Halo!

Kabut Di Bumi Singosari - Chapter 09

Memuat...
Kabut Di Bumi Singosari

Chapter 09

Malam memang masih menyisakan waktunya di atas Sungai Brantas, di tepian dermaga Balai Tamu, tempat Jung Singasari terlihat merapat dan bergoyang dihempas ombak sungai.

Semakin mendekati pagi, hawa malam menjadi semakin dingin.

Semakin mendekati pagi, kesibukan sudah mulai terlihat di sekitar dermaga Balai Tamu itu.

Hari itu, setelah dua pekan merapat di dermaga, Jung Singasari akan kembali berlayar mengarungi laut biru.

"Aku akan bercerita kepada semua orang bahwa di Singasari ini aku mendapat perlakuan yang baik. Terutama tentang dirimu, wahai Tuan Senapati Wijaya," kata Mengki ketika bersiap akan naik ke Jung Singasari kepada Raden Wijaya yang mengantarnya.

"Semoga persahabatan kita terus terjalin dan panjang," kata Raden Wijaya kepada Mengki.

"Selamanya," kata Mengki melanjutkan ucapan Raden Wijaya.

Matahari telah bersembul di balik hutan seberang Sungai Brantas ketika Jung Singasari itu mulai terlihat bergerak meninggalkan dermaga.

Jung Singasari itu telah membawa Mengki dan dua orang pengiringnya, membawa berita perdamaian.

Terlihat Raden Wijaya, Kebo Arema, dan Rangga Lawe berdiri melambaikan tangannya ke arah Mengki dan dua orang pengiringnya di atas pagar dek kayu Jung Singasari yang telah mulai menjauhi dermaga.

Jung Singasari itu pun terus menjauh terbawa aliran Sungai Brantas di bawah matahari pagi yang cerah.

Terlihat Raden Wijaya, Kebo Arema, dan Rangga Lawe telah beranjak dari dermaga kembali ke pendapa Balai Tamu.

Sementara itu, pada waktu yang sama, sebuah kapal kayu telah merapat di sebuah dermaga Bandar Canggu.

Terlihat dua orang anak lelaki kecil menuruni tangga kapal kayu dengan gembiranya.

Usia kedua anak itu sekitar tujuh tahun.

Di belakangnya mengikuti kedua anak itu seorang lelaki muda.

Wajahnya cukup tampan.

Berturut-turut di belakang lelaki muda itu adalah seorang pendeta, terlihat dari pakaian yang dikenakannya serta kepala yang tercukur bersih.

"Kita telah sampai di Bandar Canggu, di tanah Singasari Raya," kata lelaki muda itu kepada seorang pendeta ketika mereka telah menginjakkan kakinya di dermaga Bandar Canggu yang sudah cukup ramai di pagi yang cerah itu.

"Paman Arga Lanang, perutku sangat lapar," kata salah seorang anak lelaki sambil memegang lengan lelaki muda itu yang ternyata adalah Arga Lanang.

Seorang pemuda putra Minak Gajah, penguasa daerah Pasir Seputih, yang pernah bersama Raden Wijaya dan Mahesa Amping mengembara ke Tanah Melayu.

"Mari kita ke kedai, pamanmu juga lapar," kata Arga Lanang sambil menggandeng kedua anak lelaki itu diikuti oleh pendeta di belakangnya menuju ke sebuah kedai di dekat dermaga.

Terlihat mereka berempat telah memasuki sebuah kedai.

"Pak Tua, dapatkah ditunjukkan kepada kami letak Balai Tamu?" tanya Arga Lanang kepada pelayan tua yang datang membawa pesanan makanan mereka.

"Telusuri saja tepian sungai ini, Tuan akan melihat sebuah benteng besar prajurit Singasari. Tidak jauh dari benteng itu berdiri sebuah rumah panggung yang cukup besar di tepian Sungai Brantas yang mempunyai sebuah dermaga sendiri. Itulah Balai Tamu yang Tuan maksudkan," kata pelayan tua itu memberikan arah petunjuk menuju Balai Tamu kepada Arga Lanang.

"Makanlah yang banyak agar tubuh kalian sehat dan kuat, sebentar lagi kita akan bertemu dengan kedua ayah kalian," kata Arga Lanang kepada kedua anak lelaki di hadapannya.

"Aku melihat tulang kedua anak ini sangat bagus, tidak salah bila kamu katakan bahwa kedua orang ayah mereka adalah pendekar besar yang berilmu tinggi. Kedua anak ini mewarisi tulang tubuh yang sangat sempurna," kata pendeta di sebelah Arga Lanang memuji kedua anak lelaki yang sedang menikmati hidangan di kedai itu.

Matahari terlihat sudah mulai beranjak naik, terlihat dua anak lelaki dan dua orang lelaki tengah menyusuri Sungai Brantas dari arah Bandar Canggu.

"Sebuah benteng yang cukup besar," kata pendeta itu kepada Arga Lanang ketika mereka melihat sebuah benteng berdiri di tepian Sungai Brantas.

"Itulah Balai Tamu," kata Arga Lanang menunjuk sebuah rumah panggung yang cukup besar menghadap Sungai Brantas dan mempunyai dermaga sendiri yang juga cukup besar.

"Apakah Tuan-tuan ada keperluan di Balai Tamu ini?" kata seorang prajurit kepada Arga Lanang dan pendeta di sebelahnya ketika mereka telah memasuki halaman Balai Tamu yang cukup luas.

Prajurit itu merasa heran terutama melihat pendeta asing di sebelah Arga Lanang. Tidak pernah selama ini ada seorang pendeta, apalagi berwajah asing, datang ke Balai Tamu.

"Aku ingin bertemu dengan Raden Wijaya," kata Arga Lanang penuh kebanggaan menyebut nama Raden Wijaya.

"Nama yang Tuan sebutkan adalah Senapati kami," kata prajurit itu sambil memandang Arga Lanang dari ujung kaki sampai kepala seperti masih menyangsikan bahwa lelaki muda itu mengenal senapatinya.

"Senapati-mu itu adalah sahabatku," kata Arga Lanang dengan penuh kebanggaan.

"Silakan Tuan naik ke pendapa Balai Tamu," kata prajurit itu penuh hormat mempersilakan langsung naik ke pendapa Balai Tamu.

Terlihat Arga Lanang diikuti kedua anak lelaki dan pendeta asing tengah naik anak tangga pendapa Balai Tamu.

"Arga Lanang!" seru Rangga Lawe yang melihat pertama kali Arga Lanang yang muncul dari anak tangga pendapa Balai Tamu seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Ternyata kamu masih mengenalku, Lawe," kata Arga Lanang sambil tersenyum kepada Rangga Lawe.

"Arga Lanang!!" seru Raden Wijaya yang telah berdiri bersama Kebo Arema telah mengenali orang yang tengah berpelukan erat bersama Rangga Lawe.

"Sahabatku," kata Raden Wijaya sambil memeluk erat Arga Lanang.

"Jayanagara, kemarilah, Nak, inilah ayahmu," kata Arga Lanang kepada salah seorang dari dua anak lelaki yang sudah naik ke atas pendapa Balai Tamu.

"Raden Wijaya, inilah anakmu, putra Dara Petak," kata Arga Lanang kepada Raden Wijaya.

Bukan main terharunya Raden Wijaya menatap seorang anak lelaki kecil yang juga sedang menatapnya.

"Putraku," kata Raden Wijaya langsung memeluk erat anak lelaki itu yang bernama Jayanagara.

"Apakah lelaki itu ayahku?" tanya anak lelaki yang lain kepada Arga Lanang menunjuk ke arah Kebo Arema.

Kebo Arema yang mendengar pertanyaan anak itu langsung mendekatinya, tahu siapa sebenarnya anak lelaki yang bermata bulat dan terang itu yang menandakan kecerdasan yang luar biasa.

"Kamu pasti putra Dara Jingga, siapa namamu, Nak?" kata Kebo Arema sambil berjongkok memegang kedua bahu anak itu.

"Namaku Adityawarman," kata anak itu tegas kepada orang di hadapannya yang dianggapnya seorang penuh kasih dan dapat dipercaya.

"Namaku Kebo Arema, kamu boleh memanggilku dengan sebutan Eyang Kebo Arema karena ayahmu memanggilku sebagai paman," kata Kebo Arema kepada anak lelaki itu yang ternyata adalah putra Dara Jingga.

"Di mana ayahku?" tanya Adityawarman kepada Kebo Arema yang ternyata bukan ayahnya.

"Ayahmu seorang senapati besar, saat ini ditugaskan oleh Sri Maharaja di Bali Dwipa," kata Kebo Arema kepada Adityawarman.

"Kamu sangat tampan seperti ayahmu," kata Raden Wijaya mendekati Adityawarman mencoba menyelami perasaan anak itu dan sekadar menghiburnya.

"Apakah aku dapat menemui ayahku?" tanya Adityawarman kepada Raden Wijaya menatapnya dengan bola mata yang begitu terang membuat siapa pun akan segera menyukainya.

"Aku akan bersamamu mencari ayahmu," kata Jayanagara penuh kesetiakawanan yang tinggi.

Raden Wijaya tersenyum menatap dua anak itu, terbayang kesetiakawanan yang tinggi antara dirinya dan Mahesa Amping. Ternyata anak-anak mereka mempunyai naluri yang sama.

"Mereka adalah saudara sepupu," kata Raden Wijaya dalam hati penuh kebanggaan dan kebahagiaan.

"Bali Dwipa tidak begitu jauh, kita akan menemui ayahmu di sana," kata Raden Wijaya kepada Adityawarman.

"Maaf, aku belum memperkenalkan teman perjalanan kami," kata Arga Lanang memperkenalkan seorang pendeta yang dikatakannya sebagai teman perjalanannya.

"Namaku Gunakara, aku berasal dari sebuah biara di Tibet. Atas kebaikan Tuan Arga Lanang telah membawaku sampai di sini," kata pendeta itu sambil menjura penuh hormat memperkenalkan dirinya. "Tujuan perjalananku adalah sebuah tanah datar bernama Bali Dwipa," kata Pendeta Gunakara kembali menyampaikan tujuan perjalanannya.

Setelah menyampaikan keselamatan masing-masing, Arga Lanang yang memulai cerita perjalanannya.

"Enam bulan yang lalu, aku mendapat tugas dari ayahku untuk berangkat ke Tanah Melayu. Dalam tugasku itu, kusempatkan diri untuk mengunjungi Istana Melayu. Dara Petak dan Dara Jingga memaksa aku untuk membawa kedua anak ini menemui ayahnya di Jawa Dwipa, tentunya atas restu dari Eyangnya, Baginda Raja Melayu," kata Arga Lanang bercerita tentang perjalanannya.

"Dalam perjalanan pelayaran itulah aku bertemu dengan pendeta Gunakara yang bermaksud akan menuju Bali Dwipa," kata Arga Lanang kembali bercerita tentang pertemuannya dengan Pendeta Gunakara dari Tibet.

"Pasti Tuan Pendeta Gunakara punya maksud dan tujuan tertentu, hingga harus menempuh perjalanan yang begitu jauh dari Tibet," kata Kebo Arema kepada Pendeta Gunakara.

Terlihat Pendeta Gunakara tidak langsung menjawab, hanya sedikit tersenyum melihat semua wajah yang ada di pendapa Balai Tamu itu.

"Aku merasa berbahagia bahwa dalam perjalananku ini berkenalan dengan orang-orang baik seperti kalian," kata Pendeta Gunakara dengan sinar mata senyumnya yang terlihat begitu tulus.

"Aku sedang mengemban sebuah tugas yang sangat aneh dari semua saudaraku di biara kami di Tibet," kata Pendeta Gunakara kembali.

"Setahun yang lalu, guru besar kami, Jamyang Dawa Lama, telah jatuh sakit.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment