Chapter 96
"Cih, mana kegagahan dan kewibawaanmu sebagai seorang raja? Bagaimana kau sudah menjadi anjing pesuruh bagi orang lain?"
Cucigawa bagai ditampar. Raja tinggi besar yang kini tidak sedang memimpin kerajaannya itu marah besar. Ia naik pitam, lalu menyambar busurnya dengan perasaan terhina. Ketika ia menjepret dan melepas sebuah anak panah besar, Ituchi dengan cepat menangkis dan meruntuhkan anak panah itu sambil berkata mengejek, "Hm, begini kebisaanmu? Tak malu menyerang lawan mumpung terlindung di balik orang-orang yang kau andalkan? Hebat, kau gagah sekali, Cucigawa. Pantas saja kalau kau berkawan dengan anjing-anjing buduk."
*Plak!*
Panah patah menjadi dua setelah ditampar oleh pemuda itu. Cucigawa menggeram, hendak menyerang kembali, namun Cam-kong membentaknya. Ketika sang raja terdiam karena nyalinya menciut, Ituchi tertawa dan menghina lebih pedas, "Aih, cocok sekali menjadi anjing piaraan. Gagah tampangnya, tapi kerdil dan ciut nyalinya. Ah, kau semakin pantas bersahabat dengan kakek atau nenek-nenek iblis ini, Cucigawa. Tapi kau sama sekali tidak pantas menjadi raja dari bangsa yang besar!"
"Hm, tutup mulutmu!" Cam-kong membentak. "Kau akan segera kami bunuh, anak muda. Jangan bercuap-cuap di sini. Sekarang, mana gadis-gadis itu? Serahkan mereka atau kalian mampus!"
Thai Liong tertawa. "Cam-kong," katanya mendahului Ituchi, "kau dari dulu selalu melancarkan gertak sambal. Bisakah kau membunuh kami jika menghadapi Khi-bal-sin-kang atau Jing-sian-eng saja kau tidak dapat menang? Hm, kaulah yang tak perlu bercuap-cuap, kakek busuk. Kami datang untuk meminta kembali suku bangsa U-min agar diserahkan kepada sahabatku ini yang lebih berhak, serta menghentikan sepak terjang kalian dengan menyetop serbuan besar-besaran ini. Kalian sudah tidak waras. Serahkan pasukan ini atau kalian kuhajar dan menerima hukuman!"
"Ha-ha!" Siauw-jin tiba-tiba tertawa. "Ayahmu sendiri tak mampu mencegah kami, Thai Liong. Sungguh lucu kalau kau datang dengan maksud yang sama! Ketahuilah, beberapa waktu yang lalu ayahmu datang namun melarikan diri. Kami sekarang tidak takut lagi dengan Khikang-mu ataupun yang lain karena kami juga memilikinya. Pulanglah, bocah sombong, atau bergabunglah bersama kami dan menjadi sahabat Togura!"
"Hm," Thai Liong mengejek, menganggap omongan itu hanya bualan. "Kau selalu membual, Siauw-jin. Aku memang ingin bertemu Togura, suruh dia keluar atau kupaksa kalian menunjukkannya!"
"Ha-ha!" Suara tawa bergelak tiba-tiba menghantam tempat itu. "Tak perlu banyak bicara, Siauw-jin. Tangkap dua pemuda itu dan bawa ke mari!"
"Togura!" Thai Liong kaget. "Awas, dia datang, Ituchi. Hati-hatilah dan ingat kata orang bahwa dia sekarang lebih lihai daripada gurunya!"
Benar saja, sesosok bayangan berkelebat bagai hantu. Togura, pemuda tinggi besar yang gagah seperti Ituchi, muncul tiba-tiba tanpa diketahui asal-usulnya. Saat Ituchi terkejut dan Thai Liong tertegun karena mengenali gerakan ilmu luar biasa yang digunakan Togura, pemuda itu tertawa sambil berkacak pinggang dengan sombong.
"Suhu, dua pemuda ini sudah datang. Tangkap, bekuk, dan bunuh mereka!"
"Hm!" Thai Liong waspada. "Kau sudah muncul, Togura? Kau mau menangkap kami? Kebetulan, kamilah yang akan menangkapmu!"
Thai Liong berkelebat menyerang. Ia mencengkeram dan menyambar pemuda itu. Siauw-jin dan kakek cebol itu kaget, namun Thai Liong sudah lenyap dan berada tepat di depan Togura. Saat Togura mencelat ke belakang, tiba-tiba pemuda itu menghilang.
"Jing-sian-eng!" Thai Liong berseru tertahan. "Ah, kau menggunakan Jing-sian-eng, Togura. Keparat!"
Thai Liong mengejar dan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya. Namun, untuk ketiga kalinya, pemuda tinggi besar itu mengejeknya dan kembali menghilang. Ketika Thai Liong terus memburu ke mana pun lawannya mengelak, akhirnya murid Lima Iblis Dunia itu menangkis.
*Dukk!*
Thai Liong kaget bukan kepalang karena ia terpental dan terdorong mundur oleh daya tolak yang besar. Ia kembali melancarkan serangan dengan penasaran, namun kali ini ia terhuyung mundur hingga matanya membelalak. Ia merasakan lawan menggunakan Khikang, ilmu dari keluarganya sendiri.
"Khikang!"
"Ha-ha!" Lawan tertawa. "Memang benar, Thai Liong. Sekarang kau tahu kenapa guruku bilang kami tidak perlu takut lagi kepadamu!"
Thai Liong terdiam, menggigil teringat kematian engkongnya. "Jadi... jadi kau...?"
"Benar, aku yang pergi ke Ce-bu itu, Thai Liong. Tapi bukan aku yang membunuh kakekmu!"
"Ah, tapi kau pencurinya! Kau yang tidak tahu malu mencuri Cermin Naga! Terkutuk kau, Togura. Kau manusia iblis yang hina-dina!"
Thai Liong membentak dan menyerang kembali dengan penuh amarah, namun Togura mencelat ke belakang dan meminta gurunya untuk maju. Saat Thai Liong hendak mengejar, Siauw-jin dan yang lain menghadang. Si iblis cebol itu mengeluarkan sabitnya.
"Ha-ha, tunggu dulu, bocah. Di bawah raja masih ada pembantu-pembantunya!"
*Siut-singg!*
Sabit menyambar ke arah mata Thai Liong. Pemuda itu mengelak, namun empat temannya yang lain sudah berkelebat maju dan mengeroyoknya dari empat penjuru. Kini lima bayangan bergerak silih berganti. Thai Liong dikeroyok oleh lima kakek dan nenek iblis tersebut yang mengeluarkan senjata masing-masing, sementara Togura meloncat mundur, tertawa, dan mengamati jalannya pertempuran.
Ketika Thai Liong menangkis dengan Jing-sian-eng dan Khikang-nya yang luar biasa, kelima iblis itu menjerit.
*Plak-duk-plak!*
Siauw-jin dan yang lain terpelanting. Mereka tidak tahan terhadap Khikang, karena pukulan Bola Sakti akan membalikkan kekuatan lawan seberapa pun besarnya. Meski begitu, mereka maju kembali dengan malu karena ada murid mereka yang menyaksikan. Pusing karena bayangan Thai Liong yang terus menampar dan mendorong, mereka akhirnya terdesak. Sabit Siauw-jin patah dihantam telapak tangan, sementara jarum nenek Naga menyambar hampir mengenai matanya sendiri.
Setelah kelima orang itu terjatuh dan pucat karena gentar, mereka berteriak, "Togura, bantu kami!"
Togura yang tadinya menonton akhirnya mengangguk. Ia tahu kelima gurunya bukan lawan Thai Liong. Sambil melirik Ituchi, ia berseru kepada pasukannya, "Hei, kalian jangan mendelong saja! Serang dan tangkap pemuda satunya!"
Cucigawa bergerak mendahului, mengarahkan busurnya dan melepas panah ke arah Ituchi. Namun, Ituchi menangkisnya sementara perajurit lain ikut menyerang. Thai Liong lega melihat temannya tidak diam, lalu ia merobohkan lawan-lawan yang mendekat.
"Bagus, tangkap dan bunuh dia, Cucigawa. Dia adalah musuhmu!" teriak Togura.
Melihat guru-gurunya hampir kalah, Togura berkelebat ke depan. "Suhu, subo, kalian minggirlah. Biar kuhadapi musuhku ini!"
*Plak-plak-duk!*
Togura menangkis pukulan Thai Liong, menyelamatkan gurunya. Keduanya terpental dan terhuyung. Togura kemudian melancarkan serangan Khi-bal-sin-kang dan Jing-sian-eng, menghilang dan mengelilingi Thai Liong. Putra Pendekar Rambut Emas itu murka melihat lawannya menggunakan ilmu-ilmu curian keluarganya.