Halo!

Istana Hantu - Chapter 95

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 95

"Heh, siapa kau, anak muda? Rangkap berapa nyawamu hingga berani melarikan tawanan?" Ting Han terkejut. Dia tidak tahu bahwa yang dihadapinya adalah Cam-kong, kakek iblis yang amat lihai.

Begitu terkejut melihat seseorang berdiri di depannya dan ditegur mengenai berapa rangkap nyawanya, pemuda ini tiba-tiba membentak dan menerjang maju. "Kau mampuslah!" Namun, Cam-kong tertawa aneh. Iblis ini tentu saja tahu kepandaian Ting Han, sehingga ia tidak mengelak dan justru menerima pukulan itu.

Ketika Cam-kong mengerahkan tenaga dalamnya (sinkang) dan pukulan Ting Han menghantam perutnya yang keras, tiba-tiba pemuda itu menjerit dan roboh terpelanting. Ia berguling-guling sambil berteriak-teriak mendekap tangannya yang bengkak. "Aduh! Keparat jahanam, aduh....!"

Cam-kong mendengus. Melihat pemuda itu berguling-guling sambil memaki-makinya, kakek itu menggerakkan tangannya. Dari jarak empat meter, tangannya terulur. Sebelum pemuda itu menyadari apa yang terjadi, lehernya sudah terangkat dan tubuhnya terhisap ke arah kakek tersebut.

"Kau ke sini, dan terima gamparanku ini... plak! Plak!"

Ting Han mengeluh karena mendapat tamparan dua kali. Pemuda itu meronta dan hendak membalas, namun si kakek sudah melemparnya tinggi-tinggi. Ketika pemuda itu jatuh berdebuk dan meringis, para pengawal atau pasukan di dalam benteng sudah tiba, memanjat dan turun melalui tembok yang tinggi.

"Bunuh pemuda itu, tebas lehernya!"

"Tidak!" Mei Ling tiba-tiba berteriak kaget. "Jangan bunuh pemuda itu, Cam-kong. Jangan bunuh dia dan biarkan dia hidup!"

Namun, Cam-kong hanya tertawa dingin. Ia menyambar tubuh Mei Ling, lalu berkelebat dan membawanya kembali ke dalam benteng. "Tutup mulutmu, anak busuk. Kalau bukan muridku yang menghendaki dirimu hidup-hidup, tentu kau sudah kubunuh!"

"Oh, tidak.... tidak....!" Namun, Mei Ling yang sudah dikempit si kakek melayang melewati tembok tinggi sehingga tidak dapat berteriak lagi. Ia membungkam mulutnya karena sebuah totokan jengkel dilakukan Cam-kong untuk membungkam gadis itu.

Ketika kakek itu menghilang ke dalam dan menyerahkan Ting Han untuk dibunuh para pengawal, tiba-tiba terdengar jeritan dan pekik kaget di tempat pemuda itu. "Aduh....! Hei.... plak! Des! Des!"

Cam-kong terkejut. Otomatis kakek ini menghentikan langkah dan menoleh. Ia melihat betapa belasan orangnya terlempar dan menjerit tak keruan. Di tempat Mei Hoa, di dalam benteng juga terdengar teriakan dan pekik kaget pasukan penjaga.

"Pergi kalian semua!"

Kakek itu menoleh dengan mata melebar. Di sana, enam orang pasukannya terpelanting oleh sebuah dorongan jarak jauh, rata-rata berteriak dan tidak dapat bangun lagi. Ketika kakek itu terkejut melihat samar-samar sesosok bayangan kuning emas berdiri di sana, ia tersentak dan tiba-tiba mencelat kabur.

"Kim-mou-eng (Pendekar Rambut Emas)....!" seru kakek itu terperanjat.

Seruan kakek itu disusul pelariannya yang seperti setan kesiangan, membuat para pengawal gempar. Mereka juga melihat sosok bayangan laki-laki berambut keemasan yang menolong Mei Hoa. Karena nama itu sudah cukup membuat nyali mereka terbang, para penjaga atau pasukan Togura berteriak, melempar senjata, dan ikut-ikutan lari.

"Kim-mou-eng... Kim-mou-eng... Pendekar Rambut Emas datang...!"

Suasana tiba-tiba gaduh. Bayangan yang disangka Kim-mou-eng itu tersenyum, lalu membangunkan dan membebaskan totokan Mei Hoa. Ketika gadis itu bangkit berdiri dan menangis melihat adiknya dibawa Cam-kong, Mei Hoa yang juga mengira bertemu Pendekar Rambut Emas segera menjatuhkan dirinya meratap.

"Paman, tolong rampas kembali adikku. Kami Mei Hoa dan Mei Ling, putri-putri Bu-ciangkun!"

"Bangunlah," pria berambut emas itu, yang disangka Kim-mou-eng, menarik bangun gadis ini. "Aku sudah tahu siapa kalian, Mei Hoa. Tapi lihat baik-baik, aku bukan Kim-mou-eng!"

"Benar!" bayangan di sana, yang menolong dan menyelamatkan Ting Han, juga berseru sambil berkelebat datang. "Kami berdua sudah tahu siapa kalian, Nona. Sahabatku ini adalah Thai Liong, putra Kim-mou-eng, bukan Pendekar Rambut Emas!"

Mei Hoa terkejut. Di malam gelap di mana bulan tidak menampakkan diri, bayangan samar pemuda berambut keemasan ini memang pasti akan disangka sebagai Kim-mou-eng. Namun, begitu lawan menjelaskan siapa dirinya dan Mei Hoa bengong, gadis itu tertegun bahwa orang yang dipanggilnya "paman" ternyata masih muda.

"Oh... ah...!" Gadis ini tersentak dan mundur dengan muka berubah. "Aku... aku, eh... aku tak tahu, siauw-hiap (pendekar muda). Aku... aku mengira kau Kim-taihiap!"

"Tak apa," Thai Liong menarik maju gadis ini. "Aku putranya juga, Mei Hoa, sama saja. Sekarang kau tidak usah gugup karena aku akan menolong adikmu juga!"

"Dan kalian sebaiknya keluar dari sini," ujar pemuda di sebelah Thai Liong, yang tidak lain adalah Ituchi. "Kami akan menghadapi musuh-musuh yang berat, Nona. Pergilah bersama Ting Han dan biarkan kami menyelamatkan adikmu!"

"In-kong (tuan penolong), siapa Anda?"

"Hush, namaku Ituchi, jangan panggil in-kong!" Ituchi memerah mukanya. "Aku sahabat Kim-siauwhiap, Nona. Aku sudah mengenal ayahmu yang gagah perkasa. Sudahlah, pergilah bersama pemuda ini karena pengawal berdatangan kembali!"

Mei Hoa tertegun melihat dua pemuda yang gagah itu. Ituchi tinggi besar dan tampak menyeramkan, sementara Thai Liong atau "Kim-mou-eng" muda itu kelihatan halus, namun kepandaiannya tentu tak perlu disangsikan. Ting Han mengucap terima kasih berulang-ulang pada Ituchi yang telah menolongnya dari tebasan golok pengawal.

Ketika Ting Han melihat pengawal berlarian balik dan empat bayangan berkelebatan menuju mereka, pemuda itu menjadi gelisah.

"Mei Hoa, kita memang harus pergi. Ayolah, serahkan segalanya pada ji-wi siauw-hiap (dua pendekar gagah) ini!"

"Benar, tak perlu kalian menampakkan diri, Nona. Kami akan menghadapi mereka, kau pergilah!" Ituchi tiba-tiba mendorong. Mei Hoa terangkat naik dan terlempar melewati tembok kota yang tinggi. Thai Liong pun mengangguk dan mengibaskan lengannya, membuat Ting Han terlempar dan jatuh terguling-guling di luar tembok.

"Hei... bluk!" Ting Han dan Mei Hoa hampir bersamaan mengeluarkan seruan kaget. Mereka terangkat dan terbanting di luar, namun anehnya tidak merasa sakit sama sekali. Saat dua muda-mudi itu mengeluh girang karena selamat tanpa cedera, Thai Liong dan Ituchi sudah mendengar bentakan dan makian musuh yang akhirnya menyadari bahwa mereka bukanlah Kim-mou-eng.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment