Chapter 93
Empat jam mengatur rencana dan bercakap-cakap telah membuat masing-masing tahu apa yang harus dilakukan nanti. Maka, begitu tembok kota sudah semakin dekat di depan mata, mereka berjungkir balik; putri-putri Bu-ciangkun ini melayang dan terus meluncur masuk ke dalam tembok.
"Hei!" Seruan atau bentakan itu cepat terbungkam. Mei Hoa dengan cepat menyambitkan sebatang jarum, menancap tepat dan menghentikan teriakan si penjaga yang melihat gerakan mereka. Begitu penjaga roboh dan mereka sudah melayang turun di dalam, dengan ringan Mei Hoa memberi isyarat pada adiknya agar semakin berhati-hati.
"Kita berpencar, kau ke kiri, aku ke kanan. Tapi jangan jauh-jauh, kita menuju bangunan merah itu!"
"Tapi di sana ada dua penjaga lagi, Enci. Sebaiknya kita menangkap mereka dan mencari tahu di mana lumbung makanan atau para pemimpin mereka!"
"Baik, awas...!" Sang Enci yang sudah melihat penjaga tersebut bergerak menyambitkan jarumnya. Hampir bersamaan dengan adiknya, mereka telah merobohkan pengawal yang sempat mendengar teriakan tertahan rekannya.
Ketika dua gadis itu berkelebat, masing-masing sudah menangkap seorang penjaga dan menotok urat gagu mereka. Mei Ling mengancam dengan bisikan dingin, "Di mana Togura? Apa yang dilakukan pemuda setan itu dan di mana pula kelima gurunya?"
"Dan kau!" Mei Hoa membentak perlahan. "Di mana lumbung perbekalan? Cepat beri tahu atau pedangku menebas putus kepalamu!"
Dua penjaga itu menggigil. "Si... siapa kalian?"
"Tak perlu tahu. Jawab pertanyaan kami dengan cepat sebelum kami membunuh kalian berdua!"
"Pemimpin... pemimpin ada di tengah-tengah, bersama gurunya...!"
"Dan ransum makanan ada di bangunan merah itu. Aduh, lepaskan aku, Nona. Ampun...!" Penjaga satunya segera menjawab saat totokannya dilonggarkan.
Setelah mendapatkan jawaban, kedua kakak beradik itu tidak serta-merta percaya. Mei Hoa menampar kepala tawanannya, sementara Mei Ling menendang dan membanting pengawal satunya hingga pingsan.
"Kita telah mendapat informasi. Tapi hati-hati, siapa tahu mereka bohong!"
"Ya, dan aku ke tengah-tengah, Enci. Kau ke bangunan merah itu, tapi tetap jangan terlalu jauh!"
"Baik!" Mei Hoa berkelebat lenyap ke kanan, disusul adiknya yang lenyap ke kiri. Tak lama kemudian, kebakaran besar terjadi di bangunan merah itu yang ternyata memang gudang makanan.
"Kebakaran... kebakaran...!" Penjaga dan pengawal berteriak kaget. Perbuatan Mei Hoa memancing keributan. Para pengawal muncul dengan marah karena ransum makanan mereka terancam habis. Begitu semua berlarian menyambar air, sesosok bayangan tinggi kurus muncul dan tertegun sejenak.
"Heh, dari mana api berasal? Siapa yang melakukan ini?"
"Tak tahu. Kami baru saja melihat kebakaran ini, Locianpwe. Api tahu-tahu sudah menyala di tengah gudang!"
"Kalau begitu kalian minggir. Biar kupadamkan!" Bayangan tinggi kurus ini, Cam-kong, melepas bajunya dan mengebutkannya ke arah api. Ajaib, api padam seketika oleh hembusan angin yang sangat kuat hingga para pengawal terpelanting. Cam-kong segera mengenakan bajunya kembali, membuat para pengawal bengong.
"Heh, yang menjaga gudang harap ke markas! Terima hukuman untuk kebodohan ini!"
"Tapi... tapi..."
"Kebakaran! Hei, itu lagi...!" Seruan itu melenyapkan kekaguman semua orang. Api berkobar di tempat lain—kanan, kiri, depan, dan belakang. Di empat penjuru api berkobar cepat. Cam-kong tertegun dan matanya bersinar.
"Ini perbuatan musuh!" Cam-kong melengking, memanggil teman-temannya: Siauw-jin, Nenek Naga, Ji-moi, dan Toa-ci.
Dalam sekejap, empat bayangan iblis berkelebat di empat penjuru. Ketika mereka mengibas lengan atau meniupkan mulut ke arah api, kobaran tersebut padam seketika. Siauw-jin, si cebol yang hebat, bahkan bergulingan di tanah hingga api yang dilewatinya padam.
"Keparat! Jahanam busuk!" Nenek Naga mengumpat. "Perbuatan siapa ini gerangan?"
"Ha-ha, tak perlu marah. Ini tentu perbuatan musuh, Nenek bau. Hayo tanya Cam-kong karena dialah yang lebih dulu keluar!" Siauw-jin tertawa lalu melesat menghampiri Cam-kong.
"Aku tak tahu," kata Cam-kong. "Jangan-jangan Kim-mou-eng!"
"Weh, tak mungkin!" Iblis cebol tampak gentar. "Pendekar Rambut Emas tak pernah muncul lagi. Ini tentu perbuatan bocah-bocah ingusan!"
"Dan Togura tak keluar!" sahut Toa-ci.
"Ha-ha!" Suara tawa bergelak terdengar dari dalam gedung. "Aku di sini menghadapi dua nona cantik, Subo. Merekalah yang melakukan kebakaran itu dan kini menemui aku!"
Jeritan dan suara perabotan terbanting terdengar. Lima iblis itu bergegas masuk dan melihat dua gadis cantik sedang menerjang Togura dengan marah.
"Togura, kau jahanam keparat. Kami datang untuk membunuhmu!"
"Benar, kau pemuda siluman! Kami datang untuk mengadu jiwa!"
Dua pedang yang ditangkis Togura terpental ke atas. Siauw-jin dan teman-temannya tertawa; mereka menyadari kepandaian dua gadis itu jauh di bawah Kim Soat Eng atau Thai Liong, putra-putri Pendekar Rambut Emas.
"Heh-heh, kukira siapa, tak tahunya dua kupu-kupu betina yang berani namun tolol! Serahkan pasukanmu saja, Togura, jangan layani sendiri," ejek Siauw-jin.
"Tidak," tawa Togura. "Mereka ternyata putri-putri Bu-ciangkun. Ha-ha, mundurlah, biar kupermainkan mereka!"
Togura menangkis pedang yang diayunkan Mei Ling dengan mudah. Ketika Mei Hoa berteriak marah dan menusuk tenggorokan pemuda itu, Togura mengerahkan kekebalan tubuhnya.
"Takk!" Pedang itu melengkung bengkok. Mei Hoa terpekik dan terhuyung, sementara para pengawal bersorak mengejek kedua gadis itu. Togura pun membentak, menyuruh pasukannya untuk mundur.