Chapter 04
Sementara itu, di waktu yang sama dan di tempat yang berbeda, Raden Wijaya dan rombongannya telah memasuki sebuah kawasan jalan yang dipenuhi hutan di kanan dan kirinya.
"Beri kesempatan kuda-kuda kita menghilangkan dahaganya dengan minum air segar," kata Kebo Arema sambil melompat dari punggung kudanya. Ia menuntun kudanya menuju ke sebuah parit kecil yang membelah jalan yang diteduhi hutan lebat.
Terlihat semua mengikuti Kebo Arema, menuntun kuda mereka dan membiarkannya meminum air segar yang mengalir jernih di atas batu-batu kecil.
Suasana jalan itu sendiri terasa begitu teduh karena tertutup hutan yang rapat dengan banyak pohon besar yang menutupi langit di atas jalan. Hal itu memaksa siapa pun untuk beristirahat lama, bahkan dapat terkantuk-kantuk menikmati sejuknya semilir angin yang berembus.
"Mari kita lanjutkan perjalanan kita," kata Raden Wijaya sambil tersenyum melihat dua orang budak Mengki hampir pulas berbaring bersandar di sebuah batang pohon besar.
"Kita sampai di Kotaraja sebelum senja," kata Kebo Arema kepada Mengki sambil melompat ke atas punggung kudanya untuk melanjutkan perjalanan.
Senja memang masih perlu waktu yang panjang untuk mendatangi bumi. Di atas langit jalan menuju Kotaraja, juga di atas langit istana Singasari yang megah, dipenuhi taman yang indah dan terpelihara.
Terlihat dua orang lelaki tengah berjalan dari arah Pasanggrahan Kaputrian menuju Pasanggrahan Sentanu, sebuah pasanggrahan yang baru dipugar dan diperbarui sebagai tempat beristirahat para tamu serta kerabat keluarga istana yang datang dari tempat jauh.
"Hanya di dua tempat ini tugas dan tanggung jawab kita: taman yang ada di Pasanggrahan Kaputrian dan Pasanggrahan Sentanu," kata pangalasan tua kepada Ki Ambeg Kulon ketika mereka tiba di Pasanggrahan Sentanu.
"Sebuah patung yang indah," ujar Ki Ambeg Kulon ketika pandangannya menyapu seisi halaman yang cukup luas dan dibatasi oleh dinding batu. Sebuah patung orang berkuda terlihat berdiri di tengah-tengah halaman.
"Itulah patung pahlawan Mahesa Agni. Di pasanggrahan inilah beliau pernah tinggal," kata pangalasan tua itu kepada Ki Ambeg Kulon.
Pangalasan tua itu pun memberi perintah tentang apa yang harus dilakukan di taman halaman Pasanggrahan Sentanu. Terlihat kedua orang ini telah bekerja membersihkan beberapa daun yang berserakan, menyiram tanaman bunga, serta menggemburkan tanahnya.
"Hari sudah mendekati senja," kata pangalasan tua sambil menatap langit tempat matahari sudah mulai tergelincir di ufuk barat bumi.
Di saat itu pula terlihat lima orang berkuda telah tiba di gerbang batas Kotaraja. Mereka adalah Raden Wijaya, Kebo Arema, Mengki, dan dua orang budaknya.
"Sebuah hunian yang cukup ramai," kata Mengki kepada Raden Wijaya ketika kudanya telah memasuki dan menapaki jalan Kotaraja yang masih ramai menjelang senja itu.
Sementara itu di dalam istana, dua orang lelaki tengah berjalan keluar regol halaman pasanggrahan. Mereka adalah Ki Ambek Kulon dan pangalasan tua yang telah menyelesaikan tugasnya dan kembali ke bilik mereka di belakang istana yang disediakan untuk beberapa abdi dalem.
"Bilik ini akan menjadi milikmu," kata pangalasan tua kepada Ki Ambeg Kulon ketika mereka tiba di biliknya.
Ki Ambeg Kulon tidak menjawabnya; ia terlihat menyandarkan dirinya di atas bale-bale bambu. Yang ada di dalam pikirannya adalah gambaran Pasanggrahan Sentanu, tempat utusan Kubilai Khan akan bermalam beberapa hari.
Sementara itu di pintu gerbang depan istana, terlihat lima orang penunggang kuda telah turun dan menuntun kudanya.
"Selamat datang di istana Singasari," kata seorang prajurit yang sudah sangat mengenal Raden Wijaya dan Kebo Arema.
Terlihat Raden Wijaya tengah berbicara kepada seorang kepala prajurit pengawal.
"Antarkan tamu kita ini ke Pasanggrahan Sentanu untuk beristirahat," kata Raden Wijaya kepada kepala prajurit pengawal istana itu.
"Secepatnya akan kuberi kabar kapan saatnya menghadap Sri Baginda Maharaja," kata Raden Wijaya kepada Mengki. Terlihat Mengki dan dua orang pengiringnya telah diantar oleh seorang prajurit ke Pasanggrahan Sentanu.
Sementara itu, Raden Wijaya dan Kebo Arema langsung menuju Pasanggrahan Ratu Anggabhaya.
"Kesibukan kalian membuat jarak Kotaraja dan Bandar Cangu menjadi begitu jauh," kata Ratu Anggabhaya ketika menyambut kedatangan Raden Wijaya dan Kebo Arema bersama Pangeran Lembu Tal.
Seperti biasa, kehadiran Raden Wijaya menjadikan suasana pasanggrahan itu menjadi begitu hangat. Terlihat pelita malam di pendapa agung pasanggrahan terang benderang.
Setelah menyampaikan berita keselamatan masing-masing, Raden Wijaya menjelaskan tentang kehadiran mereka di Kotaraja kepada ayah dan kakeknya.
"Perlu sebuah kebijaksanaan yang luas untuk memutuskannya," kata Ratu Anggabhaya setelah mendengar semua keterangan dari Raden Wijaya tentang kedatangan utusan dari Kerajaan Mongolia.
"Kapan cucunda menghadap Sri Baginda Maharaja?" tanya Ratu Anggabhaya kepada Raden Wijaya.
"Besok pagi cucunda akan menghadap Sri Baginda Maharaja bersama Paman Kebo Arema," jawab Raden Wijaya.
Namun belum habis perkataan Raden Wijaya, terlihat iring-iringan prajurit pengawal istana memasuki regol halaman pasanggrahan. Ternyata para prajurit itu datang bersama Sri Baginda Maharaja Singasari.
"Baru saja cucundaku berkata bahwa besok pagi akan menghadap Tuanku Baginda," kata Ratu Anggabhaya kepada Sri Baginda Maharaja yang telah duduk di pendapa agung bersama mereka.
"Aku melihat ada asap besar di pasanggrahan ini. Pangraitaku mengatakan ada tamu agung yang datang kemari," kata Sri Baginda Maharaja penuh senyum. "Pasti ada kabar sangat penting yang dibawa oleh sepupuku dan pamanku ini," lanjutnya sambil memandang ke arah Raden Wijaya dan Kebo Arema.
Maka dengan singkat Raden Wijaya bercerita tentang maksud dan tujuannya datang ke Kotaraja, terutama perihal kedatangan utusan resmi Kaisar Kubilai Khan.
Suasana di pendapa agung ketika Raden Wijaya menyelesaikan penjelasannya menjadi begitu hening. Semua mata mengarah kepada Sri Baginda Maharaja, sepertinya menunggu sebaris sabda.
Terlihat Sri Baginda Maharaja menarik napas panjang. Pandangannya mengarah kepada Kebo Arema. "Sebelum aku mengambil keputusan, aku ingin mendengar pandangan dari Paman Kebo Arema."
Maka segenap mata kini beralih tertuju kepada Kebo Arema.
"Sebuah kehormatan besar untuk hamba yang bodoh, tuli, papa, dan hina ini, di hadapan junjungan hamba, menghaturkan sebuah kejelian mata. Maka perkataan hamba ini janganlah dicela. Bukanlah kita kawan kaum serigala yang haus akan peperangan, bukanlah kita kawan sekumpulan kelinci yang hanya bisa berlari. Namun, harus dipedulikan nasib para jelata. Pasukan lawan sungguh tak tercela; mereka telah menunjukkan kekuatannya mampu merobohkan tembok besar orang-orang Cina daratan, membantai pasukan gajah prajurit Burma, serta meluluhlantakkan benteng-benteng kota bangsa Arab. Dan mereka selalu membawa guntur dalam setiap peperangannya. Saat ini hampir separuh dunia tunduk di bawah kekuasaannya. Pasukan mereka begitu kuat sebagaimana kuatnya kesetiaan mereka kepada kaisarnya. Sementara itu, kita belum dapat memegang kesetiaan dari para raja sedarah di seluruh Singasari Raya. Mengalah bukan berarti kalah, namun sebuah cara menunggu datangnya saat kemenangan. Demikian kejelian mata hamba yang bodoh ini, mohon Sri Baginda junjungan hamba ampuni tutur kata hamba bila terdengar tercela," kata Kebo Arema menyampaikan pandangannya.
"Yang kutahu, Paman Kebo Arema adalah pemanah ulung, selalu memilih burung terbelakang di sekumpulan barisan burung yang tengah terbang. Jiwa Paman Kebo Arema begitu mengasihi sesama. Kejelian mata Paman Kebo Arema tidak disangsikan lagi, menjadi pegangan jalanku, sumber cahaya penerang hatiku," kata Sri Baginda Maharaja.
Terlihat suasana kembali menjadi begitu hening. Semua mata tertuju kepada Sri Baginda Maharaja menunggu keputusan seorang raja. Sri Baginda Maharaja menyapu pandangannya ke semua orang yang hadir di pendapa agung Pasanggrahan Ratu Anggabhaya, mengerti bahwa semua orang menunggu keputusannya.
Tiba-tiba pandangan mata Sri Baginda Maharaja berhenti tertuju kepada Raden Wijaya.
"Bagaimana pendapatmu wahai sepupuku?" tanya Sri Baginda Maharaja kepada Raden Wijaya.
Maka saat itu juga semua pandangan tertuju kepada Raden Wijaya.
"Pendapatku tidak banyak berbeda sebagaimana pandangan Paman Kebo Arema. Mengakui kebesaran Kaisar Kubilai Khan tidak akan mengurangi nilai martabat diri kita bilamana yang kita berikan hanya sebatas sebuah upeti yang tidak akan mengurangi kekayaan kita. Pada saatnya kita rebut kembali semuanya ketika kita siap memiliki tanduk yang kuat dan sepasang sayap yang kokoh," kata Raden Wijaya memberikan pandangannya.
Kembali semua pandangan tertuju kepada Sri Baginda Maharaja, menantikan sebuah keputusan mengalir dari kata-katanya. Pelita malam yang ada di pendapa agung pasanggrahan itu ikut menerangi hampir semua wajah dalam kesan yang sama: wajah penuh harap dengan garis dahi yang menegang.
Terlihat Sri Baginda Maharaja menyapu pandangannya ke semua orang yang hadir, mengerti bahwa semua orang tengah menunggu keputusannya. Ia hanya tersenyum melihat semua orang di pendapa agung itu menatap wajahnya.
Tiba-tiba pandangan mata Sri Baginda Maharaja berhenti tertuju kepada Ratu Anggabhaya.
"Cinta dan hormatku pada Paman Anggabhaya sebagaimana cinta dan hormatku kepada Ayahandaku. Di hari Maguntur Raya, Paman Anggabhaya selalu hadir menemani Ayahandaku, selalu memberi jalan memecahkan kebuntuan, memberi cahaya di dalam kegelapan."