Chapter 16
Ketika Mahesa Amping hendak menyerahkan bayi itu, dia melihat ada sebuah tanda titik berderet tiga dua buah sangat rata di pundak belakang kanannya. Jika dijumlahkan, titik itu berjumlah enam titik.
"Apakah kalian telah memberi jarah kepada bayi ini?" bertanya Mahesa Amping kepada Nariratih tentang tanda yang ada di tubuh Gajah Mada.
"Kami tidak menjarahnya, tanda itu ada sejak lahir," berkata Nariratih kepada Mahesa Amping tentang tanda di tubuh Gajah Mada.
"Apakah bayi ini terlahir saat gerhana matahari?" bertanya Mahesa Amping kepada Nariratih.
"Benar, aku melahirkannya saat gerhana matahari setahun yang lalu," berkata Nariratih.
"Menurut cerita para orang tua, bayi yang lahir saat gerhana matahari akan menjadi manusia pilihan, sangat cerdas dan kuat, dan mempunyai sebuah tanda," berkata Mahesa Amping kepada Nariratih.
"Apakah tanda itu akan menyusahkannya?" bertanya Nariratih kepada Mahesa Amping penuh kekhawatiran.
"Tanda itu akan menyusahkannya, orang-orang sakti pasti akan menginginkannya, memperebutkannya dengan berbagai alasan," berkata Mahesa Amping kepada Nariratih.
"Kita harus menyembunyikan tanda itu," berkata Nariratih kepada Mahesa Amping.
"Bukan hanya menyembunyikannya, tapi menghilangkannya," berkata Mahesa Amping kepada Nariratih.
"Bila Nyi Nariratih menyetujuinya, aku dapat melakukannya," berkata Mahesa Amping tersenyum atas keraguan Nariratih.
"Menurut cerita para orang tua, bayi yang lahir di saat gerhana matahari harus menyembunyikan namanya dengan nama lain," berkata Mahesa Amping kepada Nariratih.
"Aku serahkan kepada tuan Senapati memberi nama lain yang kedua," berkata Nariratih kepada Mahesa Amping.
"Kelak bila telah dewasa, ketika menemui jodohnya, baru nama aslinya dibuka diketahui oleh semua orang," berkata kembali Mahesa Amping.
"Siapa nama kedua dari putraku ini wahai tuan senapati?" bertanya Nariratih tidak sabar.
"Karena Gajah Mada putra angkatku, kuberi nama lain sebagai Mahesa Muksa," berkata Mahesa Amping penuh kegembiraan mendapatkan sebuah nama lain untuk Gajah Mada.
"Dua nama yang sama bagusnya," berkata Nariratih juga penuh kegembiraan.
"Ini adalah rahasia besar yang harus kita tutup rapat-rapat," berkata Mahesa Amping kepada Nariratih.
"Aku akan menjaganya," berkata Nariratih dengan penuh kesungguhan.
"Saatnya menghilangkan tanda di tubuh Mahesa Muksa," berkata Mahesa Amping sambil meminta Nariratih menyerahkan Mahesa Muksa kepadanya.
Terlihat Mahesa Amping berjalan mendekati sebuah batu besar yang datar di sekitar hutan Mada diikuti oleh Nariratih yang berjalan dibelakangnya.
Diletakkannya Mahesa Muksa di atas batu itu tertelungkup, anehnya Mahesa Muksa tidak menangis sebagaimana seorang bayi pada umumnya.
Maka dengan kekuatan hawa panasnya, Mahesa Amping meletakkan satu telapak tangannya di atas pundak Mahesa Muksa, menutupi tanda yang ada di tubuh Mahesa Muksa.
Perlakuan itu berlangsung begitu cepatnya, ketika Mahesa Amping mengangkat telapak tangannya, tanda yang ada di tubuh Mahesa Muksa telah tidak ada lagi, hanya ada sebuah tanda kulit yang terbakar.
"Dalam beberapa hari, kulit yang terbakar itu akan kembali seperti sedia kala," berkata Mahesa Amping sambil menyerahkan kembali Mahesa Muksa kepada ibunya, Nariratih.
"Rahasia tanda ini hanya kita berdua yang mengetahuinya," berkata Mahesa Amping kepada Nariratih.
"Aku akan menjaganya," berkata Nariratih dengan wajah penuh kesanggupan sebagaimana pada saat untuk merahasiakan nama Gajah Mada.
"Tanda lahir pada Mahesa Muksa sudah tidak ada lagi, namun tanda awan di langit yang selalu menaunginya tidak juga menghilang," berkata Mahesa Amping sambil menunjuk awan yang masih saja tidak pergi, selalu berada di atas mereka.
"Semoga tidak ada yang melihat tanda awan itu," berkata Nariratih kepada Mahesa Amping.
Sementara itu matahari pagi sudah mulai beranjak naik, sinarnya masuk menembus celah-celah ranting dan daun di hutan Mada yang pekat itu.
"Mari ikut bersamaku ke Padepokan Pemecutan, selama ini aku tinggal disana," berkata Mahesa Amping kepada Nariratih.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Mahesa Amping tentang tempat tinggalnya selama itu yaitu di sebuah Padepokan Pemecutan, sebuah Padepokan yang dibangunnya bersama Empu Dangka.
Sebagai seorang prajurit Senapati khusus, tidak ada kewajiban atas dirinya untuk berdiam di sebuah tempat.
Bersama Empu Dangka, Mahesa Amping dan pasukannya telah banyak membina para pecalang muda di seluruh Balidwipa sebagai prajurit Balidwipa yang mandiri.
Sebuah kekuatan yang mengakar dari setiap padukuhan di seluruh Balidwipa.
Atas perkenan dari Rakrian Demung Sasanabungalan, Mahesa Amping dan Empu Dangka telah mendirikan sebuah Padepokan baru, sebuah Padepokan yang akan menjadi kekuatan baru di selatan Balidwipa.
Sebuah Padepokan yang akan melahirkan manusia-manusia yang berbudi dan berilmu.
Di padepokan ini para cantrik disamping mendalami ilmu kajiwan, mereka juga diajarkan ilmu kanuragan dengan garis ilmu murni perguruan Empu Dangka yang mempunyai ciri khas sebagai perguruan orang bercambuk.
Itulah sebabnya Pedepokan mereka dinamai sebagai Padepokan Pemecutan.
Terlihat Mahesa Amping melangkah perlahan beriring berjalan bersama Nariratih yang berjalan sambil menggendong anaknya Mahesa Muksa.
Tidak mudah memang berjalan di tengah hutan yang pekat dipenuhi semak belukar sambil menggendong seorang bayi.
Ketika matahari menjelang di atas puncaknya, mereka baru dapat keluar dari hutan itu.
"Padepokan Pemecutan ada di belakang bukit itu," berkata Mahesa Amping sambil menunjuk sebuah bukit yang jauh.
Nariratih tidak menjawab, hanya tersenyum menatap arah sebuah bukit yang ditunjuk oleh Mahesa Amping.
Ketika matahari di atas puncaknya, panas begitu menyengat.
Tapi mereka tidak merasakannya, karena sepanjang perjalanan mereka selalu dilindungi oleh gumpalan awan tebal yang selalu mengiringi kemanapun mereka melangkah.
"Kita beristirahat sejenak," berkata Mahesa Amping kepada Nariratih ketika di dekat mereka terlihat sebuah sungai kecil berbatu.
Airnya mengalir begitu jernih.
"Dipinggir sungai biasanya banyak tumbuh tanaman kimpul," berkata Mahesa Amping kepada Nariratih yang sudah duduk meluruskan kakinya di bawah sebuah pohon besar yang akarnya terlihat menyembul di atas tanah.
Sementara itu Mahesa Moksa telah direbahkannya di sisi dua akar kayu.
Terlihat Mahesa Amping tengah menyusuri tepian sungai, akhirnya ditemuinya serumpun tanaman kimpul yang ternyata banyak tumbuh di sekitar sungai kecil itu.
"Seorang Senapati yang bersahaya," berkata Nariratih dalam hati melihat Mahesa Amping tengah membuat sebuah perapian, menyiapkan makanan untuk sekedar pengganjal perut mereka di siang itu.
Akhirnya setelah merasa cukup beristirahat, mereka segera melanjutkan perjalanan menuju ke Padepokan Pemecutan.
Ternyata mereka tidak mendaki bukit itu, hanya melintas jalan memutarinya.
Sementara itu angin sepoi basah kadang datang membelai rambut dan pakaian mereka dalam perjalanan di tengah hijaunya alam perbukitan yang teduh.
"Padepokan Pemecutan sudah dekat," berkata Mahesa Amping ketika mereka memasuki sebuah Kademangan yang cukup ramai.
Setelah melewati beberapa pematang sawah dan bulak yang panjang, akhirnya mereka telah melihat sebuah Padepokan yang cukup besar berdiri di sebuah lereng perbukitan yang cukup luas, terlihat dari tempat kejauhan.
"Itukah Padepokan Pemecutan?" berkata Nariratih ketika melihat sebuah bangunan yang cukup besar dikelilingi pagar kayu yang cukup tinggi terlihat dari kejauhan.
Terlintas dalam gambaran pikiran Nariratih Padepokan Teratai Putih, sebuah tempat yang tidak akan pernah dilupakannya karena disanalah dirinya dibesarkan.
Terbayang pula saat-saat dirinya bersama Ayahnya Ki Karmapala yang begitu memanjakannya serta mencintainya sebagaimana dirinya.
Namun terlintas pula saat-saat yang begitu memilukan, penuh duka dan nestapa ketika dirinya harus dipisahkan, harus dijauhkan dari ayah dan bayinya.
"Benar, itulah Padepokan Pemecutan," berkata Mahesa Amping memecahkan semua lamunan dan pikiran Nariratih.
Terlihat mereka telah sampai di regol pintu Padepokan Pemecutan.
Seorang cantrik yang ada di halaman menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang tuan Senapati," berkata seorang cantrik itu kepada Mahesa Amping.
"Selamat berjumpa kembali Putu Risang," berkata Mahesa Amping kepada pemuda itu sambil menepuk pundaknya yang tegap dan bidang, terlihat beberapa otot yang berisi di seluruh tubuhnya sebagai pertanda pemuda itu sering berlatih di sanggar membangun kekuatan wadagnya.
"Dimana Empu Dangka dan para cantrik?" bertanya Mahesa Amping kepada cantrik itu.
"Empu Dangka dan para cantrik tengah berada di sanggar, terpaksa aku disini sendiri menjaga gabah basah agar tidak habis dicuri burung dan ayam," berkata cantrik itu kepada Mahesa Amping sambil menunjuk hamparan gabah padi yang tengah dijemur di halaman itu.
"Ternyata hasil panen kita cukup bagus," berkata Mahesa Amping sambil menjumput gabah yang tengah dijemur itu, memeriksa dan melepaskannya kembali.
Terlihat Mahesa Amping tersenyum ketika Putu Risang memperhatikan Nariratih yang tengah mendekap Mahesa Muksa.
"Ini Nyi Nariratih dan putranya Mahesa Muksa, mereka akan tinggal bersama kita," berkata Mahesa Amping memperkenalkan Nariratih dan putranya kepada Putu Risang.
"Perkenalkan namaku Putu Risang, mudah-mudahan Nyi Nariratih dan putranya menjadi betah tinggal bersama kami," berkata Putu Risang memperkenalkan dirinya dengan merangkapkan kedua tangannya di depan dadanya sebagai tanda kehormatannya.
Nyi Nariratih membalasnya dengan sedikit membungkukkan badannya dengan wajah penuh keramahan dan sangat menyenangi sikap Putu Risang yang terlihat masih begitu lugu layaknya seorang pemuda yang baru beranjak dewasa.
Namun sikapnya sepertinya seorang yang terdidik.