Halo!

Istana Hantu - Chapter 97

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 97

Khikang telah digabung dengan Jing-sian-eng dan hebatnya tentu saja bukan alang-kepalang. Namun, karena Thai Liong juga memiliki dua ilmu itu, ia bergerak cepat dan penuh amarah memaki lawannya. Thai Liong pun lenyap berkelebat mengimbangi lawannya itu.

"Togura, kau tak tahu malu dan busuk. Marilah, mari kita bertanding dan lihat bagaimana aku merobohkanmu!"

"Ha-ha, jangan sombong!" Pemuda itu tertawa tergelak. "Kau tak dapat merobohkan aku, Thai Liong. Kita memiliki ilmu yang sama, paling-paling kita berimbang!"

"Tak mungkin. Aku akan merobohkanmu!"

Plak! Dukk! Thai Liong melepas pukulannya sambil berteriak marah. Tiba-tiba, ia tergetar dan terhuyung mundur, sama seperti lawannya yang juga terpelanting dan terdorong satu tindak. Togura membelalakkan mata dengan marah, namun murid Lima Iblis Dunia itu tidak takut; ia membentak dan balas menyerang. Ketika dua pemuda itu sama-sama marah dan Togura mengeluarkan Jing-sian-eng-nya yang berkelebat mengelilingi lawan, pertandingan kedua anak muda ini tak dapat dicegah lagi.

"Plak! Dukk!" Masing-masing tak mau kalah. Akhirnya, Thai Liong mengakui bahwa lawannya memang benar-benar telah mewarisi Khikang maupun Jing-sian-eng. Semakin cepat ia mengerahkan gerakannya, semakin cepat pula lawan mengimbanginya. Togura mengeluarkan Khi-bal-sin-kang-nya pula hingga setiap pukulan lawannya mental, membuat Thai Liong merah padam karena marah. Ketika pemuda tinggi besar itu tertawa tergelak dan terus mengejek, Thai Liong akhirnya terpaksa mengeluarkan pukulan lainnya.

"Darr!" Togura terpekik. Sinar putih menyambar dari tangan Thai Liong, meledak, dan mengenai pundak pemuda itu. Saat Togura terpelanting dan Thai Liong berkelebat lenyap, tiba-tiba sebuah pukulan lagi mengenai bahu lawannya.

"Dess!" Pemuda tinggi besar ini menjerit. Ia terpental dan terbanting. Meski telah mengerahkan Khikang-nya, kali ini ia tidak berhasil melindungi diri. Thai Liong mengeluarkan Lui-ciang-hoat-nya dan berkelebat menggabung Jing-sian-eng dengan Cui-sian Gin-kang (Ginkang Pengejar Dewa). Karena Togura tidak memiliki dua ilmu terakhir ini—mengingat itu bukanlah ilmu yang dimiliki mendiang Hu-taihiap—pemuda tinggi besar itu mengaduh dan mendesis, bergulingan menjauhkan diri, namun Thai Liong terus mengejar.

Kini, dengan gabungan Jing-sian-eng dan Cui-sian Gin-kang, Thai Liong mendahului lawannya. Gerakannya mustahil dikelit karena kecepatannya menjadi dua kali lipat dibanding lawan. Begitu Thai Liong mengeluarkan dua ilmu meringankan tubuh ini sekaligus, sementara pukulan Khikang digabung dengan tamparan Lui-ciang-hoat, Togura terdesak. Untuk pertama kalinya, pemuda itu memaki-maki tanpa tertawa lagi.

"Keparat, kau seperti ayahmu, Thai Liong. Licik dan pengecut karena menggabung dua ilmu jahanam itu. Aih, kau pengecut. Kau tak tahu malu menyerang orang yang hanya memiliki sebuah ilmu kepandaian saja. Kau curang, sama seperti mengeroyok!"

"Hm!" Thai Liong marah. "Kaulah yang tak tahu malu dan pengecut, Togura. Kau mencuri ilmu kong-kong untuk dipergunakan menghadapi keluargaku. Kau hina dan curang!"

"Ha-ha, terlalu banyak mulut!" Togura yang marah dan terdesak hebat tiba-tiba membentak kelima gurunya agar maju membantu. "Hei, kalian semua ke mari. Bantu aku!"

Siauw-jin terbelalak. Sebenarnya mereka sudah melihat kejadian itu, terdesaknya sang murid karena keluarnya Lui-ciang-hoat dan Cui-sian Gin-kang. Ketika muridnya berteriak menyuruh mereka maju sementara posisi sang murid kian terdesak dan terus mundur, iblis cebol itu akhirnya berkelebat maju.

"Weh, kami akan membantu, Togura. Tapi jangan salahkan kami kalau kami kelima gurumu masih tak dapat merobohkan lawanmu ini!"

"Tak apa. Kalian maju saja dan kita keroyok dia!"

Des! Dess! Togura mengeluh, menghentikan kata-katanya karena satu pukulan Lui-ciang-hoat menghantam pundaknya. Ia mencoba menahan dengan Khikang, namun Thai Liong menahan Khikang lawannya dengan Khikang pula, sehingga Togura tetap terpental dan terbanting bergulingan. Berkat perlindungan Khikang, ia mampu melompat bangun, namun Thai Liong menjadi gemas ketika Siauw-jin dan kawan-kawan sudah berkelebatan menyerang dari muka dan belakang.

"Plak! Crit! Dess!" Lima orang itu berteriak. Sebelumnya, kakek dan nenek iblis ini tidak terlalu terkejut, namun begitu Khikang digabung bersama Lui-ciang-hoat dan pukulan bersinar putih itu menghajar mereka, hawa panas luar biasa menyengat tubuh bagai petir menyambar.

"Aduh...!" "Tobat!" Nenek dan kakek-kakek iblis itu bergulingan. Mereka menjerit tak kuat menahan pukulan Lui-ciang-hoat yang ditambah dengan Khi-bal-sin-kang. Ketika mereka pucat dan gentar, Togura tiba-tiba mencabut senjatanya: tombak bermata dua (nenggala) dan anak panah kuningan peninggalan mendiang ayahnya.

"Bunuh pemuda ini, maju lagi!" Bentakan beringas itu memaksa Siauw-jin dan kawan-kawan maju. Mereka tidak berani membantah karena kelima kakek-nenek iblis itu sesungguhnya berada di bawah kekuasaan Togura setelah pemuda itu berhasil mencuri ilmu-ilmu dahsyat dari Cermin Naga.

Sementara Thai Liong menghadapi serangan kakek dan nenek iblis tersebut, di tempat lain Ituchi menghadapi keroyokan hebat dari Cucigawa dan pasukannya.

"Bunuh pemuda ini, lenyapkan dia!" teriak Raja Cucigawa sambil menyuruh pembantunya maju. Sang raja memainkan gendewanya, melepas anak panah berat ke arah Ituchi yang ditangkis atau disampok hingga runtuh. Ituchi bingung karena pasukan Cucigawa adalah bangsa U-min, yang tidak lain adalah bangsanya sendiri. Ia tidak sampai hati membunuh orang-orang tak berdosa yang hanya mengikuti perintah.

"Kalian tak tahu apa-apa. Mundur, dan jangan serang aku!"

"Ha-ha!" Cucigawa tertawa tergelak. "Mereka adalah pasukanku, Ituchi. Perintahku lebih manjur daripada perintahmu!"

Ituchi marah, namun seruannya tetap tidak digubris. Terpental satu, maju dua; terbanting sepuluh, maju dua puluh. Karena sudah mendongkol, Ituchi terpaksa bersikap keras.

"Baiklah," katanya. "Kalian tak dapat dinasihati baik-baik, manusia bodoh. Agaknya kalian harus dihajar baru tobat!"

Ituchi bergerak, menyelinap ke sana ke mari. Tangan dan kakinya menendang serta menampar. Senjata dan tubuh musuh mulai tersentuh hingga lengan dan kaki mereka patah. Namun, jumlah pasukan yang amat besar membuat Ituchi tertegun karena musuhnya seolah tidak ada habisnya.

"Ha-ha, lihat!" Cucigawa berseru di balik jepretan anak panahnya. "Kau tak dapat menghalau mereka, Ituchi. Kau akan tertangkap dan terbunuh!"

Ituchi sadar bahwa ia diharuskan bersikap lebih kejam. Ia tiba-tiba membentak dan merampas tombak seorang prajurit.

"Baiklah, aku sekarang akan membunuh kalian, orang-orang tolol. Lihat siapa berani maju lagi untuk kubunuh... crat!"

Perut seorang prajurit tertusuk, ia menjerit dan roboh bermandikan darah. Ituchi kini berkelebatan dengan nafsu membunuh. Anak buah Cucigawa terkejut melihat keberingasan pemuda itu. Ituchi menangkis semua senjata musuh tanpa peduli panah atau tombak.

Ketika anak panah kembali mendesing dari busur Cucigawa, Horok dan Panglima Ramba tiba-tiba menggerakkan senjata menusuk dengan cepat.

"Wir! Plak! Dess!" Dua orang itu menjerit. Ramba yang bersenjata trisula terpental setelah senjatanya lepas bertemu tombak Ituchi, disusul sebuah tendangan. Horok pun terlempar oleh tangan kiri Ituchi. Panah yang menyambar dari busur Cucigawa dikibas oleh Ituchi hingga terpental dan mengenai pangkal lengan raja tinggi besar itu.

"Crep! Augh!" Cucigawa terkejut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment