Halo!

Kabut Di Bumi Singosari - Chapter 01

Memuat...
Kabut Di Bumi Singosari

Chapter 01

Pagi itu langit begitu cerah, matahari bersinar gilang-gemilang memancarkan warna kuning yang hangat bersembul di tepi ujung timur bumi di atas Sungai Brantas yang sudah ramai dilalui kapal-kapal kayu membawa berbagai barang dagangan.

Angin sedikit semilir tidak menimbulkan riak gelombang. Sungai Brantas seperti cermin panjang, segala apa pun pemandangan di atasnya menjadi dua lukisan yang indah, hutan yang hijau dinaungi langit pagi yang cerah berawan putih.

Bila kita menyusuri sungai Brantas melawan arusnya masuk lagi lebih ke hulu, maka kita akan menjumpai sebuah bandar yang cukup besar, banyak kapal layar besar tengah menambatkan jangkarnya di sana.

Terlihat beberapa buruh kasar tengah mengangkut barang ke atas kapal. Satu dua kedai yang ada di sekitar Bandar Cangu itu terlihat sudah penuh dan ramai, terlihat juga beberapa awak kapal duduk di depan luar sebuah kedai, mungkin menunggu saat kapalnya sarat barang untuk berangkat ke sebuah tujuan yang jauh.

Terlihat tiga orang lelaki keluar dari sebuah kedai, melihat dari kulit tubuh dan wajahnya menandakan bahwa ketiga orang itu adalah bukan penduduk asli. Mereka berkulit putih cerah.

Keberadaan orang asing di bandar Cangu memang sudah biasa, berbagai bangsa dengan beraneka warna kulit sudah menjadi pemandangan umum sehari-hari di Bandar Cangu.

"Silakan tuan menyusuri Sungai Brantas ini menuju ke arah Benteng Cangu itu, tuan akan menemui sebuah rumah panggung besar menghadap ke arah sungai. Itulah kediaman Senapati Agung Raden Wijaya," berkata seorang lelaki memberi petunjuk arah kepada ketiga lelaki asing itu.

"Terima kasih," berkata salah seorang dari ketiga orang asing itu sambil menyelipkan sebuah uang logam perak ke tangan orang yang telah memberikannya petunjuk arah.

Terlihat ketiga orang asing itu telah berjalan sesuai petunjuk arah yang disampaikan oleh seorang lelaki yang mengiringinya dengan pandangan matanya.

"Mimpi apa aku semalam, masih pagi sudah dapat setengah karung beras," berkata lelaki itu sambil memandang uang logam perak di tangannya.

Sementara itu, ketiga orang asing itu telah melihat sebuah rumah panggung besar menghadap ke arah sungai Brantas, di belakangnya berjejer puluhan barak prajurit.

"Mungkin rumah panggung itulah yang dimaksud," berkata salah seorang di antara mereka yang nampaknya sangat berpengaruh terlihat dari sikap kedua orang yang bersamanya seperti sikap seorang bawahan kepada atasannya.

Ketiga orang asing itu pun terlihat mendekati rumah panggung besar itu, beberapa orang prajurit yang bersimpangan dengan mereka hanya melihat selintas. Kedatangan orang asing memang bukan sebuah pemandangan baru.

"Apakah aku berhadapan dengan Senapati Agung bernama Raden Wijaya?" berkata salah seorang dari ketiga orang asing yang paling berpengaruh ketika sudah naik ke atas pendapa Balai Tamu.

"Tuan tidak salah menyebut nama, hanya orang dimaksudkan adalah di sebelahku ini," berkata Kebo Arema yang saat itu ada bersama Raden Wijaya dan Ranggalawe.

"Ternyata Senapati Agung Raden Wijaya masih begitu muda, salam hormat dari kami," berkata lelaki itu sambil menjura penuh hormat kepada Raden Wijaya. Kedua orang yang mengiringi juga ikut memberi hormat.

"Pasti ada sebuah kepentingan besar yang membawa langkah kaki tuan hingga sampai di rumah ini," berkata Raden Wijaya kepada lelaki itu.

"Kami berasal dari kerajaan pusat bumi, memang ada kepentingan besar hingga kami harus menempuh perjalanan yang panjang ini," berkata lelaki itu.

"Aku sering mendengar kerajaan pusat bumi, sebuah kerajaan besar yang saat ini telah hampir menguasai separuh daratan bumi," berkata Raden Wijaya kepada lelaki itu.

"Ternyata pengetahuan tuan Senapati begitu luas," berkata lelaki asing itu mengagumi pengetahuan Raden Wijaya.

"Penguasa kerajaan pusat bumi itu menjuluki dirinya sendiri sebagai manusia terakhir dari khannya, Kaisar Kubilai Khan," berkata Raden Wijaya kepada lelaki asing itu yang diam-diam mengagumi pengetahuan senapati muda dihadapannya yang sangat luas.

"Ditempat yang begitu jauh ini ada orang yang dapat menyebut gelar kaisarku dengan benar, sebagai tanda sudah begitu besarnya nama dan keagungannya. Atas kehendaknya, Kaisar Agung Kubilai Khan mengutus aku datang ke bumi tuan," berkata lelaki asing itu sambil mengeluarkan sebuah kayu hitam bersimbol ukiran emas dua naga sebagai pertanda diri utusan resmi dari Kaisar Kubilai Khan.

"Ternyata aku berhadapan dengan utusan resmi Kaisar Kubilai Khan yang namanya sudah sampai menjungjung ke langit bumi," berkata Raden Wijaya kepada orang asing itu yang tersenyum mendengar Raden Wijaya memuji Kaisarnya.

"Aku yang rendah ini hanya seorang utusan, perkenalkan namaku Mengki," berkata orang asing itu yang memperkenalkan dirinya bernama Mengki tanpa memperkenalkan kedua orang yang menemaninya.

"Utusan Kaisar sama derajatnya menghadap kaisar itu sendiri, maafkan bila kami tidak berlaku hormat kepada utusan Kaisar Kubilai Khan," berkata Raden Wijaya sambil menjura penuh hormat kepada Mengki yang ternyata adalah seorang utusan Kaisar Kubilai Khan, sebuah nama yang saat itu sangat menggetarkan hati para raja-raja di dunia.

Hampir separuh dunia telah ditaklukkan oleh pasukannya yang terkenal kuat dan sangat berani di segala medan pertempuran. Pasukan Burma dengan pasukan gajahnya pernah hancur lebur luluh lantak dihancurkan oleh pasukan Kubilai Khan.

Raden Wijaya memperkenalkan Rangga Lawe kepada tamunya itu. "Perkenalkan pamanku dan saudaraku," berkata Raden Wijaya memperkenalkan Kebo Arema dan Rangga Lawe yang menemaninya di pendapa Balai Tamu.

"Aku mendapat kabar bahwa tuan Senapati adalah orang yang paling dekat dan dipercaya oleh Maharaja Singasari, untuk itulah aku datang menghadap tuan Senapati," berkata Mengki menyampaikan maksud dan tujuannya menemui Raden Wijaya.

"Bila itu tujuannya, aku dapat mengantar tuan Mengki menghadap Sri Baginda Maharaja Singasari," berkata Raden Wijaya.

"Aku tidak akan melupakan kebaikan tuan Senapati," berkata Mengki kepada Raden Wijaya.

"Apakah aku boleh mengetahui, apa yang akan tuan sampaikan ke hadapan Sri Baginda Maharaja Singasari?" berkata dan bertanya Raden Wijaya kepada Mengki.

Terlihat Mengki menarik nafas panjang, sepertinya tengah mencari sebuah kata-kata yang tepat yang akan disampaikan untuk menjawab pertanyaan dari Raden Wijaya.

"Sudah hampir separuh dunia telah tunduk patuh kepada Kaisar Agung Kubilai Khan, hampir seluruh raja-raja di separuh dunia ini setiap tahunnya mengirim upeti sebagai tanda bergabung di bawah panji kebesaran Kaisar Mongolia yang dipertuan agung Kubilai Khan," berkata Mengki berhenti sebentar memandang Raden Wijaya, Kebo Arema, dan Ranggalawe menilik sejauh mana tanggapan mereka terhadap apa yang disampaikannya.

Ternyata tidak ada perubahan apapun di wajah ketiga orang itu dalam pandangan Mengki.

"Kami pun bermaksud membawa Kerajaan Singasari, penguasa Selat Malaka, Tanjungpura, Celebes sampai ke Tanah Gurun untuk bergabung di bawah panji kebesaran Kaisar yang dipertuan Agung Kubilai Khan," berkata Mengki sambil memandang Raden Wijaya penuh harap Senapati muda ini tidak merasa terusik atas apa yang telah disampaikannya dengan bahasa yang sangat halus.

"Kami paham apa yang akan tuan sampaikan kepada Sri Baginda Maharaja Singasari. Bahasa tuan begitu lembut, semoga Sri Baginda Maharaja Singasari dapat memahami dan dapat berpikir jernih memberikan keputusannya," berkata Raden Wijaya kepada Mengki yang sepertinya dapat membaca apa yang ada di dalam pikiran utusan Kubilai Khan ini.

"Terima kasih atas pemahamannya, aku hanya sebatas seorang utusan yang wajib menjalankan tugas ini," berkata Mengki kepada Raden Wijaya yang diam-diam mengagumi ketenangan dan cara berpikir Senapati muda dihadapannya itu.

"Kami akan membantu membawa tuan kepada Sri Maharaja Singasari," berkata Raden Wijaya kepada Mengki.

"Terima kasih tak terhingga, semoga jalan terang selalu menaungi tuan Senapati," berkata Mengki sambil menjura penuh rasa terima kasih.

"Besok kita berangkat, aku dan Paman Kebo Arema akan mengantar kalian," berkata Raden Wijaya kepada Mengki dan Kebo Arema.

Kebo Arema tercenung sejenak, namun akhirnya memahami kenapa dirinya diajak serta ke Kotaraja.

"Perlu pengorbanan yang besar, bayarannya adalah harga diri Sri Baginda Maharaja Kertanegara. Mudah-mudahan kehadiranku di Kotaraja dapat membantunya lebih jernih untuk mengambil sebuah keputusan," berkata Kebo Arema dalam hati sambil menganggukkan kepalanya kepada Raden Wijaya sebagai tanda persetujuannya ikut bersama ke Kotaraja.

"Sudah lama aku tidak mengunjungi Kotaraja," berkata Rangga Lawe kepada Raden Wijaya.

"Bila saja ini perjalanan pesiar, aku pasti mengajakmu," berkata Raden Wijaya sambil tersenyum kepada Rangga Lawe.

"Siap menjalankan tugas, mewakili Senapati Agung di Balai Tamu," berkata Rangga Lawe dengan sikap tegak hormat sebagaimana seorang prajurit rendah menghadap perwiranya.

"Bila ada tamu asing, katakan dirimu sebagai Senapati agung. Aku tidak akan menghukummu," berkata Raden Wijaya menanggapi canda Rangga Lawe.

Pembicaraan mereka terhenti manakala dari balik pintu pendapa keluar pelayan tua sambil membawa beberapa hidangan.

"Mudah-mudahan hidangan ini berkenan di lidah tuan-tuan," berkata Raden Wijaya mempersilahkan tamunya.

"Yang paling susah adalah menyamakan perasaan hati, sementara lidah sangat bergantung kepada keadaan dan suasana hati," berkata Mengki sambil mengisi mangkuknya dengan nasi putih yang masih hangat.

"Kadang perasaan hati dapat berubah seiring dengan keadaan dan suasana yang berubah," berkata Raden Wijaya sambil ikut memenuhi mangkuknya.

"Ternyata orang Mongol dan orang Jawa punya cara yang sama, makan dengan tangannya," berkata Mengki ketika melihat Raden Wijaya tengah menyuap sejumput nasi dengan tangannya.

"Apakah ada orang yang memakan tidak dengan tangannya?" bertanya Rangga Lawe kepada Mengki.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment