Chapter 94
"Hei, kalian manusia-manusia tolol! Jangan masuk dan tetap berjaga di luar. Siapa tahu gadis-gadis ini membawa teman-temannya!" Siauw-jin terkejut.
"Benar," Iblis Cebol itu teringat. "Kalian berjaga seperti biasa, tikus-tikus busuk. Tak perlu di sini dan tetap di luar sana!"
"Dan kau meronda sekilas," Togura berseru pada Nenek Toa-ci. "Lihat apakah ada pengacau lain selain dua gadis ini, Subo. Beri tanda bila ada sesuatu yang mencurigakan!"
"Hm!" Nenek itu berkelebat sambil mengomel. "Siauw-jin dan Cam-kong perlu juga kauperintah, Togura. Jangan aku saja!"
"Baik!" Togura tertawa. "Kau juga, Suhu. Maaf, kalian pergi sebentar dan setelah itu kembali ke sini kalau benar-benar aman!"
"Huh!" Si Cebol menggerutu. "Kau nenek sialan, Toa-ci. Selalu tak mau sendirian kalau diperintah!"
Namun, kakek ini berkelebat dan menuruti perintah muridnya, lalu lenyap keluar gedung, disusul Cam-kong yang tidak mengomel namun mulutnya meludah. Empat orang pengawal roboh menjerit ketika ludah kakek tinggi kurus itu mengenai muka mereka; kulit mereka berlubang dan mereka bergulingan sambil menjerit-jerit. Itulah tanda pelampiasan amarah kakek ini, yang sebenarnya sama saja dengan Siauw-jin.
Ketika tiga orang itu keluar untuk memeriksa keadaan sementara Nenek Naga dan Ji-moi menjaga di situ, hal yang memang disengaja Togura kalau-kalau ada musuh lihai seperti Kim-mou-eng, Mei Ling dan kakaknya mengeluh terhuyung-huyung menghadapi lawannya. Mereka berusaha menusuk dan membacok, namun tiba-tiba Togura berseru keras. Pemuda itu menangkap dan menjepit pedang di antara dua jari telunjuk dan tengahnya. Saat pemuda itu tertawa dan menariknya tiba-tiba, dua gadis ini terjelungup ke depan dan roboh ke pelukan Togura.
"Ngok-ngok!" Togura terbahak sambil menciumi mereka.
Pemuda itu sudah menangkap keduanya. Mei Ling maupun kakaknya kaget dan berteriak, namun tiba-tiba lawan menggerakkan jarinya. Sebuah totokan lihai mendahului mereka dan pundak mereka tertotok, sehingga dua bersaudara ini roboh dan langsung diciumi Togura.
"Ha-ha, manis, Subo. Manis sekali. Aih, mereka boleh menjadi kekasih-kekasihku!"
Pemuda itu memeluk keduanya, mencium dan mempermainkan mereka. Mei Hoa maupun adiknya pucat pasi. Mereka tak menyangka bahwa lawan sedemikian lihai dan hebat hingga mereka roboh dengan begitu mudah, padahal kelima guru pemuda itu tak bergerak dan pasukan di luar gedung juga telah digebah pergi.
Ketika dua kakak beradik itu mengeluh di pelukan Togura, pemuda ini menciumi mereka namun akhirnya melepaskan tangkapannya dan melemparkan keduanya kepada gurunya.
"Subo, bawa mereka ke kamarku. Aku merasa ada sesuatu yang kurang beres di luar!"
Pemuda itu lalu berkelebat dan lenyap ke luar ruangan setelah menangkap sesuatu yang tidak wajar. Nenek Naga yang menerima kakak beradik itu mengerutkan kening. Dia juga merasa ada sesuatu yang tidak beres dan mencengkeram Mei Ling serta kakaknya, lalu membawa mereka ke kamar Togura. Nenek ini berkata pada rekannya, "Ji-moi, sebaiknya kita pun melihat keluar. Aku juga menangkap sesuatu yang mencurigakan!"
"Baik, aku juga merasakannya!"
Nenek Ji-moi berkelebat dan lenyap meninggalkan ruangan. Ia menyumpah dalam hati karena merasa ada sesuatu yang tidak beres dan pergi mencari teman-temannya. Ketika Nenek Naga akhirnya berkelebat pula setelah meletakkan kakak beradik itu di kamar muridnya, Mei Ling dan kakaknya menangis.
"Jahanam, kita gagal, Enci. Dan kita tak dapat menelan Pil Maut!"
"Benar, dan kita sungguh ceroboh, Ling-moi. Togura sungguh lihai dan kita bukan apa-apa baginya!"
"Dan apa yang kita lakukan?"
"Apa lagi?" kakaknya mengeluh. "Kita tak dapat berbuat apa-apa, Ling-moi. Kita telah berada di bawah kekuasaan pemuda itu!"
"Hm, dan dia menaruh kita di kamarnya!" Mei Ling pucat. "Apa yang akan dia lakukan, Enci? Apakah kita..."
"Tentu! Pemuda itu akan mempermainkan dan menghina kita, Ling-moi. Kita... kita... ah, kita benar-benar malang!"
Mei Hoa yang menangis serta merasa tidak berdaya tiba-tiba mengguguk karena ngeri membayangkan apa yang bakal dilakukan Togura. Namun, ketika dia merasa putus harapan, mendadak terdengar suara disusul bisikan lembut, "Sst, jangan khawatir, Mei Hoa. Aku datang menolong!"
Mei Hoa tertegun. Dari balik lemari, tiba-tiba muncul seorang pemuda yang merangkak dari bawah. Ketika Mei Ling juga memandang pemuda itu, hampir berbarengan dua bersaudara ini berseru, "Ting Han!"
"Sst," pemuda itu menaruh jari telunjuknya di bibir. "Jangan berteriak, Mei Hoa. Nanti kita ketahuan. Tenanglah, aku akan membebaskan kalian dan kalian pasti selamat!"
Pemuda yang cakap dan gagah, namun bertubuh agak kurus ini menghampiri Mei Hoa dan berusaha membebaskan totokan gadis itu, namun gagal. Ketika dia mencoba pada Mei Ling dan juga tidak berhasil, pemuda ini pucat.
"Celaka, kepandaianku terlalu rendah. Ah, aku tak dapat membuka totokan kalian, Mei Hoa. Aku gagal!"
"Tak apa," Mei Hoa masih bersikap tenang meskipun jantungnya berdebur cepat. "Kau bawa saja kami dari sini, Ting Han. Keluarkan kami dan bawa kami berdua!"
"Dengan cara apa?"
"Pondong!"
"Hah?"
"Ya, pondong kami di atas pundakmu, Ting Han. Tak usah bertanya lagi dan jangan sungkan-sungkan. Ini keadaan darurat, atau kami tetap di sini dan kau pun bisa tertangkap!"
"Ah, baik!"
Ting Han yang terkejut segera menyambar dua orang gadis itu, lalu meminta maaf dan berkelebat keluar untuk menyelamatkan putri-putri Bu-ciangkun itu. Ting Han harus berkali-kali menyelinap atau menyembunyikan diri kalau bertemu pengawal. Mei Hoa serta adiknya pun tak kalah tegang. Sebenarnya mereka ingin bertanya bagaimana pemuda itu bisa berada di balik lemari kamar Togura, tapi karena keadaan tidak memungkinkan dan bisa selamat dari tempat itu saja sudah merupakan berkah, Mei Hoa dan adiknya berkali-kali berseru perlahan agar Ting Han tidak perlu menghadapi pengawal, karena itu berarti mengundang penjaga-penjaga lain dan mereka bisa ketahuan.
"Tenang, jangan khawatir," pemuda itu berkata dengan suara tegang. "Aku akan selalu menghindari siapa pun, Mei Hoa. Tak usah kalian cemas, tenang saja."
Langkah pemuda itu dilanjutkan. Sebenarnya Ting Han sendiri tidak tenang dan berdebar; suaranya yang agak gemetar menandakan itu. Jadi lucu kiranya jika pemuda ini menyuruh tenang temannya sementara dia sendiri tidak tenang. Namun, ketika penjagaan demi penjagaan dapat dilewati dengan selamat dan mereka akhirnya tiba di tembok kota, Mei Ling dan kakaknya girang.
"Aih, selamat, Ting Han. Kita rupanya berhasil!"
"Benar, tapi kali ini salah seorang di antara kalian harus mengalah, Mei Ling. Aku tak dapat melompati tembok yang tinggi itu sekaligus dengan dua beban!"
"Aku mengerti," Mei Hoa tiba-tiba mendahului. "Kau bawa dulu adikku keluar, Ting Han. Letakkan aku di sini dan kau melompatlah!"
"Tidak!" Mei Ling tiba-tiba berseru. "Kau yang keluar dulu, Enci. Aku belakangan!"
"Tidak, aku belakangan, Mei Ling. Kau yang dulu karena kau lebih kecil!"
"Tidak, kau dulu!"
Namun, ketika dua bersaudara itu bertengkar sementara Ting Han bingung, tiba-tiba terdengar suara-suara penjaga yang menyatakan bahwa tawanan hilang, disusul oleh sorotan lampu-lampu besar ke tempat-tempat gelap. Mei Hoa dan adiknya terkejut dan pertengkaran otomatis berhenti. Ketika Ting Han juga terkejut melihat itu, Mei Hoa berseru padanya, "Ting Han, tak ada waktu lagi! Kau bawa adikku atau kita semua tertangkap!"
Terpaksa, karena Ting Han lebih memprioritaskan Mei Ling sebagai gadis yang dicintainya, pemuda itu bergerak dan berjungkir balik melompati tembok yang tinggi. Ia meletakkan Mei Hoa di sana dan bermaksud kembali setelah menyelamatkan Mei Ling di luar. Tapi begitu pemuda itu berjungkir balik di atas tembok, celaka sekali karena lampu sorot diarahkan kepadanya. Pemuda ini terlihat dan penjaga pun berteriak kaget.
"Hei, dia di situ! Dan dia seorang laki-laki! Hei, awas teman-teman, ada pengacau lain yang membawa kabur tawanan!"
Gegerlah tempat itu. Ting Han panik dan Mei Ling mengeluh. Pemuda itu berjungkir balik namun terbanting di luar dan terguling-guling. Ketika pengawal berteriak-teriak mengejar, tanpa pikir panjang lagi pemuda ini kabur dan meninggalkan Mei Hoa yang masih di dalam!
"Hei, kembali, Ting Han! Enciku masih di sana!"
"Maaf," pemuda ini menjawab, "sementara ini kubiarkan dulu, Mei Ling. Aku harus menyelamatkanmu karena penjaga tahu!"
"Tapi Enci bisa tertangkap!"
"Aku tak bisa berbuat apa-apa. Maaf, yang paling penting saat ini adalah menyelamatkanmu!"
Ting Han kabur dan mengerahkan segenap kekuatannya, berlari secepat mungkin tanpa menghiraukan teriakan Mei Ling. Mei Ling berteriak-teriak marah besar kepada pemuda itu. Ketika Ting Han tetap tidak mendengarkan, Mei Ling menunduk dan menggigit telinga pemuda itu.
"Jahanam, lepaskan aku kalau begitu, Ting Han! Atau putus telingamu nanti!"
"Aduh...!" Ting Han menjerit kesakitan. "Kau gila, Mei Ling. Kau tidak waras!"
Pemuda itu terpaksa melemparkan kekasihnya, berhenti berlari, lalu mengaduh-aduh sambil mendesis tak karuan. Telinganya terasa hampir putus. Saat itu, berkelebatlah sebuah bayangan tinggi kurus. Ketika Mei Ling terlempar di sana sementara Ting Han mendekap telinganya yang berdarah, bayangan itu sudah berdiri di depan mereka dengan mata yang bersinar menyeramkan, dingin, dan bengis.