Chapter 18
"Terima kasih, mungkin pada waktu yang lain," kata Ki Jabarantas menolak secara halus permintaan Mahesa Amping untuk singgah di Padepokan Pemecutan.
"Sampai berjumpa kembali, pintu Padepokan Pemecutan akan selalu terbuka untuk Ki Jabarantas," balas Mahesa Amping kepada Ki Jabarantas yang bermaksud pamit untuk meninggalkan Hutan Cemara itu.
Demikianlah, setelah Ki Jabarantas meninggalkan Hutan Cemara, Mahesa Amping dan Putu Risang kembali ke Padepokan Pemecutan.
"Padepokan Teratai Putih adalah salah satu dari sembilan kshetra aliran agama penyembah bulan dan matahari yang ada di Balidwipa dan Jawadwipa," kata Empu Dangka yang mengenal beberapa hal mengenai aliran agama ini kepada Mahesa Amping.
"Artinya delapan orang setingkat ilmunya dengan Ki Karmapala akan mendatangiku," sahut Mahesa Amping kepada Empu Dangka.
"Kita akan menghadapinya bersama," kata Empu Dangka menguatkan Mahesa Amping.
"Benar, kita berdua tanpa melibatkan siapa pun di Padepokan Pemecutan ini," tegas Mahesa Amping.
Terlihat di atas halaman sekawanan burung prenjak melintas, mungkin hendak kembali ke sarangnya setelah sepanjang hari mencari makan. Namun tiba-tiba, seekor burung gelatik batu menyambar salah satu burung prenjak itu. Meski tubuh mereka sama besar, burung gelatik itu mampu membawa burung prenjak nahas tersebut turun ke halaman Padepokan Pemecutan dengan menancapkan paruhnya di leher sang prenjak. Dengan beberapa patukan paruhnya yang tajam, burung prenjak kecil itu langsung tidak berdaya.
Mahesa Amping menyaksikan dengan mata tidak berkedip saat burung gelatik batu itu memakan bangkai burung prenjak yang kurang beruntung tersebut.
"Aku tidak ingin satu pun cantrik Padepokan Pemecutan menjadi korban sia-sia sebagaimana burung prenjak kecil itu," gumam Mahesa Amping sambil terus menyaksikan burung gelatik batu yang masih mengoyak tubuh mangsanya di halaman Padepokan Pemecutan.
"Kita pasrahkan diri kita semua ke dalam perlindungan Gusti Yang Maha Agung," kata Empu Dangka.
Langit sore di atas Padepokan Pemecutan hari itu sangat cerah. Awan putih seputih kapas menghiasi cakrawala biru. Cahaya matahari bersinar teduh menerangi hutan cemara, sawah, ladang, dan bukit-bukit biru, menciptakan lukisan alam yang indah penuh keasrian sejauh mata memandang dari depan pendapa Padepokan Pemecutan.
Terdengar suara langkah kaki lembut keluar dari pintu utama. Ternyata Nariratih yang muncul dari balik pintu sambil membawa baki kayu berisi minuman dan beberapa jagung rebus yang masih hangat.
"Mahesa Muksa sedang tidur, jadi aku dapat membantu menyiapkan hidangan ini untuk kalian," kata Nariratih sambil meletakkan baki kayu yang dibawanya dengan senyum ramah.
"Terima kasih," ujar Empu Dangka kepada Nariratih.
"Di Padepokan Teratai Putih aku biasa melayani ayahku, di sini aku merasa terhibur dapat melayani kalian berdua," sambung Nariratih penuh kegembiraan.
"Mudah-mudahan Nyi Nariratih kerasan tinggal di padepokan ini," harap Empu Dangka kepada Nariratih yang tengah memindahkan suguhan dari bakinya.
"Penghuni padepokan ini sangat baik kepadaku," sahut Nariratih yang sudah berdiri kembali sambil mendekap bakinya yang kosong. "Aku akan kembali ke dalam," lanjutnya seraya membalikkan tubuh dan menghilang di balik pintu utama.
Sementara itu, matahari sudah bergeser surut ke ufuk barat. Lengkung langit berwarna senja bening kelabu, dihiasi beberapa kelelawar yang mulai keluar terbang menyambut malam yang sebentar lagi akan menggantikan warna hari. Di halaman padepokan, dua orang cantrik masih terlihat mengumpulkan gabah padi kering yang telah dijemur sejak pagi untuk disimpan di lumbung sebagai persediaan hingga masa panen mendatang.
"Malam akan datang mengganti warna hari dan kehidupan," ujar Mahesa Amping kepada Empu Dangka sambil menatap regol pintu halaman Padepokan Pemecutan.
"Warna hari dan kehidupan selalu berubah, tidak pernah langgeng. Hari ini dan hari esok, corak serta geraknya tidak akan pernah sama," tanggap Empu Dangka menanggapi perkataan Mahesa Amping.
"Ada tamu yang datang," bisik Mahesa Amping kepada Empu Dangka.
Keremangan di ujung senja itu tidak mengurangi ketajaman penglihatan mereka. Terlihat dua orang cantrik yang berada di halaman menghampiri orang-orang yang baru saja tiba.
BAGIAN 2
"Ada tamu yang hendak menemui Tuan Senapati," lapor salah seorang cantrik yang datang dari regol halaman depan.
"Bawalah ke pendapa ini," perintah Mahesa Amping tanpa bertanya lebih jauh.
Cantrik itu segera kembali ke regol depan untuk memberitahu para tamu bahwa Mahesa Amping bersedia menerima mereka. Dari pendapa, Mahesa Amping dan Empu Dangka melihat dua orang lelaki dewasa dan dua anak kecil diiringi oleh para cantrik menuju pendapa.
"Arga Lanang!" seru Mahesa Amping terkejut setelah mengetahui salah satu di antara mereka ternyata adalah Arga Lanang.
"Selamat berjumpa kembali, wahai sahabatku," sapa Arga Lanang ketika sudah menaiki tangga pendapa Padepokan Pemecutan.
Mahesa Amping dan Arga Lanang merasa sangat senang dan terharu. Mereka saling berpelukan layaknya dua sahabat yang sudah lama tidak berjumpa.
"Berterima kasihlah padaku, aku telah jauh-jauh mengantarkan putramu dari Tanah Melayu," ujar Arga Lanang sambil menepuk pundak Mahesa Amping dan menunjuk ke arah salah satu anak lelaki. "Adityawarman, inilah ayahmu."
Mahesa Amping menatap tanpa berkedip saat anak lelaki itu mendekat.
"Putraku," bisik Mahesa Amping sambil memeluk Adityawarman dengan penuh keharuan dan kegembiraan.
"Bunda sering bercerita tentang Ayah. Apakah Ayah merindukan Bunda?" tanya Adityawarman kepada Mahesa Amping.
"Aku sangat merindukan kalian. Bersama kalian adalah mimpi-mimpiku yang paling indah," jawab Mahesa Amping sambil tersenyum memandang putranya.
Sementara itu, anak lelaki lainnya yang ternyata adalah Jayanagara, turut gembira melihat saudara sepupunya bertemu ayah kandungnya.
"Ternyata ayahmu sama gagahnya dengan ayahku," kata Jayanagara kepada Adityawarman.
"Jayanagara ini adalah putra Raden Wijaya," jelas Arga Lanang kepada Mahesa Amping.
"Mendekatlah, wahai putra sahabatku," panggil Mahesa Amping. Jayanagara pun mendekat. "Wajahmu sangat mirip dengan ayahmu, sama-sama tampan," puji Mahesa Amping sambil mengusap lembut rambut anak itu.
Arga Lanang kemudian memperkenalkan Pendeta Gunakara kepada Mahesa Amping.
"Selamat datang di Padepokan Pemecutan," sambut Mahesa Amping dengan penuh hormat kepada Pendeta Gunakara.
Akhirnya, Empu Dangka mendapat kesempatan untuk diperkenalkan kepada para tamu. "Perkenalkan Empu Dangka, orang tuaku di Balidwipa ini," kata Mahesa Amping memperkenalkan Empu Dangka kepada Arga Lanang, Gunakara, Jayanagara, dan Adityawarman.
Suasana di pendapa padepokan menjadi ramai. Mahesa Amping mempersilakan tamu-tamunya untuk membersihkan diri setelah perjalanan panjang, yang kemudian dilanjutkan dengan perjamuan besar untuk menyambut kedatangan mereka.
Setelah perjamuan selesai dan hari mulai memasuki malam, Mahesa Amping berkata kepada Putu Risang, "Hari sudah malam, ajaklah kedua adikmu ini untuk beristirahat."
Arga Lanang pun bercerita tentang perjalanannya dari Tanah Melayu ke Bandar Canggu hingga sampai di Balidwipa, serta tentang rekan perjalanannya, Pendeta Gunakara. Mahesa Amping sangat terkejut saat mendengar bahwa Pendeta Gunakara datang ke Balidwipa hanya untuk mencari seorang bayi lelaki yang dipercaya sebagai titisan gurunya yang lahir kembali.
"Hari ini umur bayi itu tepat dua belas purnama sembilan hari," tambah Pendeta Gunakara.
"Apakah bayi itu mempunyai sebuah pertanda?" tanya Mahesa Amping dengan jantung berdebar.
"Bayi itu mempunyai tanda di pundaknya," jawab Pendeta Gunakara.
Mahesa Amping manggut-manggut, berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya karena ciri-ciri itu sama dengan tanda yang dimiliki Mahesa Muksa.
Malam semakin larut. Mahesa Amping mempersilakan Arga Lanang dan Pendeta Gunakara untuk beristirahat. "Beristirahatlah, kalian pasti sangat lelah."
Pendapa Padepokan Pemecutan itu pun menjadi lengang. Pelita malam yang tergantung memancarkan cahaya kuning yang redup. Semua penghuni telah masuk ke bilik masing-masing. Namun, Mahesa Amping masih belum dapat memejamkan mata. Terbayang wajah Pendeta Gunakara yang tengah mencari bayi dengan pertanda yang sama seperti yang ada pada Mahesa Muksa.