Halo!

Istana Hantu - Chapter 91

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 91

"Nah, sekarang kami ingin melanjutkan perjalanan. Kalian minggirlah dan beri kami jalan!"

"Kau masih nekat? Kau mau apa?" Gadis baju hitam itu memandang pemuda di depannya, lalu membalas dengan kata-kata dingin.

"Apakah kami tidak boleh jalan?"

"Eh, aku Hui Liong bicara baik-baik, Nona. Di depan ada bahaya, sebaiknya kalian tunda perjalanan. Kalian pulang atau ikut bersama saja dengan kami di sini!"

"Hm, apa maksudmu?"

"Ha-ha, maksudnya mengajak kalian bergembira, Nona. Bersenang-senang, bercinta..."

"Plak!"

Orang itu tiba-tiba roboh, tersungkur, dan menjerit ketika si gadis baju hijau berkelebat dengan kecepatan luar biasa. Yang lain pun terkejut. Mereka tadi hanya melihat bayangan hijau menyambar, dan tiba-tiba teman mereka sudah menjerit dengan mulut pecah dan berdarah. Tiga gigi depannya rontok.

Bukan main! Ketika bayangan hijau itu kembali ke tempatnya sementara teman mereka mengaduh-aduh di tanah, orang-orang itu gempar. Mereka sadar bahwa gadis-gadis ini sangat lihai.

"Dia melukai Bu-sing, merontokkan giginya!"

"Dan mulutnya pun ditampar pecah! Aih, kita tidak boleh lagi bersabar, Hui Liong. Mereka ini gadis-gadis yang harus ditangkap!"

"Benar, kita telanjangi dia, Hui Liong. Ayo tangkap dan balas teman kita ini!"

Hui Liong, pemuda gagah bermata minyak itu, terkejut. Dia tersentak saat gadis baju hijau itu berkelebat lewat di depannya dan membuat Bu-sing tersungkur. Ketika teman-temannya menuntut agar gadis itu ditangkap, Hui Liong melangkah maju dengan wajah memerah karena marah, di samping rasa kagum dan heran.

"Nona, kau dengar permintaan teman-temanku. Kalian berdua sudah melukai dua orang di antara kami, sebaiknya kalian menyerah dan minta ampun!"

"Huh, minta ampun pada tikus-tikus busuk macam kalian? Heh, sebaiknya kalian yang harus minta maaf kepada kami, orang she Hui. Atau semua temanmu ini kuhajar sampai mereka pulang tinggal nama!"

"Sombong...!"

"Keparat!"

Orang-orang yang marah itu tiba-tiba menubruk. Mereka yang ada di belakang gadis baju hijau mendadak menyerang, mengulurkan lengan untuk menangkap pinggang langsing itu. Hui Liong berteriak agar teman-temannya tidak ceroboh, namun karena dua orang sudah terlanjur bergerak, kejadian yang dikhawatirkan pun terjadi.

Si gadis baju hijau menjengek. Tangannya bergerak ke belakang tanpa menoleh. Angin berkesiur dan dua orang itu berteriak kaget. Mereka terbanting dan terlempar dengan lengan patah. Yang lain semakin gempar, kaget, dan marah.

Saat dua orang itu merintih, belasan lainnya mencabut senjata dan bergerak serentak. Hui Liong membentak. Melihat empat anak buahnya terkapar tak berdaya, mereka menyerbu gadis itu dengan hujan senjata. Namun, gadis itu berseru keras dan tubuhnya melesat, lenyap dari pandangan. Bayangan hijau itu tampak naik turun menyambar belasan orang, termasuk Hui Liong.

"Awas... des-des-dess!"

Pekik dan jerit kesakitan terdengar susul-menyusul. Belasan orang itu terlempar. Hui Liong sendiri mengaduh dan terpental terkena tendangan. Gerakan bayangan hijau yang luar biasa cepat itu tak bisa diikuti mata. Pukulan dan tendangan mendarat tanpa ampun. Kaki atau bagian tubuh yang terkena tendangan terasa dihantam palu godam. Tujuh di antaranya tertekuk dan tak dapat bangkit lagi; punggung mereka retak!

Setelah senjata terlempar ke sana kemari dan belasan orang itu gentar karena kelihaian luar biasa si gadis, dia berhenti berkelebat dan menginjak dada Hui Liong.

"Hayo, suruh teman-temanmu mundur. Atau aku akan membunuhmu dan yang lainnya... nghek!"

Pemuda itu mengeluh. Diinjak dan ditekan seperti itu, ia merasa tak dapat bernapas. Lawannya memandang dengan mata berapi-api. Sebelum ia sempat menjawab, seorang pembantunya yang terdekat melihat kesempatan. Ia meraih sebuah golok yang berada tak jauh dari situ dan membabat kaki si gadis.

"Plak-augh!"

Kejadian itu membuat bulu roma berdiri. Si gadis baju hijau yang diserang secara curang tahu dan mendengus. Tanpa menoleh, ia menendang golok itu hingga berbalik ke arah tuannya. Golok itu menghunjam dada si penyerang hingga tembus. Darah menyembur, dan ia roboh telungkup hingga tewas.

Semua terbelalak pucat. Gadis itu mengungkit golok dari dada si mayat dan memegangnya.

"Nah," kata gadis itu dingin. "Siapa yang coba-coba main gila dan curang lagi, tikus-tikus busuk, aku tak akan segan-segan menghabisi kalian!"

Golok itu menodong leher Hui Liong. Pemuda itu pucat dan gemetar menyangkal. Ketika gadis itu menekan ujung golok hingga leher lawannya tergurat, si gadis baju hitam yang sejak tadi hanya menonton tiba-tiba berkelebat maju menahan lengan adiknya.

"Ling-moi, tahan. Jangan menumpahkan darah lagi!"

"Hm, aku tak akan menumpahkan darah," jawab gadis baju hijau. "Tapi aku tak dapat bersabar kalau ada yang mencoba berbuat curang, Enci. Siapa pun yang melakukan itu akan kukirim ke akhirat!"

"Sudahlah," sahut sang Enci. "Mereka semua tak mungkin berani lagi, Ling-moi. Buang golokmu dan kita pergi!"

"Tidak, aku minta kunyuk-kunyuk ini minta ampun dahulu, atau aku akan membabat telinga mereka satu per satu!"

"Ampun....!" seru mereka serentak. "Kami minta ampun, Nona. Kami tak tahu dengan siapa kami berhadapan, kami mengaku bersalah!"

"Hm, hanya begitu saja?" Gadis itu menjengek. "Begitu enak? Tidak, kalian harus mencium sepatu kami, tikus-tikus busuk. Baru setelah itu kalian boleh diampuni. Kau yang harus mulai dulu!"

Gadis baju hijau menendang Hui Liong yang seketika merintih dan berdebuk di tanah, namun pemuda itu mengangguk-angguk. Teman-temannya yang lain pun mengikuti. Sambil menyeret tubuh dengan lengan patah, mereka satu per satu mencium sepatu si gadis baju hijau, bahkan ada yang menjilatnya. Gadis itu mendupak mereka agar melakukan hal yang sama pada encinya, si gadis baju hitam.

Setelah semua selesai, gadis itu berseru, "Nah, sekarang kalian telah mendapat pelajaran, kunyuk-kunyuk busuk. Kalau lain kali bertemu kami lagi dan tidak tahu sopan, tentu kalian akan kubunuh. Jangan kurang ajar kepada wanita!"

Begitu menggerakkan kaki, gadis itu lenyap. Belasan orang itu bengong, apalagi si gadis baju hitam pun sudah tidak ada di sana. Ternyata gadis baju hijau itu menyusul, dan akhirnya tampak bayangan hijau dan hitam di kejauhan. Hui Liong, pemimpin mereka, pingsan karena tadi sempat ditampar kepalanya.

"Nah, sekarang aku lega," kata si gadis baju hijau saat sudah bergandengan tangan dengan encinya. "Tikus-tikus busuk itu kalau tidak dihajar tidak kenal sopan. Sebenarnya aku masih ingin membuntungi telinga mereka untuk pelajaran seumur hidup. Sayang, kau mencegah dan aku harus menahan diri. Kalau tidak, hmm... tentu mereka menjadi kelinci cacat yang putus sebelah telinganya!"

"Sudahlah," sang Enci tampak tidak senang. "Mereka itu pengganggu murahan, Ling-moi. Tugas kita sebenarnya bukan menghajar orang-orang macam begitu, melainkan jahanam-jahanam bangsa liar di depan sana!"

"Dan kita memang ke sana," gadis baju hijau menggeget. "Kita pasti menghajar mereka pula. Aku ingin tahu seberapa lihai pemuda bernama Togura itu!"

"Hm, hati-hati. Jangan gegabah. Dia murid Enam Iblis Dunia, Ling-moi. Nama ini sudah cukup menyuruh kita untuk tidak ceroboh, atau tugas kita sia-sia. Ayah tak bisa mati percuma!"

"Aku tahu."

Mereka berdua mengerahkan ilmu lari cepat, meluncur beriringan ke barat, membelok ke utara, dan menghilang di balik bukit. Jauh di belakang, orang-orang yang dihajar tadi masih merintih. Ternyata kedua gadis bersaudara itu sengaja memapak pasukan bangsa liar yang dipimpin Togura. Hanya berdua, tanpa kawan, mereka menunjukkan keberanian luar biasa.

"Nah, berhenti," gadis baju hitam akhirnya menahan lengan adiknya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment