Chapter 15
Mahesa Amping masih terus mengimbangi ilmu Ki Karmapala, masih belum berada di atas puncak ilmunya yang sebenarnya. Mahesa Amping masih ingin menjajaki sampai di mana kekuatan daya tahan Ki Karmapala sambil berusaha menguras tenaganya.
"Orang ini bermaksud menguras tenagaku," berkata Ki Karmapala dalam hati yang mengetahui siasat dari Mahesa Amping.
Tiba-tiba saja Ki Karmapala melompat menjauh, Mahesa Amping mengetahui bahwa pasti Ki Karmapala akan melontarkan ilmu andalannya. "Aku harus berhati-hati," berkata Mahesa Amping dalam hati ketika melihat Ki Karmapala melakukan sebuah gerakan merangkapkan kedua tangannya di depan dadanya dengan kedua kaki agak merenggang.
Benar saja yang dipikirkan oleh Mahesa Amping, sebuah pukulan jarak jauh yang mengandung hawa dingin yang sangat kuat melesat di sampingnya, hawa dinginnya begitu keras. Untungnya Mahesa Amping sudah bergerak cepat tidak lagi berdiri di tempatnya.
Terlihat sebuah pokok batang pohon yang besar tumbang terkena pukulan Ki Karmapala yang dahsyat itu. Namun belum lagi Mahesa Amping menjejakkan kakinya di bumi, kembali pukulan jarak jauh menyambar ke arahnya.
Hanya dengan melipat gandakan kecepatan gerakannya saja maka Mahesa Amping dapat lolos dari sambaran pukulan jarak jauh yang kedua dari Ki Karmapala. Kembali Ki Karmapala menyerang dengan pukulan jarak jauhnya yang ketiga, keempat dan seterusnya seperti mengejar ke mana pun Mahesa Amping menghindar.
Mahesa Amping seperti tidak diberi kesempatan bernafas, selalu sambaran pukulan jarak jauh Ki Karmapala mengejarnya. Namun selalu saja Mahesa Amping dapat lolos dari sambaran maut itu.
Hingga akhirnya pada sebuah serangan yang dilancarkan oleh Ki Karmapala, terlihat Mahesa Amping tidak dapat lagi menghindar, Ki Karmapala begitu cerdik dapat membaca langkah berikutnya dari Mahesa Amping yang mengunci langkahnya, Mahesa Amping telah mati langkah.
Mahesa Amping tidak dapat lagi menghindar, satu-satunya jalan adalah membenturkan kekuatan lawan dengan kekuatan ilmunya sendiri. Gelegarrrrrrr! Terjadi benturan kekuatan dari dua kekuatan raksasa menimbulkan suara menggelegar seperti suara guntur.
Begitu kerasnya suara itu telah membuat daun dan ranting di sekitarnya jatuh hangus berguguran. Bahkan di beberapa tempat daun dan ranting kering di sekitar hutan nyaris terbakar.
Ternyata Mahesa Amping dengan sorot matanya telah menghentakkan kekuatan ilmu kesaktiannya, sebuah ilmu sakti gabungan aji Gundala Bama dan Aji Kala Bama yang sudah luluh melebur di dalam dirinya telah terlontar membentur ilmu kekuatan lawan.
Terlihat Mahesa Amping terpental beberapa langkah dari tempatnya berdiri. Apa yang terjadi dan dialami oleh Ki Karmapala sendiri dalam benturan dua kekuatan raksasa itu?
Ternyata kekuatan ilmu sakti Mahesa Amping telah berada di atas puncaknya, dihentakkan dalam keadaan terpaksa dan untuk melindungi diri sendiri telah membawa akibat yang benar-benar mengerikan.
Terlihat Ki Karmapala terlempar begitu deras menghantam sebuah pokok kayu besar di belakangnya. Dadanya terasa sesak, beberapa pembuluh darah halus di sepanjang tubuhnya telah pecah terhantam dorongan pukulan saktinya sendiri dan ditambah kekuatan ilmu sakti Mahesa Amping yang sangat dahsyat.
Ki Karmapala terlihat tidak bergerak lagi, wajahnya yang putih pucat menjadi berwarna merah darah. Seluruh tubuhnya mengeluarkan titik-titik darah lewat pori-pori kulitnya.
Ternyata nyawa Ki Karmapala telah tidak ada lagi, tewas seketika itu juga. "Ayahhhhh!!!" Terlihat wanita itu yang menyaksikan seluruh jalannya pertempuran berlari ke arah Ki Karmapala.
Perasan wanita itu seperti pecah luluh dalam kesedihan yang sangat menatap ayahnya Ki Karmapala. Meski di akhir hidupnya telah mencoba untuk membunuhnya, hati seorang anak kepada ayahnya lebih menguasai perasaannya.
Yang terbayang adalah kasih sayang ayahnya yang sangat memanjakannya, mencintainya melebihi apapun. Tapi kini orang yang dicintainya itu sudah tidak bernyawa lagi, sudah dingin membeku.
Terlihat wanita itu sambil mendekap bayinya, terus menangis memilukan meratapi kepergian ayahnya yang tidak akan mungkin dapat kembali lagi di dunia ini.
Sementara itu Mahesa Amping terlihat duduk bersila sempurna, mengatur pernapasannya dan menutup segala rasa dan citra. Dalam beberapa saat nafasnya sudah tidak memburu lagi, perlahan merasakan kesegaran tubuhnya tumbuh seperti sedia kala.
Ketika Mahesa Amping membuka matanya, masih dilihatnya wanita yang telah ditolongnya itu tengah menangis meratap tersedu-sedu di dekat mayat Ki Karmapala. "Aku terpaksa membentur ilmunya yang dahsyat, aku tidak dapat berbuat lain," berkata Mahesa Amping kepada wanita itu dengan perasaan bersalah sambil ikut duduk di dekat mayat Ki Karmapala.
Mendengar ucapan Mahesa Amping yang tertuju kepadanya, seketika wanita itu memandang Mahesa Amping. Sebagai seorang yang mengerti ilmu kanuragan, wanita itu tidak menyalahkan lelaki muda di hadapannya itu.
Dirinya juga menyaksikan apa yang terjadi di akhir pertempuran itu. "Jangan persalahkan dirimu, aku menyaksikan apa yang telah terjadi. Tuan Senapati hanya membela diri," berkata wanita itu kepada Mahesa Amping dengan mata dan wajah masih basah penuh air mata.
Sementara itu malam di pedalaman hutan Mada sudah berlalu menyisakan waktunya yang sedikit. Pagi nampaknya akan segera datang menjelang.
"Terima kasih telah menolongku," berkata wanita itu sambil merangkapkan kedua tangannya di dadanya perlahan kepada Mahesa Amping. Mahesa Amping membalas dengan sikap dan laku yang sama.
"Aku tidak sendiri, ada orang lain yang juga telah membantu menolongmu," berkata Mahesa Amping kepada wanita itu. "Dan orang itu masih ada di sekitar kita," berkata kembali Mahesa Amping yang dengan pendengarannya yang tajam dapat mengetahui ada orang lain yang masih bersembunyi tidak ingin menampakkan dirinya.
Mahesa Amping merasa yakin bahwa orang yang bersembunyi itu lah yang melemparkan kerikil kedua selain dirinya. Ternyata ucapan Mahesa Amping bukan cuma kepada wanita itu, tapi sebenarnya ditujukan kepada orang yang masih bersembunyi tidak ingin menampakkan dirinya.
Tiba-tiba saja sekitar hutan Mada seperti berputar, ternyata ada angin berputar seperti angin puyuh mendera seluruh daun dan tangkai di sekitarnya ikut berputar bergerak.
"Maafkan aku Nariratih, aku belum dapat menampakkan diriku di hadapanmu," terdengar suara yang menggema datang di atas suara angin yang menderu.
"Baktikanlah dirimu kepada Tuan Senapati dari Singasari ini, para Dewata telah memilih dirinya untuk membesarkan bayi kita. Pada saatnya aku akan menjemputmu," Terdengar kembali suara yang menggema datang di atas suara angin yang menderu.
"Kakang Dharmayasa," bergumam wanita itu yang bernama Nariratih menyebut sebuah nama. Perlahan suara angin tidak terdengar lagi, suasana malam menjelang pagi itu di hutan Mada menjadi begitu sepi dan sunyi.
Para penghuni hutan Mada mungkin masih meringkuk di sarangnya masing-masing. "Orang-orang Padepokan Teratai Putih pasti tidak akan menerima kembali diriku. Dapatkah aku berbakti kepadamu wahai tuan Senapati?" bertanya Nariratih penuh keraguan kepada Mahesa Amping.
Mahesa Amping tersenyum menatap wajah Nariratih yang masih basah air mata. Hati Mahesa Amping merasa kasihan dan iba melihat apa yang telah dialami oleh wanita itu.
"Aku akan melindungi dirimu, juga akan membesarkan bayimu sebagaimana keinginan suamimu," berkata Mahesa Amping dengan wajah penuh senyum berharap wanita itu akan terhibur.
Benar saja yang diharapkan oleh Mahesa Amping, begitu gembiranya mendengar kesanggupan Mahesa Amping, terutama kesanggupan Mahesa Amping untuk membesarkan bayinya.
"Terimakasih tuan Senapati, aku akan berbakti kepadamu," berkata wanita itu penuh kegembiraan.
Sementara itu temaram warna malam sudah semakin menyusut, wajah pagi di hutan Mada perlahan mengisi tiap sudut. Sayup-sayup terdengar suara ayam alas saling bersahutan.
Beberapa burung kecil sudah mulai mencicit. Akhirnya suara hutan pagi pun nyaris sempurna, begitu ramainya menyambut datangnya sinar matahari, sinar kehidupan pagi.
"Jasad Ki Karmapala harus disempurnakan," berkata Mahesa Amping kepada Nariratih yang hanya menganggukkan kepalanya, dirinya masih dicekam rasa sedih mengenang kepergian Ayahnya untuk selamanya.
Terlihat Mahesa Amping dengan peralatan apa adanya tengah mencoba membuat sebuah lubang. "Jasad Ki Karmapala telah kita sempurnakan, semoga arwahnya dapat tenang di alam keabadian," berkata Mahesa Amping ketika telah selesai menyempurnakan jasad Ki Karmapala dalam sebuah pemakaman sederhana di bawah sebuah pohon besar di hutan Mada.
"Terima kasih telah menyempurnakan jasad Ayahku," berkata Nariratih penuh rasa terima kasih kepada Mahesa Amping.
"Apakah bayimu sudah memiliki sebuah nama?" bertanya Mahesa Amping sambil menatap bayi di dalam dekapan Nariratih yang masih nampak tidur nyenyak.
"Belum," berkata Nariratih ikut memandang bayinya. "Kuserahkan tuan Senapati memberi hadiah nama untuk bayi ini," berkata kembali Nariratih kepada Mahesa Amping.
"Bolehkah aku memegangnya?" berkata Mahesa Amping kepada Nariratih. "Silahkan," berkata Nariratih kepada Mahesa Amping.
Mahesa Amping menyerahkan bayinya. "Mulai hari ini aku akan menjadi ayah angkatmu," berkata Mahesa Amping menimang-nimang bayi di dalam dekapannya penuh rasa suka kepada bayi itu.
"Bayi itu sudah tidak sabar menunggu sebuah nama dari ayah angkatnya," berkata Nariratih merasa gembira melihat Mahesa Amping begitu menyukai bayinya.
"Kelak bayi ini akan menjadi orang besar" Berkata Mahesa Amping sambil menatap ke atas langit, dilihatnya sebuah awan yang sepertinya tidak mau pergi tetap berada di atas kepala mereka.
"Gajah Mada, mudah-mudahan dengan nama ini akan menjadi manusia berguna, mengantar kejayaan, kesejahteraan dan kemakmuran di bumi ini," berkata Mahesa Amping kepada Nariratih.
"Nama yang bagus," berkata Nariratih gembira mendapatkan sebuah hadiah nama untuk bayinya.