Chapter 90
"Sudahlah," Thai Liong berkata. "Bangunlah, Lopek. Kau tidak bersikap kurang hormat karena sesungguhnya siapa pun sama saja bagiku. Ceritakanlah apa yang kau ketahui dan lanjutkanlah."
Kakek itu gemetar, merasa lega. "Kongcu tidak marah?"
"Tidak, kau tenanglah dan ceritakan kembali apa yang terjadi."
"Pemuda itu membuat onar, mengacau!"
"Ya, kau sudah mengatakannya. Sekarang katakan ke mana pemuda itu pergi, Lopek. Apa lagi yang kau ketahui dan ke mana pula kelima gurunya itu?"
"Mereka ke selatan, membawa pasukan besar!"
"Dan Lima Iblis Dunia itu?"
"Kakek dan nenek itu juga mengikuti muridnya, Kongcu. Mereka semua ke selatan!"
"Dan benar-benar menyerbu kota raja?"
"Benar, memang begitu, Kongcu. Dan anakku telah menjadi korban! Ah, puteraku telah tewas, aku hidup sebatangkara!" Kakek itu menangis lagi teringat nasibnya, tinju kurusnya mengepal.
Saat kakek itu memaki-maki, Thai Liong menghibur dan memberi isyarat kepada temannya. Ituchi kemudian memberikan segenggam uang kepada kakek itu.
"Lopek, tenanglah. Kau memang patut berduka, tapi kami akan membalas semua sakit hatimu ini, juga hati bangsa kita yang telah dikuasai dan dipermainkan pemuda itu. Pergilah yang jauh. Bawa uang ini dan mulailah hidup baru di suatu tempat."
"Pangeran... Pangeran mau ke mana?"
"Mencari musuh kita itu, Lopek. Membebaskan dan menolong bangsa kita!"
"Tapi pemuda itu lihai, dia hebat dan sakti!"
"Ada temanku di sini, Kim-siauwhiap. Sudahlah, tak usah kau khawatir, sekarang pergilah!" Ituchi mendorong kakek renta itu, menyuruhnya pergi, tetapi kakek itu hanya tertegun. Ia membelalakkan mata dan tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di depan Ituchi.
Dengan menggigil dan terbata-bata, kakek itu berkata, "Pangeran, Ibunda... Ibunda juga menghilang. Aku tak tahu di mana dia, dan dua adikmu juga tiada. Mereka barangkali saja selamat, tapi barangkali juga dibunuh pemuda iblis itu!"
"Ibu tidak ada?" Ituchi tergetar. "Dia dibawa juga dalam peperangan?"
"Aku tak tahu, Pangeran. Tapi mungkin juga. Aku khawatir. Sebaiknya Paduka memang cepat menyusul pemuda itu, namun berhati-hatilah. Aku telah melihat kepandaiannya yang luar biasa!" Kakek itu mengguguk dan meratap, memeluk kaki pemuda itu seakan berat untuk melepaskannya.
Ituchi tertegun teringat ibunya. Tadi pikirannya hanya tertuju pada keselamatan suku bangsanya dan lupa pada hal lain. Apalagi setelah nama Togura disebut-sebut, nama pemuda yang selalu membuat orang berdebar. Togura adalah murid Enam Iblis Dunia dan keturunan mendiang Gurba, tokoh paling dahsyat di suku Tar-tar, suheng Kim-mou-eng yang sudah tewas.
Namun, ketika kakek itu berguncang di kakinya dan Thai Liong terbatuk, pemuda ini sadar dan berseru, "Can-lopek, kalau begitu kami yang pergi. Hati-hatilah dan doakan kami selamat!"
Begitu melepaskan diri dari pelukan kakek itu, pemuda tinggi besar ini berkelebat memberi tanda pada Thai Liong. Uang yang dipegang si kakek jatuh berkerincing. Kakek itu tertegun melongo. Namun, begitu bayangan kedua pemuda itu lenyap bagai iblis, kakek itu menjerit dan bangkit berdiri.
"Pangeran, hati-hati. Awas kau celaka!"
"Terima kasih," Ituchi menjawab dari jauh. "Aku selalu ingat pesanmu, Lopek. Tapi kau pun sebaiknya cepat pergi dari situ!"
Ituchi bersama Thai Liong telah mengerahkan ilmu lari cepatnya. "Bangsaku dalam bahaya. Kita harus menyusul Togura, Thai Liong. Menghentikan sepak terjangnya dan menghadapi pemuda itu!"
"Ya, tapi jangan terburu-buru, Ituchi. Lawan yang kita hadapi bukanlah sembarangan, di sana ada kelima gurunya pula!"
"Aku tak takut!"
"Aku juga, namun kita tak boleh gegabah!"
Meskipun Ituchi terbakar amarah karena Togura menggunakan suku bangsa orang lain untuk mencapai cita-citanya, ia mengangguk patuh pada peringatan Thai Liong. Sungguh licik dan culas! Thai Liong sendiri menekan debaran jantungnya. Togura amat berani. Namun, karena ia mengenal siapa pemuda itu—yang ayahnya pun merupakan laki-laki pemberani meski sesat—pemuda berambut keemasan itu menarik napas panjang.
Thai Liong tahu Ituchi sangat marah karena Togura tidak akan rugi jika ada korban, tetapi dialah yang menikmati keuntungan. Thai Liong diam dan berlari mengimbangi sahabatnya ke arah selatan, jauh meninggalkan Can-lopek. Saat mereka mencapai tembok besar, keduanya mengerahkan ilmu ginkang, melompati tembok tinggi itu, dan melayang turun untuk memburu Togura.
Dua gadis cantik melenggang di jalanan berbatu sambil bercakap-cakap. Sesekali terdengar tawa mereka yang merdu dan renyah. Mereka tampak periang dan mudah diajak bersahabat. Hal ini diperhatikan oleh serombongan laki-laki yang sejak tadi mengintai dari balik batu-batu besar.
Seorang pemuda bertubuh kuat namun bermata minyak memberi aba-aba kepada sembilan belas temannya untuk muncul saat dua gadis itu lewat.
"Aih, Nona-nona yang cantik! Ke mana kalian hendak pergi? Bagaimana berjalan berdua saja di tempat sepi ini? Eih, berhenti, Nona. Kalian memasuki daerah berbahaya di depan!"
Sembilan belas teman pemuda itu berlompatan keluar. Mereka tertawa-tawa sambil mengurung kedua gadis tersebut. Ada yang mencoba menyentuh mereka. Dua gadis itu berhenti, terbelalak, dan mundur sambil mengibaskan lengan.
Salah seorang gadis membentak, dan laki-laki yang mencoba memegangnya langsung terpelanting. Gadis baju hitam yang berdiri di sebelah kiri menampar laki-laki yang mencoba mengusap pinggulnya. Laki-laki itu berteriak kesakitan karena tangannya bengkak dan kulitnya terkelupas, seolah terkena gosokan setrika panas.
Gadis baju hitam itu berseru marah, sikap ramahnya hilang berganti galak dan dingin. "Hentikan semua kegaduhan ini! Siapa kalian dan mau apa mengganggu kami?"
"Eh, Li-kok terluka! Kulit tangannya terkelupas!" seru salah satu anggota rombongan.
Pemuda yang memimpin rombongan itu tertegun, terkejut namun juga marah dan kagum. "Kalian hebat, bukan gadis lemah! Eh, kami baik-baik mau memberitahu kalian agar tidak melanjutkan perjalanan, Nona. Di depan sana berbahaya karena bangsa liar sedang menyerang. Kalian berhenti dan jangan ke sana!"
"Hm, kau siapa? Ada hak apa mencegah atau menyuruh orang lain berhenti? Kami tak peduli di depan ada setan atau orang usil. Kami mau pergi ke mana saja kami suka. Kami tak takut pada bahaya atau bangsa liar!"
"Eh, kau sombong. Kalau begitu tak dapat diberi tahu baik-baik!"
"Hm, kami tak perlu berterima kasih karena kalian tak memberikan apa-apa!"
"Eh, bukankah pemberitahuan kami ini adalah pemberian? Di sana bangsa liar sedang menyerang dan membunuh siapa saja. Kami hendak menyelamatkan kalian!"
"Benar, daripada dipermainkan mereka, lebih baik kalian bersama kami. Kami dapat melindungi dan menjaga kalian!"
"Kalian pasti senang. Kami pandai menjaga wanita, Nona. Ayo, berhenti saja dan ikut bersama kami, ha-ha!"
Tawa kurang ajar kembali terdengar. Gadis baju hijau yang sempat marah hendak bergerak, namun ditahan oleh teman di sebelahnya. Gadis baju hitam itu melotot dan menekan suaranya, "Kalian sebaiknya tidak usah kurang ajar. Kami dapat menjaga diri. Terima kasih kalau kalian benar-benar bermaksud baik."