Chapter 07
"Secepatnya kamu tinggalkan kotaraja ini, semoga di kampung halamanmu memberikan ketenangan hidup untukmu," kata penghubung itu sambil menyerahkan beberapa keping emas kepada Ki Broto sebagai bekal hidup di kampung halamannya.
"Aku tidak dapat melakukan tugas terakhirku dengan baik," ujar Ki Broto kepada penghubungnya.
"Tidak perlu disesali, siapa pun pernah melakukan kesalahan dalam tugasnya," sahut penghubung itu menghibur Ki Broto.
Demikianlah, setelah berpamitan dengan orang-orang terdekat selama bekerja di lingkungan istana, Ki Broto meninggalkan istana untuk kembali ke kampung halamannya. Ia membawa rahasia besar yang tidak mungkin terungkap sepanjang hidupnya.
Sementara itu di ruang Magunturan, Sri Baginda Maharaja tengah mendengarkan pendapat dari para pejabat istana mengenai utusan Kaisar Kubilai Khan. Sebagian menyetujui untuk mengakui kebesaran Mongolia, namun sebagian lagi menentang dengan keras untuk tunduk dan patuh di bawah kekuasaan Kaisar Kubilai Khan.
"Sampai saat ini aku belum dapat memutuskannya, apa pun pendapat kalian akan menjadi pegangan bagiku," kata Sri Baginda Maharaja sambil berdiri untuk meninggalkan ruang Magunturan.
Namun, Sri Baginda Maharaja tidak langsung ke pasanggrahannya untuk beristirahat, melainkan menuju ruang Mentanu, sebuah tempat khusus untuk menerima tamu dan para pejabat istana.
"Panggil Kuda Cemani untuk menghadap kepadaku," perintah Sri Baginda Maharaja kepada seorang prajurit pengawalnya.
Kuda Cemani adalah seorang perwira tinggi yang paling dipercaya oleh Sri Baginda Maharaja, seorang pejabat istana di bidang telik sandi yang sangat setia. Maka tidak lama berselang, Kuda Cemani sudah datang menghadap Sri Baginda Maharaja di ruang Mentanu.
"Ada beberapa pejabat istana yang harus diselidiki kesetiaannya, aku ingin mereka dibersihkan," kata Sri Baginda Maharaja sambil menyampaikan siapa saja pejabat istana yang perlu dicurigai kesetiaannya.
"Hamba siap menjunjung tinggi perintah Tuanku Baginda," jawab Kuda Cemani dengan penuh hormat.
"Sudah saatnya pula untuk membenahi jalur pasukan telik sandimu, yang kukhawatirkan sudah banyak yang tercemar," lanjut Sri Maharaja Singasari kepada Kuda Cemani.
Kuda Cemani tanggap atas kekhawatiran Sri Baginda Maharaja. Sebagai seorang pemimpin tertinggi pasukan telik sandi kerajaan, ia memang dapat membaca perkembangan terakhir, terutama yang berhubungan dengan kedatangan utusan Kaisar Kubilai Khan.
"Jalur perintah menjadi tak mudah untuk dikendalikan, ada kerajaan bayangan di dalam istana ini. Apakah kamu dapat merasakannya?" tanya Sri Baginda Maharaja kepada Kuda Cemani.
Kuda Cemani tidak langsung menjawab. Dalam diam ia memuji kejelian Sri Baginda Maharaja mengamati perkembangan di lingkungan istananya.
"Ketika pertama kali dinobatkan sebagai seorang raja, kubayangkan bahwa diriku tidak lebih dari seorang nakhoda yang dapat mengatur ke mana arah jung besar berlayar dan berlabuh. Ternyata tidak semudah itu, kerajaan besar ini seperti seperangkat gamelan, dan aku rajanya hanya sebagai pemukul degung yang harus mempunyai kepekaan tinggi agar dapat mengikuti setiap irama yang sudah tercipta," kata Sri Baginda Maharaja.
"Perkataan Tuanku Baginda begitu dalam, mengikuti irama gending mereka agar mengetahui ke mana arah permainan mereka," sahut Kuda Cemani yang menangkap arah pembicaraan tersebut. "Kita bermain di atas permainan mereka," tambahnya lagi yang merasa paham betul keinginan junjungannya.
Sementara itu, langit di atas Istana Singasari sudah hampir menjelang senja. Terlihat beberapa prajurit pengawal istana bergilir berkeliling dengan penuh ketelitian. Mereka tidak ingin peristiwa di Pasanggrahan Sentanu terulang lagi. Penjagaan di dalam istana menjadi begitu ketat. Siapa pun yang memasuki istana harus melewati banyak gardu penjagaan dan menjawab berbagai pertanyaan.
"Maaf Ki Barep, ikatan kayu bakarmu harus kami periksa," kata seorang prajurit pengawal istana di sebuah gardu jaga kepada seorang pembawa kayu bakar yang sudah biasa keluar masuk istana.
"Di depan gardu jaga pertama, ikatan kayu bakarku ini sudah diurai, apakah kalian akan mengurai kembali ikatannya?" tanya Ki Barep dengan perasaan kurang senang.
"Hanya untuk berjaga-jaga, siapa tahu ada yang terlewat," kata prajurit pengawal itu sambil tertawa getir. Mungkin dirinya sendiri tidak senang dengan aturan baru yang juga ikut menyusahkannya.
Sementara itu, Pasanggrahan Sentanu mulai hari itu menjadi perhatian khusus. Terlihat lima orang prajurit pengawal tidak pernah meninggalkan tempat itu. Namun, sikap dan perlakuan Mengki bersama kedua budaknya yang ramah membuat mereka sedikit terhibur. Mereka merasa tidak sedang bertugas karena sepanjang hari banyak makanan dan minuman mengalir dari dapur belakang Pasanggrahan Sentanu.
"Tugas jaga di pasanggrahan ini seperti istirahat di rumah sendiri, perutku tidak pernah kelaparan," kata seorang prajurit pengawal kepada kawannya yang hanya tersenyum membenarkan.
Malam pun akhirnya datang perlahan menyelimuti Istana Singasari dan kotaraja. Seperti kemarin, sepanjang malam kotaraja dikelilingi kabut tebal yang menjadikan suasana menjadi lebih dingin lagi. Namun sepanjang malam itu tidak terjadi apa pun; keadaan istana yang terjaga ketat tampak langgeng, aman, dan damai. Para penghuninya tertidur pulas di peraduan mereka. Hanya para prajurit yang karena tugasnya harus bertahan merasakan dinginnya malam, terus menyemangati diri bergiliran menjaga setiap sisi istana.
Sang malam pun akhirnya menyelesaikan waktunya dengan sempurna, dibatasi oleh datangnya sang pagi yang mewarnai bumi. Awal pagi di Istana Singasari ditandai dengan kabut yang belum juga menghilang. Beberapa penghuni masih enggan turun dari peraduan, sementara para inang sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan.
"Hari ini Sri Baginda Maharaja telah berkenan untuk menerima utusan Kubilai Khan," kata Raden Wijaya kepada Ratu Anggabhaya di pendapa agung bersama Kebo Arema dan ayahnya, Pangeran Lembu Tal.
"Semoga Sri Baginda Maharaja telah mendapatkan keputusan yang terbaik," sahut Ratu Anggabhaya.
Akhirnya ketika pagi sudah mulai terang dan kabut menghilang, Raden Wijaya dan Kebo Arema keluar dari regol halaman pasanggrahan. Pagi itu mereka akan menghadap Sri Baginda Maharaja di ruang Mentanu bersama dengan Mengki, utusan Kaisar Kubilai Khan.
"Apakah telingamu sudah merasa lebih baik?" tanya Sri Baginda Maharaja di ruang Mentanu kepada Mengki, merasa prihatin atas peristiwa yang telah terjadi.
"Hari ini sudah menjadi lebih baik, hanya robek dan terpotong sedikit," jawab Mengki dengan senyum getir.
"Aku sudah mendapat beberapa keterangan dari Senapati Raden Wijaya perihal maksud kedatanganmu ke Istana Singasari ini. Namun alangkah baiknya bila hari ini aku dapat mendengarnya langsung darimu sebagai utusan resmi Kaisar Kubilai Khan," kata Sri Baginda Maharaja.
"Terima kasih sebelumnya atas penerimaan kami di istana yang indah ini. Hamba hanya sebatas utusan resmi dari Yang Dipertuan Agung Kaisar Kubilai Khan untuk menyampaikan sebuah permintaan agar kiranya Kerajaan Singasari Raya ini ikut bergabung bersama kebesaran Yang Dipertuan Agung Kaisar Kubilai Khan," kata Mengki penuh hormat.
"Kuhargai dirimu sebagai utusannya yang berani datang dari tempat yang begitu jauh hanya berbekal nama dan kebesarannya," ujar Sri Baginda Maharaja. "Sampaikan salamku kepadanya bahwa aku penguasa Singasari akan ikut bergabung bersama kebesaran-Nya. Sebagai bukti kedatanganmu, bawalah sedikit hadiah dariku yang mungkin tidak begitu bernilai, namun kuberikan dengan hati yang tulus."
Sri Baginda Maharaja Singasari mengeluarkan sebuah kotak kecil dan memberikannya kepada Mengki sebagai bukti bahwa seorang utusan raja telah diterima dengan baik. Mengki kemudian membuka kotak kecil itu.
"Sebuah mutiara putih yang indah," kata Mengki dengan wajah bersinar.
"Sampaikan salamku kepada junjunganmu, bahwa aku akan membawakan hadiah yang lain sebagai tanda kesetiaannya," tambah Sri Baginda Maharaja Singasari.
"Hormat hamba atas Tuan, segala kebaikan dan kemurahan hati Tuan akan hamba sampaikan kepada junjungan hamba, Yang Dipertuan Agung Kaisar Kubilai Khan," kata Mengki dengan penuh hormat.
Setelah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Mengki bersama Raden Wijaya dan Kebo Arema pamit mohon diri kepada Sri Baginda Maharaja Singasari.
"Tugas telah hamba laksanakan, perkenankan diri hamba untuk berpamitan," kata Mengki.
Sri Baginda Maharaja berdiri dan menganggukkan kepala sebagai tanda menerima permintaan pamit tamunya itu. Matahari di atas Singasari belum sampai di puncak cakrawala. Awan pagi menjelang siang itu tampak begitu cerah bersama hembusan angin sejuk yang membelai dedaunan di taman dan lorong-lorong istana.
"Beristirahatlah, besok kita berangkat meninggalkan Kotaraja Singasari," kata Raden Wijaya kepada Mengki di persimpangan jalan menuju pasanggrahan masing-masing.