Chapter 02
"Orang Cina Tembok Besar memakan apa pun dengan dua sumpit kayunya," berkata Mengki kepada Rangga Lawe.
"Kudengar Kaisar Kubilai Khan sangat membenci orang Cina; tak satu pun pejabatnya berasal dari bangsa Cina," berkata Raden Wijaya yang sering mendengar banyak cerita dari para saudagar besar yang sering datang dan berhubungan dengannya.
"Bangsa Cina sering menyebut kami sebagai bangsa liar tidak beradab, tetapi bukan itu yang menyebabkan Kaisar kami membenci orang Cina. Ada seorang pejabatnya yang berasal dari bangsa Cina yang diam-diam telah mengkhianatinya," berkata Mengki memberikan penjelasannya.
"Aku mulai banyak mengenal bangsamu, sekelompok orang yang punya cita-cita dan semangat tinggi, dan Kaisarmu telah mampu menghimpunnya dalam sebuah kesetiakawanan yang kuat," berkata Raden Wijaya kepada Mengki.
"Seperti semut hitam berbagi rasa dan kesetiaan," berkata Kebo Arema ikut memberikan tanggapannya.
Ternyata pembicaraan mereka yang panjang telah mengikat mereka untuk saling mengenal dan saling menghargai.
"Kalian baru saja tiba dari perjalanan yang jauh, beristirahatlah," berkata Raden Wijaya kepada Mengki, mempersilakan Mengki dan dua orang yang bersamanya untuk beristirahat.
Terlihat seorang pelayan tua mengantar mereka ke tempat yang biasa digunakan untuk para tamu yang datang dari tempat yang jauh untuk bermalam.
"Mudah-mudahan Sri Baginda Maharaja dapat berpikir jernih, membuat keputusan dengan bijaksana," berkata Kebo Arema kepada Raden Wijaya ketika Mengki dan pengiringnya sudah meninggalkan pendapa Balai Tamu.
"Mengakui kebesaran Kaisar Kubilai Khan berarti hilangnya sebuah harga diri bangsa. Sementara itu, bila menolaknya, kita akan berhadapan dengan sebuah kekuatan besar, sebuah peperangan besar," berkata Raden Wijaya menyampaikan pandangannya.
"Bila kamu adalah Sri Baginda Maharaja, apa yang akan kamu putuskan?" bertanya Kebo Arema kepada Raden Wijaya.
Raden Wijaya tidak langsung menjawab, terlihat menarik napas panjang untuk mencoba mendengar sendiri kata hatinya.
"Apa artinya sebuah harga diri bila harus dibayar dengan banyak darah? Sementara sebuah upeti tidak akan membuat kita jatuh miskin," berkata Raden Wijaya berbicara mengikuti perasaan hatinya.
"Ternyata kita punya perasaan dan pemikiran yang sama," berkata Kebo Arema menanggapi pernyataan Raden Wijaya.
"Mudah-mudahan Sri Baginda Maharaja mempunyai perasaan dan pemikiran yang sama juga," berkata Raden Wijaya dengan wajah penuh harap. "Bagaimana dengan dirimu, Rangga Lawe?" bertanya Kebo Arema kepada Rangga Lawe yang sejak tadi hanya banyak mendengar.
Terlihat Rangga Lawe layaknya seorang pemikir berat, lama sekali berpikir sambil memandang kapal layar besar jung Singasari yang tengah bersandar di dermaganya.
"Angkatan perang laut kita begitu kuat, prajurit kita tidak pernah terkalahkan. Apa yang harus kita takutkan dari mereka?" berkata Rangga Lawe memberikan tanggapannya.
"Aku tidak menyalahkan pendapatmu, yang kukhawatirkan adalah bahwa Sri Baginda Maharaja mempunyai pikiran yang sama denganmu," berkata Kebo Arema.
"Paman Kebo Arema terlalu berputar-putar, katakan saja bahwa pendapatku berseberangan," berkata Rangga Lawe.
Terlihat Kebo Arema tersenyum mendengar pernyataan langsung dari Rangga Lawe. Diam-diam memahami watak dan pembawaan anak muda di hadapannya itu yang polos dan tidak mengenal tedeng aling-aling, apa yang dirasakan dan dipikirkan langsung diucapkan.
"Anak muda ini berbeda sekali dengan Raden Wijaya, apalagi bila disandingkan dengan Mahesa Amping. Tetapi justru perbedaan itulah yang mengikat persahabatan mereka bertiga," berkata Kebo Arema dalam hati.
"Kekuatan angkatan perang laut kita memang kuat, prajurit kita punya pengalaman bertempur yang tangguh. Yang belum kita miliki adalah keyakinan, apakah ada kesetiaan di antara para raja di seluruh Singasari Raya?" berkata Kebo Arema kepada Rangga Lawe.
Terlihat Rangga Lawe dan Raden Wijaya tercenung sebentar, membenarkan pandangan Kebo Arema.
"Mengalah bukan kalah, dan tidak semua masalah harus diselesaikan dengan sebuah peperangan," berkata Kebo Arema kepada Raden Wijaya dan Rangga Lawe yang tampaknya menerima pandangan Kebo Arema.
Sementara itu, matahari di ufuk barat sudah mulai tergelincir, terpotong setengahnya mengintip di ujung tepian bumi. Angin deras bertiup meliuk-liuk daun dan ranting pepohonan yang tumbuh di sekitar Rumah Balai Tamu. Terlihat seorang pelayan tua keluar dari Rumah Balai Tamu lewat pintu butulan. Tidak seorang pun yang memedulikan orang tua yang sudah lama bekerja melayani penghuni Rumah Balai Tamu. Orang tua yang rambut kepalanya sudah memutih itu terus berjalan ke arah sebuah dusun terdekat yang tidak jauh dari Bandar Cangu.
"Lama sekali Ki Widura tidak datang ke gubukku," berkata seorang lelaki yang terlihat seumuran dengan pelayan tua yang dipanggil Ki Widura oleh pemilik rumah itu. "Pasti ada hal penting yang kamu bawa," lanjut lelaki itu ketika Ki Widura sudah duduk di bale-bale rumahnya.
"Kabar yang kubawa ini mungkin dapat membangunkan orang-orang Kediri yang masih setia kepada Raja dan keturunannya," berkata Ki Widura berhenti sebentar mengatur napasnya.
Terlihat lelaki tua itu memperbaiki duduknya mendengar perkataan Ki Widura, sepertinya takut ada yang tertinggal.
"Di Balai Tamu saat ini ada kedatangan tamu penting. Mereka adalah utusan langsung dari Kaisar Kubilai Khan, penguasa besar pemilik separuh bumi ini yang mempunyai pasukan kuda yang kuat, yang membawa guntur dalam setiap peperangannya," berkata Ki Widura kepada lelaki di hadapannya.
"Dari mana Ki Widura mendapatkan keterangan itu?" bertanya lelaki itu kepada Ki Widura.
"Aku mendapatkan semua itu langsung dari dua orang budak utusan itu. Dikatakan juga bahwa Singasari akan dibakar habis bila tidak mengakui kebesaran Kaisar Agung Kubilai Khan," berkata Ki Widura kepada lelaki itu.
"Aku belum dapat menangkap hubungan utusan itu dengan kepentingan kita," berkata lelaki itu kepada Ki Widura.
"Kita bunuh utusan itu. Kematian utusan itu akan menjadi api kemarahan Kaisar Kubilai Khan," berkata Ki Widura kepada lelaki itu.
"Ternyata uban di kepalamu tidak merapuhkan otakmu. Aku akan menyampaikan hal ini kepada kawan-kawan kita," berkata lelaki itu kepada Ki Widura.
"Hari sudah mulai gelap, aku kembali ke Balai Tamu," berkata Ki Widura sambil beranjak turun dari bale-bale bambu.
"Malam ini juga aku akan menyampaikan keteranganmu kepada kawan-kawan kita," berkata lelaki itu sambil mengantar Ki Widura yang akan kembali ke Rumah Balai Tamu, tempat di mana dirinya bertugas sebagai seorang pelayan.
Tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa jauh di kehidupannya adalah sebagai seorang abdi dalem istana Kediri yang setia kepada Raja Kertajasa dan keturunannya.
"Dari mana saja, Pak Tua?" bertanya seorang prajurit yang mengenalnya ketika Ki Widura sudah sampai di Rumah Balai Tamu.
"Mengantar sedikit makanan untuk keponakanku di Dusun Ceger," berkata Ki Widura sambil tersenyum ramah.
Terlihat Ki Widura telah masuk kembali ke Rumah Balai Tamu lewat pintu butulan.
Sementara itu, hari memang sudah jatuh malam, terlihat dua ekor kuda melesat di kegelapan malam.
"Besok mereka baru berangkat, kita harus mendahului mereka tiba di Kotaraja," berkata seorang lelaki kepada temannya sambil menghentakkan kakinya ke perut kudanya agar berlari lebih cepat lagi.
Malam itu, jalanan antara Bandar Cangu dan Kotaraja memang sudah terlihat begitu sepi. Para saudagar lebih banyak memilih perjalanan siang. Bukan karena takut adanya perampokan, yang mereka takutkan adalah masih banyak binatang buas berkeliaran di malam hari, terutama di jalan yang membelah hutan yang harus mereka lalui. Tetapi kedua penunggang itu sepertinya tidak menghiraukan apa pun, apalagi hanya binatang buas seperti harimau dan serigala. Keduanya hanya takut bila sampai terlambat memasuki Kotaraja.
Sukar sekali mencirikan kedua penunggang kuda itu yang melarikan kudanya seperti angin. Kegelapan malam mengaburkan wajah mereka. Ketika menemui jalan yang membelah hutan, justru mereka memperlambat laju kudanya. Terlihat keduanya turun melompat dari punggung kudanya. Hutan di kiri-kanan jalan itu telah membuat suasana malam menjadi begitu pekat. Terlihat kedua orang itu menuntun kudanya ke arah parit kecil yang mengalir membelah jalan. Dibiarkan kuda-kuda mereka memuaskan dahaganya di parit kecil yang berair jernih, memercik batu-batu kecil.
Tidak lama kemudian mereka telah berada di punggung kuda kembali. Awalnya perlahan, tetapi kemudian kembali terdengar suara ringkik kuda yang kaget merasakan perutnya dihentakkan oleh kaki tuannya, langsung berlari kencang. Kembali dua ekor kuda seperti berpacu membelah angin malam di dalam kepekatan hutan. Suara derap langkah kaki kuda memecahkan kesunyian malam yang dingin di jalan yang terus menanjak.
Kabut menutupi gerbang Kotaraja Singasari di malam yang sudah menjadi tua, tetapi masih jauh datangnya pagi. Terlihat dua orang berkuda telah memasuki gerbang kota, berjalan perlahan menapaki jalan Kotaraja yang lengang. Di bawah naungan langit malam di jalan Kotaraja, wajah kedua penunggang kuda itu mulai dapat terlihat jelas.
Penunggang pertama bertubuh tinggi kekar. Wajahnya terlihat kaku dan keras dengan tulang rahang yang tampak menonjol. Melihat dari wajahnya, dapat diperkirakan sebagai lelaki yang sudah tidak muda lagi, tetapi tidak juga dikatakan sudah tua. Sementara itu, penunggang kedua bertubuh pendek dan kekar. Wajahnya bulat dengan kening agak lebar. Rambut sebelah depan sudah terlihat menipis, hanya bagian bawahnya yang masih tampak lebat. Terlihat kedua orang itu memasuki sebuah rumah besar di pinggir jalan, tampaknya sebuah rumah pejabat kerajaan dengan empat pilar kayu tinggi berukir menyangga pendapa rumahnya.
"Siapa?" berkata seorang penjaga yang mengintip dari regol pintu gerbang halaman muka rumah itu.