Chapter 13
"Awas, pisau beracun!" seru Mahesa Amping sambil menundukkan tubuhnya yang nyaris saja lehernya tersambar sebuah pisau beracun yang melesat tipis di atas kepalanya.
Ternyata ucapan Mahesa Amping itu ditujukan untuk lawannya.
Terlihat pisau terbang itu masih meluncur deras ke arah lawan Mahesa Amping yang berada tepat di hadapannya.
Orang yang bertubuh jangkung itu seperti melihat malaikat terbang yang akan mencabut nyawanya.
Tidak ada kesempatan baginya untuk mengelak dan menghindari pisau terbang itu yang tengah bergerak begitu cepat, sementara langkah kakinya sudah mati langkah.
Dengan wajah dan mata terbelalak, ia menatap tanpa dapat bergerak dan berbuat apa pun.
Tarrr!
Ujung cambuk Mahesa Amping telah bergerak begitu cepat, menghentak pisau terbang itu ke arah yang berbeda, sehingga tidak jadi menembus leher orang jangkung itu yang sudah seperti pasrah.
Orang jangkung itu seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dengan kecepatan yang tidak dapat diduga, sebuah kecepatan yang belum pernah ia lihat selama hidupnya, cambuk Mahesa Amping telah menyelamatkan jiwanya.
Sementara itu, hari di hutan Mada sudah mendekati senja. Sinar matahari sudah mulai condong ke barat, terhalang oleh kerimbunan daun dan ranting pohon di hutan Mada yang tinggi menjulang.
Di keremangan hutan Mada di awal senja itu, terlihat muncul beberapa orang mendekati arena pertempuran.
"Guru!" seru kedua lawan Mahesa Amping, menatap seseorang di antara beberapa orang yang baru datang mendekati mereka.
Ternyata mereka adalah orang-orang dari Padepokan Teratai Putih.
Seorang yang dipanggil guru oleh kedua lawan Mahesa Amping terlihat berwajah pucat seperti tanpa darah, dengan rambut terurai yang tidak terikat dan sudah berwarna putih merata.
Hanya orang yang dipanggil guru ini saja yang mengenakan jubah berwarna hitam, sementara beberapa orang yang mengiringinya memakai pakaian orang pada umumnya.
"Guru macam apa yang hampir saja mencelakai muridnya sendiri?" ujar Mahesa Amping kepada orang yang baru datang itu.
"Ternyata Senapati dari Singasari yang terkenal itu masih begitu muda," ujar orang yang dipanggil guru itu menatap Mahesa Amping dari bawah sampai ke atas.
"Sayangnya, aku di sini bukan sebagai seorang Senapati, hanya mewakili diri pribadi untuk membawa bayi itu," ujar Mahesa Amping mencoba menebak maksud kedatangan orang-orang dari Padepokan Teratai Putih.
Sementara itu, orang tertua dari Padepokan Teratai Putih yang tengah bertempur melawan Ki Jabarantas, ketika melihat guru dan rombongan dari padepokannya, langsung menghentikan pertempurannya dan melompat jauh mendekati gurunya.
"Permainan kita belum selesai!" seru Ki Jabarantas sambil mengejar orang itu, namun berhenti menghadap ke arah orang-orang yang baru datang itu.
"Habisi orang itu!" perintah orang berjubah serba hitam itu.
Tanpa bertanya lagi, sepuluh orang yang ada bersama orang yang dipanggil guru itu sudah langsung mengepung Ki Jabarantas.
Ketiga orang dari Padepokan Teratai Putih yang datang sebelumnya turut mengepung Ki Jabarantas, maka lengkaplah sudah tiga belas orang mengepung Ki Jabarantas.
Meski baru mengenalnya di hutan Mada itu, ada rasa ketidaksenangan melihat Ki Jabarantas dikeroyok oleh tiga belas orang dari Padepokan Teratai Putih.
Namun belum lagi kaki Mahesa Amping melangkah, orang yang disebut sebagai guru itu telah menghadangnya.
"Biarkanlah mereka, aku ingin mencoba sejauh mana nama besarmu yang menghebohkan jagat Balidwipa ini," ujar orang berjubah serba hitam itu menghadang Mahesa Amping.
Sejenak Mahesa Amping memperhatikan orang di hadapannya itu. Dari wajahnya yang pucat, sekilas Mahesa Amping mendapat pertanda bahwa orang di hadapannya telah menguasai kekuatan hawa dingin yang tinggi.
"Ternyata hari ini aku berjodoh untuk berkenalan dengan Ki Karmapala dari Padepokan Teratai Putih," ujar Mahesa Amping sebagai seorang Senapati yang banyak mengetahui orang-orang tersohor di Balidwipa dari para prajurit delik sandinya.
"Aku sudah melihat sedikit kemampuanmu ketika berhadapan dengan dua orang pengikutku, jangan anggap bahwa kamu akan mudah menghadapiku," ujar orang yang dipanggil Ki Karmapala oleh Mahesa Amping.
"Mudah-mudahan sedikit kemampuanku ini tidak mengecewakan Ki Karmapala," ujar Mahesa Amping sambil mengayunkan cambuknya.
Sementara tiga belas orang dari Padepokan Teratai Putih sudah mengepung Ki Jabarantas.
Tetapi hal itu tidak mengurangi ketenangan Ki Jabarantas.
Ternyata Ki Jabarantas mempunyai ketabahan yang tinggi, meski masih sangsi apakah ia akan mampu menghadapi keroyokan tiga belas orang dari Padepokan Teratai Putih.
Demikianlah, tanpa aba-aba apa pun, ketiga belas orang dari Padepokan Teratai Putih sudah langsung mengeroyok Ki Jabarantas seperti sekumpulan serigala buas mengejar mangsanya.
Ternyata Ki Jabarantas memiliki sedikit kemampuan, tidak gentar, dan langsung menghadapi setiap serangan orang-orang bersenjata cakra itu dengan tongkat panjangnya.
Maka terjadilah sebuah pengeroyokan yang menggetarkan hati siapa pun yang melihatnya.
Juga menggetarkan hati Mahesa Amping yang telah dihadang oleh Ki Karmapala tanpa dapat membantu.
"Hari ini akan ada dua mayat di hutan Mada ini, tanpa pemakaman," ujar Ki Karmapala sambil mengeluarkan senjata cakranya, langsung menyambar menyerang ke arah tubuh Mahesa Amping.
"Pukulan yang kuat!" gumam Mahesa Amping dalam hati ketika berhasil mengelak serangan cakra Ki Karmapala yang berdesing lewat beberapa jengkal dari kepalanya.
Mahesa Amping tidak menganggap remeh lawannya itu, dan tidak ingin menjadi sasaran empuk terus-menerus dari senjata cakra di tangan Ki Karmapala.
Maka sambil menunduk menghindari serangan Ki Karmapala, cambuknya dihentakkan, melecut ke arah tubuh Ki Karmapala.
Ternyata Ki Karmapala telah memperhitungkan keadaan itu. Dirinya tidak mundur ke belakang, malahan bergeser sedikit sambil maju ke depan mendekati Mahesa Amping, sekaligus menusukkan cakranya ke perut Mahesa Amping.
Diam-diam Mahesa Amping kagum atas kecerdikan lawannya itu mengelak serangannya dan tidak terbawa arus permainan cambuk Mahesa Amping dalam pertempuran jarak jauh.
Kembali Mahesa Amping mundur selangkah sambil menghentakkan ujung cambuknya, tetapi tetap saja Ki Karmapala merangsek maju, balas menyerang.
Sementara itu, Mahesa Amping masih sempat memperhatikan keadaan Ki Jabarantas. Meski baru mengenalnya, di hati Mahesa Amping sudah timbul rasa kekhawatiran atas diri Ki Jabarantas.
Ternyata Ki Jabarantas masih sanggup bertahan meski dengan mengeluarkan tenaga yang hampir terkuras habis.
Maka timbullah keinginan di hati Mahesa Amping untuk mempercepat pertempurannya dengan Ki Karmapala.
Bukan main kagetnya Ki Karmapala ketika hampir saja cakranya menyambar kepala Mahesa Amping; ternyata Mahesa Amping tidak mundur, bahkan seperti menjemput cakra itu.
Keterkejutan Ki Karmapala dimanfaatkan oleh Mahesa Amping. Sambil merunduk menghindari cakra di atas kepalanya, salah satu kaki Mahesa Amping langsung merangsek menembus perut Ki Karmapala.
Buk!
Tendangan Mahesa Amping berhasil bersarang di perut Ki Karmapala.
Untungnya Mahesa Amping tidak menyalurkan tenaga cadangannya yang dahsyat, hanya seperlima kekuatannya.
Namun tetap saja Ki Karmapala seperti merasakan perutnya terhantam bongkahan batu besar.
Terlihat Ki Karmapala terjungkal jatuh ke bumi.
Mahesa Amping tidak mengejarnya, malahan langsung terbang menerjang tiga belas orang dari Padepokan Teratai Putih.
Maka dengan sekali terjangan itu, langsung tiga orang dari Padepokan Teratai Putih terjengkang terkena ujung-ujung cambuk Mahesa Amping.
Ketiga orang dari Padepokan Teratai Putih itu sudah pingsan, tidak dapat bangkit berdiri.
"Terima kasih telah mengurangi lawanku!" ujar Ki Jabarantas kepada Mahesa Amping sambil menghalau sebuah serangan dan balas menyerangnya.
Namun, di saat yang bersamaan, pendengaran Mahesa Amping dapat mendengar angin mendesir di belakang punggungnya.
"Pisau terbang!" seru Mahesa Amping sambil memiringkan badannya.
Serrr!
Sebuah pisau terbang lewat hanya sebatas dua jari dari punggungnya dan terus melaju begitu cepat, seperti dilempar oleh seorang ahli dengan kekuatan yang nyaris sempurna.
Bresss!
Pisau terbang itu telah menembus salah seorang dari Padepokan Teratai Putih yang paling dekat dengan Mahesa Amping, tepat di dadanya.
"Terlalu!" gumam Mahesa Amping dalam hati dengan perasaan geram, mengetahui siapa pemilik pisau terbang itu.
Namun ketika Mahesa Amping berbalik badan, dilihatnya sebuah bayangan melesat di belakang Ki Karmapala.
Hari memang sudah mulai gelap, mengaburkan pandangan di sekitar padang gumuk hutan Mada itu.
Belum sempat Mahesa Amping berpikir apa yang dilakukan oleh bayangan hitam itu, ternyata bayangan hitam itu tidak berbuat apa pun kepada Ki Karmapala. Bayangan hitam itu terus melesat mendekati Putu Rantu.
Mahesa Amping berpikir cepat, tahu apa yang diinginkan oleh bayangan hitam itu.
Ternyata dugaan Mahesa Amping tidak meleset jauh, bayangan hitam itu sudah menyambar bayi yang berada di samping Putu Rantu yang masih terluka, tidak dapat berbuat apa pun.
Ki Karmapala ternyata juga ikut melihat semua yang terjadi.
Tetapi, kejadian itu terjadi dengan begitu cepat.
Tidak ada seorang pun yang dapat mencegah bayangan hitam itu yang melesat seperti terbang, langsung menyambar bayi di samping Putu Rantu, dan terus melesat lagi begitu cepat, hilang di kegelapan malam, di kerepatan dan kerimbunan hutan Mada.
"Kepung mereka, jangan sampai meninggalkan tempat ini!" teriak Ki Karmapala kepada para pengikutnya untuk mengepung Mahesa Amping dan Ki Jabarantas.
Sementara Ki Karmapala sudah melesat berlari mengejar ke arah menghilangnya bayangan hitam itu.
Mahesa Amping yang ingin mengejar bayangan hitam itu tidak dapat berbuat apa-apa selain menghadapi orang-orang dari Padepokan Teratai Putih.