Halo!

Istana Hantu - Chapter 92

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 92

"Pasukan itu sudah kelihatan, Ling-moi. Kita berhenti dulu di sini untuk melihat keadaan."

"Tapi aku ingin segera masuk," sahut gadis berbaju hijau itu dengan pandangan berbinar. "Kita bisa langsung menyerang dan menghajar mereka, Enci. Aku sudah tak sabar!"

"Jangan gegabah!" Sang kakak menahan dan mencekal lengan adiknya, lalu memberi isyarat agar berhati-hati. "Kita akan memasuki sarang harimau. Kita tidak tahu bagaimana keadaan di dalam sana. Sebaiknya kita tunggu malam tiba, Ling-moi. Baru setelah itu kita masuk!"

"Menunggu malam?" Sang adik terbelalak. "Ah, terlalu lama, Enci. Aku tak tahan. Kematian Ayah selalu membayang di pelupuk mataku!"

"Tidak, jangan gegabah, Ling-moi. Kau harus menurut padaku atau aku akan marah!"

"Hm, baiklah... baiklah!" Gadis berbaju hijau itu membanting tubuhnya ke atas rumput. Mendengar kakaknya menahan isak saat menyebut nama mendiang ayah, ia berupaya meredam api kemarahannya. Ia duduk, lalu mengambil buntalan dan membukanya. Setelah menarik napas panjang, ia mengeluarkan isi buntalan tersebut berupa roti kering dan air jernih dalam botol besar.

Saat gadis berbaju hitam itu duduk menatap jauh ke depan, kegembiraan yang sempat muncul tiba-tiba buyar akibat pengalaman pahit yang menimpa mereka. Gadis itu menangis sambil menggigit bibirnya.

"Ling-moi, kita harus membalas kematian Ayah. Kita cari pemuda siluman itu dan kelima gurunya!"

"Ya, dan aku tidak akan berhenti sebelum merobohkan pemuda itu, Enci. Aku siap mati demi membela Ayah!"

"Tapi kita harus berhati-hati. Sudahlah, mari kita isi perut dulu." Gadis berbaju hitam mengambil rotinya dan membaginya untuk sang adik.

Setelah mereka mengganjal perut dengan roti dan air, keduanya kembali memandang ke arah pasukan musuh yang akan mereka serbu. Mereka sadar bahwa lawan cukup waspada, sehingga mereka memilih menunggu waktu yang tepat. Sembari menanti malam, kedua kakak-beradik itu menghabiskan waktu di semak-semak.

Mereka adalah putri-putri Bu-ciangkun, panglima tinggi yang gagah dari kota raja, yang tewas setelah bertemu Kim-mou-eng sebelum ajalnya. Kakak tertua bernama Bu Mei Hoa yang berbaju hitam, sedangkan adiknya yang berbaju hijau adalah Mei Ling. Sejak mendengar tewasnya sang ayah saat menjalankan tugas, mereka meninggalkan kota raja tanpa memedulikan nasihat sahabat-sahabat ayah mereka yang meminta agar mereka bersabar menunggu kedatangan serbuan bangsa liar. Mereka ingin melampiaskan dendam sendirian dengan keberanian besar.

Tiga hari lalu, mereka berangkat mencari pembunuh ayah mereka. Di tengah perjalanan, mereka sempat terhibur oleh pemandangan indah, namun kegembiraan itu lenyap saat ada laki-laki kurang ajar yang mengganggu mereka. Mei Ling dengan mudah menghajar laki-laki tersebut, bahkan salah satunya tewas terkena senjata sendiri akibat kecurangannya. Kini, di depan musuh yang sebenarnya, mereka tak bisa lagi bergurau. Mei Hoa mulai merencanakan langkah untuk nanti malam.

"Kau tahu, Ling-moi," ujar sang kakak, "pemuda itu dikabarkan sangat lihai, bahkan lebih hebat daripada kelima gurunya. Kita harus berhati-hati dan menyerangnya di tempat sepi jika memungkinkan."

"Aku tahu, Enci. Aku selalu ingat nasihatmu. Sekalipun dia bersama guru-gurunya, aku tidak takut!"

"Bukan soal takut atau tidak, melainkan agar misi kita tidak gagal. Kabar tentang kelihaiannya harus kita perhitungkan dengan matang."

"Aku siap mati jika gagal!" tegas Mei Ling. "Malam nanti kita harus mengerahkan segenap kemampuan dan bertarung mati-matian!"

Mei Hoa mengangguk. "Sebelum itu, kita timbulkan kekacauan. Kita cari persediaan makanan mereka dan buat kebakaran besar. Jika kita gagal membunuh pemuda itu, setidaknya kita kacaukan ransum pasukannya agar mereka kelaparan."

"Aku sependapat. Kita kacaukan perbekalan mereka sebelum mencari Togura dan gurunya," sahut Mei Ling.

"Sekali lagi, berhati-hatilah, Ling-moi. Pemuda itu kejam dan suka menyiksa wanita. Jika kau tertangkap dan dia mencoba mengganggumu, jangan lupa pesanku."

Mei Ling mengeluarkan sebutir pil hitam sebesar kelereng. "Aku selalu membawa pil ini, Enci. Jika dia berani macam-macam, aku sudah menjadi mayat sebelum dia bisa menyentuhku."

Mei Hoa pun mengeluarkan pil yang sama. Mereka saling pandang hingga sang kakak terisak kecil dan memeluk kening adiknya. "Ling-moi, kita sehidup semati. Namun, aku sebenarnya tidak ingin kau mati muda."

"Kenapa, Enci?"

"Aku ingin kau mendapatkan jodoh yang baik, meneruskan generasi, dan hidup bahagia. Aku tak ingin keluarga Bu musnah."

"Ah, jangan bicara begitu. Aku tidak ingin berumah tangga jika kau tidak ada!"

"Tapi Ting Han..."

"Hm, kenapa bicara tentang itu lagi?" Mei Ling memotong dengan wajah memerah. "Aku tidak suka membicarakan pemuda itu. Kita sedang bertugas membalas kematian Ayah."

"Tapi dia amat mencintaimu, dan kau pun menaruh perhatian padanya. Kalau saja tidak ada urusan ini, kalian tentu bisa berpacaran."

Mei Ling melengos, bangkit berdiri, dan pergi ke hutan kecil. Tak lama ia kembali membawa seekor kelinci gemuk hasil buruannya. Ia mulai menguliti kelinci itu dan membuat api unggun. Mei Hoa menghampiri dan memeluk adiknya dari belakang.

"Ling-moi, kau tidak marah akan kata-kataku, bukan?"

"Sudahlah, Enci. Aku hanya ingin fokus membalas kematian Ayah."

"Baiklah, mari kita panggang kelinci ini."

Sembari menyantap kelinci panggang, mereka terus membahas Togura. Matahari kian condong ke barat. Saat malam menyelimuti bumi, Mei Hoa dan adiknya bangkit, mencabut pedang, dan membuang sisa makanan.

"Awas, ingat pesanku, jangan gegabah!"

"Aku tahu. Mari berangkat, Enci. Aku sudah tidak sabar ingin memenggal kepala pemuda itu!"

"Hm!" Mei Hoa mengangguk, menyambar tangan adiknya, lalu mereka melesat dengan ilmu meringankan tubuh menuju benteng musuh yang mulai berkelap-kelip oleh lampu penerangan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment