Chapter 05
"Malam ini keponakanmu meminta kemurahanmu, memberikan sedikit pitutur luhur untuk paugeran hidupku agar keputusanku tidak tercela," berkata Sri Baginda Maharaja dengan penuh hormat sebagai seorang kemenakan kepada pamandanya, Ratu Anggabhaya.
Maka seperti sebelumnya, semua mata beralih ke arah Ratu Anggabhaya.
Ratu Anggabhaya tidak langsung menjawab, terlihat senyum dilemparkannya ke semua orang di pendapa agung itu yang tengah memandangnya.
"Badan dan semangatku sudah semakin rapuh, langkah kakiku tidak lebih jauh berkisar di sekitar Kotaraja. Aku belum tahu betul kekuatan Kerajaan bangsa Mongolia, namun darah yang mengalir di dalam tubuh kita adalah darah para leluhur kita yang tidak pernah gentar menghadapi musuh di mana pun. Diriku tidak pernah takut kepada siapa pun. Hanya satu yang kutakutkan, hujaman pisau dari belakang milik saudara dan kerabat kita sendiri. Wahai kemenakanku Maharaja Singasari yang terkasih, hanya ada satu kebenaran sebelum Baginda membuat sebuah keputusan besar, dengarkanlah kata hatimu. Dia tidak pernah salah menilai apa pun, karena dialah kebenaran hakiki," berkata Ratu Anggabhaya dengan wajah terang penuh senyum.
"Terima kasih wahai Pamanda, nasihat dan pandangan Pamanda akan kupusakai," kata Sri Baginda Maharaja dengan penuh hormat.
Kembali semua pandangan mata beralih ke wajah Sri Baginda Maharaja. Terlihat Baginda Maharaja tersenyum melihat semua wajah memandangnya.
"Besok adalah hari Maguntur Raya, aku ingin mendengar tiga puluh pandangan para pejabat istana. Namun semua yang kudengar malam ini akan menjadi pijakan yang kuat untuk membuat sebuah langkah," berkata Sri Baginda Maharaja dengan wajah penuh senyum. "Aku akan mengabarkan kapan utusan Kaisar Kubilai Khan itu datang menghadap," lanjut Sri Baginda Maharaja.
Sementara itu langit malam sudah terlihat tua, begitu pekat dan senyap mengurung pendapa agung yang masih diterangi pelita malam.
"Masih ada banyak waktu," kata Sri Baginda sambil berdiri untuk berpamitan.
Tidak lama kemudian terlihat iring-iringan pengawal prajurit istana telah keluar dari regol halaman Pasanggrahan Ratu Anggabhaya.
"Semoga Sri Baginda Maharaja dapat mendengarkan kata hatinya," ucap Ratu Anggabhaya sambil mengajak semua yang ada untuk beristirahat.
Sementara itu di Pasanggrahan Sentanu, Mengki dan kedua pengiringnya sudah lama tertidur lelap. Suasana malam di istana Singasari yang sejuk telah membuat mereka seperti dibuai angin surga sejak sore masuk ke peraduan masing-masing. Pasanggrahan Sentanu yang berada di tengah-tengah istana memang tidak dijaga oleh seorang prajurit pengawal, karena penjagaan di sekitar istana dianggap sudah cukup aman. Siapa pun yang bermaksud tidak baik akan berhadapan dengan para prajurit pengawal istana sebelum memasuki area Pasanggrahan Sentanu.
Semakin malam, kabut semakin pekat perlahan turun menyelimuti istana Singasari. Di kegelapan malam, terlihat bayangan melesat mendekati dinding batu Pasanggrahan Sentanu. Perlahan bayangan itu mendekati regol halaman Pasanggrahan Sentanu, merapatkan diri menyatu dengan pagar dinding batu di bagian dalam. Lama bayangan itu tidak bergerak. Keremangan malam melindunginya ketika dua orang prajurit peronda melewati regol pintu halaman pasanggrahan yang sunyi dan terus menjauh meninggalkan Pasanggrahan Sentanu untuk berkeliling ke tempat lain.
Perlahan bayangan itu berendap menyelinap di kerimbunan tanaman bambu kuning di samping sisi bangunan. Lama bayangan itu tidak bergerak, mungkin untuk memastikan apakah keberadaannya masih belum disadari oleh siapa pun. Kabut yang pekat dan dinginnya malam sepertinya bersahabat dengan sosok bayangan yang masih merapat di gerumbul tanaman bambu kuning.
Begitu lama bayangan itu tidak bergerak, menunjukkan sebuah kesabaran dan kehati-hatian luar biasa yang memerlukan keahlian tinggi. Tiada gerak dan tiada terdengar napas sedikit pun. Namun setelah berlangsung cukup lama, tiba-tiba saja bayangan itu bergerak melesat melenting tinggi seperti terbang meloncat ke arah atap bangunan utama Pasanggrahan Sentanu yang gelap dan sunyi. Tanpa suara sedikit pun, bayangan itu telah hinggap di atas atap bangunan utama Pasanggrahan Sentanu.
Perlahan bayangan itu menyibak atap bangunan dengan mudahnya. Masih dalam keadaan merapat pada atap bangunan, wajahnya terlihat mendekati lubang atap yang dibuatnya. Pelita malam di dalam ruangan menyinari wajahnya. Sebuah wajah angker dengan sinar mata yang begitu dingin terlihat jelas. Ternyata bayangan itu adalah Ki Ambeg Kulon, seorang pembunuh bayaran yang tidak pernah gagal menjalankan tugasnya.
"Tugas yang mudah," gumam Ki Ambeg Kulon dalam hati ketika melihat seseorang yang berselimut di atas peraduannya. "Besok pagi di istana ini akan terjadi kehebohan besar, seorang utusan dari kerajaan besar telah mati bersimbah darah," lanjut Ki Ambeg Kulon dalam hati sambil memperlihatkan senyum dingin, senyum yang hanya dimiliki oleh orang berdarah dingin yang membunuh manusia dengan mata terbuka.
Tiba-tiba saja tubuh Ki Ambeg Kulon sudah tidak terlihat lagi, lenyap ditelan atap bangunan. Ternyata Ki Ambeg turun dengan cara meluncur langsung ke bawah dengan begitu ringannya. Tidak ada bunyi sedikit pun ketika kakinya menginjak lantai kamar.
"Orang ini besok tidak lagi menemui pagi," batin Ki Ambeg sambil mengangkat goloknya yang tajam berkilat terkena cahaya pelita malam di kamar itu. Sekilas Ki Ambeg Kulon masih sempat melihat wajah orang yang masih tertidur pulas, yang ternyata adalah Mengki, utusan Kaisar Kubilai Khan.
Golok di tangan Ki Ambeg Kulon meluncur dengan cepat ke arah leher Mengki. Namun apa yang selanjutnya terjadi berada di luar perhitungan Ki Ambeg Kulon. Tiba-tiba saja tubuh Mengki bergeser. Sleb! Golok tajam Ki Ambeg mengenai tempat kosong.
Bukan main kaget dan gusar Ki Ambeg Kulon melihat sasarannya telah bergerak menghindari tebasan goloknya. Namun belum habis rasa kagetnya, sebuah tendangan dari kaki Mengki bergerak dengan cepat langsung tertuju ke arah rusuk Ki Ambeg Kulon.
Buk! Tendangan Mengki langsung mengenai sasaran. Terlihat tubuh Ki Ambeg Kulon limbung menabrak dinding kamar. Terdengar suara keras beberapa barang yang tertabrak tubuh besar Ki Ambeg Kulon.
Malam itu Ki Ambeg Kulon benar-benar salah dugaan. Sasarannya ternyata bukan orang sembarangan. Ternyata Mengki memang sedang menunggu Ki Ambeg Kulon masuk ke kamarnya dengan berpura-pura tidur pulas. Mengki sudah menyadari kehadiran Ki Ambeg Kulon jauh sebelum ia melompat ke atas atap bangunan. Mengki sudah mendengar kehadiran Ki Ambeg Kulon ketika mulai mengendap di dinding dalam dekat regol pintu halaman Pasanggrahan Sentanu.
Dalam waktu singkat, Ki Ambeg Kulon sudah dapat menguasai dirinya. Sementara itu, Mengki dengan tangkas sudah melompat dari peraduannya.
"Aku tidak akan memberikan leherku begitu saja, kawan," kata Mengki kepada Ki Ambeg Kulon yang telah berdiri kembali dengan tangan masih menggenggam golok tajamnya.
"Sebenarnya aku lebih senang membunuh orang dalam keadaan mata terbuka," balas Ki Ambeg Kulon sambil melepaskan sambaran goloknya ke arah dada Mengki.
Mengki yang masih bertangan kosong terlihat bergeser dengan cepat ke samping. Ternyata Mengki tidak hanya menghindar, ia juga membalas menyerang Ki Ambeg Kulon dengan sebuah tendangan tinggi ke arah kepala. Melihat lawannya menghindar dan balas menyerang, Ki Ambeg Kulon dengan tenang memiringkan kepalanya, sementara goloknya bergerak berputar mengejar kaki Mengki yang belum sempat turun.
Luar biasa! Meski kakinya belum menyentuh bumi, kaki yang satunya sudah dapat melakukan tendangan menyerang tangan Ki Ambeg Kulon yang tengah mengayunkan golok. Melihat tangannya akan terkena hantaman kaki Mengki, Ki Ambeg Kulon segera mengubah arah goloknya, berbalik menjemput kaki lawannya.
Mengki tidak membiarkan kakinya menjadi santapan golok lawan, ia dengan cepat menarik kakinya jatuh ke lantai. Kaki yang menginjak lantai itu menjadi tumpuan bagi kaki lainnya untuk melakukan tendangan berputar seperti gasing menerjang bagian bawah Ki Ambeg Kulon.
Demikianlah, Mengki dengan tangan kosong terus bertempur menghadapi Ki Ambeg Kulon yang bersenjata golok di ruang kamar utama yang terbatas itu. Mengki masih dapat mengimbangi serangan golok Ki Ambeg Kulon dengan serangan balasan yang sama berbahayanya.
Brak! Terdengar suara pintu ditabrak dari arah luar, pintu kamar utama pun terbuka. Terlihat dua orang budak Mengki menerobos ke dalam dan langsung mengurung Ki Ambeg Kulon dengan masing-masing menghunus pedang panjang.
"Tempat ini menjadi begitu sempit," kata Ki Ambeg Kulon sambil mengenjot tubuhnya melompat terbang menerobos lewat lubang atap.
"Jangan biarkan orang itu lolos!" teriak Mengki sambil menyambar pedangnya yang tergantung di dinding dan melompat tinggi menyusul Ki Ambeg Kulon lewat atap bangunan.
"Aku belum lari jauh," kata Ki Ambeg Kulon di halaman pasanggrahan sambil bertolak pinggang menanti Mengki yang mengejarnya. Sementara itu, dua orang budak Mengki sudah terlihat keluar dari dalam rumah, langsung turun ke halaman mengepung Ki Ambeg Kulon.
"Pedang-pedang yang bagus," ujar Ki Ambeg Kulon menyeringai memandang tiga orang yang mengepungnya dengan tiga buah pedang terhunus.
"Habisi orang ini!" perintah Mengki memberi aba-aba kepada dua budaknya untuk menyerang Ki Ambeg Kulon secara bersamaan.
Ternyata ilmu pedang kedua budak Mengki ini tidak jauh di bawah majikannya. Terlihat tiga buah pedang seperti berpacu ke arah Ki Ambeg Kulon.