bersama para pembantunya, putra Raja Hu ini harus membuang muka melihat lawan yang pakaiannya kedodoran. Pemuda itu memaki dan menurunkan tangan dengan keras.
"Pek Kiok, kau harus kubunuh! Kau siluman betina yang keji dan cabul!"
"Tak usah banyak cakap!" Pek Kiok membalas dengan amarah. "Sekarang aku yang akan membunuhmu, Ituchi. Kau pemuda yang tidak tahu dicinta dan disayang orang!"
"Hm, aku tak butuh cinta dan sayang macam dirimu. Kau siluman cabul yang terkutuk!"
*Plak-plak!*
Ituchi menangkis dan menghalau lawan hingga Pek Kiok melotot dan terpental mundur. Wanita itu sadar bahwa putra Raja Hu ini memang hebat; ia bukan tandingan Ituchi meski dibantu puluhan anak buah. Di sisi lain, Siang Le menghadapi keroyokan anak buah wanita sesat itu dengan mudah, sementara Thai Liong terus memukul dan mendorong Ui Kiok.
"Keparat, kalian maju lagi! Bunuh pemuda ini!" perintah Ui Kiok.
"Hm, tak mungkin membunuhku," ejek Thai Liong. "Kau dan anak buahmu bukanlah orang yang kutakuti. Karena kau telah menipuku, justru kaulah yang akan kuhajar!"
Benar saja, Ui Kiok menjerit saat tamparan Thai Liong mengenai pundaknya. Ketika Thai Liong berkelebat dan menyusul dengan tendangan, wanita itu mengeluh, namun ia terselamatkan karena puluhan anak buahnya segera menyerbu untuk melindunginya.
Thai Liong merasa gemas. Seandainya ia berwatak dingin, mungkin manusia-manusia sesat yang tak tahu malu itu sudah dibunuhnya. Namun, karena wataknya mulia dan lemah hati seperti ayahnya, orang-orang itu hanya didorongnya mundur. Mereka terpelanting ke kiri dan kanan. Thai Liong kembali berkelebat ke arah Ui Kiok yang tampak pucat.
Thai Liong menampar dengan pukulan perlahan, namun sudah cukup membuat pundak wanita itu melepuh dan bengkak. Ketika pedangnya digerakkan tetapi akhirnya patah, Ui Kiok semakin pucat. Ia melengking tinggi dan berkelebat turun dari panggung, melihat adiknya di sana terlempar dan terbanting oleh pukulan Ituchi.
"Kiok-moi, lari! Kita bersembunyi!" seru Ui Kiok.
Pek Kiok yang gentar dan ngeri segera mengangguk lalu melarikan diri. Namun, Ituchi berkelebat dan melayang turun sambil melepaskan pukulan. Pek Kiok terbanting dan bergulingan, sementara Thai Liong menghajar dari jauh.
"Ui Kiok, jangan lari! Roboh dan terimalah pukulanku!"
*Dess!*
Sang enci terlempar dan terbanting. Kedua kakak beradik itu tampak pucat, jerih, dan berteriak-teriak agar para pembantunya menahan serta melindungi mereka. Namun, Ituchi membentak dan menggerakkan kedua tangannya; orang-orang sesat itu terlempar dan lima di antaranya menjerit dengan tulang iga patah.
"Jangan lari!" Ituchi menggeram. "Kau terima dulu hukumanmu, Pek Kiok. Baru setelah itu ke akhirat bersama encimu!"
Pek Kiok semakin gentar. Pedangnya telah patah menjadi tiga. Sama seperti Thai Liong, Ituchi tidak menggunakan senjata, melainkan tangan kosong yang luar biasa hebat. Jarinya yang ampuh mampu membuat senjata lawan terpental dan patah saat bersentuhan dengan sinkangnya.
Melihat Ituchi yang benar-benar berniat membunuh, Pek Kiok ketakutan hebat. "Enci, bantu aku! Lemparkan tok-ciam!"
Ui Kiok melempar tujuh jarum hitam ke tubuh Ituchi. Pemuda itu mendengus dan mengebutkan lengannya, membuat jarum-jarum tersebut rontok. Pek Kiok pun menggerakkan belasan jarum hitamnya, namun tak satu pun mampu melukai pemuda yang telah mengerahkan kekebalannya itu. Tiba-tiba, Ituchi meraup beberapa jarum beracun dan menyabitkannya kembali ke arah lawan.
"Aduh!" Pek Kiok menjerit karena matanya terkena.
Sebatang jarum melesat cepat dan tidak dapat dielak. Wanita itu terjengkang sambil menjerit-jerit, mengejutkan encinya. Ituchi tertawa mengejek sambil memukul mundur lima orang yang menyerangnya.
"Minggir kalian!"
*Des-dess!*
Lima orang itu terjungkal. Ituchi berkelebat ke arah Pek Kiok yang sedang kesakitan luar biasa karena jarum menancap di bola matanya. Saat tangan kiri Ituchi bergerak menampar kepala Pek Kiok, Ui Kiok menjerit memberi peringatan, "Awas!"
Namun, terlambat. Ituchi sudah geram terhadap Pek Kiok yang telah menyiksanya dengan cara yang tak mungkin ia lupakan seumur hidup. Begitu tangannya singgah di kepala Pek Kiok, wanita itu roboh dengan satu pekikan ngeri.
*Prak!*
Kepala Pek Kiok pecah. Ui Kiok kaget, gentar, dan ngeri melihat untuk pertama kalinya pemuda tinggi besar itu melakukan pembunuhan. Ia segera berkelebat dan melarikan diri sambil menangis.
"Jangan kejar!" Thai Liong berseru, melihat Ituchi masih ingin mengejar wanita itu. "Jangan menumpahkan darah lagi, Ituchi. Biarkan kita ampuni dia!"
"Ah," Ituchi menggeram. "Mereka menipu dan mempermainkan kita habis-habisan. Tak membunuh mereka berdua tidak membuat hati ini puas!"
"Tidak!" Thai Liong berkelebat merobohkan belasan orang di depan. "Cukup, Ituchi. Dengarkan kataku, jangan membunuh lagi!"
"Benar," Siang Le tiba-tiba berseru sambil merobohkan lawan di sekitarnya. "Jangan luapkan kemarahan dengan menumpahkan darah, Hu-kongcu. Kalian sudah selamat, dan itu cukup!"
Ituchi tertegun. "Kalian tidak membunuh tikus-tikus tengik ini?"
"Sudahlah," Thai Liong memegang lengan pemuda itu.