Chapter 99
"Mereka takut dan jerih!"
"Tapi aku bukan mau menghukum mereka! Aku tidak mengapa-apakan mereka! Kenapa takut dan harus lari? Ah, mereka itu sudah jahat dan kotor seperti Cucigawa, Thai Liong. Mereka... mereka..." Pemuda ini menutupi mukanya, menangis dan kecewa karena suku bangsanya sendiri sudah tak dapat diatur.
Dia tadi ingin mengumpulkan mereka dan menasihati baik-baik, tak tahunya mereka malah lari tunggang-langgang dan kabur. Ketika pemuda itu mengepal tinju dengan muka merah padam, mendadak Mei Hoa dan Ting Han muncul.
"Siauw-hiap, adikku... adikku sudah kau selamatkan?"
Thai Liong tertegun. Tiba-tiba dia teringat bahwa Mei Ling masih dibawa iblis-iblis itu. Cam-kong tadi membawanya dan dia kelupaan karena pertandingan tiba-tiba menjadi sengit. Dia dikeroyok sementara Ituchi juga menghadapi suku bangsanya sendiri di bawah pimpinan Cucigawa. Begitu teringat dan sadar, pemuda ini malah tak dapat bicara.
"Kau... kau belum menyelamatkannya?"
"Maaf," Thai Liong akhirnya berkata gemetar. "Aku lupa, Mei Hoa. Aku tadi terlalu sibuk dan mengonsentrasikan pikiranku pada Togura dan kelima gurunya. Ah, biar kucari adikmu dan kau di sini bersama Ituchi!"
Menyesal karena melupakan tanggung jawabnya, tiba-tiba Thai Liong berkelebat dan lenyap dari tempat itu, disambut keluhan pendek gadis itu yang gemetar membayangkan nasib adiknya. Ting Han di sana juga tertegun dan pucat, membelalakkan mata. Tiba-tiba Ituchi melompat bangun dan berseru.
"Thai Liong, tunggu!" Pemuda tinggi besar itu pun melesat menyusul Thai Liong.
"He!" Ting Han terkejut. "Kalau begitu kita ikut mencari, Mei Hoa. Mari kejar dan susul mereka!"
Mei Hoa mengangguk. Memang setelah adiknya belum kembali dan Thai Liong sempat melupakannya, gadis ini menjadi gelisah. Dia menyayangkan mengapa putra Pendekar Rambut Emas itu melupakan adiknya. Namun, ketika Ting Han mengumpat dan memaki-maki Thai Liong dengan menyebutnya bodoh dan tak bertanggung jawab, gadis ini segera menegur.
"Ting Han, jangan memaki-maki Kim-siauwhiap. Dia datang menolong kita saja sudah syukur. Bukankah kita selamat dan kini dapat mencari sendiri? Kalau dia lupa hal itu, dapat dimaklumi. Yang dihadapi pemuda itu bukan cuma adikku!"
"Eh, kau tak marah?"
"Tadinya begitu. Tapi sekarang tidak, Ting Han. Aku menyadari bahwa pekerjaan pemuda itu bukan hanya mengurus Mei Ling saja! Kita tak boleh egois. Bukankah pemuda itu sudah membantu lebih dari cukup? Kalau dia lupa pada Mei Ling, tak usah kita marah-marah. Lebih baik kita tahu diri dan mencoba mencari sendiri!"
"Kalau begitu mari, aku salah!"
Ting Han yang menyadari kekeliruannya segera berhenti memaki dan berkelebat mencari bersama Mei Hoa. Mereka cemas karena Mei Ling berada di tangan iblis-iblis berbahaya.
"Haram jadah, terkutuk!" Siauw-jin memaki-maki saat bersama muridnya ia terpaksa melarikan diri.
Togura juga menggeram dan mengutuk Thai Liong yang memaksa mereka kabur dan meninggalkan pertempuran. Namun, saat mereka marah-marah, Cam-kong batuk-batuk dan berkata, "Tak usah marah. Kita masih memiliki sebuah pegangan kalau pemuda itu mengejar. Lihat ini!"
Kakek itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi, memperlihatkan seorang gadis yang tak berdaya. Teman-temannya pun tertegun. Siauw-jin menyeringai dan menyambar gadis di tangan rekannya.
"Heh, kenapa tidak bilang sejak tadi, Bambu Kurus? Bukankah ini dapat memaksa pemuda itu? Hayo kembali! Paksa pemuda itu menyerah pada kita dan suruh berlutut minta ampun!"
"Hih-heh, benar!" Nenek Naga berseru. "Kalau aku tahu dan ingat itu, tentu kita tak perlu terbirit-birit!"
Mereka memandang gadis di tangan Siauw-jin itu. Namun, ketika Togura berkelebat maju, pemuda itu berkata, "Tidak, tak perlu kembali. Kalau gadis ini sudah di tangan kita, biarlah Thai Liong yang mencari dan kita yang menunggu. Heh, serahkan dia padaku, Siauw-jin. Kalian semua pergi dan biar gadis ini berdua bersamaku..."
Togura membebaskan gadis itu, yang tak lain adalah Mei Ling. Gadis cantik itu menjerit, meronta, dan memukul-mukul Togura, tetapi lawan tertawa dan menamparnya. Saat ia roboh dan menangis tersedu-sedu, Togura menjambak rambutnya.
"Heh, dengarkan aku, siluman betina. Gara-gara kedatanganmu, kau mengundang Thai Liong dan putra Raja Hu itu. Kau seharusnya dibunuh. Tapi karena aku sayang padamu dan ingin menjadikanmu sebagai kekasih, katakan bahwa kau tak akan macam-macam dan siap melayaniku!"
"Tidak... tidak!" Mei Ling menangis menjerit-jerit. "Kau bunuhlah aku, Togura. Aku tak takut mati, kau pemuda busuk dan jahanam!"
"Hm, kenapa begitu?" Pemuda itu menyeringai mengejek. "Kau tak akan kubunuh kalau justru berteriak-teriak begini. Lebih baik kau ikut aku dan secara baik-baik menyerah menjadi kekasihku. Atau, aku akan memaksamu dan kau tak dapat berbuat apa-apa!"
Togura tertawa dan mencium gadis itu. Mei Ling tak dapat mengelak karena rambutnya dijambak dan kepalanya dicengkeram keras. Saat gadis itu menggigit mulutnya, Togura berteriak dan menamparnya.
"Keparat, tak tahu diuntung!" Mei Ling terpelanting. Togura marah, tetapi Siauw-jin malah tertawa, membuat pemuda itu membentak gurunya untuk berhenti.
"Kalian mau apalagi? Bukankah kusuruh pergi? Biarkan aku dengan siluman betina ini, Suhu. Kalian semua berjaga di sekitar kalau-kalau pemuda keparat itu datang!"
"Mau kau apakan gadis ini?" Nenek Ji-moi terkekeh. "Bukankah mau kau permainkan?"
"Benar."
"Nah, permainkan di sini saja, Togura. Biar Siauw-jin yang pergi dan kami berempat menonton!"
"Hi-hik, benar!" Nenek Toa-ci menyambung. "Kami masih suka melihat keperkasaanmu, Togura. Lakukan saja sekarang!"
"Weh-weh!" Siauw-jin mencak-mencak. "Kalian menonton dan aku disuruh pergi? Tak bisa, nenek buruk. Kalianlah yang pergi dan biar kami dua lelaki menonton di sini!"
"Tidak!" Togura berkata. "Kali ini aku tak ingin ditonton, Suhu. Kalian berjaga dan hati-hati terhadap Kim Thai Liong itu!"
"Tapi aku kepingin..."
"Hm, kalian tak mau dengar omonganku?" Togura tiba-tiba bangkit kemarahannya dan menampar Siauw-jin, Ji-moi, serta Toa-ci.
Ketika ketiga orang itu menjerit dan terpelanting roboh, Cam-kong tertawa aneh dan serak. "Nah, rasakan itu, Siauw-jin. Kalau murid kita bilang jangan, sebaiknya kita tidak memaksa."
Siauw-jin mengeluh dan mengutuk, namun ia tak berani melawan karena Togura terlalu lihai. Mereka pun berkelebat pergi meninggalkan tempat itu.
Tinggal Mei Ling yang terbelalak ngeri. "Iblis, kau benar-benar iblis, Togura. Kau tak tahu malu dan keji. Ah, bunuhlah aku!"
Togura tertawa. Ia tak malu sedikit pun karena memang terbiasa ditonton saat bermain cinta, menunjukkan betapa bejat moralnya. Kini setelah kelima gurunya pergi, ia melepas bajunya dan menyambar gadis itu.
"Ha-ha, bagaimana, Mei Ling? Kau ingin kupaksa atau melayaniku secara baik-baik? Di sini jauh dari siapa pun, takkan ada yang mendengar jeritanmu!"
"Tidak... oh, jangan!" Mei Ling ngeri. "Jangan lakukan itu, Togura. Kau bunuhlah aku dan aku akan berterima kasih padamu!"
"Hm, kau cerewet!" Togura yang tidak sabar segera menyambar dan mencengkeram baju gadis itu dengan kasar. Saat pundak gadis itu tersingkap, Togura menotok bawah rahang Mei Ling agar tidak bisa menggigit lagi, lalu mulai melancarkan aksi bejatnya.