Chapter 19
Ingin rasanya hari menjadi lekas pagi, berharap segera Nariratih untuk lebih berhati-hati.
Ingin rasanya menjelang pagi untuk melihat kembali anak itu, mengajaknya bermain bersama mengisi hari-hari sepanjang hari.
"Aku akan membesarkan putraku, menjaganya hingga sayapnya tumbuh," berkata Mahesa Amping dalam hati sambil berbaring di peraduannya.
Akhirnya perlahan Mahesa Amping memejamkan matanya dan tertidur.
Angin dingin dan kabut putih perlahan turun menyelimuti Padepokan Pemecutan yang berada di sebuah lereng perbukitan. Langit di atasnya berwarna hitam kelam ditumbuhi beberapa bintang. Bulan sabit redup terhalang awan masih menjaga bumi malam yang sunyi. Waktu pun terus berlalu, sekelompok kalelawar telah kembali ke sarangnya. Sang fajar telah mulai bangun mengintip bumi, perlahan mengusir kegelapan malam di atas langit Padepokan Pemecutan.
Pagi itu Mahesa Amping sudah terbangun, langsung keluar dari biliknya menuju pakiwan untuk bersih-bersih. Ternyata di sana sudah ditemuinya Putu Risang yang telah terbangun lebih awal tengah mengisi gentong-gentong air.
"Adityawarman dan Jayanagara belum bangun?" tanya Mahesa Amping kepada Putu Risang.
"Tidurnya sangat lelap, aku merasa kasihan untuk membangunkan mereka," kata Putu Risang kepada Mahesa Amping.
"Mereka pasti sangat lelah setelah melakukan perjalanan panjang," kata Mahesa Amping kepada Putu Risang.
"Silakan tuan Senapati bersih-bersih lebih dulu," kata Putu Risang kepada Mahesa Amping. Demikianlah, setelah bersih-bersih Mahesa Amping langsung ke bilik Adityawarman dan Jayanagara.
Terasa hati Mahesa Amping penuh kebahagiaan memandang wajah putranya. "Hari memang masih begitu pagi, di Istana Tanah Melayu mereka pasti sangat dimanjakan," kata Mahesa Amping tersenyum melihat kedua anak itu masih tertidur pulas.
Ketika Mahesa Amping hendak menuju ke pintu utama, ia bersua dengan Nariratih yang baru saja keluar dari biliknya hendak ke dapur.
"Datanglah ke hutan cemara saat pagi sudah menjadi terang, ada yang ingin aku bicarakan di sana," kata Mahesa Amping kepada Nariratih.
"Tunggulah aku di sana," kata Nariratih kepada Mahesa Amping sambil melanjutkan langkahnya menuju dapur belakang. Sementara itu Mahesa Amping langsung keluar menuju pendapa Padepokan Pemecutan.
Ternyata Mahesa Amping tidak lama sendirian. Berturut-turut muncul Empu Dangka, Arga Lanang, dan Pendeta Gunakara. Ketika pagi sudah menjadi terang, Mahesa Amping mempersilakan Arga Lanang dan Pendeta Gunakara untuk melihat-lihat ke Sanggar tempat para cantrik berlatih.
"Empu Dangka akan menemani kalian, sementara aku pagi ini akan mengajak kedua putraku bermain-main," kata Mahesa Amping kepada Arga Lanang dan Pendeta Gunakara.
"Selamat menikmati hari pertamamu sebagai seorang ayah," kata Empu Dangka penuh senyum kepada Mahesa Amping ketika telah turun lebih dulu di tangga Padepokan Pemecutan, yang disusul oleh Arga Lanang dan Pendeta Gunakara. Kembali Mahesa Amping seorang diri di pendapa Padepokan Pemecutan.
"Hari ini aku akan mengajak kalian ke tepian sungai di hutan cemara," kata Mahesa Amping kepada Putu Risang, Jayanagara, dan Adityawarman. Terlihat wajah mereka bertiga begitu gembira mendengar perkataan Mahesa Amping, terutama Adityawarman yang baru mengenal ayahnya yang selama ini selalu dirindukannya dan dibanggakannya, meski hanya lewat cerita dari Bundanya Dara Jingga bahwa ayahnya adalah seorang kstria yang berilmu sangat tinggi. Di Tanah Melayu, ia telah dikenal dengan sebutan Manusia Dewa.
"Bila aku kelak dewasa, aku akan seperti ayahku," berkata Adityawarman dalam hati sambil memandang Mahesa Amping dari sebelahnya yang erat menggenggam tangannya membawanya melangkah ke arah hutan cemara.
"Adityawarman sangat bahagia berada di sisi ayahnya," berkata pula Jayanagara dalam hati, berjalan menggandeng tangan kiri Mahesa Amping, ikut merasa bahagia. Jayanagara dapat merasakan perasaan saudara sepupunya itu yang terlihat sangat bahagia. Dirinya sepertinya tidak menjadi iri, bahkan sebaliknya merasa ikut berbahagia sebagaimana kebahagiaan yang dirasakan oleh saudara sepupunya itu.
Ternyata perasaan iri itu sempat singgah di hati Putu Risang, tetapi pemuda itu segera menepisnya dengan mengatakan pada dirinya bahwa kedua anak lelaki itu adalah putra dan kemenakan Mahesa Amping, mereka berhak mendapatkan kasih sayang yang tak terhingga dari Mahesa Amping.
"Aku ingin melihat jurus-jurus kalian," kata Mahesa Amping kepada Adityawarman dan Jayanagara ketika mereka telah sampai di tepian sungai hutan cemara. Maka terlihat tanpa malu-malu lagi kedua anak lelaki itu berdiri bersama di hadapan Mahesa Amping. Keduanya langsung menggerakkan tangan dan kaki mereka yang mungil itu seperti tengah menari, menunjukkan kepada Mahesa Amping dengan penuh semangat.
"Pasti Panglima Perang Prastawa yang melatih mereka," berkata Mahesa Amping dalam hati yang sudah dapat membaca dan mengenal gerak kedua anak lelaki kecil dihadapannya itu sebagai aliran perguruan dari Datuk Belang, ayah Prastawa di Tanah Melayu.
"Kalian telah melakukannya dengan sempurna," kata Mahesa Amping memuji kedua anak lelaki itu.
"Putu Risang, ajaklah kedua adikmu ini berlari di atas batu sungai sebagaimana biasa kamu lakukan," kata Mahesa Amping kepada Putu Risang untuk membawa Adityawarman dan Jayanagara berlatih keseimbangan di atas batu sungai yang bertebaran menyembul di permukaan air sungai yang jernih dan dangkal itu.
Bukan main senangnya hati Mahesa Amping melihat kedua saudara sepupu itu berlari dan melompat dari satu batu sungai ke batu lainnya mengikuti Putu Risang yang berada di depan mereka.
"Ternyata tuan Senapati telah mempunyai seorang putra sudah sebesar itu," kata Nariratih kepada Mahesa Amping yang telah datang di tepian sungai sambil menggendong putranya Mahesa Muksa.
"Hari ini pertama kali kurasakan sebagai seorang ayah," kata Mahesa Amping kepada Nariratih tanpa memalingkan wajahnya, terus memandang Adityawarman yang tengah melompat dan berlari di atas batu sungai itu.
"Apakah ada perbedaan rasa, sebagai ayah kandung dan sebagai ayah angkat?" tanya Nariratih kepada Mahesa Amping. Mahesa Amping seperti tersentak mendengar pertanyaan itu, diam-diam dapat merasakan sebuah kecemburuan. Mahesa Amping tidak segera menjawab. Ia memandang Nariratih yang memalingkan wajahnya lurus, sepertinya tengah memandang Putu Risang, Adityawarman, dan Jayanagara yang masih berlari dan melompat di atas batu sungai. Sekilas Mahesa Amping melihat kecantikan Nariratih yang sempurna, beberapa helai rambutnya yang panjang terlepas dari ikatannya tergerai tertiup angin.
"Ayah kandung dan ayah angkat adalah dua kata yang terpisah, sementara kasih sayang tidak dapat dipisahkan," kata Mahesa Amping kepada Nariratih dengan suara yang tenang dan datar.
"Maaf, aku memang terlalu banyak menuntut darimu," kata Nariratih yang telah menyadari perkataannya terlalu menusuk. Diam-diam mengutuk kebiasaan diri sendiri yang selalu menjadi perhatian sebagai wanita satu-satunya di Padepokan Teratai Putih dan juga sangat dimanjakan. "Aku harus mengubah sikapku," berkata dalam hati Nariratih.
"Percayalah, aku akan menjaga Mahesa Muksa sebagaimana aku akan menjaga putraku sendiri," kata Mahesa Amping kepada Nariratih.
"Terima kasih," kata Nariratih kepada Mahesa Amping, penuh senyum.
"Mudah-mudahan Nyi Nariratih tidak berkeberatan untuk meluangkan sedikit waktu memberikan perhatian kepada putraku dan putra sahabatku itu," kata Mahesa Amping kepada Nariratih.
"Aku akan menjaganya sebagaimana aku menjaga putraku," kata Nariratih dengan penuh senyum, menggetarkan perasaan Mahesa Amping di sampingnya.
"Orang-orang Padepokan Teratai Putih akan membawa delapan pemimpin Kshetra merebut Mahesa Muksa dari tangan kita," kata Mahesa Amping kepada Nariratih.
"Orang-orang Padepokan Teratai Putih pasti telah memutarbalikkan kejadian yang sebenarnya kepada mereka," kata Nariratih, merasa cemas ketika Mahesa Amping menyebut tentang para pemimpin delapan kshetra yang diketahuinya telah mengikat janji darah kepada ayahnya Ki Karmapala.
Dalam kesempatan itu pula Mahesa Amping menyampaikan bahwa Pendeta Gunakara juga tengah mencari seorang bayi yang mempunyai pertanda sebagaimana pertanda yang ada di pundak Mahesa Muksa.
"Pendeta dari Tibet itu?" tanya Nariratih, seperti tidak percaya.
"Benar, kita harus merahasiakan pertanda itu darinya," kata Mahesa Amping kepada Nariratih.
Sementara itu mentari pagi sudah mulai merangkak naik. Mahesa Amping mengajak semuanya untuk kembali ke Padepokan Pemecutan. Ketika mereka tiba di Padepokan Pemecutan, dilihatnya para cantrik tengah berlatih di sanggar terbuka disaksikan oleh Empu Dangka, Arga Lanang, dan Pendeta Gunakara. Terlihat Putu Risang langsung bergabung dengan para cantrik yang tengah berlatih.
"Pemuda itu punya semangat luar biasa," kata Mahesa Amping melihat Putu Risang yang telah bergabung bersama para cantrik.
"Aku ingin seperti mereka," kata Adityawarman kepada Mahesa Amping. Mahesa Amping tersenyum mendengar perkataan putranya.