Chapter 20
"Bila kalian ingin seperti mereka, kalian harus punya semangat seperti mereka," kata Mahesa Amping kepada Adityawarman dan Jayaraga.
Mahesa Amping tersenyum bangga melihat tangan dan kaki kecil mereka tengah mengikuti gerak jurus para cantrik yang sedang berlatih.
"Kelak mereka akan menjadi para ksatria yang mumpuni seperti ayah-ayah mereka," kata Arga Lanang kepada Mahesa Amping yang ikut memperhatikan kedua anak lelaki kecil itu berlatih.
Ketika matahari sudah mulai beranjak ke atas puncaknya, Empu Dangka mempersilakan para cantrik untuk beristirahat.
Mahesa Amping mengajak Arga Lanang dan Pendeta Gunakara naik ke pendapa Padepokan Pemecutan.
"Mari kita beristirahat di atas pendapa," kata Mahesa Amping kepada Arga Lanang dan Pendeta Gunakara.
Ternyata ketika mereka tiba di pendapa, Nyi Nariratih sudah menyiapkan hidangan makan siang untuk mereka.
"Terima kasih Nariratih, pasti masakanmu sangat luar biasa," kata Empu Dangka kepada Nariratih yang sudah mempersiapkan hidangan dan bermaksud kembali ke dalam rumah.
"Jangan memuji dulu, nanti bisa kecewa," kata Nariratih sambil pamit untuk kembali ke dalam.
Demikianlah, mereka menikmati hidangan makan siang itu di pendapa Padepokan Pemecutan dengan penuh kegembiraan.
"Ternyata aku datang di saat yang tepat," kata seseorang yang tiba-tiba saja muncul naik ke atas pendapa Padepokan Pemecutan.
"Langsung saja bergabung Ki Bancak," kata Mahesa Amping kepada orang itu yang sepertinya sudah sangat dikenalnya dengan baik dan sepertinya sudah tidak asing lagi di Padepokan Pemecutan.
Maka orang itu yang dipanggil Ki Bancak langsung bergabung.
Ketika melihat Arga Lanang dan Pendeta Gunakara, dengan penuh hormat dan keramahan Ki Bancak menganggukkan kepala sebagai tanda sebuah perkenalan.
"Perkenalkan ini sahabatku Ki Bancak," kata Mahesa Amping kepada Arga Lanang dan Pendeta Gunakara.
"Ki Bancak pasti keluar rumah dengan kaki kanan," kata Empu Dangka dengan penuh senyum kepada Ki Bancak.
"Jika tidak pakai kaki kananku, aku tidak akan sampai di padepokan ini," kata Ki Bancak yang disambut tawa oleh semua yang ada di pendapa Padepokan Pemecutan.
Siapakah Ki Bancak itu? Ki Bancak adalah seorang prajurit telik sandi, orang kepercayaan Mahesa Amping yang menjadi penghubung jalur sandinya.
Lewat Ki Bancak, situasi dan keadaan di Balidwipa dapat diterima oleh Mahesa Amping sebagai seorang Senapati.
Lewat Ki Bancak juga, garis perintah Mahesa Amping dapat dijalankan dengan baik.
Sementara itu, matahari di atas Padepokan Pemecutan sudah mulai bergeser turun.
Terlihat semua orang di pendapa Padepokan Pemecutan sudah menyelesaikan makan siang mereka.
"Adityawarman dan Jayanagara, perkenalkan diri kalian kepada pamanmu ini," kata Mahesa Amping kepada Adityawarman dan Jayanagara, meminta mereka memperkenalkan diri kepada Ki Bancak.
"Mereka berdua adalah putraku dan putra sahabatku Senapati Raden Wijaya," kata Mahesa Amping kepada Ki Bancak.
"Anak-anak yang tampan," kata Ki Bancak sambil tersenyum memandang Adityawarman dan Jayanagara.
"Yang ada di sini semua adalah keluarga, silakan Ki Bancak menyampaikan berita," kata Mahesa Amping kepada Ki Bancak.
Maka dengan perlahan Ki Bancak menyampaikan beberapa hal tentang keadaan dan situasi di Balidwipa.
Ada satu berita yang cukup mengundang perhatian dari Mahesa Amping, yaitu tentang kedatangan sekitar dua puluh orang dari Jawadwipa.
"Berita terakhir yang dapat kami terima, mereka adalah para tamu dari Padepokan Teratai Putih," kata Ki Bancak menyampaikan beritanya.
"Ternyata orang-orang dari Padepokan Teratai Putih masih ingin memperpanjang urusannya kepadaku," kata Mahesa Amping perlahan, sepertinya kepada diri sendiri.
"Apakah tuan Senapati punya urusan dengan orang-orang dari Padepokan Teratai Putih?" tanya Ki Bancak kepada Mahesa Amping.
Terlihat Mahesa Amping menarik napas panjang.
Ada keraguan untuk menyampaikan apa sebenarnya yang terjadi antara dirinya dan orang-orang dari Padepokan Teratai Putih kepada Ki Bancak, terutama di pendapa ada Pendeta Gunakara yang juga punya kepentingan dengan putra angkatnya, Mahesa Muksa.
Namun akhirnya Mahesa Amping melepaskan keraguannya.
Dalam penilaiannya, hari ini atau nanti Pendeta Gunakara pasti akan mengetahuinya juga.
Mahesa Amping dapat merasakan bahwa Pendeta Gunakara bukan orang sembarangan. Langkah kakinya yang membawanya ke Padepokan Pemecutan adalah sebuah gambaran dirinya bukan orang bodoh, pasti sedang mengikuti suara hati kebenaran, mengikuti panggraitanya yang tajam.
Akhirnya Mahesa Amping menceritakan tentang peristiwa di Hutan Mada, peristiwa yang membawanya hingga harus berurusan dengan orang-orang Padepokan Teratai Putih.
Namun Mahesa Amping tidak bercerita tentang awan dan tanda di pundak Mahesa Muksa yang telah dihilangkannya.
"Persoalan Nariratih dan putranya sudah selesai saat Ki Karmapala menghembuskan napasnya yang terakhir. Yang dipersoalkan sekarang dari orang-orang Padepokan Teratai Putih adalah ketidakrelaan mereka bahwa gurunya dapat dikalahkan olehku," kata Mahesa Amping mengakhiri ceritanya tentang peristiwa di Hutan Mada beberapa hari yang lalu.
"Pada saat Raja Adidewalancana berkuasa, mereka adalah salah satu pendukung setianya. Mungkin saja persoalan ini merupakan saat yang tepat bagi mereka untuk membalas rasa sakit hatinya lewat cara dan persoalan yang berbeda," kata Empu Dangka memberikan tanggapannya.
"Aku sependapat dengan Empu Dangka," kata Ki Bancak membenarkan pendapat dari Empu Dangka.
"Kita cegat mereka sebelum datang ke Padepokan Pemecutan ini," kata Empu Dangka.
"Aku sependapat dengan Empu Dangka, siapkan dua puluh prajurit terbaik tanpa tanda-tanda kebesaran seorang prajurit, kita bertemu di Bukit Karang Gajah," kata Mahesa Amping kepada Ki Bancak.
Maka terlihat Ki Bancak bangkit berdiri untuk pamit diri.
"Sampai berjumpa kembali di Bukit Karang Gajah," kata Mahesa Amping sambil mengantar Ki Bancak turun dari tangga pendapa Padepokan Pemecutan.
"Aku akan turun ke sanggar, para cantrik pasti sudah menunggu," kata Empu Dangka yang berpamitan diri untuk melihat para cantrik berlatih di sanggar.
"Adityawarman dan Jayanagara, ikutlah bersama Empu Dangka ke sanggar," kata Mahesa Amping kepada Adityawarman dan Jayanagara yang langsung dengan gembiranya mengikuti Empu Dangka.
Akhirnya hanya ada Mahesa Amping, Arga Lanang, dan Pendeta Gunakara di pendapa Padepokan Pemecutan.
"Sudah hampir dua hari aku di sini, tapi belum melihat ada seorang bayi di padepokan ini," kata Pendeta Gunakara kepada Mahesa Amping yang telah duduk kembali bersama.
"Bayi itu sekarang ada di biliknya bersama ibunya," kata Mahesa Amping kepada Pendeta Gunakara dengan hati dan perasaan yang berdebar.
"Aku tamu di sini, perkenankan diriku ini ikut bersamamu ke Bukit Karang Gajah," kata Pendeta Gunakara kepada Mahesa Amping.
Ada perasaan lega di hati Mahesa Amping. Perkiraannya bahwa Pendeta Gunakara berkeinginan untuk melihat Mahesa Muksa, namun perkiraan itu ternyata hanya ada dalam bayang-bayang perasaannya saja.
"Sebagai seorang tuan rumah, sudah sewajarnya untuk melindungi tamunya. Tapi bila ini adalah keinginan dari tuan pendeta, kami sangat berterima kasih atas kepedulian dan perhatian tuan pendeta," kata Mahesa Amping dengan wajah penuh senyum kepada Pendeta Gunakara.
"Aku sahabatmu, izinkan pula aku ikut bersamamu ke Bukit Karang Gajah," kata Arga Lanang penuh semangat.
"Terima kasih atas perhatian kalian semuanya," kata Mahesa Amping kepada Arga Lanang dan Pendeta Gunakara.
"Malu rasanya bila tidak berbuat apa pun kepada tuan rumah yang begitu baik dan ramah menerima kehadiran kami," kata Pendeta Gunakara kepada Mahesa Amping.
"Meskipun ilmuku belum seberapa, setidaknya menambah jumlah pasukanmu," kata Arga Lanang dengan wajah penuh senyum.
Sementara itu, terdengar suara langkah yang halus berjalan di atas papan kayu panggung, terdengar suara berderit pintu utama yang terbuka.
Berdebar perasaan Mahesa Amping ketika mengetahui siapa yang keluar dari pintu utama itu.
Ternyata adalah Nariratih sambil membawa putranya Mahesa Muksa.
"Aku mendengar semua percakapan kalian," kata Nariratih yang telah duduk bersimpuh bersama di pendapa Padepokan Pemecutan.
"Semua berawal dari masalahku dan bayiku ini yang membawa tuan Senapati harus terseret di dalamnya," kata Nariratih kepada Mahesa Amping dengan suara penuh ketenangan.
Pendeta Gunakara dan Arga Lanang yang telah mendengar cerita Mahesa Amping tentang peristiwa di Hutan Mada langsung dapat menebak bahwa inilah wanita yang ada di hadapan mereka, pastilah Nariratih putri Ki Karmapala, pemimpin Padepokan Teratai Putih itu.
"Aku tidak bisa berdiam diri di sini, sementara kalian bertempur untuk kepentinganku. Aku ingin ikut ke Bukit Karang Gajah," kata Nariratih dengan suara penuh kemanjaan, membuat Mahesa Amping bingung menghadapinya.
"Siapa yang menjaga Mahesa Muksa bila Nyi Nariratih ikut ke Bukit Karang Gajah?" tanya Mahesa Amping dengan suara perlahan, mulai mencoba mengimbangi sikap dan watak wanita di hadapannya itu.
"Putu Risang dapat menjaganya," kata Nariratih kepada Mahesa Amping.
"Aku pernah melihat kamu bertempur di Hutan Mada, ilmu kepandaianmu dapat diandalkan. Tapi hatiku akan merasa tentram bila Mahesa Muksa berada dalam perlindunganmu," kata Mahesa Amping kepada Nariratih.
Diam-diam Nariratih merasa tersanjung mendengar perhatian Mahesa Amping terhadap Mahesa Muksa, putranya.