Chapter 03
"Aku Prastaka," kata seorang yang bertubuh pendek dan kekar kepada penjaga itu.
Rupanya penjaga itu cukup mengenali suara orang yang menyebut dirinya Prastaka, maka segera membuka palang pintu gerbang.
"Bangunkan tuanmu. Bila dia marah, katakan bahwa ini sangat penting sekali," kata Prastaka ketika sudah masuk ke dalam rumah itu kepada seorang penjaga.
Sepertinya Prastaka sudah cukup sering datang ke rumah itu.
Terlihat Prastaka dan kawannya tengah mengikat kuda mereka di sebuah dahan pohon kweni yang ada di sebelah pendapa dan langsung menaiki anak tangga pendapa yang hanya diterangi cahaya pelita di dua sudut pendapa yang sudah semakin meredup, menyisakan sedikit minyak buah jarak.
Terdengar derit suara pintu ditarik; pintu utama pendapa terkuak lebar.
Keluar dari pintu itu seorang lelaki dengan wajah cukup bersih.
Kerut-kerut di dahi dan di bawah matanya menandakan usianya yang sudah cukup tua.
"Ternyata kamu, Prastaka," kata lelaki itu menyapa tamunya.
"Pasti ada sesuatu yang sangat penting sekali hingga tidak bisa diundur menunggu pagi," kata lelaki itu kembali, sedikit menyinggung Prastaka yang telah membangunkan tidurnya.
"Maafkan aku, Malendra. Urusan yang kubawa ini memang tidak bisa menunggu pagi," kata Prastaka kepada lelaki yang dipanggilnya Malendra, yang ternyata adalah seorang pejabat kerajaan yang bertugas menerima pajak dan upeti kerajaan.
Maka Prastaka langsung menyampaikan urusannya yang dikatakan sangat penting itu kepada Malendra.
"Membunuh utusan Kaisar Kubilai Khan?" kata Malendra setelah mendengar penjelasan Prastaka mengenai urusan yang sangat penting itu.
"Kita hancurkan Kerajaan Tumapel ini lewat kekuatan lain," kata Prastaka yang enggan menyebut Singasari tapi masih tetap mengatakan Kerajaan Tumapel kepada Malendra.
"Apakah sudah disiapkan orang yang mampu melakukan tugas pembunuhan itu?" tanya Malendra kepada Prastaka.
"Ki Ambeg Kulon bersedia menjalankan tugas itu," kata Prastaka sambil menunjuk kawan di sebelahnya yang disebutnya Ki Ambeg Kulon.
Malendra memperhatikan Ki Ambeg Kulon dari bawah sampai ke atas kepala, namun ketika bertemu pandang mata Ki Ambeg Kulon, terkesiap Malendra merasa ngeri karena membentur sebuah tatapan mata yang tajam dan dingin.
Seketika Malendra melemparkan pandangannya menghindari tatapan mata Ki Ambeg Kulon.
Prastaka tersenyum melihat ada rasa gentar Malendra kepada Ki Ambeg Kulon, orang yang tidak diragukan lagi dan sudah dikenalnya sebagai seorang pembunuh bayaran yang tidak pernah gagal menjalankan tugasnya, dan memang mempunyai tatapan mata yang dingin, memandang nyawa manusia senilai harga upah yang diterima.
"Junjungan kita Raja Jayakatwang akan merasa bangga bila urusan kita ini berhasil," kata Prastaka kepada Malendra.
"Bantuan apa yang kamu inginkan dariku?" tanya Malendra yang sebenarnya sudah merasakan kehidupan yang tenang sebagai pejabat kerajaan dan menganggap kelompok perjuangan orang-orang yang masih setia kepada Raja Kertajasa dan keturunannya hanya sebagai kecemburuan nasib.
Sebagai orang asli dari tanah Kediri yang hidup di Kotaraja, dirinya tidak merasakan adanya perbedaan.
Sebagai pejabat kerajaan, dirinya melihat bahwa Sri Maharaja Singasari tidak pernah membedakan orang Tumapel dan orang Kediri.
Tapi di hadapan Prastaka, dirinya tidak bisa menolak. Kawannya inilah yang membawanya kepada Raja Jayakatwang untuk dijadikan kaki tangannya di Istana Singasari.
"Aku ingin kamu menyusupkan Ki Ambeg Kulon ke dalam istana," kata Prastaka kepada Malendra.
Perkataan Prastaka dirasakan sebagai todongan pedang panjang menempel di lehernya. Malendra seperti tidak ada daya dan kekuatan apa pun untuk mengatakan "tidak." Bahkan, secara tidak sadar, dirinya berucap berbeda dari keinginan hatinya.
"Besok pagi kubawa kawanmu ini ke istana. Kudengar ada seorang pengalasan yang sudah cukup tua untuk digantikan," kata Malendra kepada Prastaka.
"Tidak sia-sia kubawa dirimu ke Istana Tumapel ini," kata Prastaka kepada Malendra.
Pembicaraan mereka terhenti ketika seorang pelayan perempuan tua datang membawa hidangan pagi yang hangat.
Di luar rumah Malendra yang besar dan megah, langit memang sudah mulai berwarna kemerahan sebagai tanda sebentar lagi sang fajar akan datang mewarnai wajah pagi di bumi.
Sementara itu, di Bandar Cangu pada waktu yang sama, terlihat lima ekor kuda perlahan meninggalkan Bandar Cangu. Mereka adalah Raden Wijaya, Kebo Arema, Mengki, dan dua orang budaknya.
Mereka tengah melakukan perjalanan menuju Kotaraja.
"Aku terlahir di bumi yang tandus. Siang hari panas begitu mencekam membakar kulit, sementara bila malam datang, angin dingin seperti menjerat sekujur tubuh. Di sini aku seperti melihat surga ada di sepanjang mata memandang," kata Mengki kepada Raden Wijaya dengan wajah penuh kegembiraan melihat pemandangan alam di sekitarnya: sawah ladang, lereng, dan bukit yang hijau sejauh pandangan mata.
"Keindahan yang kita lihat tergantung perasaan hati. Kadang, di sebuah tempat yang gersang sekalipun, akan menjadi suasana yang indah manakala perasaan hati penuh kebahagiaan," kata Raden Wijaya kepada Mengki yang beriring berkuda bersamanya.
Dan matahari sepertinya mengikuti mereka melewati batang-batang pohon di sepanjang perjalanan.
Kadang, di perjalanan, mereka bersisipan dengan para pedagang yang tengah membawa barang dengan kereta kuda menuju arah Bandar Cangu.
Atau kadang juga melewati kereta barang yang sarat muatan menuju Kotaraja.
Mereka memang tidak memacu kuda mereka berlari; sepertinya mereka tidak berpacu dengan waktu dan membiarkan kuda mereka berjalan setengah berlari.
Kita tinggalkan dulu perjalanan Raden Wijaya dan Kebo Arema yang tengah mengantar utusan Kaisar Kubilai Khan menuju Kotaraja. Seiring waktu yang sama, di Kotaraja terlihat Malendra dan Ki Ambeg Kulon tengah memasuki gerbang istana.
Terlihat dua orang prajurit pengawal istana membiarkan Malendra yang sudah mereka kenal membawa seorang asing bersamanya.
Kedua prajurit itu mungkin berpikiran sama bahwa Malendra membawa saudara atau kerabatnya untuk suatu urusan di istana.
"Sebelumnya kami ke rumah Kangmas Gontar, tapi orang di rumah mengatakan Kangmas Gontar sudah berangkat ke istana," kata Malendra kepada kawannya yang dipanggilnya Kangmas Gontar.
"Pasti ada urusan penting hingga Dimas Malendra datang ke rumahku," kata lelaki yang bernama Gontar itu kepada Malendra.
"Aku mendapat kabar bahwa di istana ini membutuhkan seorang pengalasan. Aku membawa saudaraku ini. Mudah-mudahan Kangmas Gontar dapat mempekerjakannya," kata Malendra kepada Gontar yang ternyata adalah pejabat istana yang bertugas mengatur segala urusan rumah tangga istana.
"Benar, kami membutuhkan seorang pengalasan untuk menggantikan Ki Broto yang sudah tua. Apakah ini saudaramu?" tanya Gontar kepada Malendra.
"Benar, saudara dari istriku," kata Malendra kepada Gontar, memperkenalkan Ki Ambeg Kulon.
"Aku terima saudaramu ini. Mari ikut bersamaku ke tempat Ki Broto untuk mengetahui tugas-tugas pengalasan istana," kata Gontar kepada Malendra.
"Terima kasih, Kangmas Gontar. Aku berharap saudaraku ini secepatnya dapat belajar dari Ki Broto," kata Malendra kepada Gontar yang terlihat melangkah pergi membawa Ki Ambeg Kulon menemui Ki Broto, seorang pengalasan istana yang sebentar lagi akan purnabakti kembali ke kampung halamannya.
Sementara itu, pada waktu yang sama, Raden Wijaya dan rombongannya masih dalam perjalanan menuju Kotaraja.
Setengah berlari mereka memacu kuda mereka di atas tanah keras berdebu.
Ketika matahari sudah berada di atas kepala, mereka berhenti sebentar di sebuah kedai sekadar melepas penat dan mengistirahatkan kuda-kuda mereka.
Hanya sebentar, tidak lama kemudian terlihat mereka sudah keluar dari kedai untuk melanjutkan perjalanan kembali.
"Kotaraja Singasari sudah semakin dekat," kata Raden Wijaya kepada Mengki ketika jalan yang mereka lalui terus menanjak, kadang berkelok mengitari perbukitan.
Kita kembali lagi ke Istana Kotaraja. Di sebuah Pasanggrahan Kaputrian, terlihat dua orang lelaki tengah membongkar sebuah rumpun pohon pinang merah.
Ternyata mereka adalah dua orang pengalasan yang sedang bekerja. Terlihat seorang di antaranya sudah begitu tua dengan warna rambut sudah merata putih memenuhi kepalanya, terlihat di antara ikatan kain kepalanya.
Kawan pengalasan yang tua itu ternyata adalah Ki Ambeg Kulon yang mulai hari itu juga sudah diterima bekerja di istana sebagai seorang pengalasan.
"Memindahkan anak pohon pinang tidak bisa langsung; kita harus menyapihnya terlebih dahulu beberapa hari," kata pengalasan tua itu kepada Ki Ambeg Kulon.
"Kukira hanya anak bayi saja yang disapih dari ibunya," kata Ki Ambeg Kulon dengan wajah bosan mendengar uraian pengalasan tua tentang berbagai tanaman.
"Merawat tanaman memang tidak ubahnya dengan merawat seorang bayi; harus penuh hati-hati dan penuh kasih sayang," kata pengalasan tua itu kepada Ki Ambeg Kulon.
"Ternyata tanaman juga perlu kasih sayang, tidak sekadar disiram?" kata Ki Ambeg Kulon menahan kekesalannya.
"Kamu benar, tanaman seperti berjiwa. Tidak semua orang dapat memelihara tanaman. Hanya orang bertangan dingin saja yang dapat memelihara tanaman terus hidup, subur, dan berkembang," kata pengalasan tua itu kepada Ki Ambeg Kulon.
"Ternyata aku jodoh bekerja sebagai pengalasan. Hampir semua orang yang mengenalku mengatakan aku ini berdarah dingin," kata Ki Ambeg Kulon asal bicara untuk melepas kejemuannya.
Pengalasan tua itu terlihat tertawa mendengar ucapan Ki Ambeg Kulon sambil memandang Ki Ambeg Kulon dari bawah sampai ke kepala.
"Bila kamu berdarah dingin, harusnya kamu membegal atau menjadi pembunuh bayaran, bukan bekerja di sini sebagai juru pengalasan," kata pengalasan tua itu sambil tertawa lama hingga sampai mengeluarkan air mata.