Halo!

Istana Hantu - Chapter 98

Memuat...
Istana Hantu

Chapter 98

Raja tidak menyangka bahwa anak panahnya yang dilepaskan berbalik arah karena ditangkis oleh pemuda itu dan justru mengarah ke pangkal lengannya. Karena tidak menyangka dan baru kali ini di sela-sela kesibukannya Ituchi dapat melukai raja, Cucigawa terhuyung dengan wajah pucat, dirundung amarah yang luar biasa.

"Bunuh pemuda itu, keroyok lagi!" Namun, seruan itu tidak sepenuhnya diikuti. Ituchi yang mengamuk dan merobohkan prajurit di hadapannya membuat pasukan tersebut gentar. Tiga puluh orang yang telah tewas membuat yang lain ketakutan.

Ketika Cucigawa berteriak sementara raja sendiri tidak berani mendekat, barisan depan tiba-tiba mundur dan melakukan serangan jarak jauh.

"Keparat, kalian licik!" maki Cucigawa. "He, lepaskan panah kalian, orang-orang bodoh! Keluarkan jaring dan tangkap pemuda ini seperti dulu!"

Ituchi terkejut. Pasukan yang teringat perintah itu segera mundur dan melepaskan anak panah dari jarak jauh. Ratusan panah berhamburan menyerang. Ketika mereka juga mengeluarkan jaring dan mulai berteriak-teriak, pola serangan tempo dulu kembali beraksi.

"Crat-crat-crat!" Ituchi marah. Ia membabat belasan jaring yang menyambar dari atas, sembari menangkis atau meruntuhkan anak panah yang datang bagaikan hujan. Karena gaya serangan itu merepotkannya—ditambah tidak ada lawan yang berani menyerang dari dekat—Ituchi geram dan berkelebatan menangkis ke sana kemari.

"Ha-ha, kau repot, Ituchi. Mampus kau!"

"Keparat!" Ituchi mengutuk raja yang licik itu. "Kau curang dan pengecut, Cucigawa. Kau tidak pantas menjadi seorang raja karena bisamu hanya berbuat curang!"

"Ha-ha, kau banyak mulut. Tak usah cerewet jika ingin menyelamatkan diri, Ituchi. Atau kau bakal menyusul ayahmu di alam baka!"

Ituchi marah bukan main. Ia merampas sebilah pedang lagi, mengamuk dengan dua senjata di tangan, dan menerjang musuh-musuhnya. Namun, karena jumlah musuh terlalu banyak dan ia masih ragu apakah harus membantai habis suku bangsanya sendiri, sebuah panah akhirnya menyambar bahunya.

"Crep!" Itu adalah panah Cucigawa. Sang raja tertawa terbahak-bahak melihat pemuda itu terhuyung. Ia merasa girang, meski diam-diam kagum karena anak panah itu hanya menancap sebatas kepala panahnya. Pemuda itu telah mengerahkan *sinkang* dan tenaga saktinya untuk bertahan; meski berhasil, namun tidak sepenuhnya. Maklumlah, Ituchi telah mengeluarkan banyak tenaga dalam pertempuran yang tidak seimbang itu; satu orang dikeroyok ratusan, bahkan mungkin ribuan!

Ketika pemuda itu terhuyung dan mendelik memaki raja yang tengah menatap dengan wajah penuh kekaguman, lemparan lembing atau tombak meluncur deras menyambar tubuhnya.

"Plak-plak!" Ituchi masih dapat bertahan. Nyatalah bahwa lontaran tombak atau lembing yang dilakukan orang biasa tidak dapat melukai pemuda itu, kecuali milik Cucigawa yang memiliki tenaga istimewa.

Ketika jaring kembali menghujani dari atas dan memaksa Ituchi melompat mengelak, sebuah anak panah kembali mendesing dan menancap di tubuh pemuda itu.

"Crep!" Ituchi bergoyang. Hanya terhadap panah dari raja bertubuh tinggi besar inilah pemuda itu tidak berhasil bertahan sepenuhnya.

Ketika raja kembali merasa kagum dan menjepretkan anak panahnya lagi, Ituchi membentak penuh amarah. "Cucigawa, kau jahanam busuk!"

Pemuda itu berkelebat ke arah lawannya, membiarkan tombak atau anak panah lain menghajar dirinya demi mencapai raja yang curang itu. Ituchi marah sekali hingga melupakan bahaya jaring yang meluncur dilepas tak kurang dari tujuh buah. Baru setelah jaring itu melingkup dari atas kepala, Ituchi tersadar bahwa dirinya terlambat.

"Rrt-bluk!" Pemuda itu jatuh. Ituchi terlampau mengonsentrasikan perhatiannya pada Cucigawa hingga kehilangan kendali diri. Begitu tujuh jaring melingkup dan menjerat tubuhnya, ia tertangkap seperti harimau yang terjebak pemburu bengis!

"Ha-ha, tarik dia! Jerat semakin keras!" Perintah itu dilakukan tujuh orang pembantu raja, termasuk panglima Horok dan Ramba. Begitu mereka menarik dan berseru bersama-sama, Ituchi tercekik dan tak dapat bergerak.

"Ugh!" Pemuda itu dalam bahaya besar. Namun, sebelum semuanya terlambat dan Cucigawa serta pasukannya mengangkat senjata masing-masing, terdengar bentakan dan suara menggelegar.

"Lepaskan pemuda itu!"

Bayangan kuning emas menyambar dengan kecepatan luar biasa. Dalam sekejap, jaring yang mencekik Ituchi putus. Tujuh orang pemegang jaring terpelanting, dan Thai Liong segera menarik pemuda itu dari dalam jeratan.

"Ituchi, kita tidak dapat membantai orang-orang ini. Kita harus pergi!"

"Plak-plak-plak!" Thai Liong menangkis hujan golok dan tombak. Ituchi tertegun melihat lawan-lawan Thai Liong lenyap. Rupanya, saat Thai Liong menghadapi lawannya, Togura dan guru-gurunya telah menghilang. Mereka tidak tahan oleh gabungan *Khikang* dan *Lui-ciang-hoat*, serta kalah cepat setelah Thai Liong menggunakan dua ilmu meringankan tubuhnya sekaligus: *Jing-sian-eng* dan *Cui-sian Ginkang*.

Togura dan guru-gurunya terpaksa lari setelah dihajar jatuh bangun. Thai Liong menggunakan tangan kosong untuk menghadapi enam orang lawan yang licik tersebut. Namun, ketika ia mengincar Togura, lawan itu berteriak agar mereka semua melarikan diri, sama seperti saat menghadapi Pendekar Rambut Emas dahulu.

"Kita lari, jangan layani jahanam ini!"

Thai Liong terkejut saat Nenek Naga menghamburkan belasan jarum beracun, disusul sabit milik Siauw-jin yang menyambar. Saat Thai Liong menangkis serangan tersebut, Togura meledakkan granat tangan yang membuat keadaan menjadi gelap.

"Darr!"

Saat itulah Togura dan rekan-rekannya lenyap. Mereka licik melarikan diri, berlindung di balik asap tebal dan ledakan. Thai Liong, yang tidak dapat mengejar musuh karena mereka menghilang dengan cepat, melihat keadaan Ituchi dan segera menyelamatkannya.

Thai Liong melihat tubuh-tubuh yang bergelimpangan dibabat Ituchi. Ia merasa ngeri membayangkan banjir darah yang akan terjadi jika mereka mengamuk lebih jauh. Karena tidak berniat membunuh banyak orang, Thai Liong menyambar Ituchi dan mengajaknya pergi, yang tentu saja membuat pemuda tinggi besar itu tidak setuju.

"Tidak, kita datang bukan untuk membantai orang-orang ini, Thai Liong. Tapi justru menundukkan mereka dan membebaskan mereka dari tangan orang-orang jahat!"

"Tapi Togura melarikan diri!"

"Tapi Cucigawa ada di sini! Tidak, aku ingin menangkap atau membunuh musuhku itu dulu. Kau bantu aku!" Ituchi marah, menggebrak tameng seorang prajurit hingga ia tersungkur dan tewas. Kemarahan Ituchi tidak terbendung lagi.

Namun, ketika ia menerjang dan memanggil Cucigawa, ternyata raja bertubuh tinggi besar itu telah lenyap!

"Keparat! Kau pengecut dan licik, Cucigawa. Ayo tampakkan dirimu!"

Namun, sang raja sudah gentar. Setelah Thai Liong datang dan menolong Ituchi, raja itu pucat pasi. Ia tahu kelihaian putra Pendekar Rambut Emas itu dan tidak berani bermain api setelah melihat Togura dan kelima gurunya menghilang. Maka, begitu Ituchi selamat dan mulai mencari keberadaannya, raja itu buru-buru menyingkir.

Ituchi menggigit jari karena lawan-lawannya menghilang. Ramba dan Horok pun tidak ada lagi. Pasukan yang tersisa pun kocar-kacir melarikan diri.

"Hei, kalian kembali! Jangan lari!"

Namun tidak ada yang kembali. Ituchi terus berteriak, menyuruh pasukan itu kembali, namun mereka justru ketakutan. Setelah raja dan para pemimpin mereka menghilang, pasukan tersebut memilih melarikan diri untuk menyelamatkan nyawa. Tempat itu akhirnya bersih dari siapa pun.

Ituchi membanting kaki dengan marah. Ia merasa suku bangsanya tidak dapat dididik, semuanya sudah jahat dan kotor seperti Cucigawa. Saat ia mengeluh dan menghempaskan tubuh ke tanah, Thai Liong berkelebat di sampingnya dan menarik napas panjang.

"Sudahlah, pasukanmu tidak mau kembali padamu, Ituchi."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment