Chapter 89
"Pek Kiok sudah kau bunuh, Ituchi. Ui Kiok sebenarnya musuhku, tapi aku mengampuninya. Kau lihatlah, semua orang ini akhirnya lari!"
Benar saja. Setelah Pek Kiok roboh dan Ui Kiok melarikan diri, tiba-tiba saja semua orang itu memutar tubuh. Mereka ketakutan melihat tandang tiga pemuda yang gagah dan lihai ini. Ketika Ituchi tertegun dan mengerutkan kening, ketiga orang itu—yang kini berdiri tanpa lawan—membuat pemuda tinggi besar tersebut menggeram.
"Baiklah, aku menuruti nasihatmu, Thai Liong. Tapi lain kali tentu kubunuh siluman betina itu!"
"Dan aku mohon maaf karena terlambat," Siang Le tiba-tiba membungkuk di depan keduanya. "Aku sudah melihat semua ini dari jauh namun kalah cepat, Hu-kongcu. Untung Kim-siauwhiap berhasil membebaskan totokannya dan menyelamatkan diri."
"Siapa kau?" Ituchi tiba-tiba tertegun, menatap pemuda ini dengan kagum. "Bagaimana kau mengenal diriku dan Thai Liong?"
"Ah, Kim-siauwhiap mengenalku," Siang Le melirik Thai Liong. "Aku Siang Le."
"Hm, dia murid See-ong, Ituchi. Dan bersyukurlah bahwa kau yang ditolongnya, bukan aku."
Ituchi terkejut. "See-ong?"
"Ya, itu guruku," Siang Le tersenyum pahit. "Kim-siauwhiap rupanya kurang suka kehadiranku, Hu-kongcu. Biarlah aku pergi; syukur bahwa kalian berdua selamat. Maaf!"
Siang Le tiba-tiba menggerakkan kakinya. Melihat muka muram Thai Liong, ia sadar harus segera pergi. Kematian Hu-taihiap yang mendadak merupakan gangguan yang mengganjal perasaan Thai Liong, dan Ituchi tentu saja terkejut. Lain Thai Liong, lain pula pemuda tinggi besar ini. Siang Le telah menyelamatkannya dan membuat pemuda ini berhutang budi, meskipun mungkin saja pada akhirnya Thai Liong mampu membebaskannya karena putra Pendekar Rambut Emas itu berhasil membuka totokannya lebih dulu.
Namun, karena Siang Le jelas telah menolongnya dari kecurangan Pek Kiok, Ituchi berkelebat mengejar. "He, tunggu, Siang Le. Sebentar!"
Pemuda itu berhenti. "Kongcu mau bicara apa?"
"Aku... aku hendak mengucapkan terima kasih. Kau telah menyelamatkan jiwaku!"
"Ah," pemuda itu tertawa. "Kau sudah mengucapkannya berkali-kali, Kongcu. Jangan katakan lagi, itu membuatku malu."
"Tapi... tapi..."
"Sudahlah," Siang Le memotong. "Kim-siauwhiap menunggumu, Kongcu. Selamat tinggal, biar lain kali kita bertemu lagi!"
"He!"
Siang Le berkelebat meninggalkan pemuda itu dan lenyap ke dalam hutan yang pekat. Bulan yang tadi menerangi bumi mendadak muram, terhalang mega tebal yang melayang di langit biru. Semuanya berlangsung cepat. Namun, ketika mega tebal menyingkir ke utara dan bulan purnama muncul kembali, Thai Liong berkelebat berdiri di samping pemuda itu.
"Ituchi, murid See-ong itu telah pergi. Kita juga harus pergi!"
"Benar," pemuda itu sadar. "Dan perjalanan kita tertunda, Thai Liong. Ah, pengalaman ini sungguh berharga!"
"Ya, dan kita benar-benar terkelabuhi. Kita nyaris menjadi permainan dua enci adik yang cabul!"
"Dan Siang Le telah menolongku, Thai Liong. Sungguh aku merasa berhutang budi padanya!"
"Sudahlah, pemuda itu memang telah menolongmu, Ituchi. Tapi tanpa dia pun agaknya aku juga dapat menyelamatkanmu!"
"Ya, dan baru kali ini aku melihat pesta yang demikian gila-gilaan, Thai Liong. Kalau saja tidak mengalami dan melihatnya dengan mata telanjang, barangkali seumur hidup aku tak bakal percaya ada orang-orang yang demikian bejat akhlaknya. Ah, aku malu. Aku seperti bocah ingusan yang tidak tahu apa-apa, mudah diperdayai wanita!"
"Hm, bukan hanya kau. Akupun juga begitu, Ituchi. Aku pun diperdayai dan ditipu dua wanita cabul itu. Ah, akupun merasa goblok!"
"Dan bagaimana penilaianmu tentang tempat terkutuk ini?"
"Maksudmu?"
"Aku ingin membakar tempat ini, Thai Liong. Aku ingin membumihanguskan bekas percabulan ini!"
"Aku setuju, tapi tak usah semuanya. Mari, kita bakar!"
Thai Liong yang ternyata sependapat, tanpa banyak bicara, melempar ranting kering yang sudah menyala ke panggung bekas upacara itu. Tak lama kemudian, api membubung tinggi. Ituchi dan Thai Liong memandang tempat itu dengan pandangan tajam, tempat yang hampir saja menjerumuskan mereka dalam perbuatan hina.
"Sekarang selesai, mari kita tinggalkan tempat ini!" kata Thai Liong.
"Hm!" pemuda tinggi besar itu mengertakkan gigi. "Sebenarnya aku ingin membakar Pek Kiok dan encinya di sini, Thai Liong. Melihat mereka hangus dan mati dengan tubuh hitam!"
"Sudahlah, Pek Kiok telah kau bunuh, Ituchi. Tak baik menyimpan dendam lagi, mari kita pergi!"
"Benar, aku harus menemui ibuku!"
Ituchi mengikuti Thai Liong keluar hutan. Saat mereka menjauh, mereka masih melihat api yang menyala besar, sinarnya yang kemerah-merahan menerangi langit hitam. Ketika Thai Liong mengajaknya berlari cepat dan meninggalkan tempat itu, mereka segera meneruskan perjalanan ke wilayah Cucigawa, raja yang dulu hendak menangkap dan membunuh mereka.
***
"Eh, kenapa kosong?"
Ituchi tertegun, berhenti, dan terbelalak memandang wilayah yang tiba-tiba serasa tidak berpenghuni itu. Suku bangsa U-min yang biasanya berjumlah ribuan dan tampak menggembala ternak, kini tak terlihat ujung hidungnya. Thai Liong juga berhenti dan mengerutkan kening. Dua pemuda ini tidak tahu adanya perubahan besar-besaran yang terjadi setelah Togur dan kelima gurunya menguasai bangsa itu.
Ketika Ituchi bertanya apa yang harus mereka lakukan, mendadak Thai Liong melihat seorang kakek mengejar seekor anjing buduk sambil memaki-maki dengan suara serak.
"Hm, itu ada seseorang di sana, Ituchi. Kau mau menangkapnya?"
"Can-lopek!" Ituchi berseru, mengangguk. "Dia bekerja di dapur istana, Thai Liong. Heran, dia sekarang begitu kurus dan tua. Coba kutangkap dia!"
Ituchi berkelebat dan menyambar kakek itu, lalu berteriak agar Thai Liong berjaga di belakang, siapa tahu ada anak panah atau lembing yang dilepas secara curang. Namun, ternyata tidak ada serangan apa pun.
"Pangeran...!"
"Ssst," Ituchi membawa kakek itu ke belakang dengan cepat. "Jangan berisik, Can-lopek. Syukur kau masih mengenalku. Ceritakan kenapa tempat ini kosong!"
Kakek itu tertegun. Saat Thai Liong muncul, kakek itu terbelalak mengenal pemuda yang dulu menyelamatkan mereka dari serangan pasukan Cucigawa. Kakek itu gemetar dan menjatuhkan diri berlutut.
"Eh, bukankah ini... ini pemuda yang dulu menolongmu itu, Pangeran? Di mana yang satunya?"
Yang dimaksudkan adalah Ji Pin. Ituchi tersenyum, namun Thai Liong menjawab bahwa temannya yang satu lagi tidak ada di sini. Kakek itu menangis tersedu-sedu.
"Pangeran, celaka. Cucigawa dan semua orang di sini telah dibawa seorang pemuda sakti!"
"Hm, siapa maksudmu? Pemuda dari mana?"
"Entahlah, aku tak tahu, Pangeran. Tapi pemuda itu... luar biasa sekali. Dia datang bersama guru-gurunya, iblis-iblis yang hebat dan pandai menghilang seperti siluman!"
"Hm!" Ituchi menyuruh kakek itu bangkit. "Ceritakanlah dengan jelas, Can-lopek. Duduk dan bersikaplah tenang."
"Mereka itu menguasai dan menaklukkan suku-suku bangsa di sini, Pangeran. Dan membawa mereka untuk berperang menundukkan Tiongkok!"
"Apa?"
"Benar," kakek itu menutupi mukanya. "Puteraku telah menjadi korban, Pangeran. Dan semua anak muda di sini akan menjadi korban. Mereka disuruh berperang dan menjadi tumbal. Pemuda itu iblis!"
"Hm, siapa dia?" tanya Thai Liong. "Siapa namanya, Lopek? Dan siapa pula guru-gurunya?"
"Dia... dia putra mendiang Gurba, Kongcu. Dan guru-gurunya itu kalau tidak salah berjuluk Lima Iblis Dunia!"
"Ah, Togura!"
"Benar," seru kakek itu. "Itu namanya, Kongcu. Dan kalau tidak salah, dia adalah keponakan Kim-mou-eng! Eh, bukankah kau adalah Pendekar Rambut Emas? Kalau begitu Kongcu ini..."
"Bukan," Ituchi menggeleng cepat. "Ini adalah putranya, Lopek. Kim-siauwhiap ini adalah putra Pendekar Rambut Emas!"
"Oh, kalau begitu aku telah bersikap kurang hormat!" Kakek itu berseru minta ampun sambil kembali berlutut di depan Thai Liong.