Chapter 14
Mahesa Amping tidak dapat lagi bermain-main karena kekhawatirannya terhadap bayi itu telah memenuhi perasaan dan pikirannya. Sesuatu yang luar biasa telah terjadi, Ki Jabarantas tercenung melihat bagaimana Mahesa Amping merobohkan lima orang pengeroyoknya dengan sekali serangan. Lima orang itu seperti tersapu terhantam tangan, kaki, dan cambuk Mahesa Amping yang bergerak dengan cepatnya, sehingga mereka langsung terjengkang jatuh tidak bergerak dan pingsan.
"Lawanmu sudah sedikit berkurang, layanilah mereka. Aku mengejar orang yang mencuri bayi itu," berkata Mahesa Amping kepada Ki Jabarantas sambil melesat terbang masuk ke dalam hutan pada arah bayangan hitam dan Ki Karmapala menghilang. "Aku akan menyusulmu," berkata Ki Jabarantas sambil mengayunkan tombaknya kesana kemari menghadapi lawannya yang sudah berkurang.
Sementara itu, Mahesa Amping sudah masuk ke dalam kegelapan hutan Mada yang pekat. Untunglah pendengaran Mahesa Amping yang sangat tajam dan terlatih dapat membedakan suara jerit binatang kecil di hutan yang panik terusik. Kearah itulah langkah kaki Mahesa Amping berlari di kegelapan malam hutan Mada.
Di waktu yang sama, di pedalaman hutan Mada telah terjadi pertempuran yang begitu mencekam, sebuah pertempuran antara Ki Karmapala dengan seorang wanita yang masih saja mendekap erat seorang bayi di tangannya. "Mengapa Ayah masih saja memburuku?" apakah Ayah belum puas telah memisahkan Ayah bayi ini dari kami?" berkata wanita itu mengelak sambaran senjata cakra yang ternyata adalah putri Ki Karmapala sendiri.
"Kalian telah memalukan aku," berkata Ki Karmapala sambil menerjang wanita yang ternyata putrinya sendiri. Tapi dengan gesit, wanita itu dapat menghindari serangan Ki Karmapala yang terlihat begitu bernafsu untuk menghabisi nyawanya. "Aku tidak mau keturunanku berpindah arah berpegang kepada panutan lain, itulah sebabnya bahwa malam ini lebih baik melihat kalian mati," berkata Ki Karmapala yang kembali melakukan serangan yang semakin dahsyat.
Akhirnya, setelah beberapa jurus berlalu, terlihat wanita yang tidak bersenjata dan masih mendekap erat bayi itu mulai kewalahan. Tenaganya mulai tiris menyusut. "Anak durhaka," berkata Ki Karmapala kepada wanita itu ketika tangannya yang tidak memegang cakra berhasil menghantam rahang kanan wanita itu. Terlihat wanita itu terjungkal jatuh ke bumi, namun tetap mempertahankan bayi yang ada di dalam dekapannya dengan memilih badan di sisi lain yang harus membentur tanah dan batu di pedalaman hutan Mada itu.
"Malam ini aku harus membunuh darah dagingku sendiri, selamanya," berkata Ki Karmapala berjalan perlahan mendekati wanita itu. Terlihat wanita itu menatap nanar wajah Ki Karmapala, ayahnya sendiri. Mencoba membuka matanya ingin membuktikan sejauh mana perasaan seorang ayah yang dulu sangat mencintainya, memanjakannya. Mata wanita itu masih terbuka, meski seluruh tubuhnya terasa begitu lemah.
"Jangan kamu kira aku tidak dapat melakukannya," berkata Ki Karmapala yang sudah berada dekat dengan wanita itu sambil mengangkat senjata cakranya siap diayunkan ke arah kepala wanita itu. "Cepat ayunkan cakramu wahai ayahku. Bunuhlah putrimu ini yang dulu begitu kau manjakan, yang dulu pernah kau kasihi sebagaimana aku mengasihimu," berkata wanita itu dengan suara yang datar dan mata yang masih terbuka lebar tidak ingin berkedip sedikitpun menatap wajah Ki Karmapala ayahnya.
Cakra di tangan Ki Karmapala sudah siap segera diayunkan. "Jangan kira aku akan menjadi lemah," berkata Ki Karmapala sambil mengayunkan cakranya. Sementara mata wanita itu masih tetap terbuka menatap wajah ayahnya Ki Karmapala. Bukan main tabahnya wanita itu. Namun garis hidup memang kadang berjalan lain, kadang keluar dari hal-hal yang bersifat wajar.
Karena tiba-tiba saja dua buah batu kecil telah membentur cakra di tangan Ki Karmapala. Terdengar suara cakra yang beradu dengan dua buah kerikil yang datang bersamaan waktunya, sepertinya dilemparkan dengan kekuatan penuh dan oleh dua orang yang sangat mumpuni. Akibatnya, lemparan dua buah kerikil itu memang luar biasa!! Cakra itu terlempar jauh, sementara itu tangan Ki Karmapala merasakan nyeri yang luar biasa, seketika tangannya menjadi seperti kaku tak bertenaga.
Ternyata salah seorang pelempar kerikil itu adalah Mahesa Amping yang sudah berhasil mengikuti Ki Karmapala dan bayangan hitam yang terakhir diketahui sebagai putri Ki Karmapala. Namun siapakah pelempar kerikil kedua? Mahesa Amping juga ikut bertanya dalam hati, siapa gerangan pelempar kerikil selain dirinya. Tapi pikiran itu hanya diendapnya dalam hati, hal yang utama adalah menyelamatkan wanita itu dari tangan Ki Karmapala.
"Hanya orang yang sudah tidak punya hati saja yang berani membunuh seorang wanita yang sudah tidak berdaya," berkata Mahesa Amping yang sudah mendekati Ki Karmapala. "Jangan urusi persoalan kami, ini adalah urusan keluarga kami," berkata Ki Karmapala kepada Mahesa Amping penuh kemarahan. "Saat ini sudah menjadi urusanku juga, karena yang kusaksikan adalah sebuah ketidakadilan," berkata Mahesa Amping kepada Ki Karmapala.
"Jangan harap aku akan gentar meski kamu adalah seorang Senapati Singasari," berkata Ki Karmapala bersikap menantang kepada Mahesa Amping. "Begitulah seharusnya sikap seorang lelaki," berkata Mahesa Amping memancing kemarahan Ki Karmapala berharap Ki Karmapala beralih dari wanita di dekatnya itu. Ternyata pancingan Mahesa Amping berhasil, Ki Karmapala terlihat wajahnya yang pucat putih semakin memutih.
Sebuah wajah yang sangat menyeramkan di kegelapan malam di hutan Mada. Sementara matanya seperti ingin menelan Mahesa Amping bulat-bulat. "Mulutmu memang harus dibungkam," berkata Ki Karmapala yang langsung menyerang Mahesa Amping dengan tangan kosong. Tapi Mahesa Amping memang sudah siap, dengan cepat bergerak menghindar dan balas menyerang.
Hati Mahesa Amping agak lega, perhatian Ki Karmapala sudah tidak ke wanita itu. Sementara itu hati Ki Karmapala menjadi semakin panas melihat Mahesa Amping dengan begitu mudah menghindari serangannya dan langsung balas menyerang. Serangan Mahesa Amping memang sangat cepat dan kuat, tapi Ki Karmapala bukan orang sembarangan, guru yang sangat dihormati dan dijunjung tinggi di Padepokan Teratai Putih itu bukan hanya dapat lepas dari serangan Mahesa Amping, tapi langsung membalas dengan serangan yang lebih kuat dari sebelumnya, ternyata Ki Karmapala telah meningkatkan tataran ilmunya selapis lagi lebih tinggi.
Demikianlah pertempuran antara Ki Karmapala dan Mahesa Amping semakin lama semakin menjadi begitu seru, begitu cepat dan menegangkan, keduanya selapis demi selapis telah meningkatkan tataran ilmunya masing-masing. Sementara itu wanita yang masih mendekap bayi itu perlahan sudah dapat bergerak, perlahan bergerak mencari tempat yang aman untuk dirinya dan bayinya.
Ternyata perhitungan wanita itu beralasan. Karena tidak lama kemudian terdengar banyak pohon tumbang terkena sasaran pukulan dan tendangan dari kedua orang yang bertempur dengan dahsyatnya. Pertempuran antara Ki Karmapala dan Mahesa Amping memang sudah begitu mengerikan, mereka sudah tidak lagi menggunakan tenaga wadagnya, pukulan dan tendangan mereka telah dilambari tenaga cadangan tingkat tinggi.
Terlihat debu mengepul, tanah sekitar mereka seperti menjadi rata terkena benturan kaki-kaki mereka. Dan beberapa pohon besar langsung retak bahkan ada yang langsung roboh menimbulkan suara bergemuruh. "Orang ini telah mengeluarkan kekuatan puncaknya," berkata Mahesa Amping dalam hati merasakan angin pukulan hawa dingin yang luar biasa yang dapat membekukan dirinya bila saja tidak melambari dirinya dengan kekuatan yang berlawanan.
"Nama besar Senapati ini memang bukan omong kosong," berkata Ki Karmapala yang terus meningkatkan tataran ilmunya namun belum juga dapat menundukkan lawannya. Mahesa Amping masih dapat mengimbanginya, bahkan kadang melampauinya dengan merasakan hawa panas angin pukulan Mahesa Amping. Demikianlah, pertempuran mereka semakin lama semakin cepat dan keras.
Suasana di sekitar pertempuran mereka menjadi porak poranda, beberapa pohon menjadi tumbang. Sementara itu wanita yang ternyata putri Ki Karmapala sendiri sudah berada di tempat yang aman menyaksikan pertempuran dengan penuh kekhawatiran dan kebimbangan, siapakah yang diharapkan memenangkan pertempuran yang dahsyat itu.
Wanita itu memang menjadi bimbang, di satu sisi berharap pemuda penolongnya itu dapat mengalahkan ayahnya agar dirinya tidak lagi dikejar-kejar sebagai buronan, sebagai pendosa yang harus dihukum mati oleh orang-orang Padepokan Teratai Putih. Namun di sisi lain, ada rasa sayang kepada Ki Karmapala sebagai seorang anak kepada ayahnya yang masih dicintainya, seorang ayah yang dulu begitu memanjakannya.
Wanita itu masih menatap pertempuran dengan hati penuh kebimbangan, sebagai seorang putri dari seorang guru Padepokan Teratai Putih, sedikit banyak wanita itu sudah dapat mengenal kanuragan bahkan dapat dikatakan hanya satu tingkat di bawah ayahnya. Namun ketika menyaksikan pertempuran antara ayahnya dan Mahesa Amping, dirinya tidak mampu menentukan siapakah yang lebih unggul di antara keduanya.
Sebagaimana yang disaksikan oleh wanita itu, Mahesa Amping dan Ki Karmapala masih terus bertempur dengan dahsyatnya. Mereka bergerak begitu cepatnya seperti dua bayangan di keremangan malam hutan Mada, saling menyerang melesat kesana kemari. Sementara itu waktu terus berlalu, hari sudah masuk tengah malam, pertempuran antara Mahesa Amping dan Ki Karmapala masih terus berlangsung seperti tidak akan selesai, masih juga tidak terlihat siapa yang lebih unggul di antara keduanya.
"Baru kali ini aku mendapat lawan seperti Senapati ini," berkata Ki Karmapala yang telah meningkatkan tataran ilmunya namun selalu saja dapat diimbangi oleh Mahesa Amping.