Chapter 17
Diam-diam Nariratih mengagumi orang-orang yang telah membina salah satu dari beberapa cantrik yang ada di Padepokan Pemecutan itu.
“Silakan kamu melanjutkan tugasmu; kami akan membersihkan diri,” kata Mahesa Amping kepada Putu Risang sambil mengajak Nariratih untuk mengikutinya.
Sementara itu, hari masih terang, matahari sore di atas Padepokan Pemecutan masih terlihat memancarkan cahayanya yang teduh.
Sore itu, langit di atas Padepokan Pemecutan begitu cerah.
Udara pun sangat sejuk, dingin menyegarkan karena Padepokan itu berdiri di atas lereng perbukitan yang cukup tinggi.
“Pemandangan dari pendapa ini begitu indah,” kata Nariratih kepada Mahesa Amping ketika sore itu, setelah bersih-bersih diri, mereka sudah berada di Pendapa Pemecutan menikmati pemandangan alam di depan Pendapa Pemecutan yang begitu indah. Terlihat hamparan sawah yang berjenjang bertingkat-tingkat dan bukit yang hijau sejauh mata memandang.
Mahesa tidak menjawabnya, hanya sedikit tersenyum.
Dalam hati, ia merasa gembira melihat Nariratih sepertinya menyenangi kehidupan di Padepokan Pemecutan.
Terdengar suara derit pintu yang terbuka. Ternyata, dari balik pintu itu muncul Putu Risang, seorang pemuda yang selalu ceria dan bersemangat menyampaikan kabar bahwa dirinya telah menyiapkan bilik untuk Nariratih dan putranya, Mahesa Muksa.
“Putu Risang telah menyiapkan bilik untuk kalian, beristirahatlah,” kata Mahesa Amping kepada Nariratih memintanya untuk beristirahat meski hari masih sore.
“Bila perlu apa pun, katakanlah kepada Putu Risang,” kata Mahesa Amping lagi.
Terlihat Nariratih bersama putranya masuk ke dalam, diantar oleh Putu Risang.
Tidak lama berselang, muncul Empu Dangka yang sudah selesai memberikan beberapa pengarahan kepada para cantrik di sanggar tertutup.
“Kami di sini sangat mengkhawatirkan Tuan Senapati,” kata Empu Dangka kepada Mahesa Amping.
“Dari Pura Indrakila, aku mampir ke beberapa tempat,” kata Mahesa Amping bercerita tentang perjalanannya, termasuk tentang peristiwa di Hutan Mada.
“Mudah-mudahan kehadirannya di sini dapat menenteramkan hatinya,” kata Empu Dangka setelah mendengar cerita dari Mahesa Amping tentang Nariratih.
“Terima kasih atas kesediaan Empu Dangka menerima mereka di Padepokan ini,” kata Mahesa Amping kepada Empu Dangka.
“Padepokan ini adalah rumah kita. Siapa pun yang ada di Padepokan ini adalah keluarga kita,” kata Empu Dangka dengan senyumnya yang tenang.
Sementara itu, waktu terus berlalu. Mahesa Amping dan Empu Dangka masih terlihat berbincang-bincang di pendapa Padepokan Pemecutan itu.
Banyak hal yang mereka perbincangkan, mulai dari suasana keamanan dan kesejahteraan di Balidwipa sejak kekuasaan dikendalikan oleh Rakrian Demung Sasanabungalan. Mereka juga membicarakan beberapa hal mengenai kemajuan para cantrik di Padepokan Pemecutan.
Tidak terasa waktu terus berlalu, senja telah berganti malam.
Malam pun berlalu dalam kesepiannya.
Langit malam telah memayungi Padepokan Pemecutan, menjaganya bersama bintang-bintang yang bersinar jauh sepanjang malam.
“Pagi yang indah,” kata Mahesa Amping kepada Empu Dangka yang sudah terbangun di awal pagi.
“Pagi yang cerah,” kata Empu Dangka sambil memandang batas ujung cakrawala.
Terlihat beberapa cantrik tengah melaksanakan berbagai tugasnya masing-masing. Beberapa cantrik yang mendapat tugas mengolah sawah dan ladang terlihat pada pagi itu sudah keluar dari regol pintu halaman Padepokan Pemecutan.
Terdengar suara langkah kaki di atas panggung kayu. Ternyata Putu Risang yang datang membawa minuman hangat dan beberapa potong jagung rebus.
“Selesai sarapan, kita ke tepian sungai di hutan cemara,” kata Mahesa Amping kepada Putu Risang.
Bukan main gembiranya hati Putu Risang diajak oleh Mahesa Amping ke tepian sungai di hutan cemara yang letaknya tidak begitu jauh, berada di sisi kanan Padepokan Pemecutan.
Di situlah, setiap sepekan, Putu Risang berlatih kanuragan di bawah pengawasan langsung dari Mahesa Amping.
“Aku akan menyiapkan diri,” kata Putu Risang dengan penuh gembira.
“Kulihat anak itu punya bakat yang kuat serta semangat yang besar, aku menyukainya,” kata Mahesa Amping kepada Empu Dangka ketika Putu Risang sudah tidak terlihat lagi masuk ke dalam.
“Kita perlu orang-orang seperti Putu Risang yang akan menjadi penerus mempertahankan keberadaan Padepokan ini,” kata Empu Dangka.
“Perlihatkan kemajuanmu selama kutinggalkan,” kata Mahesa Amping kepada Putu Risang.
Terlihat Putu Risang maju menghadap Mahesa Amping.
Ia perlahan melakukan gerakan jurus-jurusnya.
Namun perlahan, gerakannya juga menjadi semakin cepat.
Akhirnya, lambat laun gerakannya menjadi perlahan kembali.
“Gerakanmu sudah hampir sempurna, sekarang hadapilah aku,” kata Mahesa Amping sambil maju menghadap.
“Seranglah aku,” kata Mahesa Amping lagi kepada Putu Risang.
Terlihat Putu Risang tidak ragu lagi menyerang ke arah Mahesa Amping.
Namun, dengan mudahnya Mahesa Amping mengelak serangan itu dan tidak membalas serangan, tetapi menunggu serangan Putu Risang selanjutnya.
Dalam beberapa serangan, terlihat Mahesa Amping membalas serangan Putu Risang. Sekali serang, langsung telak menghajar Putu Risang yang terlihat terjerembap di atas tanah lunak berumput.
“Bangkitlah, wahai anak muda,” kata Mahesa Amping dengan wajah penuh senyum kepada Putu Risang.
“Kesalahanmu adalah tidak memikirkan kemungkinan bahwa seranganmu akan dibalas. Sekarang lakukan serangan dengan menambah beberapa kemungkinan balasan dari lawanmu,” kata Mahesa Amping kepada Putu Risang.
“Seperti permainan macanan?” kata Putu Risang dengan gembira menangkap arahan bimbingan Mahesa Amping.
Otak Putu Risang memang termasuk encer. Apa yang dimaksudkan oleh Mahesa Amping langsung dapat dicernanya.
Namun, dalam beberapa gebrakan, terlihat Putu Risang kembali tersungkur di tanah lunak berumput.
“Kesalahanmu yang kedua adalah bahwa kamu tidak memikirkan bahwa lawanmu akan membaca tipu muslihatmu,” kata Mahesa Amping sambil tersenyum menatap Putu Risang yang manggut-manggut mengerti kesalahannya.
Sementara itu, matahari di atas hutan cemara terlihat sudah mulai beranjak naik ke puncaknya.
Namun, kerimbunan pohon di sekitar tepian sungai itu menjadikan suasana di situ tetap teduh dan sejuk, terutama manakala angin semilir datang membawa udara segar yang menyejukkan.
“Bersihkan dirimu, kita kembali ke Padepokan,” kata Mahesa Amping kepada Putu Risang.
Namun, ketika Putu Risang sudah membersihkan dirinya mandi di sungai yang jernih itu, ternyata Mahesa Amping tidak memperlihatkan keinginannya untuk meninggalkan tepian sungai itu.
“Siapa pun yang masih ingin bermain sembunyi-sembunyian, sebaiknya keluar,” kata Mahesa Amping dengan suara bergema ke segala penjuru.
Putu Risang yang mendengar suara Mahesa Amping terkejut dibuatnya. Matanya menatap berkeliling ke semua tempat, tidak juga ditemukan sesuatu yang mencurigakan.
Tidak lama berselang, muncul dari sebuah belukar seorang lelaki berjubah putih datang mendekati Mahesa Amping.
“Selamat berjumpa kembali, Ki Jabarantas,” kata Mahesa Amping berdiri dari duduknya menyambut kedatangan orang itu yang ternyata Ki Jabarantas.
“Aku jadi malu, Tuan Senapati pasti telah mengetahui kedatanganku sejak lama,” kata Ki Jabarantas dengan senyumnya.
“Terima kasih telah mengurangi beban lawanku di Hutan Mada,” kata Ki Jabarantas lagi.
“Pasti ada hal yang sangat penting yang membawa langkah Ki Jabarantas datang ke sini,” kata Mahesa Amping kepada Ki Jabarantas.
“Mengenai bayi itu,” kata Ki Jabarantas singkat.
“Jadi, Ki Jabarantas masih menginginkan bayi itu?” kata Mahesa Amping kepada Ki Jabarantas.
“Tidak ada lagi keinginan itu, apalagi setelah melihat sepak terjang Tuan Senapati melumpuhkan lima orang Padepokan Teratai Putih dengan satu gebrakan,” kata Ki Jabarantas sambil tersenyum.
“Aku jadi malu bahwa dengan ilmuku yang cetek ini masih ingin merebutnya darimu,” kata Ki Jabarantas lagi.
“Kedatanganku ke sini adalah untuk memberitahukan Tuan Senapati bahwa orang-orang Padepokan Teratai Putih telah mengundang delapan pimpinan kshetra aliran mereka dari Balidwipa dan Jawadwipa,” kata Ki Jabarantas lagi menyampaikan maksud kedatangannya yang sebenarnya.
Ki Jabarantas sekilas bercerita yang dimulai dengan pertempurannya dengan orang-orang dari Padepokan Teratai Putih.
Ternyata, Ki Jabarantas tidak menuntaskan pertempurannya, melainkan langsung meninggalkan sisa orang Padepokan Teratai Putih yang bermaksud menahannya.
Ki Jabarantas bermaksud ikut mengejar orang yang membawa lari bayi itu.
Tetapi ternyata, Ki Jabarantas kehilangan jejak.
Semalaman dirinya berputar-putar di sekitar hutan Mada, tetapi tidak menemukan apa pun.
Namun, akhirnya keesokan harinya, dirinya menemukan empat orang dari Padepokan Teratai Putih yang tengah membongkar kembali sebuah makam baru.
Ki Jabarantas bersembunyi dan berhasil mendengar beberapa hal.
Antara lain, ia mendengar bahwa makam baru itu adalah mayat guru mereka.
“Hal lain yang kudengar dari mereka adalah bahwa mereka akan mengundang delapan kshetra aliran mereka untuk merebut kembali bayi itu darimu,” kata Ki Jabarantas mengakhiri ceritanya.
“Aku tidak menyangka bahwa masalah ini akan menjadi panjang dan berlarut,” kata Mahesa Amping kepada Ki Jabarantas.
“Maaf bila aku tidak dapat berbuat banyak,” kata Ki Jabarantas kepada Mahesa Amping.
“Ki Jabarantas telah berbuat banyak, setidaknya memungkinkan diriku untuk berjaga-jaga,” kata Mahesa Amping kepada Ki Jabarantas.
“Terima kasih telah menyampaikannya kepadaku,” kata Mahesa Amping lagi.
“Tadinya aku akan ke Padepokan Pemecutan, ternyata aku menemuimu di hutan ini,” kata Ki Jabarantas kepada Mahesa Amping.
“Kami akan senang sekali bila Ki Jabarantas singgah sebentar ke Padepokan Pemecutan,” kata Mahesa Amping menawarkan Ki Jabarantas singgah.