Halo!

Kabut Di Bumi Singosari - Chapter 11

Memuat...
Kabut Di Bumi Singosari

Chapter 11

Orang itu tidak langsung menjawab, tetapi tersenyum getir sambil melirik bayi yang ada di sampingnya, seolah merasa iba atas nasib bayi itu.

"Made Santu tidak pernah punya anak seorang pun, sementara kelima orang itu masih mengira bahwa bayi ini adalah putranya," kata orang itu kepada Mahesa Amping.

"Bila bayi ini bukan putranya, kenapa dia datang kepadamu menitipkan bayi ini?" tanya Mahesa Amping, penuh ketidakmengertian akan hubungan bayi itu dengan Made Santu.

"Ketika menitipkan bayi ini, kawanku Made Santu bercerita bahwa bayi ini adalah putra seorang Brahmana yang telah berniat meninggalkan keramaian dunia, menyepi menyucikan dirinya di suatu tempat yang dirahasiakannya, jauh dari kehidupan manusia," kata orang itu. "Kawanku Made Santu juga menunjukkan sebuah keajaiban atas bayi ini kepadaku," tambah orang itu kepada Mahesa Amping.

"Keajaiban apakah yang ada pada bayi ini?" tanya Mahesa Amping penuh rasa ingin tahu.

"Tidakkah Tuan merasakan bahwa ada awan di atas kita yang tidak pernah bergerak sedikit pun, seolah terus meneduhi ke mana pun bayi ini berada?" kata orang itu sambil menunjuk ke arah awan di atas mereka yang memang tampak terus meneduhi dari sinar matahari di siang itu, di atas tanah bergunduk di tengah hutan Mada.

Mahesa Amping melihat ke atas awan yang memang sejak tadi menjadikan sekitar mereka begitu teduh.

Mahesa Amping mulai percaya bahwa bayi itu memang mempunyai keajaiban yang tidak dimiliki oleh siapa pun. Bayi itu seolah dilindungi oleh banyak tangan dewa-dewi tak terlihat yang selalu mengasuh dan menjaganya dengan penuh kasih.

Dan, diam-diam, ada perasaan hati yang kuat untuk memiliki bayi itu, sebuah perasaan yang sangat aneh yang dirasakan oleh Mahesa Amping. "Tuan telah menolong jiwaku, dapatkah Tuan meluluskan sebuah permintaanku?" kata orang itu penuh harap kepada Mahesa Amping.

"Apakah gerangan permintaanmu?" tanya Mahesa Amping.

"Merawat bayi ini," kata orang itu kepada Mahesa Amping.

"Di tangan Tuan, aku yakin musuh-musuh Made Santu akan berpikir sepuluh kali lipat untuk berniat mencelakai bayi ini," ujar orang itu lagi.

Entah kenapa Mahesa Amping seolah merasakan hatinya penuh suka cita yang meletup-letup. Permintaan orang itu seperti mewakili keinginan hatinya, yaitu memiliki bayi itu dengan segenap hati.

"Aku menerima permintaanmu. Entah apa yang ada pada diriku. Sebelum kamu menawarkan kepadaku, hati ini begitu sarat dipenuhi keinginan untuk memiliki dan merawat bayi ini," kata Mahesa Amping kepada orang itu.

"Perasaan itu pun juga pernah memenuhi perasaanku ketika Made Santu membawa bayi ini kepadaku. Namun, perasaan memiliki ini telah berganti dengan perasaan kekhawatiran untuk tidak dapat menjaganya. Diri ini tampaknya berharap bayi ini berada di tempat yang aman. Dan saat ini, tempat yang paling aman untuk bayi ini adalah diri Tuan Senapati," kata orang itu kepada Mahesa Amping.

"Aku berjanji untuk menjaganya dengan sepenuh hati," kata Mahesa Amping kepada orang itu.

"Terima kasih, Tuan Senapati. Perkenalkan, namaku Putu Rantu yang akan selalu mengenang pertolongan Tuan Senapati," kata orang itu sambil menjura penuh rasa terima kasih yang tak terhingga.

"Tidak usah berterima kasih kepadaku secara berlebihan, semua sudah digariskan. Kebetulan sekali aku lewat hutan ini," kata Mahesa Amping kepada orang itu yang memperkenalkan dirinya bernama Putu Rantu.

"Tuan Senapati benar, semua memang sudah digariskan, sebagaimana nyawaku hari ini yang masih tetap utuh melekat di raga ini," kata Putu Rantu penuh kegembiraan karena masih dalam keadaan selamat dari bahaya kematian.

"Lukamu masih perlu perawatan, sebaiknya kita mencari padukuhan terdekat untuk istirahat sementara agar dirimu dapat pulih seperti sediakala," kata Mahesa Amping kepada Putu Rantu, mengajaknya keluar dari hutan Mada untuk mencari sebuah padukuhan terdekat.

Namun, ketika mereka akan beranjak, Mahesa Amping menahan Putu Rantu untuk tetap di tempatnya.

"Siapa pun yang tengah mencuri dengar, keluarlah!" kata Mahesa Amping dengan suara menggema ke segala penjuru.

Maka, tidak lama kemudian, muncullah sesosok tubuh seorang tua berjubah putih keluar dari persembunyiannya di balik semak belukar hutan Mada.

"Ternyata Tuan Senapati Mahesa Amping punya pendengaran yang tajam," kata orang itu sambil tertawa panjang.

"Aku sudah melihat dirimu yang tidak berbuat apa pun ketika Saudara Putu Rantu ini dalam bahaya," kata Mahesa Amping kepada orang itu.

"Ternyata nama besar Senapati Mahesa Amping bukan nama kosong. Aku, Jabarantas yang tua ini, tidak mendengar sedikit pun kehadiran Tuan Senapati," kata orang itu yang mengaku bernama Jabarantas.

"Kalau boleh tahu, ada kepentingan apakah sehingga Ki Jabarantas bersusah diri mengintai begitu lama di semak belukar?" tanya Mahesa Amping kepada Ki Jabarantas yang sudah datang mendekat.

"Kemarin malam aku melihat ada bintang jatuh di hutan Mada ini. Hal itulah yang memaksa diriku datang ke hutan ini. Tidak sengaja menyaksikan pertempuran itu dan mendengar cerita tentang bayi itu," kata Ki Jabarantas sambil tertawa terkekeh-kekeh.

"Aku jadi tertarik untuk memiliki bayi itu," tambah Ki Jabarantas.

"Apa yang Ki Jabarantas inginkan dari bayi ini?" tanya Mahesa Amping kepada Ki Jabarantas.

"Aku tertarik untuk menjadikannya murid tunggalku," kata Ki Jabarantas.

"Putu Rantu telah menyerahkannya kepadaku," kata Mahesa Amping dengan suara yang tegas dan berwibawa.

"Nama besarmu tidak akan menciutkan keinginanku untuk mengambil bayi itu," kata Ki Jabarantas dengan suara menantang.

"Bagaimana bila aku tetap mempertahankannya?" kata Mahesa Amping dengan suara yang tenang.

"Aku akan merebutnya dengan paksa," kata Ki Jabarantas kepada Mahesa Amping.

"Mungkin bukan hanya Ki Jabarantas saja yang begitu menginginkan bayi ini, masih ada banyak orang yang senang bermain sembunyi-sembunyian," kata Mahesa Amping dengan suara yang sengaja dikeraskan karena pendengarannya yang tajam telah mendengar masih ada beberapa orang lagi tengah bersembunyi di sekitar hutan Mada.

Ternyata ucapan Mahesa Amping telah membuat beberapa orang yang bersembunyi terpaksa keluar dari persembunyiannya.

Terlihat tiga orang muncul dari balik sebuah pohon besar.

Dari wajah ketiga orang itu, dapat dikatakan ketiganya sudah cukup berumur, namun belum dapat dikatakan sudah cukup tua sebagaimana Ki Jabarantas.

Diam-diam, Ki Jabarantas memuji ketajaman pendengaran Mahesa Amping karena dirinya sendiri tidak mengetahui ada orang lain yang sedang mengintai.

"Nama besar Senapati Mahesa Amping ternyata bukan omong kosong, diam-diam telah mengetahui kehadiran kami," kata salah seorang dari ketiga orang yang baru saja muncul itu.

"Apakah kalian bertiga juga punya kepentingan dengan bayi itu?" tanya Mahesa Amping kepada ketiga orang yang baru muncul itu.

"Ibu dari bayi itu adalah putri guru kami, sudah lama kami mencari-cari. Serahkanlah kepada kami untuk membawanya pulang ke Padepokan Teratai Putih," kata salah seorang dari mereka yang paling tua.

"Tuan Senapati, jangan serahkan bayi ini kepada mereka. Kawanku Made Santu juga berpesan jangan sampai bayi ini jatuh ke tangan orang-orang dari Padepokan Teratai Putih," kata Putu Rantu kepada Mahesa Amping.

"Kalian dengar sendiri, bayi ini tidak akan kuserahkan kepada kalian," kata Mahesa Amping kepada ketiga orang dari Padepokan Teratai Putih itu.

"Terpaksa kami akan melakukannya dengan kekerasan," kata salah seorang yang paling tua di antara ketiga orang itu. "Berbuat kekerasan kepadaku? Apakah kalian tidak takut akan berurusan dengan prajurit Singasari?" kata Mahesa Amping menggertak.

"Jangan kamu campuradukkan masalah ini, urusan ini adalah urusan seorang bayi," kata orang tertua itu yang sedikit gentar bila saja Mahesa Amping mengaitkannya dengan kedudukannya sebagai seorang Senapati Singasari.

"Baiklah, aku tidak akan mengaitkan urusan ini dengan kedudukanku sebagai seorang Senapati. Aku akan bertanggung jawab bahwa ini adalah urusan pribadi," kata Mahesa Amping dengan sebuah senyum, menangkap kekhawatiran ketiga orang yang berasal dari Padepokan Teratai Putih.

"Kami tidak suka kekerasan, kamilah yang berhak atas bayi itu," kata orang itu lagi kepada Mahesa Amping.

"Kalian baru datang sudah bicara tentang hak? Akulah yang berhak atas bayi itu yang telah berjodoh kepadaku untuk kujadikan murid tunggalku," sela Ki Jabarantas, ikut menyela pembicaraan orang dari Padepokan Teratai Putih.

Ketiga orang itu semuanya menoleh ke arah Ki Jabarantas.

"Kamilah yang berhak, buyut bayi ini adalah guru kami," kata orang tertua kepada Ki Jabarantas. "Seandainya yang datang buyut bayi ini sendiri, aku tetap berkeras untuk membawanya," sahut Ki Jabarantas kepada ketiga orang dari Padepokan Teratai Putih.

"Terpaksa kami akan merebutnya dengan kekerasan," kata orang tertua itu dari Padepokan Teratai Putih kepada Ki Jabarantas.

"Aku ada usul, bagaimana bila kalian menunggu lima tahun lagi untuk menanyakan langsung kepada bayi ini, siapakah di antara kalian yang dipilih? Sementara itu, selama lima tahun bayi ini kurawat dengan baik," kata Mahesa Amping dengan penuh senyum.

"Itu akal-akalan Tuan Senapati saja, setelah lima tahun mungkin ada lagi akal-akalannya," kata orang tertua dari Padepokan Teratai Putih, tidak menerima usulan Mahesa Amping.

"Aku setuju dengan usulan Tuan Senapati, tetapi bedanya selama lima tahun bayi ini berada dalam perawatanku," kata Ki Jabarantas.

"Kami juga tidak percaya kepadamu," kata orang tertua dari Padepokan Teratai Putih.

"Bila kalian tidak menyetujui usulku, apakah kalian sendiri punya usul?" tanya Mahesa Amping kepada ketiga orang dari Padepokan Teratai Putih.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment