Chapter 12
"Terpaksa kita harus bertempur. Siapa yang menang dalam pertempuran ini, dialah yang berhak atas bayi ini," kata orang tertua dari Padepokan Teratai Putih mengusulkan.
"Kalian curang, jumlah kalian lebih banyak. Tapi aku tidak akan takut!" kata Ki Jabarantas, bersiap-siap memasang kuda-kuda.
"Aturan permainannya, satu melawan dua kubu?" tanya Mahesa Amping, meminta penjelasan.
"Benar, di sini ada tiga kubu: Tuan Senapati, Ki Jabarantas, dan kami bertiga," kata orang tertua dari Padepokan Teratai Putih.
"Sudah kubilang mereka curang, tapi aku tidak akan mundur!" kata Ki Jabarantas sambil memberi isyarat mata kepada Mahesa Amping.
Ternyata Mahesa Amping dapat menangkap isyarat itu.
"Aku terima usul kalian," kata Mahesa Amping sambil mengayunkan cambuknya dengan wajah tersenyum penuh arti kepada Ki Jabarantas.
Terlihat ketiga orang dari Padepokan Teratai Putih mengeluarkan senjatanya: sebuah cakra dengan pegangan yang semuanya terbuat dari besi putih pilihan.
"Senjataku ini adalah tongkatku!" kata Ki Jabarantas, langsung menyerang orang tertua dari Padepokan Teratai Putih.
Melihat Ki Jabarantas sudah menyerang salah seorang dari Padepokan Teratai Putih, Mahesa Amping pun mendekati dua orang lainnya.
"Mari kita mulai permainan ini, aku sudah siap," kata Mahesa Amping kepada keduanya.
Kedua orang itu seperti terpojok, tidak dapat membantu kawannya yang tengah menghadapi Ki Jabarantas.
Sementara Mahesa Amping sudah siap menantangnya.
"Ternyata otak kalian cukup cemerlang," kata salah seorang yang bertubuh jangkung kepada Mahesa Amping.
"Kamu pikir kalian saja yang punya perhitungan?" kata Mahesa Amping sambil tersenyum.
"Kita habisi senapati sombong ini, lalu kita keroyok orang itu," kata temannya yang lain kepada kawannya yang bertubuh jangkung.
"Kamu benar, secepatnya kita selesaikan!" kata orang yang bertubuh jangkung itu sambil melangkah mendekati Mahesa Amping, diikuti kawannya.
Sementara itu, orang tertua dari Padepokan Teratai Putih sudah saling menyerang dengan Ki Jabarantas. Senjata cakra di tangannya berdesing mengejar Ki Jabarantas yang membalasnya dengan tongkatnya.
Terjadilah saling mengelak dan menyerang di antara keduanya.
Pada waktu yang sama, kedua orang dari Padepokan Teratai Putih telah menyerbu Mahesa Amping dengan senjata cakranya.
Dua buah cakra menyambar-nyambar tubuh Mahesa Amping.
Terlihat Mahesa Amping melompat ke sana kemari menghindari kedua serangan cakra itu, tanpa berusaha balas menyerang.
Mungkin hanya untuk mengikuti dan mempelajari sejauh mana kehebatan serangan kedua orang itu dengan senjata cakranya.
Namun, sikap Mahesa Amping disalahartikan oleh kedua orang itu. Mereka mengira Mahesa Amping tidak dapat berbuat banyak menghadapi serangan senjata cakra mereka yang kuat dan terus-menerus menyambar.
"Serangan yang hebat!" kata Mahesa Amping dengan penuh senyum, melompat menghindari serangan mereka.
Sementara itu, pertempuran antara Ki Jabarantas dan lawannya terlihat sudah semakin seru.
Mereka dengan cepat sudah meningkatkan tataran ilmu masing-masing.
Saling menyerang untuk secepatnya menyelesaikan pertempuran.
"Orang ini pasti murid pilihan dari Padepokan Teratai Putih," kata Ki Jabarantas dalam hati, melihat kelihaian lawannya yang terus meningkatkan tataran ilmunya.
"Sukar sekali menundukkan orang ini," kata pula orang tertua dari Padepokan Teratai Putih yang merasa penasaran karena belum juga dapat melumpuhkan Ki Jabarantas.
Sementara itu, Putu Rantu yang masih duduk di luar arena kedua pertempuran itu mengkhawatirkan keadaan Mahesa Amping yang tengah menghadapi dua orang lawan dari Padepokan Teratai Putih.
Dalam penglihatannya, Mahesa Amping tidak sempat membalas serangan kedua lawannya.
"Bila Tuan Senapati tidak dapat mengalahkan keduanya, bayi ini akan jatuh ke Padepokan Teratai Putih," kata Putu Rantu, mengkhawatirkan keadaan Mahesa Amping.
Namun, kekhawatiran Putu Rantu tidak beralasan sama sekali, sebab yang terjadi adalah Mahesa Amping membiarkan dirinya diserang sekadar untuk mengetahui kemampuan ilmu mereka, termasuk kelebihan dan kekurangannya, terutama senjata cakra mereka yang terus berdesing ke mana pun Mahesa Amping mengelak.
"Hemm," gumam Mahesa Amping dengan sedikit tersenyum, sepertinya telah mendapat gambaran mengenai ilmu cakra dari kedua lawannya itu.
Terlihat dalam sebuah serangan yang bersamaan, Mahesa Amping tidak hanya sekadar mengelak, kali ini ia membalasnya dengan melancarkan serangan ganda yang cepat kepada kedua lawannya.
Betapa terkejutnya kedua lawannya itu, sebab sebuah serangan yang tidak terduga datangnya begitu cepat.
Terlihat kedua lawan Mahesa Amping mundur beberapa langkah dengan mata terkesima.
"Kenapa kalian melotot seperti itu?" kata Mahesa Amping kalem sambil berdiri memegang ujung cambuknya.
"Jangan senang dulu, kami hanya sedikit terkejut," kata orang yang bertubuh jangkung, menyadari keterkejutannya, langsung menyerang kembali diikuti kawannya.
Mendapatkan serangan dari kedua lawannya itu, Mahesa Amping hanya mundur selangkah dan balas menyerang salah seorang lawannya yang bertubuh jangkung, yang langsung mundur selangkah. Serangan berikutnya dari Mahesa Amping adalah menyentakkan cambuknya ke arah kawannya yang lain. Orang itu memang sudah siap menerima serangan dari Mahesa Amping, namun tidak menduga serangan itu lebih cepat dari dugaannya.
Terpaksa orang itu berguling ke samping.
Mahesa Amping tidak mengejarnya karena kawannya yang bertubuh jangkung sudah kembali menyerangnya.
Namun, Mahesa Amping sudah memperhitungkannya. Maka, sambil sedikit menjauh, cambuknya pun balas menyerang.
Kembali lawannya yang bertubuh jangkung mundur beberapa langkah.
Putu Rantu yang melihat perkembangan itu menarik napas lega.
"Ternyata Tuan Senapati selama ini tengah mengukur kemampuan lawannya," kata Putu Rantu dalam hati.
Mahesa Amping memang sudah dapat mengukur sejauh mana ilmu cakra lawannya.
Mahesa Amping sudah dapat menentukan cara menghadapi ilmu lawan-lawannya dengan menjaga jarak serang mereka.
Maka, yang terlihat saat itu berbeda dari sebelumnya. Kedua lawan Mahesa Amping seakan-akan telah menjadi bulan-bulanan Mahesa Amping yang masih belum ingin mengakhiri pertempurannya, masih ingin bermain-main.
Terlihat kedua lawannya itu nyaris tidak mampu membalas serangan Mahesa Amping yang terus menjaga jarak serang sambil mengejar kedua lawannya dengan cambuknya.
"Gila!" kata lawan Mahesa Amping yang bertubuh jangkung sambil melompat ke samping menghindari ujung cambuk Mahesa Amping yang seolah bermata.
Sementara itu, pertempuran antara Ki Jabarantas dan orang tertua dari Padepokan Teratai Putih semakin seru dan menegangkan.
Keduanya sudah berada dalam tataran tertinggi ilmu masing-masing.
Ternyata ilmu mereka hanya berbeda tipis. Terlihat keduanya saling menyerang dengan serangan ilmu masing-masing yang sangat berbahaya.
Bila dibandingkan dengan dua orang yang tengah berhadapan dengan Mahesa Amping, ilmu cakra orang tertua dari Padepokan Teratai Putih terlihat jauh lebih tinggi.
Beberapa kali Ki Jabarantas nyaris menjadi sasaran senjata cakra di tangan orang itu yang berdesing cepat menyambar tubuh Ki Jabarantas.
Namun, Ki Jabarantas juga bukan orang sembarangan. Ia sepertinya memiliki banyak pengalaman bertempur.
Itulah sebabnya pertempuran keduanya tampak menjadi semakin sengit.
Kembali ke pertempuran antara Mahesa Amping yang sudah berada di atas angin, kedua orang lawannya berkali-kali harus mengeluarkan sumpah serapah karena nyaris menjadi sasaran empuk ujung cambuk Mahesa Amping.
"Kucing kurap edan!" kata salah seorang lawan Mahesa Amping yang terjungkir mencium tanah basah ketika harus berguling menghindari ujung cambuk Mahesa Amping yang nyaris mengenai dadanya.
Untungnya, Mahesa Amping tidak segera mengejarnya, namun mengalihkan serangannya ke arah lawannya yang bertubuh jangkung.
"Ilmu cambuk edan!" kata lawan Mahesa Amping yang tidak menduga serangan Mahesa Amping begitu cepat datangnya, langsung mundur ke belakang.
Namun, dengan mudahnya Mahesa Amping melanjutkan serangannya. Cambuknya yang berputar setengah lingkaran itu seketika berhenti dan kemudian bergerak seperti ular hidup mengejar lawannya yang baru saja menjejakkan kakinya mundur.
"Akhhh," ujung cambuk Mahesa Amping berhasil mematuk pangkal paha lawannya yang bertubuh jangkung.
Terlihat orang itu meringis, merasakan kakinya seperti remuk dihantam batu besar.
Orang itu terjatuh duduk di tanah.
Melihat kawannya dalam keadaan bahaya jika saja Mahesa Amping melanjutkan serangannya, maka lawan Mahesa Amping yang satu lagi langsung meloncat menyerang Mahesa Amping.
Sebenarnya, Mahesa Amping bisa saja langsung menyerang dengan cambuknya, namun itu tidak dilakukannya.
Ia biarkan orang itu menghujamkan cakranya menuju bagian pinggangnya.
Dengan sedikit gerakan ke belakang, cakra itu lewat sebatas jari tangan di hadapannya.
Tiba-tiba saja, tangan Mahesa Amping menjentik punggung tangan orang itu. Luar biasa!
Hanya dengan sedikit jentikan tangan, senjata cakra dalam genggaman orang itu terlempar.
Sementara orang itu masih merasakan tangannya nyeri dan kaku, kaki Mahesa Amping berhasil menerjang perut orang itu.
Bukk!
Terlihat orang itu terjengkang jatuh di tanah. Untungnya, Mahesa Amping hanya menggunakan sedikit kekuatannya.
Namun, itu saja telah membuat orang itu sesak napas.
Melihat kawannya seperti sudah tidak berdaya, maka orang yang bertubuh jangkung langsung menyerang Mahesa Amping dengan maksud melindungi kawannya dari serangan Mahesa Amping.
"Aku masih sanggup melawanmu," kata orang bertubuh jangkung itu sambil menerjang Mahesa Amping dengan senjata cakranya.
Pandangan mata Mahesa Amping masih menghadap lawannya, namun pendengaran dan penciumannya yang sangat tajam telah mendengar suara berdesing di belakang dirinya.