Halo!

Kabut Di Bumi Singosari - Chapter 08

Memuat...
Kabut Di Bumi Singosari

Chapter 08

Ketika Raden Wijaya dan Kebo Arema tiba di pasanggrahannya, terlihat Ratu Anggabhaya dan Pangeran Lembu Tal telah menunggu di Pendapa Agung.

"Akhirnya Sri Baginda Maharaja telah memutuskan," kata Ratu Anggabhaya setelah mendengar berita yang disampaikan Raden Wijaya ketika mengantar Mengki, utusan Kubilai Khan.

"Keputusan yang bijaksana," ujar Pangeran Lembu Tal memberikan tanggapannya.

Ketika malam datang menyelimuti istana Singasari, seperti malam sebelumnya, Sri Baginda muncul kembali di pasanggrahan Ratu Anggabhaya.

"Semula aku berharap akan berbesanan dengan keluarga ini," kata Sri Baginda Maharaja sambil tersenyum memandang Raden Wijaya.

"Aku masih punya tiga orang putri, mudah-mudahan pada suatu waktu datang lamaran dari keluarga ini meminta salah satu putriku," lanjut Sri Baginda Maharaja masih dengan penuh senyum.

"Ternyata pikiran Paduka terlintas juga di dalam pikiranku," sahut Ratu Anggabhaya sambil tersenyum ikut memandang Raden Wijaya yang tersipu malu dipandang Sri Baginda Maharaja dan kakeknya.

"Kutunggu kedatangan Pamanda melamar salah seorang putriku, namun untuk saat ini aku meminta Pamanda mewakiliku menyampaikan keinginanku kepada penguasa Gelang-Gelang," kata Sri Maharaja kepada Ratu Anggabhaya.

"Raden Ardharaja adalah seorang lelaki yang baik, Ratu Turukbali pasti akan senang. Dan mudah-mudahan penguasa Gelang-Gelang bersedia berbesan dengan Paduka," kata Ratu Anggabhaya kepada Sri Baginda Maharaja.

"Secepatnya aku akan datang ke tanah Gelang-Gelang," tambah Ratu Anggabhaya lagi.

"Terima kasih atas kesediaan Pamanda," ucap Sri Baginda Maharaja.

Sementara itu waktu terus berlalu, malam terlihat begitu kelam dan senyap di sekitar Pendapa Agung. Terlihat Sri Baginda Maharaja bangkit berdiri bermaksud untuk pamit meninggalkan pasanggrahan Ratu Anggabhaya. Malam berkabut di sekitar pasanggrahan telah mengantar Sri Baginda Maharaja bersama para prajurit pengawalnya keluar dari regol pasanggrahan.

"Beristirahatlah, besok kalian akan meninggalkan Kotaraja," kata Ratu Anggabhaya kepada Raden Wijaya dan Kebo Arema.

Akhirnya pendapa agung itu menjadi begitu senyap, hanya ditemani cahaya pelita dan dinginnya malam. Sepanjang malam kabut turun menyelimuti Kotaraja yang berada di atas dataran tinggi perbukitan, yang dikitari oleh empat gunung tinggi menyangga langit, laksana empat raksasa hitam yang menjaga dan melindungi bumi Kotaraja dengan setia. Angin dan kabut dingin telah memaksa penghuninya naik ke peraduan, melepaskan segala kepenatan hari dan bermimpi.

Pagi pun akhirnya datang bersama sinar matahari yang mengusir kabut dingin dan semua mimpi. Terlihat para petani sudah mulai turun ke sawah. Beberapa pedagang di pasar sudah menyiapkan barang-barangnya. Jalanan Kotaraja mulai ramai dilalui oleh orang-orang yang pergi ke pasar atau melakukan kegiatan lainnya. Kotaraja sudah terbangun dari tidurnya.

"Semoga keselamatan dan kebahagiaan selalu menyertai kalian," kata Ratu Anggabhaya ketika mengantar Raden Wijaya dan rombongannya keluar dari gerbang istana Singasari.

Angin sepoi yang sejuk menyapu kelima orang berkuda yang belum lama meninggalkan regol pintu gerbang batas Kotaraja. Kepulan debu di belakang kaki-kaki kuda mengiringi setiap langkah perjalanan mereka yang dipacu setengah berlari di jalan tanah kering menuju Bandar Cangu.

Di pagi yang cerah itu, jalan antara Kotaraja dan Bandar Cangu memang sudah terlihat ramai. Para pedagang dengan gerobak berkuda tengah mengangkut barang dagangan, serta beberapa pejalan kaki dan pengembara yang tengah mencari pengalaman hidup baru, sudah menjadi pemandangan biasa saat itu.

"Sebuah pemandangan yang indah," kata Mengki kepada Raden Wijaya yang berjalan berdampingan ketika menuruni jalan perbukitan hijau dikelilingi gunung-gunung indah berwarna biru. "Sayangnya aku harus meninggalkan tempat yang indah ini," lanjut Mengki sambil menikmati udara sejuk yang berembus menyapu wajahnya.

Ketika matahari tepat di atas kepala, jarak tempuh mereka sudah jauh meninggalkan Kotaraja. Mereka melewati sebuah pasar yang masih cukup ramai di bawah sinar matahari siang yang seakan membakar kulit.

"Mari kita beristirahat sambil menunggu matahari siang yang panas ini berlalu," kata Raden Wijaya kepada Mengki sambil menunjuk ke sebuah kedai.

Raden Wijaya bersama Mengki turun dari kuda dan menuntunnya ke arah kedai, diikuti oleh Kebo Arema bersama kedua budak Mengki. Cukup lama mereka beristirahat di dalam kedai, hingga ketika matahari mulai turun, barulah mereka melanjutkan perjalanan menuju Bandar Cangu.

Menjelang senja, mereka tiba di Bandar Cangu dan langsung menuju Balai Tamu.

"Selamat datang kembali di Bandar Cangu," kata Rangga Lawe menyambut kedatangan mereka dengan penuh gembira.

Setelah saling menanyakan keselamatan masing-masing, Raden Wijaya bercerita mengenai beberapa hal selama di Kotaraja kepada Rangga Lawe. "Sri Baginda Maharaja akan mengangkat menantu dari putra penguasa Gelang-Gelang," ujar Raden Wijaya.

Sementara itu, malam mulai turun merambat, mengaburkan pandangan ke arah Sungai Brantas di depan pendapa Balai Tamu. Cahaya pelita malam mulai terasa cukup menerangi dengan warna sinarnya yang lembut temaram memenuhi ruangan.

Terdengar suara berderit pintu kayu ditarik. Dari pintu utama keluar seorang pelayan tua yang tidak lain adalah Ki Widura, membawa minuman hangat dan beberapa potong jagung rebus yang masih mengepul.

"Duduklah bersama kami," kata Kebo Arema kepada Ki Widura yang sudah selesai meletakkan hidangan.

Wajah Ki Widura tampak menegang, sementara tangannya yang membawa wadah makanan terlihat gemetar.

"Saya masih ada pekerjaan di belakang," kata Ki Widura dengan bibir yang bergetar.

"Urusan di belakang abaikan dulu, duduklah bersama kami. Ada yang ingin kutanyakan kepada Ki Widura," kata Kebo Arema dengan suara halus namun penuh penekanan yang membuat Ki Widura tidak dapat mengelak.

Dengan wajah pucat, Ki Widura menunduk, tidak berani mengangkat wajahnya.

"Dinding rumah ini tak bertelinga. Tidak ada seorang pun yang mengetahui selain kami bahwa seorang utusan Kubilai Khan telah datang di Bumi Singasari ini," kata Kebo Arema tetap dengan suara halus sambil memperhatikan Ki Widura.

"Aku ingin Ki Widura berkata dengan jujur. Benarkah Ki Widura telah menyebarkan rahasia ini?" tanya Kebo Arema lagi dengan nada datar.

"Maafkanlah diri hamba yang tua ini, yang tidak mengenal arti budi. Tuan-tuan telah memperlakukan hamba dengan begitu baik, bukan selayaknya pelayan, tetapi seperti keluarga. Sejak mengenal Tuan-tuan, diri ini terbagi dalam keraguan dan kebingungan. Benarkah perjuangan hamba ini? Benarkah menganggap Tuan-tuan yang penuh kasih ini sebagai musuh yang berseberangan? Sejak keberangkatan Tuan-tuan ke Kotaraja, hati kecilku selalu mencela pengkhianatan ini, selalu mencaci hamba sebagai manusia tak berbudi. Hari ini hamba pasrah atas apa pun perlakuan terhadap hamba yang berdosa ini. Hamba pasrah atas hukuman apa pun yang Tuan jatuhkan," kata Ki Widura dengan penuh penyesalan.

"Di antara kita memang tidak ada permusuhan, hanya secara kebetulan kita berdiri di tempat yang berbeda. Kami tidak akan menjatuhkan hukuman apa pun. Hanya saja ada satu pengharapan dari kami, lupakanlah perbedaan di mana pun saat ini kamu berdiri, karena sudah tidak ada lagi perbedaan di antara kita. Tidak ada Tumapel, tidak ada Kediri. Yang ada saat ini adalah Singasari Raya yang bersatu menatap dunia untuk maju bersama. Dari dulu kita adalah satu keluarga, dan tetap satu keluarga sampai kapan pun," kata Kebo Arema.

"Jiwa Tuan-tuan begitu penuh kasih, hamba menjadi malu bercermin atas kekerdilan hati ini. Izinkanlah hamba mengabdi di sini dalam kesetiaan, menjadi bagian dari keluarga ini selamanya," ucap Ki Widura penuh permohonan.

"Permohonan Ki Widura kami terima, kembalilah ke belakang. Mungkin masih ada yang perlu kamu selesaikan," kata Kebo Arema.

"Terima kasih, terima kasih," sahut Ki Widura sambil menjura penuh kebahagiaan lalu kembali masuk lewat pintu utama.

Hari pun terus berlalu, malam semakin gelap menghalangi pandangan ke aliran Sungai Brantas. Hanya terkadang beberapa pelita perahu nelayan terlihat berkelip-kelip. Suara angin datang dari arah hutan seberang.

"Kami beristirahat lebih dulu," kata Mengki sambil berdiri diikuti dua orang pengawalnya.

Tidak lama berselang, Raden Wijaya, Kebo Arema, dan Rangga Lawe masuk ke peraduan masing-masing. Malam itu hamparan Sungai Brantas begitu sepi dan senyap. Masih terlihat beberapa nelayan yang mencari udang menunggu jaringnya meski pelita yang bergelantungan sudah meredup.

"Malam ini rezeki simbok dan adikmu sedang mujur besar, baru sepertiga malam sudah banyak udang terkumpul," kata nelayan tua kepada anak lelakinya.

"Kalau begitu kita segera pulang saja, bukankah kita masih bisa tidur di sisa malam?" sahut anak lelakinya.

"Yang kamu pikirkan hanya tidur," ujar nelayan tua itu sambil melipat jaringnya menuruti keinginan anaknya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment