Chapter 10
Beliau memberi kami sebuah wasiat, bahwa bila sukmanya telah meninggalkan raganya, maka beliau akan terlahir kembali di sebuah tempat yang begitu indah seperti surga bernama Balidwipa.
Bayi itu mempunyai sebuah pertanda di pundaknya.
"Beliau juga meminta kami untuk membawa bayi itu untuk menggantikan kedudukannya sebagai guru besar tertinggi di Biara Tibet," berkata Gunakara mengakhiri ceritanya.
"Mencari seorang bayi yang lahir bertepatan dengan hari kematian Jamyang Dawa Lama di Balidwipa?" bertanya Raden Wijaya setelah menyimak semua cerita Pendeta Gunakara.
"Benar, seorang bayi yang lahir tahun lalu dengan sebuah tanda khusus di pundaknya," berkata Pendeta Gunakara membenarkan perkataan Raden Wijaya.
"Sebuah tugas yang begitu rumit, seperti mencari sebuah pengait benang di tumpukan jerami," berkata Kebo Arema menanggapi cerita Pendeta Gunakara.
"Guru besar kami Jamyang Dawa Lama selalu dinaungi awan dalam setiap perjalanannya.
Saat ini awan itu pasti selalu menaungi ke mana pun bayi itu berada.
Itulah pertanda yang akan membawa kami menemukan bayi itu," berkata Pendeta Gunakara dengan penuh keyakinan.
Sementara itu, jauh dari Bandar Cangu, di hari yang sama di sebuah hutan di Balidwipa yang jarang sekali dijamah oleh manusia, para pengembara biasa menyebutnya sebagai hutan Mada.
Di sebuah tanah bergunduk yang cukup lapang di tengah hutan itu, terlihat sebuah pertempuran yang sangat seru dan dahsyat.
Seorang lelaki sambil menggendong seorang bayi di tangan kirinya dan sebuah pedang panjang di tangan kanannya tengah menghadapi lima orang yang begitu bernafsu untuk segera menghabisinya.
"Serahkan bayi itu," berkata seorang bertubuh tinggi besar sambil mengancam dengan sebuah golok besar kepada lelaki yang menggendong bayi itu.
"Sudah kukatakan bahwa bayi ini bukan anaknya, kalian masih juga belum percaya," berkata lelaki yang masih menggendong bayi dengan erat tidak ingin menyerahkannya kepada kelima orang penyerangnya.
"Anak itu anak seorang pengkhianat, harus dihabisi sampai ke akar-akarnya," berkata seorang pengeroyok lainnya sambil mengayunkan sebuah golok panjangnya ke arah kepala lawannya.
Tapi lelaki itu dapat dengan baik mengelak serangan itu dan balas menyerang dengan pedangnya menyabet pangkal paha orang itu.
Bukan main kagetnya, orang itu mendapatkan serangan balik yang lebih cepat dari yang diduganya.
Orang itu terlihat mundur jauh.
Namun lelaki yang masih menggendong seorang bayi itu masih saja menyerangnya dengan sebuah tusukan pedang ke arah perut orang itu.
Trang!!!
Untung saja kawannya yang lain menghantam pedang itu sehingga harus melenceng dari sasarannya.
Akhirnya pengeroyokan pun kembali terjadi, lima orang melawan satu orang sambil memegang erat seorang bayi di tangan kirinya.
Crasss!!!
Sebuah sabetan golok mengenai punggung belakang lelaki itu yang tidak dapat menghindarinya karena menghadapi serangan lawan dari berbagai arah.
Terlihat segaris darah memanjang di belakang punggungnya.
"Kamu memang keras kepala, matilah kamu bersama bayi itu," berkata orang yang tengah menyerang dari hadapannya.
Trang!!!
Hanya itu yang dilakukan lelaki itu, menangkis kibasan golok panjang dengan pedangnya sambil melompat menghindari sabetan golok lawan dari arah samping dan sekaligus menyerang lawan di sisi lain.
Namun sebuah sabetan dari arah belakang tidak dapat dihindarinya.
Srettt!!!
Sebuah sabetan tipis berhasil melukai paha belakangnya.
Namun semangat lelaki itu begitu keras, sepertinya tidak merasakan darah menetes lewat punggung dan paha belakangnya.
Lelaki itu masih dapat menghindar bahkan balas menyerang dengan tidak kalah berbahayanya.
Namun dalam beberapa jurus kemudian, mulailah terlihat tenaga lelaki itu mulai menurun, lompatan dan serangannya tidak segesit dan setangkas sebelumnya.
Matanya terlihat sudah lamur akibat banyak darah yang keluar dari punggung dan belakang pahanya, tapi genggaman tangannya masih erat memegang bayi di tangan kirinya.
Kembali lima buah serangan sekaligus menyudutkannya.
Trang!!!
Sabetan golok besar berhasil ditahan dari arah samping kanan, sekaligus melompat menghindari sabetan di bawah kakinya dari arah kiri.
Namun dua serangan menusuk dari arah depan dan bacokan golok dari arah belakang pada kali ini sudah tidak bisa dihindari lagi.
Lelaki itu sepertinya sudah tidak punya harapan lagi, langkahnya sudah terkunci mati tidak dapat menghindari tiga buah serangan sekaligus.
Tapi umur manusia kadang sangat aneh, tidak selalu dapat ditebak dan diatur.
Ketiga penyerang itu sudah merasa yakin bahwa lelaki itu pasti akan termakan oleh masing-masing golok besar mereka.
Keajaiban apa yang terjadi? Tring! Tring! Tring! Terdengar tiga buah benda besi beradu dalam waktu yang hampir bersamaan, dan tiga buah golok besar terlihat terpental dari tangannya.
Ketiga orang itu melongo melihat tangannya yang kosong tidak memegang senjata lagi dan merasakan rasa nyeri seperti kesemutan pada jemari tangan mereka.
"Aku tidak akan turut campur bila di hadapanku adalah pertempuran yang adil satu lawan satu," berkata seorang lelaki muda yang sudah berdiri di dekat lelaki yang hampir mati binasa itu.
"Siapa kamu?!" berkata salah seorang dari kelima pengeroyok itu yang merasa hampir saja dapat membinasakan lawannya.
"Tidak perlu tahu siapa aku sebagaimana aku juga tidak peduli siapa kalian.
Yang jelas di hadapanku adalah lima orang berhati tikus yang tidak punya keberanian jiwa kesatria," berkata lelaki muda itu dengan tenang, tidak sedikit pun terlihat kegentarannya menghadapi kelima orang yang berwajah beringas.
"Habisi orang ini yang mencampuri urusan kita?!" berkata seorang yang bertubuh tinggi besar, sepertinya pemimpin mereka, memberi perintah untuk menghabisi lelaki muda yang datang mencampuri urusan mereka.
"Menyingkirlah," berkata lelaki muda itu kepada lelaki yang baru saja diselamatkannya itu.
Lima buah serangan kini beralih kepada lelaki muda yang baru datang itu.
Kelima orang itu seperti lima ekor serigala buas menerjang dengan golok besarnya ke arah lelaki muda itu.
Entah dengan apa caranya, sudah terjurai sebuah cambuk di tangan lelaki muda itu.
Tarrrr!!!
Terdengar lima buah bunyi ledakan sebuah cambuk yang dihentakkan hampir berbarengan.
Terlihat kelima orang itu terjengkang mundur ke belakang dengan merasakan dada yang sesak.
Ternyata cambuk itu hanya beberapa mili saja menghentak di depan dada mereka, tidak mengenai sedikit pun, tapi suara hentakan itu telah membuat dada mereka terasa sesak, sukar bernapas, serta mendorong tubuh mereka seperti berasal dari sebuah tenaga yang sangat kuat melempar tubuh mereka.
"Enyahlah dari hadapanku sebelum kesabaranku habis," berkata lelaki muda itu dengan sorot mata yang begitu mengerikan, membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa jantungnya lepas menjadi begitu ciut.
Maka tanpa perintah dan aba-aba sekali pun, terlihat kelima orang itu bangkit berlari penuh rasa jerih meninggalkan arena itu dan menghilang di kerimbunan hutan Mada yang rimbun dan pekat itu.
"Terima kasih telah menyelamatkan aku," berkata lelaki itu sambil melepaskan bayi di tangannya dengan hati-hati, meletakkannya di hamparan tanah berumput.
"Jangan banyak bergerak, aku akan mengobati lukamu," berkata lelaki muda bersenjata cambuk itu sambil mengeluarkan sebuah bubuk obat luka dari balik pakaiannya.
Ketika bubuk itu telah merata menutup hampir semua luka di punggung dan pangkal paha belakangnya, lelaki itu merasakan nyeri yang sangat.
Namun rasa nyeri itu hanya sebentar.
Lukanya sudah langsung mampat tidak mengeluarkan darah lagi.
"Ceritakanlah apa yang telah terjadi," berkata lelaki muda itu kepada orang yang terluka itu yang terlihat duduk di atas rumput di tanah bergunduk di samping seorang bayi yang sepertinya begitu nyenyak tidurnya, tidak terganggu.
Sebulan yang lalu, seorang kawanku datang kepadaku membawa bayi ini.
Kawanku itu merasa keamanannya terancam dan ia meminta aku untuk merawat bayi ini.
"Kawanku itu berpesan agar aku dan bayi ini bersembunyi di hutan Mada ini sampai waktu sebulan di mana ia akan datang mengambil bayi ini kembali," bercerita lelaki itu.
"Namun sebulan kemudian, kawanku tidak juga muncul di hutan ini, melainkan kelima orang itu yang datang bermaksud merebut bayi ini dari tangannya untuk dibunuh," berkata kembali orang itu.
"Apa hubungannya kelima orang itu dengan kawanmu?" bertanya lelaki muda bersenjata cambuk itu.
Kawanku itu dulunya adalah sekelompok orang di Balidwipa ini yang setia kepada Raja Adidewalancana.
Karena sudah tidak sepaham lagi, kawanku berbalik arah bergabung dengan pihak lawan.
Kawanku dianggap sebagai pengkhianat oleh kelompoknya dan dikejar untuk dimusnahkan seluruh keluarganya.
"Itulah sebabnya ia datang menitipkan bayi ini," berkata orang itu kepada lelaki muda.
"Siapakah nama kawanmu itu, mungkin aku mengenalnya?" berkata lelaki muda bersenjata cambuk itu kepada orang yang terluka.
"Made Santu dari Tejakula, kelima orang itu mungkin telah berhasil membunuhnya," berkata orang yang terluka itu.
"Aku pernah mendengar namanya, seorang pribumi yang berani yang membocorkan sebuah gerakan pemberontakan di Kademangan Tejakula beberapa bulan yang lalu," berkata lelaki muda bersenjata cambuk itu.
"Apakah aku boleh tahu nama Tuan, agar aku dapat mengingat nama orang yang pernah menyelamatkan selembar nyawaku ini?" berkata orang terluka itu kepada lelaki muda bersenjata cambuk itu.
"Namaku Mahesa Amping," berkata lelaki muda yang bersenjata cambuk itu dengan senyum yang selalu menghias wajahnya, penuh kesejukan siapa pun yang melihatnya.
Melihat senjata cambuk di tangan Tuan, sejak semula aku sudah menduga-duga.
Ternyata dugaanku tidak salah.
Hari ini aku merasa bangga telah ditolong oleh Senapati Mahesa Amping.
"Hampir setiap orang di Balidwipa ini mengenal nama Tuan," berkata orang itu.
"Jadi bayi ini putra Made Santu?" bertanya Mahesa Amping kepada orang itu.