Halo!

Kabut Di Bumi Singosari - Chapter 06

Memuat...
Kabut Di Bumi Singosari

Chapter 06

Tapi ternyata Ki Ambeg Kulon tidak menjadi gentar menghadapi tiga serangan bersamaan itu. Dengan sigap, tubuh Ki Ambeg bergerak menyergap salah seorang budak Mengki yang paling dekat dengannya.

Bukan main kagetnya salah seorang budak Mengki menghadapi sergapan yang tiba-tiba itu. Sementara itu, pedang yang menyerang Ki Ambeg Kulon masih meluncur. Maka, tidak ada jalan lain bagi budak tersebut selain membenturkan pedangnya untuk menangkis serangan Ki Ambeg Kulon.

*Trang!*

Terdengar benturan dua senjata dengan kerasnya. Salah seorang budak itu meringis merasakan tangannya terasa panas dan kesemutan. Untungnya, Mengki dan kawannya telah membantunya menyerang Ki Ambeg Kulon, sehingga dirinya tidak menjadi makanan empuk serangan Ki Ambeg Kulon selanjutnya yang keras dan cepat.

Demikianlah, Ki Ambeg Kulon masih dapat mengimbangi ketiga lawannya meski dengan kerja keras dan kehati-hatian. Sementara itu, langit di atas halaman Pasanggrahan Sentanu telah menjadi begitu suram dan gelap. Keempat orang yang tengah bertempur itu seperti bayangan yang tersamar, saling mengejar, melompat, dan terkadang melenting tinggi.

Puluhan jurus telah terlewati. Mengki dan kedua orang budaknya masih belum dapat melumpuhkan Ki Ambeg Kulon. Sementara itu, keringat sudah mengucur membasahi keempat orang yang tengah bertempur di halaman Pasanggrahan Sentanu tersebut.

"Tangguh benar orang ini," kata Mengki dalam hati sambil melakukan penyerangan bersama kedua orang budaknya.

Kembali Ki Ambeg Kulon dapat keluar dari serangan serentak itu sambil membalas dengan serangan yang tidak kalah berbahayanya. Demikianlah pertempuran itu terus berlangsung dengan serunya; belum ada tanda-tanda siapa yang akan kalah. Ki Ambeg Kulon selalu saja dapat keluar dari setiap kepungan dan membalas menyerang tidak kalah dahsyatnya demi mengimbangi ketiga orang lawannya.

Namun, pada sebuah serangan berikutnya, ketika Ki Ambeg Kulon menghindari sekaligus dua buah pedang dari dua orang budak Mengki yang bersamaan mengincar pinggangnya dari arah kanan dan kiri, ia terpaksa maju selangkah ke depan. Mata Mengki yang tajam melihat kesempatan itu untuk membuat mati langkah Ki Ambeg Kulon.

"Habislah kau sekarang!" teriak Mengki di depan Ki Ambeg Kulon dengan serangan menusuk ke arah jantung.

Bukan main kagetnya Ki Ambeg Kulon melihat pedang Mengki meluncur deras ke arah jantungnya. Darahnya terasa mendesir membayangkan pedang itu menancap tepat di jantungnya, sementara langkah kakinya sudah seperti terkunci. Terlintas di hati Ki Ambeg untuk menggunakan golok yang masih tergenggam erat di tangannya untuk menangkis serangan pedang Mengki, namun kedua orang budak Mengki sudah datang menjepitnya dengan serangan serentak yang mengarah pada kiri dan kanan pinggangnya.

"Matilah aku," gumam Ki Ambeg Kulon dalam hati yang sudah merasa buntu mengenai apa yang harus dilakukannya.

Ki Ambeg memang sudah pasrah, sudah buntu, dan tidak bisa berpikir jernih lagi membayangkan dirinya harus mati di tangan orang yang seharusnya menjadi korbannya. Namun ternyata, kejadiannya tidak sesuai dengan yang dibayangkan oleh Ki Ambeg Kulon, tidak juga seperti yang ada dalam pikiran Mengki dan kedua budaknya itu.

Apa yang selanjutnya terjadi? Mengki yang sudah merasakan kemenangan di depan matanya merasa yakin bahwa lawannya tidak akan mungkin dapat menghindari serangannya, sehingga ia melupakan kesiagaannya. Ia kaget bukan kepalang ketika merasakan sebuah angin berdesir di belakang kepalanya. Namun, Mengki sudah kehilangan kecepatan dan kesiagaannya; untungnya ia masih dapat sedikit memiringkan kepalanya.

*Bress!*

Sebuah paser pisau kecil menembus dan merobek daun telinga Mengki. Ternyata paser itu dilepas oleh tenaga yang sangat kuat hingga terus melaju dan menancap tepat di leher Ki Ambeg Kulon. Ki Ambeg Kulon langsung roboh tanpa mampu berpikir mengapa bukan jantungnya yang tertancap, melainkan lehernya yang menjadi sasaran.

Sementara itu, Mengki terlihat tengah memegang daun telinganya yang robek. Darah segar terlihat mengalir di telapak tangan yang tengah menutupi daun telinganya itu.

"Tuan terluka?" tanya salah seorang budaknya.

Tetapi Mengki tidak menjawabnya. Ia membalikkan badannya, menyapu setiap arah dengan pandangannya seperti mencari sesuatu. Mata Mengki yang terlatih dapat menembus keremangan malam hingga akhirnya menemukan sesuatu yang mencurigakan di gerumbul rumpun bambu kuning di samping bangunan pasanggrahan. Namun langkah Mengki terlambat. Belum sempat berbuat apa pun, sebuah bayangan melesat ke arah dinding pagar pasanggrahan dan menghilang di balik dinding bersama keremangan malam yang sunyi dan senyap.

"Luka Tuan harus segera diobati," kata salah seorang budaknya sambil membalurkan bubuk obat pengering luka.

"Apa yang harus kita lakukan atas orang itu?" tanya budak lainnya sambil menunjuk ke arah Ki Ambeg Kulon yang sudah tidak bernyawa, tergeletak di halaman Pasanggrahan Sentanu.

"Biarkan apa adanya sampai datang orang Singasari melihatnya. Ini sebagai bukti bahwa bukan kita yang membunuhnya," kata Mengki yang merasakan rasa pedih lukanya sudah semakin berkurang.

Seperti yang diharapkan oleh Mengki, beberapa saat kemudian terlihat dua orang prajurit peronda melewati regol pintu halaman Pasanggrahan Sentanu. Dua orang prajurit peronda itu merasa heran bahwa tiga orang tamu penghuni Pasanggrahan Sentanu berada di halaman. Maka, bertambah kaget lagi kedua prajurit peronda itu manakala masuk ke halaman dan menemukan sesosok tubuh terbaring tak bernyawa dengan sebuah paser menancap di batang lehernya.

"Apa yang telah terjadi?" tanya salah seorang prajurit peronda itu.

Maka dengan terperinci dan jelas, Mengki menceritakan semuanya tanpa ada yang dikurangi sedikit pun kepada kedua prajurit peronda itu.

"Laporkan semua ini kepada Ki Lurah, sementara aku menunggu di sini," kata salah seorang prajurit peronda itu kepada kawannya.

"Baiklah, aku akan menemui Ki Lurah secepatnya," kata kawan prajurit itu sambil melangkah pergi keluar dari Pasanggrahan Sentanu.

Sementara itu, malam sudah mendekati pagi. Cahaya merah tua terlihat memancar terang di ujung timur bumi. Terlihat beberapa prajurit pengawal istana di halaman Pasanggrahan Sentanu. Semakin terang pagi datang, semakin banyak orang istana yang hadir.

"Maafkan kami yang tidak dapat menjaga keamanan Tuan Mengki dengan baik," kata Raden Wijaya kepada Mengki yang langsung menemuinya di Pasanggrahan Sentanu.

Mengki pun bercerita kembali mengenai apa yang telah terjadi semalam kepada Raden Wijaya yang datang bersama dengan Kebo Arema.

"Beristirahatlah, kami akan mengusut di balik semua ini," kata Raden Wijaya kepada Mengki dan kedua orang budaknya.

Akhirnya, di hari itu juga ditunjuk beberapa perwira prajurit untuk mengusut tuntas apa yang ada di balik peristiwa usaha pembunuhan utusan Kaisar Kubilai Khan itu. Para perwira prajurit mulai mengusut peristiwa di Pasanggrahan Sentanu dengan penuh ketelitian. Pengusutan benang merah pun akhirnya menemui ujungnya.

Penyelidikan tertuju kepada seorang pejabat istana Singasari, seorang pejabat yang dipercayakan untuk mengurus upeti bernama Rakrian Bala Malendra. Sungguh malang nasib Malendra. Semua tanggung jawab atas peristiwa percobaan pembunuhan utusan Kaisar Kubilai Khan dibebankan hanya kepadanya seorang.

Malendra memang tidak dapat mengelak bahwa dirinyalah yang membawa Ki Ambeg Kulon ke istana, yang jati dirinya begitu cepat diketahui sebagai seorang pembunuh bayaran. Malendra juga tidak dapat membuka rahasia besar di balik semua itu; dirinya lebih baik mengakui sebagai orang yang bertanggung jawab atas peristiwa itu ketimbang melihat seluruh keluarganya yang tak berdosa habis binasa sengsara.

Namun, masih ada rahasia yang belum terungkap: siapakah gerangan orang yang membunuh Ki Ambeg Kulon dan melukai daun telinga Mengki?

Untuk mengetahuinya, marilah kita mundur kembali ke belakang saat Mengki melihat sesosok bayangan berkelebat menghilang di balik dinding pagar batu Pasanggrahan Sentanu. Sosok bayangan itu tidak berjalan di lorong-lorong istana; sepertinya ia sangat hafal untuk melewati jalan lain yang jarang sekali dilewati para prajurit peronda. Terlihat sosok bayangan itu menuju arah belakang istana.

Malam saat itu begitu gelap. Sosok bayangan itu berkelebat di antara gerumbul tumbuhan dan akhirnya tiba di sebuah pondokan bilik para abdi dalem istana. Sosok bayangan itu masuk ke sebuah bilik seorang pangalasan tua tempat Ki Ambeg Kulon juga menginap bersamanya.

Pelita malam yang menerangi bilik itu terlihat sudah mulai redup, namun masih dapat menerangi wajah orang yang baru masuk ke dalam bilik tersebut. Ternyata, sosok wajah itu adalah Ki Broto, sang pangalasan tua yang sudah menjelang purna bakti. Tidak seorang pun yang mengetahui jati diri Ki Broto yang sebenarnya adalah seorang prajurit telik sandi yang ditugaskan di dalam istana Singasari. Pada malam itu, Ki Broto telah mendapat sebuah perintah rahasia; perintah untuk menghabisi nyawa seorang utusan Kaisar Kubilai Khan.

Pagi itu terlihat Ki Broto tengah mengemasi barang-barangnya ketika seorang prajurit perwira datang menemuinya.

"Jadi orang itu telah mati di halaman Pasanggrahan Sentanu?" tanya Ki Broto sambil pura-pura terkejut mendengar berita yang dibawa oleh prajurit perwira itu kepadanya.

"Aku yakin Ki Broto tidak ada sangkutan apa pun dalam peristiwa ini, aku hanya sekadar melengkapi beberapa keterangan," kata prajurit perwira itu kepada Ki Broto.

"Kemarin kami seharian bekerja merawat taman di Pasanggrahan Kaputrian dan Pasanggrahan Sentanu," kata Ki Broto memberi keterangan kepada prajurit perwira itu.

"Terima kasih untuk keterangannya, kami hanya ingin melengkapi apa yang sudah kami dapat dalam pengusutan peristiwa ini," kata prajurit perwira itu sambil pamit untuk kembali ke istana.

Tidak lama setelah prajurit perwira keluar dari rumah Ki Broto, seorang lelaki datang menemuinya. Ternyata orang itu adalah seorang penghubungnya dalam jalur prajurit sandi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment